The Two Empresses

The Two Empresses
Pertemuan si Kembar



"Eh? Tidak bisa lihat nii?" tanya Kezia bingung. "Kenapa?"


"Yah, Max dan Phillip habis kelelahan karena menyapu seluruh hutan," dusta Nero.


"Untuk apa mereka menyapu hutan?"


"Hutannya kotor," balas Nero kalem. Kezia makin tak paham, namun ia hanya mengangguk dan memeluk Nero dengan penuh kasih sayang. Nero membawanya ke dalam ruangan Saciel. Gadis itu malah asyik membaca buku berbahasa kuno yang bahkan Nero tak tahu di mana ia mendapatkannya.


"Nee~ nee sudah bangun?" panggil Kezia sembari memeluk dan mengusapkan kepalanya di pelukan Saciel.


"Sudah, Manis. Habis dari mana kalian?" tanya Saciel.


"Dari luar. Nee, aku lapar," balas Kezia. Saciel terkekeh dan mengecup pipinya yang cukup bulat.


"Makan yuk, nee juga lapar," balas Saciel. Sebelum ia beranjak, seseorang mengetuk pintu dan masuk. Ia menurunkan tudungnya dan sesosok yang mirip dengannya tersenyum.


"Cerlina? Bagaimana bisa kau kemari?" tanyanya sembari bangkit dan memeluknya erat.


"Ada yang membantuku oke?" jawab Cerlina senang. Matanya jatuh pada Nero dan Kezia yang bingung. "Oh, apakah mereka yang membantumu?"


"Begitulah. Mereka Nero dan Kezia," ujar Saciel sembari memperkenalkan mereka. "Yang satu sedang istirahat."


"Begitu? Salam kenal, namaku Cerlina Arakawa," ujar Cerlina ramah dengan senyum menawan. Nero terdiam lalu mengangguk dengan kalem.


"Cerlina nee mirip sama Saciel nee," celetuk Kezia. Si kembar tertawa kecil dan menepuk kepala Kezia.


"Kami berdua adalah kembar, Manis," jawab Cerlina.


"Tapi kelakuan kalian berbeda. Yang satu barbar, yang satu...kalem dan manis," ujar Nero, sedikit tersipu dengan kata-katanya. Cerlina yang mendengarnya tersipu dan bersembunyi di balik kakaknya.


"Oh, kau berani juga mengataiku barbar," sindir Saciel.


"Tapi benar kan? Ayo pergi, aku lapar," ujar Nero.


"Cerlina ikut ya? Kau perlu istirahat dari kewajibanmu yang tidak penting. Buang-buang waktu saja," ujar Saciel.


"Baiklah," ujar Cerlina girang. Mereka segera pergi ke sebuah restoran tak jauh dari klinik dan duduk di samping jendela besar.


"Bawakan kami masakan terbaik kalian," ujar Saciel kalem. Pelayan mengangguk dan segera pergi. Nero dan Cerlina sesekali melirik satu sama lain, membuat Saciel heran dengan tingkah mereka.


"Ada apa ini?" tanya Saciel. Mereka tersentak dan berhenti melakukannya, membuat Saciel makin penasaran.


"Cuman penasaran saja," jawab Nero kalem. Cerlina hanya tertawa kecil dan menyesap tehnya dengan elegan.


"Cerlina nee sangat cantik," ujar Kezia.


"Aduh terima kasih, Sayang. Kamu juga cantik," jawabnya sembari mencium pipinya.


"Aku nggak cantik nee," balas Kezia malu-malu.


"Kamu pasti sangat cantik nanti," ujar Cerlina. Nero kembali meliriknya, namun segera mengalihkan pandangan ketika Saciel menatap tajam ke arahnya.


'Sebenarnya dia kenapa sih? Aku kok penasaran. Apa mungkin...'


"...Nero tertarik pada Cerlina?" celetuk Saciel tiba-tiba.


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Nero heran. Saciel tersentak dan menggelengkan kepala, lalu menyesap tehnya. Beberapa pelayan datang dan mulai menyajikan makanan hingga tidak ada lagi ruang di meja.


"Ini terlalu banyak, Ciel. Perutku tidak akan sanggup," keluh Cerlina.


"Makanlah semampumu, nanti kita akan bawa pulang sisanya," ujar Saciel sembari menikmati makanannya dengan lahap. "Kau terlalu kurus."


"Kau lebih parah lagi," balas Cerlina.


"Bagaimana bisa kau lepas dari pengawasan? Kudengar kau diawasi oleh para tetua," ujar Saciel.


"Istvan menolongku keluar dari cengkeraman para tetua atas perintah Lao. Aku juga bisa kemari karena dia pula, tapi waktuku tidak banyak. Karena sabda itu, Careol menjadi kacau balau. Para bangsawan mulai berargumen bahwa salah satu dari mereka adalah keluarga kerajaan, kecuali keluarga 7 Eternal Wizards dan Arlestine. Akhirnya para tetua mulai bergerak untuk menghentikan sabda itu dengan sabda palsu dari bawahanku," papar Cerlina sendu.


"Sabda apa yang mereka buat?" tanya Nero.


"... keturunan pertama Arakawa akan menjadi kambing hitam dalam perseteruan hak waris kerajaan."


"Mereka menjadikanku kambing hitam? Luar biasa," ujar Saciel kesal. "Kenapa tidak dari keluarga Rosemary sih?"


"Kau tahu mereka merupakan fondasi keuangan terbesar di Careol bukan? Para tetua tidak mau ambil resiko melemparkan Vristhi sebagai kambing hitam," jawab Cerlina.


"Dan ditambah kau merupakan buronan yang menolong musuh, jelas kau yang paling cocok untuk dikorbankan," celetuk Nero.


"Hanya Kezia yang mendukungku di sini," celetuk Saciel sembari mengelus kepalanya.


"Karena aku sayang nee," ujar Kezia dengan gaya manisnya. Saciel hanya tertawa kecil dan mengacak-acak rambutnya. "Jangan~"


"Jadi apa sebaiknya kita segera pergi?" tanya Nero.


"Yah, lebih cepat lebih baik bukan? Mencari cincin tak berguna itu," balas Saciel ketus.


"Saciel, aku harap kau berhati-hati mencari benda itu. Jika ada orang lain yang tahu, bisa saja mereka akan merebutnya darimu," ujar Cerlina.


"Aku akan berhati-hati, tapi setelah kita selesai makan kau harus pergi dari sini dan bersembunyi. Paham?"


"...aku akan kembali kepada para tetua," balas Cerlina.


"Kenapa?" tanya Nero dan Kezia bersamaan.


"Aku hanya ingin melindungi Saciel."


"Bodoh, kau tidak perlu melindungiku. Tapi jika kau masih tetap bersikukuh pada pilihanmu, berjanjilah kau akan mendengarkan Lao," ujar Saciel sembari memeluk Cerlina.


"Aku janji," ujarnya lirih. Mereka segera menyelesaikan makan dan kembali ke klinik, mendapati Max dan Phillip sudah duduk santai di sofa kamar Saciel.


"Dari mana saja kalian?" tanya Saciel.


"Pemandian air panas," jawab keduanya kesal. Phillip melihat Cerlina dan langsung sumringah.


"Oh, Cerlina. Kau di sini?"


"Hai Phillip. Aku tidak akan lama di sini, bagaimana keadaanmu?"


"Kau bisa lihat aku baik-baik saja," jawab Phillip. "Tapi... bagaimana bisa kau kemari?"


"Aku yang membantunya," celetuk seseorang. Mereka berpaling dan mendapati seorang pemuda bermata tajam dengan rambut cepak cokelat terang. Max menggeram, tahu betul siapa orang itu.


"Kau yang menghalangiku untuk membunuh jalang tua waktu itu," geram Max.


"Hah? Hei, kau serius? Dia ini salah satu 7 Eternal Wizards, Istvan Garza," tanya Saciel tak percaya.


"Tidak, dia benar kok. Aku memang menghalangi dirinya agar tidak membunuh Erika, sesuai dengan perintah Lao," ujar Istvan. "Dan aku kemari untuk membawa pulang Pendeta Agung."


"Kalau aku bilang tidak?" tanya Saciel kalem.


"Sama saja kau melawan perintah Lao," balas Istvan sama kalemnya.


"Saciel, jangan memprovokasi deh. Kau lupa masih dalam masa pemulihan?" celetuk Phillip. Saciel mengerang dan cemberut, tidak bisa membantah kata-kata Phillip saat itu.


"Mari kita pergi, Cerlina. Terlalu lama di sini sama saja kau menggali kuburanmu sendiri," ajak Istvan sembari mengulurkan tangannya. Cerlina mulai ragu, namun tangannya tetap menerima uluran itu dan berpaling pada Saciel.


"Jaga dirimu baik-baik, oke? Kau ini kan ceroboh," ujar Cerlina.


"Kau juga, Cerlina. Jangan terlalu banyak pikiran atau kau hanya akan stres. Lakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiranmu," balas Saciel. Cerlina mengangguk dan mengulum senyum pada yang lain, namun semburat merah terlihat di pipinya ketika tatapannya jatuh pada Nero.


"Sampai jumpa nee. Cepat kembali ya?" ujar Kezia setengah memelas. Cerlina mengangguk dan mencium pipinya dengan penuh sayang. Istvan segera menjentikkan jemarinya dan mereka hilang dari pandangan.


"Jadi, mau ke mana kita?" tanya Max.


"Ah, itu...kurasa...kita akan pergi ke wilayah flügel," ujar Saciel ragu.


"Flügel?" celetuk Kezia.


"Ras yang hampir mirip dengan malaikat," jawab Max.


"Bukan, tapi lebih mirip seperti malaikat kematian," ujar Phillip tegang. "Beberapa pegawaiku mati dibunuh mereka saat dalam perjalanan."


"Hahaha berbahaya sekali," ujar Nero. "Sebaiknya kita harus menyediakan berbagai macam senjata."


"Tidak masalah. Kita akan berangkat malam ini," tandas Saciel.



Gimmick baru from ShadowX_Kei


Do not steal and plagiarism