The Two Empresses

The Two Empresses
The Half God, Vatra



"Kau nekad," sindir orang bertudung. Vristhi tak menggubrisnya, melainkan terus menyerang tanpa henti dengan pasukan undead miliknya. Draco beberapa kali menyabetkan ekornya hingga melempar orang bertudung itu menjauh dari portal, sementara Dark menggoreskan luka di sekujur tubuhnya. "Kau yakin bisa mengalahkanku, Vristhi?"


"Paling tidak dicoba dulu," balas Vristhi. Orang bertudung itu menyeringai dan mengayunkan pedangnya dengan ganas hingga berhasil menebas Draco menjadi dua. Ia berniat memotong Dark, namun diurungkan dan menendangnya hingga jauh.


"Kau sudah tamat, bocah necromancer. Kuyakin kau kehabisan pasukan undead," ujar si orang bertudung dengan nada puas. Vristhi mengulum senyum dan mengeluarkan sebuah kipas elegannya. "Apa otakmu kepanasan?"


"Bukan. Ini hanyalah kunci untuk tujuan akhirmu," ujar Vristhi kalem. Sebelum orang bertudung itu bicara, Vristhi membuka kipasnya dan mengayunkannya ke bawah. Perlahan pasir pink itu menggelap, lalu detik berikutnya berubah menjadi lumpur hisap dengan aroma menyengat, campuran antara bangkai dan daging terbakar. Orang bertudung itu mundur sejenak dan menyadari bahwa yang ia lihat bukanlah dari dimensi yang sama.


"Aku lupa Rosemary dan Requiem bukanlah dari dunia ini," sindir orang bertudung.


"Siapa bilang? Kami dari dunia ini, hanya saja kami lebih akrab dengan kematian," balas Vristhi. Sesosok manusia raksasa dengan baju sekelam malam dan tengkorak sebagai hiasan di pundak kirinya muncul dari lumpur hisap. Di tangannya terdapat sebuah tombak dengan ular melilit. "Hades."


"Gadis sombong, kau punya nyali untuk memanggil dewa sepertiku?" tanya Hades dengan suara menggelegar.


"Mumpung aku masih sanggup memanggilmu, kenapa tidak?" balas Vristhi. Hades mengarahkan pandangannya pada orang bertudung dan wajahnya masam.


"Kenapa manusia setengah dewa ikut campur dalam urusan penyihir seperti kalian?" tanya Hades. Vristhi membelalakkan mata dan berpaling pada Hades dengan wajah tidak percaya.


"Manusia setengah dewa katamu? Mustahil," ujarnya lirih. Orang bertudung itu berdecih dan menyampirkan tudungnya agar Vristhi mampu melihat wajahnya. Sepasang bola mata dengan warna yang berbeda yaitu hitam dan hijau bagaikan zamrud. Kulit berwarna cokelat tan terlihat berkilau, rambut ikal sebahu berwarna red wine diikat sedikit. Jambang halus membingkai rahangnya yang tegas dan kokoh.


"Oh, ternyata kau anak Oorun hah?" celetuk Hades. Vristhi makin memucat, semangat bertarungnya mulai turun. Dia hanya tersenyum, namun tak ada kehangatan di dalamnya.


"Kau tahu?" tanyanya. Ia berpaling pada Vristhi dengan seringainya. "Kau mulai terlihat lemah."


"Aku tidak tahu Oorun punya anak," ujar Vristhi, mencoba mengulur waktu untuk memulihkan kekagetannya.


"Semua dewa bisa punya anak, bodoh. Hanya saja, jarang untuk memiliki anak setengah dewa," ujarnya. "Oh iya, namaku Vatra."


"Gadis necromancer, lawanmu terlalu berat. Meski setengah dewa, kurasa kau belum tentu bisa mengalahkannya," bisik Hades.


"Bagaimana denganmu?"


"Hmm, kurasa kemungkinannya hanya 50 persen saja."


"Kalau begitu langsung serang saja," ujar Vristhi sembari mengangkat tangannya. Pasukan undead yang keluar dari lumpur hisap maju menyerang Vatra. Tak lupa Vristhi menggerakkan Dark untuk ikut andil dalam penyerangan. Vatra meraih pedang besarnya dan mulai membantai semua undead, namun hanya menendang Dark sejauh mungkin. Hades mengangkat tangannya dan asap pekat perlahan memenuhi area Vatra.


"Heh, ini asap kematian ya?" tanya Vatra sinis. Ia mengibaskan jubahnya dan asap itu langsung sirna. Hades menghela napas melihatnya.


"Percuma saja. Dia masih mendapat perlindungan dari Oorun. Tidak ada celah untuk kita menang, apalagi membuatnya sekarat," keluh Hades. Vristhi diam, mencoba mencari tahu kelemahannya meski hanya seujung jari saja. Tiba-tiba sebuah tepukan pelan di pundaknya mengagetkannya.


"Perlu bantuan?" tanya Cerlina dengan senyum ramahnya. Vristhi terperanjat dan mengguncangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini bodoh? Kau mau mati?" tanya Vristhi.


"Aku tidak mau mati, tapi aku ke sini karena ada sesuatu yang harus kusampaikan pada orang di sana," balas Cerlina sembari mengarahkan telunjuknya pada Vatra. "Kita bisa pergi dari sini secepat mungkin."


"Oh, kau ternyata bawahan ayahku ya?" tanya Vatra sembari melipat lengannya. "Mau apa kau?"


"Dewa Oorun berpesan pada saya untuk menemui Anda, Tuan Vatra. Sabdanya, kau hanya akan menemui ajalmu jika masih berperang dengan Careol."


Pelipis Vatra berkerut. Ia menahan diri untuk tidak membunuh Cerlina, namun tubuhnya tidak mampu menahan gemetar hebat akibat emosinya yang meluap.


"Brengsek, setelah mencampakkanku begitu saja dia malah mengatakan hal itu? Seharusnya kubunuh saja dewa nggak tahu malu itu," gumam Vatra.


"Inilah sedikit kemarahan dari Dewa Oorun. Dewa akan menjatuhkan hukuman langit bagi orang yang membunuh orang-orang tak berdosa di Benua Eurashia."


"Bedebah!" maki Vatra sembari melompat maju untuk menyerang Cerlina. Sebelum pedangnya sampai pada leher jenjang Cerlina, petir menyambar Vatra dan mengikatnya kuat-kuat di tempat ia berpijak. "Kh!"


"Peringatan terakhir, Tuan," ujar Cerlina hati-hati. "Dewa Oorun siap melemparkan tombak kematian di atas kepalamu."


"Heh, ternyata kau anak yang diberkati oleh Oorun. Sialan, kenapa dia lebih memilihmu dibandingkan aku?" tanya Vatra.


"...lebih baik kau bertanya pada sang dewa. Aku hanyalah pengikutnya," jawab Cerlina. "Vristhi, mari pergi. Kita tidak punya kepentingan lagi dengannya."


"Apa? Kau membiarkannya hidup?" tanya Vristhi garang. Cerlina menatapnya dengan tajam.


"Hidup matinya orang itu bukan di tangan kita, jadi kuharap kau berperilaku lebih baik dari ini," ujar Cerlina tegas. Vristhi mengerang dan mengalah, mengambil boneka milik Lao yang terkapar dengan tatapan kosong. Cerlina mengarahkan pandangannya ke Hades dan membungkuk memberi hormat. "Salam, Dewa Hades."


"Oh, jadi kau orang yang sering disanjung oleh Oorun? Tidak kusangka hanya gadis sederhana saja," ujar Hades. Cerlina hanya tersenyum dan menggandeng Vristhi. Ia mengetuk pasir dengan ujung tongkat dan keduanya menghilang. Hades menghela napas dan ikut menghilang, sementara Vatra masih diam di tempat sembari meraung dan memaki Dewa Oorun.


...****************...


"Lukanya terlalu parah, apalagi ini akibat sihir hitam," ujar Bibi. "Pengobatan biasa tidak bisa dilakukan."


"Apa kau tidak punya cara lain?" tanya Vristhi gemas. Bibi diam sejenak, lalu mengambil sebuah buku dan membukanya tepat di halaman anatomi tubuh.


"Membereskan jalur mana yang terkena sihir hitam butuh waktu dan tenaga. Kau harus mengisi jalur itu dengan sihir yang lebih kuat, secara teori. Tetapi, terkadang cara itu belum tentu berhasil."


"Lalu apakah ada cara lain?" tanya Cerlina.


"Sampai saat ini aku masih belum tahu. Yang bisa kulakukan sekarang hanya memperlambat alirannya saja," ujar Bibi lirih. Mereka larut dalam keheningan, antara berusaha mencari cara lain atau frustrasi dengan keadaan yang melampaui kemampuan. Phillip mendadak muncul dari balik pintu dengan wajah serius.


"Lao memanggilmu, Vristhi," ujarnya. Vristhi bergegas masuk ke dalam dan mendapati Lao tengah duduk dengan wajah pucat.


"Lao?" panggilnya sembari menggenggam tangannya. Lao menoleh dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu?"


"Yah, lebih baik dari sebelumnya. Kenapa kau memasang wajah begitu? Tidak biasanya," goda Lao. Vristhi menggenggam tangannya lebih erat dan perlahan air mata mengalir deras di pipinya. "Eh? Vristhi?"


"Aku...takut kehilanganmu, brengsek. Kenapa juga aku harus takut jika kau...hiks," ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan malah terisak. Lao yang terkejut dengan tingkahnya kini bingung. Ia hanya mengelus kepalanya, sesekali menghiburnya dengan kata-kata manis. Setelah ia tenang, Lao mengulum senyum tipis.


"Tidak biasanya kau menangisiku. Biasanya kau hanya cuek dan memasang wajah datar tanpa perasaan."


"Aku juga penasaran dengan diriku sendiri. Tapi...kejadian hari ini benar-benar mengerikan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kau menghilang dari kehidupanku," ujar Vristhi. Lao menepuk kepalanya dan mencium punggung tangannya dengan tatapan jahil.


"Well, ini ternyata jauh dari ekspetasiku. Tenang saja, aku belum mati hari ini," hibur Lao. Vristhi mengerutkan bibirnya dan menjitak pelan kepalanya. "Aduh."


"Tidak lucu," ujar Vristhi. "Kau tahu, lawan kita itu anak setengah dewa."


"Dewa siapa?"


"Oorun," balas Vristhi dingin. Lao menghela napas dan berbaring dengan wajah pucat.


"Kenapa juga dia menyerang kita?"