The Two Empresses

The Two Empresses
Empress' Trial



"Yang Mulia, ada ledakan di desa dekat perbatasan!" sahut Phillip sembari masuk tergesa-gesa.


"Korban?"


"Tiga tewas hancur di tempat dan ratusan orang terluka, rentang dari luka ringan hingga berat. Tiga orang tersebut terdiri dari 2 penjaga dan 1 anak kecil," ujar Phillip. Saciel menjatuhkan pena dan menatap Phillip.


"Anak kecil? Bagaimana bisa ada anak kecil di dekat perbatasan?" tanya Saciel.


"Anak kecil tersebut merupakan adik dari salah satu penjaga dan mereka yatim piatu," jawab Phillip. Saciel meremas kertas di genggamannya dan menggebrak meja hingga Phillip tersentak.


"Kirim bantuan segera dan perketat lagi penjagaan di seluruh perbatasan. Setengah dewa sialan itu berniat mencari masalah denganku," ujar Saciel geram. "Dan siapkan kuda untukku. Aku akan mencari orang sialan itu."


"Yang Mulia, Anda tidak bisa meninggalkan istana begitu saja. Kedudukan Anda masih lemah, tolong jangan bertindak gegabah," ujar Phillip. Saciel nyaris memaki, namun ia telan kembali dan menghela napas. "Saya sarankan untuk mengutus Duke Zografos atau Lady Schariac untuk mencari ******* itu."


"...jangan Tania, dia masih belum menjadi kepala keluarga seutuhnya. Julian saja cukup," ujar Saciel. Phillip mengangguk dan bergegas pergi, sementara Saciel berbalik menatap jendela dengan tatapan pasrah. Tiba-tiba suara ketukan pintu menyadarkannya. "Masuk."


Wajahnya langsung berkerut begitu melihat Stevan masuk bersama dengan Oorun dalam wujud anak kecil. Ia mengambil pisau dari laci dan berniat melempar, namun Oorun mengangkat tangannya.


"Tenanglah, anakku. Aku kemari hanya untuk membantumu," ujar Oorun cepat. Saciel hanya diam, namun ia tidak mengendurkan kewaspadaannya. "Kau tidak percaya padaku?"


"Aku sudah muak denganmu yang tidak bisa mengurus satu orang saja," balas Saciel menahan diri. "Kau sudah lihat dia mulai melancarkan aksinya untuk melukai rakyatku, bukan?"


"Saciel, aku..."


"Tolong keluarlah. Aku sudah tidak mau berurusan denganmu. Masih banyak yang harus kupikirkan, jadi menghilanglah dari pandanganku. Stevan, antar tamu kita keluar."


"Baik, Yang Mulia. Dewa Oorun, mari saya antar," ujar Stevan. Oorun diam sejenak dan menatap Stevan.


"Bisa bawa aku menemui gadis satunya?"


"Apa yang Anda maksud Pendeta Agung? Tentu saja bisa," ujar Stevan. Oorun mengangguk dan berjalan mengikuti butler tersebut, meninggalkan Saciel yang makin terpuruk dan menjatuhkan diri di kursi. Ia langsung memanggil Istvan, namun tidak berhasil mencapainya. Ia kini beralih memanggil Ilmol dan berhasil dijawab.


"Halo? Ah, selamat pagi Yang Mulia. Selamat..."


"Cukup basa-basinya, Ilmol. Di mana kalian?" tanya Saciel.


"Uhh, saat ini kami berada di wilayah elf. Mencari Erika dan Yorktown sampai sekarang belum ada hasilnya," jawab Ilmol.


"Segera kembali. Careol saat ini diserang," ujar Saciel tegas. Ilmol diam sejenak, lalu bicara sebentar dengan Istvan.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak bisa kembali sekarang. Pencarian Erika dan Yorktown masih .."


"Batalkan dan pulang sekarang," potong Saciel tegas. "Careol masih butuh perlindungan."


"Ah, Istvan tunggu sebentar!"


"Sa... maksudku, Yang Mulia. Kami tidak bisa kembali saat ini," ujar Istvan setelah berhasil merebut jalur komunikasi dari Ilmol.


"Istvan, berhentilah sekarang."


"Kau berjanji untuk membiarkanku mengejar Nenek! Kenapa sekarang kau malah memutuskan seenaknya?" bentak Istvan.


"Karena kau masih punya kewajiban untuk melindungi rakyat Careol dari ancaman *******, Duke Garza. Erika masih bisa kita tangani di lain waktu," balas Saciel kalem.


"Kau tidak tahu kemungkinan rencana busuk yang nenekku persiapkan," geram Istvan.


"Istvan Garza, kita tidak punya waktu mengurus Erika lagi. Tolong diingat kalau kamu masih memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari 7 Eternal Wizards. Kembali sekarang juga."


"...tidak," balas Istvan sembari memutuskan panggilan. Saciel menghela napas dan berjalan cepat menuju ruang tahta yang dipenuhi oleh para menteri dengan tatapan menyelidik dan meremehkan. Sang ratu hanya membuang muka dan mendaratkan diri pada tahta tersebut dengan tatapan sinis.


"Aku ingin tahu apa saja yang kalian lakukan selama kursi tahta ini kosong," ujar Saciel dingin. Para menteri langsung pucat dan diam selama lima menit, membuat Saciel makin kesal dan memanggil Stevan. "Bawakan semua laporannya."


"Y-Yang Mulia, bisakah kita tidak membahas laporannya?" celetuk menteri keuangan dengan wajah panik serta pucat. Saciel menatap lelaki bertubuh tambun itu dengan tatapan menyelidik, seakan tengah mengawasi mangsanya yang menciut.


"Ah, Count Voingard? Kenapa tidak membahas laporan? Bukankah itu hal dasar dalam mengatur negara kita? Aku ingin tahu seberapa banyak kas negara untuk membantu para korban," tanya Saciel kaku. Count Voingard makin pucat dan berkeringat dingin, sementara Saciel meraih laporan keuangan dan membacanya dengan seksama.


"Selain menteri pertahanan, silakan buat surat pengunduran diri. Phillip, cabut semua fasilitas dan gelar mereka."


"Kenapa Yang Mulia memutuskan begitu saja? Apa alasannya?" tanya menteri pendidikan. Saciel berdiri dan melempar semua laporannya dengan kilat kemarahan yang dalam.


"Mungkin Anda perlu memeriksa laporan tidak masuk akal ini sebelum bisa mempertanyakan otoritasku. Tidak kusangka laporan konyol ini bisa lolos begitu saja. Kalian benar-benar tidak manusiawi," jawab Saciel dingin. "Rakyat sudah cukup menderita, kalian malah bersenang-senang menghabiskan uang untuk diri kalian sendiri. Tidak tahu malu. Berterimakasihlah aku tidak mengantar kalian ke bawah guillotine."


Semua yang ada di situ pucat pasi dan tidak bisa berkata-kata. Saciel membakar semua laporan itu dengan sekejap dan berdiri di hadapan mereka tanpa gentar. Satu per satu mereka meninggalkan tempat itu dengan lunglai, kecuali menteri pertahanan yang masih berdiri dengan kokoh di ujung.


"Yang Mulia, kenapa Anda tidak memerintahkan saya untuk mengundurkan diri?" tanyanya.


"Viscountess Lessy, Anda cukup terampil dan berdedikasi dalam mengurus pertahanan kekaisaran ini. Mana mungkin saya mencopot orang seperti Anda?" balas Saciel tenang. Viscountess langsung memberi hormat dan meninggalkan ruang tahta. Belum lama emosinya turun, ia mendengar jeritan di luar yang memilukan. Saciel bergegas keluar dan mendapati para pasukan prajurit mati dibantai dengan cara mengenaskan, membuatnya terhuyung dan bertahan pada dinding.


"Ratuku! Selamat atas penobatannya. Kau terlihat cantik sekali," puji Dark sembari berjalan mendekat dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Saciel terperanjat dan mencoba berdiri tegap, namun kakinya lemas. "Kenapa kau terlihat takut, Ratuku?"


"Aku bukan ratumu. Apa yang kau lakukan kepada prajuritku?" bentak Saciel.


"Membunuh mereka. Seenaknya saja mereka menghalangi jalanku untuk menemuimu," ujar Dark dingin. "Mereka lupa kalau aku ini adalah kaisar?"


"Kaisar apanya? Kau ini sudah dibuang, bodoh," ujar Saciel. "Bukan bukan, bukan dibuang. Sudah mati malah."


"Saciel, kau benar-benar ingin mencoba merasakan kematian?" ancam Dark. Saciel mengeluarkan pedang dan mengarahkannya pada Dark, namun yang ditantang hanya tertawa keras. Ia langsung menerjang maju dan menyerang, merobek lengan baju hingga kulitnya ikut terkoyak. Saciel berlari mundur dan menjaga jarak dengan menyerangnya dengan sihir, namun Dark mampu berkelit dan sesekali melemparkan kembali sihir padanya. "Kemarilah, Ratuku. Kita bangun kekaisaran ini menjadi tempat yang cocok untuk kita."


"Mimpi saja sana!" balas Saciel sembari mengikatnya dengan rantai sihir. Dark mencoba berkutik, namun ia malah melemah dan menjatuhkan pedangnya.


"Hmm, ini bukan rantai sihir biasa, bukan? Entah kenapa aku bisa merasakan sihir...kekuatan milik Oorun," celetuk Dark. "Rupanya kau benar-benar anak kesayangan Oorun ya?"


"Asal bicara kau. Aku ini tidak menyukai dewa manapun, bahkan Oorun sekalipun. Kebetulan saja aku menjadi ratu atas keinginannya," balas Saciel ketus. "Jika kau ada di sini, berarti Vristhi juga ada di sini?"


"Vristhi? Wanita itu sekarang ada di wilayah utara, Ratuku. Kau tahu apa yang akan dia lakukan, bukan?"


Saciel mundur selangkah dengan wajah pucat seputih pualam, membuat Dark merasa di atas angin.


"Bohong! Dia tidak mungkin melakukannya!"


"Melakukan apa?" pancing Dark. Tiba-tiba Phillip masuk dengan buru-buru dan terkejut melihat Dark terbelenggu di hadapannya. "Ah, bocah petir."


"Halo, pangeran buangan. Ah, Yang Mulia baik-baik saja?" tanya Phillip. Saciel hanya mengangguk samar dan menatap Phillip. "Uhh, saya tahu Anda tidak akan suka ini tapi...wilayah perbatasan di utara...diserang."


"...siapa yang melakukannya?"


"Archduchess...atau lebih tepatnya mantan archduchess Vristhi Rosemary," ujar Phillip lirih. Saciel tercekat, mencoba mempertahankan wibawanya yang mulai runtuh. "Saat ini kami sedang mencoba menahannya."


"Sudah kubilang, bukan? Kau masih percaya dia berpihak padamu, Ratuku?" sindir Dark. Phillip berjalan mendekat dan menidurkannya dengan aliran petirnya yang cukup kuat.


"Perlu saya bunuh orang ini?" tanya Phillip.


"Tidak usah, lempar saja sejauh yang kau bisa," balas Saciel lirih. Phillip mengangguk dan menyeret Dark keluar, sementara Saciel berdiri mematung dengan tatapan kosong. Parvati datang dan berlutut di hadapannya.


"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?"


"Sepertinya begitu, Parvati. Tolong perketat penjagaan di bagian timur dan barat sebelum tempat itu hancur," ujar Saciel. Ia berjalan menuju kamarnya dan berganti pakaian secepat yang ia bisa. Parvati yang mengikuti hanya diam dan membantunya berganti.


"Apa Anda ingin pergi, Yang Mulia?" tanya Parvati.


"Rakyat membutuhkanku. Mana mungkin aku berdiam diri dan membiarkan mereka menjerit dalam pedih dan luka? Jangan mencoba menghalangiku."


"Saya tidak akan menghalangi Yang Mulia," ujar Parvati tegas. Saciel mengulum senyum dan berjalan cepat meninggalkan istana, menuju kandang kuda yang kini kosong. Hanya ada seekor kuda hitam dengan tatapan galak yang tengah mendapat perawatan. Sang perawat terkejut dengan kehadiran ratu yang mendadak.


"Y-Yang Mulia, ada yang bisa saya bantu?" tanya si perawat. Saciel menatap kuda itu lekat-lekat dan langsung melompat ke atasnya. "Yang Mulia?!"


"Aku pinjam dulu kudanya!" ujar Saciel sembari menghela tali kekangnya dan menghilang dari pandangan.