
Istana Stjärnan
Saciel dan Parvati tengah sibuk diantara ratusan gulungan benang dan kain yang terhampar di kamar ganti. Sang penjahit, Raz, bergembira karena dipercaya menjahit pakaian untuk calon ratu.
"Saya senang menjadi penjahit Anda lagi, Nona. Atau perlu saya panggil Yang Mulia?" goda Raz. Saciel tertawa kecil mendengarnya.
"Tidak, jangan sekarang. Tapi kau yakin bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari sehari?" tanya Saciel, sedikit ragu.
"Jangan khawatir, Nona. Saya sanggup melakukannya demi Anda, bahkan jika saya tidak tidur, saya akan membuatnya sampai Anda puas!" jawab Raz berapi-api. "Silakan dilihat-lihat dulu modelnya, saya akan memilihkan beberapa kain yang cocok untuk Anda."
"Bantu aku Parvati," ujar Saciel sembari mengambil buku sketsa dari Raz dan membukanya. Ratusan model dan bentuk gaun terhampar dari sketsa. "Ugh, banyak sekali."
"Wah, indah sekali semuanya," puji Parvati. "Saya jadi bingung memilihnya. Tuan Raz, apa Anda memiliki rekomendasi?"
"Panggil Raz saja, Nona. Tentu ada dong, sebentar ya. Tadi kutaruh mana ya?" balas Raz sembari mengubek-ubek tasnya dan mengeluarkan dua lembar kertas dengan mahakarya tertuang di atasnya. "Ini dia. Silakan."
Parvati meraihnya dan memberikannya pada Saciel. Ia melihatnya dan langsung mengulum senyum. "Bagaimana, Yang Mulia?"
"Kuharap kau bisa membuatnya lebih baik, Raz. Desain yang ini cukup menarik untukku," ujar Saciel sembari menyerahkan salah satu mahakaryanya.
"Apa ada bagian yang kurang memuaskan, Nona?" tanya Raz.
"Buat lebih seksi lagi, bisa?" tanya Saciel.
"Tentu saja tidak boleh, Nona. Ini kan untuk penobatan, bukan untuk ajang pamer," balas Raz girang. Ia mulai memamerkan beberapa sampel kain pada Saciel yang memasang ekspresi kecewa. "Silakan pilih bahan yang Anda inginkan. Semuanya dingin di kulit dan tidak membuat Anda kepanasan."
"Hmm, aku tidak terlalu tahu soal kain. Oh, ini bagus juga," ujar Saciel sembari menunjuk pada sebuah kain dengan tekstur halus dan ringan.
"Ah, georgette ya? Bahan yang sangat lembut seperti chiffon, tapi lebih kuat," ujar Raz. "Pilihan yang bagus, Nona. Ini mempermudah saya untuk mendesainnya. Hmm warna yang cocok untuk penobatan....putih."
"Putih? Eww, tidak," tolak Saciel.
"Mana boleh begitu, Nona. Dress harus berwarna putih, tapi untuk jubahnya bolehlah warna lain," balas Raz meyakinkan. Saciel semakin masam mendengarnya, membuat Raz harus putar otak untuk meyakinkan kliennya. "Putih itu ada banyak jenisnya, Nona. Nah, silakan," lanjutnya sembari memberikan contoh warna kain putih. Saciel memandangi beragam *shade *putih dengan tatapan serius.
"Warnanya hampir sama," keluh Saciel.
"Memang, tapi masih ada sedikit perbedaannya," jawab Raz. Saciel menghela napas dan memilih warna putih gading. "Pilihan yang bagus, Nona."
"Haha, lucu sekali. Itu sudah satu set dengan perhiasannya?"
"Ya, Nona. Sudah dengan perhiasannya. Ada permintaan untuk perhiasan? Misal memakai rubi? Safir?"
"Nah, buat senada saja," balas Saciel pasrah. Raz mengangguk dan mulai mengukur tubuh Saciel.
"Nona, ukuran tubuh Anda kembali ke normal," ujar Raz sembari menuliskan hasil ukur dan membandingkannya dengan hasil sebelumnya.
"Begitukah?" tanya Saciel sembari melihat hasilnya. Raz bergegas mengambil satu gulung kain georgette dan mulai memotongnya menjadi pola baju. "Kau perlu bantuan?"
"Oh, tenang saja Nona. Pegawaiku akan datang untuk membantuku setelah mengambil aksesori pelengkap," jawab Raz. "Nona bisa menunggu di luar agar tidak mengganggu saya."
"Baiklah, aku menginginkan hasil yang sempurna, Raz. Mari kita keluar, Parvati," ujar Saciel dengan senyum kecil. Parvati mengangguk dan keduanya berjalan meninggalkan ruang ganti menuju taman istana yang dipenuhi bunga mawar putih. "Hm, putih lagi?"
"Perlukah saya menggantinya?" tanya Parvati.
"Nanti saja setelah penobatan," balas Saciel santai. Ia kembali berjalan hingga sampai di gazebo dan mendaratkan pantatnya pada kursi. "Aku ingin cemilan yang tidak terlalu manis."
"Baik, Yang Mulia," ujar Parvati. Setelah maid kerajaan itu sudah pergi, Saciel memetik setangkai mawar dan meletakkanya pada vas. Ia menatap bunga itu dan menghela napas, lalu menoleh ke belakang.
"Kawan, kurasa? Jangan kaku begitu, anakku. Masa kau lupa denganku?" balasnya kalem. Saciel menyeringai mendengarnya, perlahan mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya.
"Mau apa dewa paling brengsek di seluruh Respher kemari? Kuyakin kau kemari karena alasan konyol," tanyanya memanas-manasi. Oorun tertawa kecil dan mulai mengeluarkan aura mematikn yang berat, membuat Saciel sedikit berjengit.
"Jangan memancingku, anakku. Aku bisa saja menjadikanmu abu detik ini juga," ancam Oorun. Saciel tertawa keras dan menjatuhkan pisaunya, lalu mengangkat kedua tangannya. "Anak pintar."
"Aku tidak mau membuat kekacauan di waktu seperti ini. Dan sekarang kau terlihat seperti Vatra, baik fisik maupun sikap," ujar Saciel setengah menyindir. Oorun bergerak maju dan berdiri di hadapan Saciel dalam wujud aslinya, memasang wajah sedingin mungkin dan aura mematikan yang membuatnya tidak bisa bernapas. "Kh!"
"Kau masih belum bisa mengontrol bahasamu, ya? Perlukah kubuat dirimu bisu?" ancam Oorun. Sebelum Saciel angkat bicara, Stevan melesat maju dan menarik tuannya mundur sejauh mungkin. "Kau lagi?"
"Selamat siang, Dewa Oorun. Mohon maaf, saat ini Yang Mulia tidak bisa diganggu, jadi bisakah Anda kembali ke tempat seharusnya Anda berada?" sapa Stevan sembari merapikan kerutan yang ada di lengan baju Saciel dengan hati-hati. Dewa Oorun hanya mendengus dan pergi begitu saja, membuat Saciel kesal dengan tingkahnya.
"Dewa sialan," maki Saciel.
"Yang Mulia, sebaiknya Anda tidak menantang para dewa untuk sementara waktu," ujar Stevan mengingatkan. Saciel menghela napas dan mengangguk, lalu duduk kembali sembari memainkan pisau dengan wajah merengut. Parvati datang dengan membawa cemilan dan menyajikannya di hadapan Saciel.
"Siapa suruh dia datang seenaknya di sini," balas Saciel sembari meraih sepotong biskuit dan menggigitnya. Kedua pelayannya hanya mengulum senyum sembari melayani dengan sepenuh hati. "Ngomong-ngomong, kalian kenapa melayani keluarga kerajaan?"
"Kalau kami bilang tidak ada alasan, apakah Yang Mulia percaya?" tanya Parvati. Saciel menggelengkan kepalanya, mengundang tawa renyah dari bibir mereka. "Sebenarnya kami hanya menjaga semuanya sesuai dengan ramalan."
"Ramalan apa?" tanya Saciel heran.
"Itu tidak bisa kami beritahukan, Yang Mulia. Maaf," ujar Stevan. Saciel hanya angkat bahu dan kembali menikmati cemilannya. "Tuan Raz memberitahu saya bahwa bajunya sudah siap untuk dicoba."
"Hah? Cepat sekali," ujar Saciel kaget. Ia bangkit berdiri dan kembali ke istana untuk menemui Raz yang asyik sendiri. "Raz, sudah selesai?"
"Halo, Nona. Sudah selesai untuk tahap pertama, silakan dicoba," ujar Raz. Dibantu Parvati, Saciel melekatkan pakaian yang sudah disiapkan itu di tubuhnya.
"Wah, ukurannya pas," ujar Saciel kagum. Raz maju dan mengecek beberapa bagian dan memberikan tanda dengan mengunakan jarum pentul.
"Sempurna. Tinggal ditambah sulaman di beberapa tempat dan selesai," ujar Raz bangga. Ketika selesai berganti, mata Saciel terpaku pada satu set perhiasan berupa anting dan kalung dari berlian yang berkilauan berbentuk matahari. "Ah, ini desain yang kusesuaikan dengan kerajaan kita."
"Sangat indah," puji Saciel tulus. Raz tersenyum puas dan mendorong Saciel keluar. "Hei."
"Tidak boleh masuk sampai hari H, Nona," ujar Raz dengan senyum lebarnya. Setelah berhasil mengeluarkan Saciel dari ruang ganti, Raz langsung menutup pintu dan menguncinya. Saciel hanya tertawa kecil dan berjalan menuju ruang kerja, dimana Stevan sudah menanti dengan elagan.
"Aku butuh ajudan," ujar Saciel.
"Ajudan? Apa saya perlu siapkan kandidatnya?" tanya Stevan.
"Ah, tidak. Aku mau Phillip jadi ajudanku," balas Saciel.
"Apa ada unsur pilih kasih di sini, Yang Mulia?" goda Stevan.
"Tidak, dia satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini," balas Saciel geli. "Nanti setelah aku dinobatkan, berikan semua dokumen yang harus kubereskan."
"Baik, Yang Mulia."
"Apa ada laporan yang masuk?"
"Sampai saat ini belum ada, Yang Mulia. Ah, tapi saya mendapat pesan dari Duke Zografos bahwa Marquess Arlestine sudah baik," jawab Stevan. Saciel mengulum senyum lega mendengarnya.
"Kirimkan bunga gladiol kuning untuknya."