The Two Empresses

The Two Empresses
Kabur



"Kenapa...dia ini kakakmu?"


"Eh? Nee, kau baik-baik saja?" tanya Kezia. Saciel mengangguk samar, lalu berjalan keluar dan mendapati Phillip tengah membaca surat kabar.


"Ada apa? Kau seakan-akan habis melihat hantu."


"Itu... sebaiknya kita bicara di luar. Aku tidak bisa membiarkan orang lain mendengarnya."


"...baiklah," ujar Phillip. Mereka segera berjalan keluar dan menikmati udara sejuk yang menyapa mereka. "Jadi bagaimana?"


"Dia...dia masih belum sadar."


"Ayolah, ini bukan yang ingin kau katakan. Ada apa sebenarnya?"


"...manusia setengah serigala itu...itu..."


"Ah, Nona Arakawa, kebetulan kau ada di sini. Saya membawa kabar buruk," panggil Jess.


"Oke, apa itu?" celetuk Phillip.


"Para tetua sudah mengirim pasukan untuk membawa pemuda itu dari sini. Mereka akan sampai dalam waktu kurang dari 1 jam."


"Kurasa mereka menggunakan sapu terbang?" celetuk Saciel. "Berarti Parvati tidak bisa menahan mereka."


"Sebaiknya kita tidak mempercayai kata-katanya, buktinya belum ada 2 jam dia tak mampu menahan para tetua."


"Tidak. Justru kita berterimakasih padanya yang sudah susah payah menahan selama mungkin. Bawa dia."


"Nona Arakawa, apa Anda serius? Dia masih..."


"Jess White, saya sangat berterimakasih padamu yang telah menyelamatkan serta merawat pemuda itu. Saat ini tugas kalian sudah selesai," potong Saciel. Ia menggenggam tangan Jess dan meletakkan beberapa lembar kertas segel berwarna hitam dengan huruf kuno berwarna merah.


"Ini..."


"Segera tempelkan itu di beberapa titik. Cepat!" desak Saciel. Jess serta Carl bergegas pergi melaksanakan titah Saciel. "Dan kau, bawa Kezia dan kakaknya pergi dari sini."


"Ke mana?" tanya Phillip.


"Kurasa...ke arah Hutan Suci."


"Demi Dewa Oorun, apa kau sadar apa yang kau katakan? Kau menyuruhku masuk ke dalam Hutan Suci?"


"Kita kehabisan waktu oke? Dengar, para prajurit tidak akan bisa masuk ke Hutan Suci tanpa berkat dari Cerlina. Bersembunyilah di sana sampai aku selesai di sini."


"Tapi kau menyuruhku masuk ke hutan tanpa berkat dari Cerlina? Kau ingin aku dikutuk?" erang Phillip. Saciel menghela napas dan memijit pelipisnya.


"Oh ayolah, apa kau percaya dengan rumor itu?"


"Yah, begitulah. Tapi karena kita tidak punya pilihan, aku akan masuk. Tapi kalau aku kena kutukan, akan kuinjak mukamu," ancam Phillip.


"Baiklah," ujar Saciel pasrah. Ia melihat seorang pria lewat dengan gerobak yang ditarik seekor kuda.


"Pak, bolehkah saya meminjam gerobak Anda?" panggil Saciel.


"Gerobak ini tidak pantas untuk penyihir mulia seperti Nona," sahut pria itu sedikit takut.


"Oh ayolah, kita ini sederajat. Jika Anda bersikeras, sepertinya saya akan menyewanya saja."


"Tidak Nona, kumohon jangan menyewanya. Saya tidak pantas menerima kebaikan Nona."


"Pak, saya masih lebih muda dibandingkan dengan Bapak. Saya sangat membutuhkan gerobak Bapak untuk membawa kabur teman saya," pinta Saciel setengah memelas. Akhirnya bapak itu bersedia meminjamkan gerobaknya. Beberapa pemuda menggotong kakak Kezia dan membaringkannya perlahan di atas gerobak. Kezia memandangi Saciel dengan pandangan takut dan cemas.


"Nee, kenapa nee tidak ikut dengan kami?" cicitnya.


"Sayang, aku tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja. Pergilah, kau akan baik-baik saja bersama Phillip," ujar Saciel meneduhkan. Ia berpaling pada Phillip dan memberi kode untuk segera pergi. Phillip menghela tali kekang dan mereka berjalan menjauh. Saciel dengan cepat menghapus jejak mereka dengan sihir, lalu berpaling pada Jess yang baru saja kembali.


"Bagaimana?"


"Semua sudah terpasang. Tapi sebenarnya itu segel apa?" tanya Jess.


"Kau akan tau nanti. Sekarang aku harus mengganti penampilanku agar tidak menjadi masalah," balas Saciel.


"Hei, itu bukan kostum," gusar Jess. "Tapi silakan, Anda boleh memakainya jika membutuhkannya."


"Ini lebih dari cukup," ujarnya senang. Ia menyembunyikan rambut merah darahnya dengan wig sebahu berwarna hitam, mengubah warna matanya yang biru laut dengan warna cokelat mahoni, serta mengubah beberapa struktur tubuhnya. Jess dan Carl sedikit takjub melihatnya.


"Kenapa kau... maksudku Anda tidak menggunakan sihir untuk mengubah seluruh tubuh Anda?" tanya Carl.


"Habis...terlalu ribet untuk mengembalikan seperti semula. Daripada itu, sebaiknya kita segera membereskan beberapa tempat yang terkontaminasi oleh para demi-human itu."


Tanpa banyak bicara mereka segera membereskan pondok milik Paman Olan, beberapa penduduk turut menyumbangkan tenaga.


"Nona Jess, mereka datang!" sahut penjaga gerbang. Jess bergegas menuju gerbang, sementara Saciel membantu para wanita menjaga anak-anak.


Sementara itu, Phillip membawa Kezia serta demi-human itu menuju Hutan Suci. Aura mistis sekaligus suci perlahan menyelimuti mereka.


"Oh astaga, aku benci sekali dengan situasi ini. Kuharap Saciel baik-baik saja," gumam Phillip.


"Nii, apa aku merepotkan nii dan nee?" celetuk Kezia. Phillip menoleh dan mengulum senyum ramah.


"Tidak. Kau sama sekali tidak merepotkan."


"Tapi...aku...membuat nii dan nee dalam masalah."


"Itu sudah konsekuensinya. Tidak apa, saat ini yang lebih penting adalah pemulihan untuk kakakmu dan keselamatan kita."


Keduanya ternganga melihat dua patung besar berbentuk naga yang menjadi gapura di depan Hutan Suci. Tetapi yang membuat mereka takjub adalah kristal yang menempel di tubuh patung tersebut, seakan-akan kristal itu tumbuh.


"Apa ini...naga?" tanya Kezia.


"Ini...naga yang ada dalam legenda. Naga Kristal, tidak semua orang bisa melihat wujudnya. Apa mereka...menghuni hutan ini?" ujar Phillip.


"Apa mereka berbahaya?"


"Entahlah, aku tidak yakin," ujar Phillip tenang. Ia mengendarai gerobaknya masuk ke dalam hutan dengan hati-hati. Keduanya kembali takjub dengan pemandangan di dalam Hutan Suci. Pohon-pohon berkilau seakan terbuat dari permata, rumput yang halus seperti beludru, dan sungai yang jernih mengalir lembut membelah hutan.


"Ini...luar biasa. Rasanya seperti berada di surga," celetuk Phillip. Rasa kagumnya mampu membuatnya tidak menyadari akan bangunnya sang pemuda demi-human. Kezia tersentak dan memeluknya dengan erat.


"Max nii! Kau bangun!" jeritnya bahagia. Phillip berbalik dan melihat mereka tengah memeluk dengan rasa rindu yang tak mampu dibendung lagi.


"Kezia? Kau...masih hidup?" tanyanya lirih.


"Ya. Kakak ini dan temannya menolongku," ujar Kezia. Max menoleh dan tersentak melihat Phillip seakan melihat hantu.


"Kau...penyihir?!" geram Max.


"Eh? Eh? T-tunggu, aku bisa jelaskan," ujar Phillip panik.


"Tidak usah berbasa-basi!" sahut Max. Ia menarik sebilah pisau dari balik bajunya dan bersiap menyerang Phillip, namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk menyerang. Ia oleng dan ambruk di pangkuan Kezia.


"Nii!"


"Di...dia hanya lemas, tenang saja," ujar Phillip menenangkan, walau dirinya takut dengan Max yang melemparkan tatapan maut ke arahnya. "Kezia, sebaiknya kau ambil air untuknya."


"Ah, nii benar," celetuk Kezia. Ia bergegas turun dan mengambil air di sungai. Max kembali menatap Phillip yang keder, walau ia berusaha menutupi rasa takutnya.


"Penyihir sepertimu mau menolong kami yang demi-human? Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Max lirih namun dalam.


"Apa menolongmu harus memiliki alasan?" balas Phillip. Max hanya diam, lalu menyandarkan diri pada gerobak.


"Entahlah. Hanya saja, kita masih dalam situasi perang dan aku tidak mungkin langsung percaya padamu."


"Kau tidak harus. Aku membantumu karena temanku yang meminta. Saat ini kita dalam keadaan genting."


"Jadi maksudmu kau sebenarnya tidak ada niat untuk menolong?" ujar Max sembari menggeram pelan. Phillip makin pucat, namun ia mencoba menguasai dirinya kembali.


"Aku memang ada niat untuk menolong, namun tidak sebesar kawanku yang terlalu baik. Sebaiknya kau banyak istirahat untuk memulihkan keadaanmu. Aku tidak bisa membantu banyak," ujar Phillip. Kezia kembali dengan sebotol air yang ia ambil dari sungai dan memberikannya pada Max.


"Nii, minumlah," ujarnya. Max menerima botol itu dan menenggaknya hingga habis. Hati-hati diletakkannya botol itu dan melihat di sekelilingnya.


"Ini di mana?"