
Sudah sepuluh hari berlalu sejak insiden itu, namun Saciel tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka kelopak matanya. Kezia makin gelisah, terkadang ia menangis di pelukan Max sembari memanggilnya.
"Apa ini hal yang normal?" tanya Phillip.
"Ini hal yang wajar. Tetapi jika minggu depan ia masih tidak sadarkan diri, kemungkinan ia koma," ujar dokter elf. Phillip hanya menggigit bibir bawahnya, sedikit cemas dan kalut. Ia tak mampu mengatakan hal it pada Kezia yang mulai bertingkah seperti anak anjing yang kehilangan induknya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Nero lirih.
"Tidak bagus. Ada kemungkinan dia koma," ujar Phillip.
"Koma ya? Perlu kubantu?"
"Memang kau bisa melakukan apa?" tanya Phillip meragukan. Nero berbisik dan sebuah bola api biru kecil melayang di pundaknya. "Will-o'-the-wisp?"
"Ya. Dia akan menjaga gadis it agar tidak mati," ujar Nero.
"Hm? Bukankah dia adalah pemandu bagi para petualang yang tersesat?"
"Will-o'-the-wisp juga bisa menolong mereka yang koma untuk kembali. Melalui alam mimpi mereka."
"Menarik. Mari kita coba," ujar Phillip semangat. Bola api biru kecil itu melayang masuk ke ruangan Saciel dan merasukinya.
"Tugas kita hanya menunggu."
"Max nii, mau sama nee," rengek Kezia sembari menarik baju Max. Max menggendongnya dan membawanya keluar, membuat air mata keluar dengan rengekannya.
"Kezia manis, untuk saat ini biarkan Saciel sendiri oke? Kita hanya bisa menunggu dan berdoa," hibur Max lembut. "Jangan nangis, nanti mukamu jadi jelek."
"Nii jelek! Jelek!" jerit Kezia.
"Iya iya, aku jelek bayi manja."
Saciel membuka mata dan hanya ada kegelapan yang menyambutnya. Ia melayang dan tak tahu di mana dirinya saat ini.
"Apa aku...mati?" tanyanya lirih. Ia menjejakkan kakinya di permukaan air dan mengedarkan pandangan, mencoba menemukan setitik petunjuk yang bisa membantunya. Matanya menangkap setitik biru, lalu membentuk sebuah bola api biru yang menyilaukan mata.
"Will-o'-the-wisp?" ujarnya heran. Bola itu membelah diri dan membentuk sebuah jalur. Ia mengikuti jalur itu hingga mencapai sebuah ruangan besar penuh dengan kenangan dirinya. "Luar biasa."
Ia meraih sekeping memori dan mengulum senyum bahagia. Perlahan ia tersedot di dalam memori itu dan mendapati sepasang gadis kecil kembar tengah menikmati liburan di sebuah taman. Seorang pria dengan rambut merah duduk bersama wanita berambut ungu dengan senyum lebar dan sesekali melambaikan tangan.
"Papa, Mama," panggilnya lirih. Ia berjalan mendekati dan mencoba menyentuhnya, namun tangannya menembus tubuh mereka. Belum selesai ia bernostalgia, ia kembali tersedot ke dalam memori lain. Wajahnya pucat dan kaku. Ia melihat dirinya dan Cerlina dipisahkan secara paksa oleh beberapa orang dari kuil.
"Lepaskan! Cerlina! Lina!" jerit Saciel kecil. Cerlina kecil berusaha meronta, namun apa daya tubuh kecilnya tidak mampu melawan orang dewasa yang lebih besar darinya.
"Ciel! Ciel!" panggil Cerlina kecil berlinangan air mata. Kepala keluarga Arakawa berusaha melawan, namun beberapa prajurit dan orang yang Saciel benci berdiri menghadangnya dengan pedang mengarah ke dirinya beserta istrinya.
"Erika," ujarnya penuh kebencian. "Beraninya kau mengusik keluargaku."
"Daisuke Arakawa. Gadis ini adalah yang terpilih dari Dewa Oorun. Seharusnya kau bangga, putrimu akan menjadi Pendeta Agung," ujar Erika.
"Marie, seharusnya kau bisa mengendalikan Daisuke untuk bertindak rasional. Bukannya lepas kendali seperti ini," hina Erika.
"Aku tidak peduli. Kau salah mengambil dia dari kami, Erika," balas Marie dengan air mata mengalir deras. Setelah Cerlina kecil menghilang di balik pintu, Erika dan yang lainnya meninggalkan kediaman Arakawa. Tidak ada satupun yang bersimpati dengan kejadian itu. Sebelum Saciel bergerak, ia kembali berpindah pada ingatan lain. Ia berdiri di pinggir pantai sendirian, tidak menemukan sosok yang ia kenal. Namun ia mendapati Cerlina kecil berjalan menuju ke air dengan boneka kesayangannya.
"Cerlina, tunggu!" panggil Saciel kecil sembari berlari cepat. Napasnya tersengal, namun kebahagiaan tidak bisa pudar dari matanya. Cerlina kecil mengulum senyum pahit dan meneteskan air mata.
"Saciel, jangan tinggalkan aku ya?" pintanya memelas. Saciel kecil segera memeluknya dengan erat, air mata kini menetes.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji akan membawamu pulang, meski harus berhadapan dengan orang-orang tua bodoh itu," hibur Saciel.
"Janji?" tanya Cerlina kecil dengan senyum sumringah, namun air mata masih terus mengalir di pipi bulatnya. Saciel kecil mengangguk dan tersenyum.
"Aku akan menjadi kuat agar aku bisa melindungimu," janji Saciel kecil. Kini Saciel berpindah cepat dan tiba pada kenangan yang paling ia benci seumur hidupnya.
"Kenapa juga aku harus melihat ini?" tanya Saciel muak. Ia mendapati dirinya tengah berlutut di hadapan Erika sembari menahan emosi agar tidak menarik pedang dari sarungnya.
"Saciel, majulah ke medan perang dengan gagah berani. Jadilah ksatria dari keluarga Arakawa dan bawakan kemenangan untuk negeri ini," ujar Erika.
"Akan kubawakan mahkota kemenangan untuk negeri ini," ujar Saciel pahit. Saciel yang menontonnya langsung mencoba meninggalkan tempat itu, namun kini ia berpindah ke medan perang yang penuh dengan mayat.
"Tidak. Tidak! Hentikan!" jerit Saciel histeris. Ia meringkuk dan gemetar, batinnya sudah cukup tersiksa.
"Kau mau melarikan diri dari kenyataan?" tanya seseorang. Saciel mengangkat wajah dan mendapati dirinya sendiri berdiri tak jauh darinya dengan tatapan kosong.
"Ya."
"Kau mau membuang segalanya demi kenyamanan dirimu?"
"Ya," jawab Saciel lirih. Diri Saciel yang lain mendengus dan berbalik.
"Kau mau melanggar sumpahmu?" tanyanya. Saciel tersentak dan menggeleng kepala kuat-kuat. "Katakan padaku, siapa dirimu?"
"Aku...hanya Saciel."
"Hanya katamu? Kau yakin?" tanyanya penuh penekanan. Saciel terdiam dan merenung. "Apa kau yakin?"
"...aku Saciel Arakawa. Pewaris sah dan kepala keluarga Arakawa terkuat di sepanjang sejarah," ujar Saciel.
"Terkuat di sepanjang sejarah katamu? Omong kosong apa yang kau katakan?" tanya dark Saciel. Saciel bangkit berdiri dan mengulum senyum.
"Omong kosong yang akan mengubah dunia ini. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuanku."
"Ambisi yang menarik. Tapi apa kau siap dengan apa yang akan menghampirimu? Bisa saja kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan."
"Aku siap, apapun resikonya. Aku tidak peduli jika harus berada di situasi yang sangat sulit. Tapi aku tidak akan menyerah," ujar Saciel.
"Kalau begitu, pergilah. Mereka sudah menantimu di sana."