
Vatra dengan cepat mengayunkan pedang, namun bukannya darah yang terciprat, seikat rambut ungulah yang berhasil ia potong. Cerlina sudah melompat mundur sembari mengatur napas di atas pohon.
"Kau mengorbankan rambutmu demi nyawa? Bagus juga," ujar Vatra sembari menginjak rambutnya dengan kesal.
"Rambut bisa tumbuh lagi, tapi nyawaku cuman satu, jadi nggak bisa dibuang begitu aja," balas Cerlina. Ia mengelus rambutnya yang kini hanya sebatas dagu dengan muka masam.
"Huh, menarik juga. Kau tidak akan lolos dengan mudah," ujar Vatra sembari bersiap menyerang.
"Sial," keluh Cerlina sembari berdiri dan memegangi panahnya dengan kuat, menunggu serangan Vatra.
"Nee!" sahut seseorang. Gadis demi human serigala ungu mendadak berada di sampingnya dengan dual scythe di tangan. "Nee baik-baik saja?"
"Eh? Kezia? Bagaimana caranya kau bisa sampai di sini?" tanya Cerlina heran.
"Uhh kebetulan saja aku dekat dari sini karena serangan mendadak. Lho, rambut Nee kok jadi pendek?" balas Kezia.
"Panjang ceritanya. Kita harus fokus melawan musuh dulu," ujar Cerlina. Kezia berpaling dan menggeram ketika melihat Vatra.
"Cih," decihnya.
"... merepotkan. Kau bereskan sisanya," ujar Vatra sembari berbalik dan menyarungkan pedangnya. Kezia melompat maju dan menyerangnya.
"Jangan!" sahut Cerlina. Tanpa berpaling Vatra menangkap mata sabit Kezia hanya dengan kedua jarinya, pandangannya masih lurus ke depan.
"Kau beruntung masih hidup, bocah," gumam Vatra sembari melempar gadis itu ke danau, lalu pergi hanya dengan sekali lompatan.
"Kezia!"
"Lawanmu itu aku, penyihir!" sahut elf sembari menyerang dengan cepat, namun Cerlina mampu berkelit dan melepaskan beberapa tembakan yang mengenai titik. Kezia segera berenang ke tepi dan mengambil napas sebanyak yang ia bisa karena paru-parunya terisi air, sementara Vatra melompat pergi begitu saja.
"Sialan! Penyihir busuk, kucincang kau!" maki elf. Cerlina melirik elf itu dengan tatapan tajam, lalu mengulum senyum sinis.
"Coba saja kalau bisa," ujar Cerlina sembari menjentikkan jarinya. Ratusan jarum es langsung muncul di sekeliling elf dan menghujam dengan cepat hingga elf itu mati tanpa sempat menyerang balik. Panah yang dipegangnya kembali ke bentuk semula, napasnya mulai tak teratur. Pandangan gadis itu mulai kosong dan detik itu pula ia tak sadarkan diri.
"Nee!"
Sebelum kepalanya membentur tanah dengan keras, Nero berlari cepat dan menangkap gadis itu.
"Hah..hah, astaga nyaris saja," gumam Nero sembari mengeratkan pelukannya dengan tatapan cemas. "Kau baik-baik saja, Kezia?"
"Ya. Uh, apaan...eh? Nii, darah!" sahut Kezia saat menyadari tangannya berlumur darah milik Daniel.
"Bukan hanya darah, Kezia. Lihat, ada potongan daging dan tanduk. Ah, ini bukannya Daniel?"
"Grand Duke! Putri!" sahut Layla sembari berlari mendekat dan terkejut melihat potongan tubuh Daniel tercecer di dekat Kezia. "Ah! Suamiku!"
Minotaur tua itu jatuh berlutut dan meraung sekeras yang ia bisa hingga membuat minotaur lainnya datang. Beberapa menghibur Layla, sementara yang lain mengumpulkan potongan tubuh Daniel sembari menahan diri agar tidak muntah. Nero membaringkan Cerlina dengan hati-hati di bawah pohon dan memanggil Undine untuk mengeringkan Kezia.
"Grand Duke, Anda baik-baik saja?" tanya seorang prajurit sembari memberi hormat.
"Tidak apa-apa. Bantu para minotaur di desa, aku akan mengurus sisanya di sini," ujar Nero. Setelah prajurit itu pergi, Nero dan Kezia mendekati Cerlina yang masih terbaring dengan napas tersengal.
"Cerlina nee baik-baik saja?" tanya Kezia.
"Entahlah, Kezia. Aku tidak tahu," ujar Nero sembari mengelus kepalanya dengan lembut. Ia mengangkat gadis itu lagi dan kembali ke desa, diikuti Kezia di belakang dengan wujud anak kecilnya.
...****************...
Kedua mata Cerlina perlahan mulai terbuka. Ia mengedarkan pandangan di tempat yang menurutnya asing, lalu terpaku pada Kezia yang menyembulkan kepala di sisi kirinya.
"Manisku! Kau sudah sadar?" sapanya sembari memegang tangan halus miliknya dengan hati-hati.
"Di mana aku?" tanyanya lirih.
"Di rumah Layla, kau pingsan setelah bertarung," ujar Nero. Cerlina mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah dan berat.
"Nee tidur saja," ujar Kezia sembari menahannya agar tidak bergerak.
"...berapa lama aku pingsan?"
"Hampir satu jam. Kau pucat, apa yang terjadi?" tanya Nero lembut. Cerlina menghela napas mendengarnya.
"Aku bukan penyihir kuat, Nero. Staminaku lebih cepat habis saat menggunakan sihir," jawab Cerlina parau. Nero mengelus kepalanya dengan lembut.
"Tidak apa, kau kan berbeda dan unik," ujar Nero. Cerlina mengulum senyum, sementara Kezia asyik memeluk tangan gadis itu agar perhatiannya terpusat untuknya.
"Tunggu di sini, aku harus mengurus sesuatu," ujarnya sembari mengecup punggung tangan gadis itu dan pergi.
"Nee punyaku!" sahut Kezia sembari memeluknya.
"Iya iya, aku punyamu Kezia. Hm? Kau suka berada dalam wujud anak-anak?"
"Iya, soalnya nyaman," balas Kezia sembari berbaring di samping Cerlina dan memeluknya. Cerlina hanya tertawa kecil dan mengelus kepalanya hingga ia terlelap. Meski tubuhnya terasa berat, ia memaksakan diri untuk bangun dan mencoba turun dari peraduan, namun kakinya terlalu lemas untuk berdiri hingga ia terjatuh. Kezia langsung melompat turun dan membantu Cerlina kembali ke tempat tidur.
"Nee mau ke mana?" tanya Kezia.
"Aku harus ke danau, Kezia. Bisa bantu aku?" pinta Cerlina.
"Nee butuh istirahat, nanti aku dimarahi Nero nii," cicit Kezia. Cerlina tertawa kecil, lalu mengelus kepalanya.
"Kau takut sama Nero?"
"Nggak! Nggak takut," balas Kezia mantap. Ia langsung berlari keluar dengan semangat, namun beberapa menit kemudian kembali dengan muka sembab dan cemberut. Ia melompat ke pangkuan Cerlina dan menangis.
"Huwe! Nii marah!"
"Eh? Aduh kasihan, dimarahi ya?" hiburnya sembari menepuk punggung Kezia, sesekali bersenandung. Nero masuk dengan secangkir susu di tangan dan melotot pada Kezia.
"Ini anak disuruh jagain malah bercanda saja," tegur Nero.
"Nero, aku harus ke danau. Ada barang yang harus aku ambil di sana," ujar Cerlina sembari memeluk Kezia yang makin kucel wajahnya.
"Cerlina, mana mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja saat kondisimu seperti mayat begitu. Tidak boleh," tolak Nero. "Memang tidak bisa menunggu?"
"Kalau terlalu lama para flügel akan mati!" sahut Cerlina keras, membuat Kezia terkejut dan takut. "Aku berjanji untuk mengambil Mata Oorun untuk menolong mereka."
"Tapi ini bukan wilayah Respher, untuk apa kau kemari?"
"Karena kristalnya hanya bisa dipotong dengan kapak suci milik minotaur," ujar Cerlina lirih. Nero makin frustrasi mendengarnya.
"Hah, kapak yang hilang itu ya? Bagaimana caranya kamu menemukan benda itu? Daniel saja tewas, bahkan penerusnya mati duluan sebelum mengetahui tempat itu," ujar Nero.
"Aku tahu tempatnya, tapi aku bisa membukanya atau tidak aku tidak tahu," ujar Cerlina. Nero menghela napas.
"Cerlina, meski kau tahu bagaimana cara membukanya, aku ragu itu akan terbuka untukmu."