The Two Empresses

The Two Empresses
Hidden Card



"Apa katamu, bocah kurang ajar?!" maki Boldstone. Phillip hanya angkat bahu dan bersantai, menikmati raut kesal milik mantan tetua paling bontot diantara lainnya.


"Hey, Boldstone. Bukankah ini waktunya kami yang muda mengambil alih apa yang kalian wariskan pada kami?" tanya Phillip.


"Kalian hanya akan merusaknya," ujar Boldstone.


"Wah, nggak sihirnya nggak namanya sama-sama batu," sindir Phillip dengan senyum sinisnya. Boldstone semakin murka dan menyerang, menghantam tanah hingga membuat gelombang tanah yang menghancurkan sekitarnya. Phillip melompat mundur bersama Istvan di bahunya.


"Turunkan aku!" sahut Istvan malu. Phillip perlahan menurunkan pemuda itu dengan santai, sementara wajah Istvan sudah merah padam layaknya kepiting rebus. Phillip menurunkan pandangannya dengan sinis.


"Hei, kau perlu mengarahkan seranganmu dengan benar, orang tua. Apa karena kau sudah uzur makanya seranganmu mudah ditebak?" sindirnya sehalus mungkin.


"Kupastikan mulutmu itu tidak akan berfungsi lagi, Arlestine," geramnya. Phillip hanya mengulum senyum dan melompat, mendaratkan diri di atas golem dengan satu kaki.


"Hmm~ golemnya sudah lapuk. Mau kuperbaiki?" tanya Phillip sembari menebas kepala golem itu dengan tangan kosong. "Wah, maaf."


"Heh, kau pikir itu akan berhasil?" balas Boldstone pongah. Batu yang ditebas Phillip perlahan begerak kembali ke tempat semula dan melekat seakan tidak terjadi apa-apa. Phillip bersiul.


"Tidak buruk," ujar Phillip. "Berarti sasaranku kamu, kan? Siap-siap mati ya?"


"Coba saja kalau bisa," balas Boldstone sembari menjentikkan jarinya dan ratusan stalagmit tajam siap menyerang Phillip.


"Haish, mudah sekali. Boldstone, selamat malam," ujarnya sembari berlari ke arahnya dan memenggal kepalanya dengan sekali tebasan tangannya. Darah mengotori tangannya, membuat Phillip sedikit mual dan segera menghapusnya dengan saputangan di kantungnya. Istvan yang melihatnya merinding ketakutan.


'Gila, sekali tebas langsung mati? Kok bisa dia kalah melawan Saciel?' batinnya. Phillip mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Sudah baikan? Ayo pergi, masih banyak yang harus kita lakukan," ajak Phillip.


...****************...


"...jadi kau ke sini untuk ikut bertarung tanpa izin dari ayahmu dan Yang Mulia Ratu?" tanya Lao ketika berhadapan dengan Tania yang berdiri kokoh di hadapannya.


"Aku bisa melindungi Careol," ujar Tania. Lao menghela napas mendengarnya.


"Duh, Tania. Kau baru saja belajar sihir baru."


"Lalu apa masalahnya?" tanya Tania.


"Bagaimana ini, astaga. Sana kembali, aku tidak mau..."


"Wah, wah. Ternyata Lao dan Tania ya? Lawan yang mudah," celetuk seseorang. Keduanya berpaling dan mendapati Yorktown berdiri dengan seorang dari ras Draco berperawakan besar dan mengerikan.


"...ah, sial," keluh Lao. "Bagaimana caranya kalian bisa menemukan ras Draco?"


"Itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui, bocah kematian," balas Yorktown sinis. Tania mundur selangkah, namun keinginannya untuk membantu tidak luntur.


"Yah, kalau begini aku tetap butuh bantuan. Tania, kau mau membantuku?" tanya Lao.


"Aku adalah bagian dari 7 Eternal Wizards, tentu saja aku akan menolong Kak Lao," balas Tania dengan senyum kemenangan. Lao tertawa melihatnya.


"Heh, jangan senang dulu, bocah kecil. Lawan kita cukup berat, lho," ujar Lao sembari mengeluarkan tombaknya. Tania mengangguk dan memanggil jam besar miliknya.


"Heh, kau pikir aku takut melawan kalian? Mimpi saja sana," cibir Yorktown sembari menjentikkan jemarinya dan api hitam legam siap melalap siapapun di hadapannya. Lao dengan sigap menarik mundur gadis kecil itu dan membuat perisai sebagai batas.


"Yorktown...penyihir hitam?" celetuk Tania.


"Jangan berdiri diam di sana, bocah!" raung Yorktown. Ia mengeluarkan boneka yang dibuat semirip mungkin dengan Lao dengan tatapan mengerikan.


"Ah! Itu..."


"Sialan, voodoo!?" maki Lao. "Sihir itu kan sudah lama sekali dikubur!"


"Hahaha! Aku menemukan buku sihirnya di suatu tempat, bocah. Akan kuseret kau ke dalam neraka penyiksaan!"


"Sialan, sialan, sialan!" maki Lao. Yorktown menyeringai puas dan menusuk tangan boneka itu, diikuti jeritan kesakitan dari bibir Lao. Tangannya perlahan mengeluarkan cairan merah pekat dari balik jubahnya.


"Kak!" panggil Tania.


"Kh, sialan. Langsung mengincar tanganku?" keluh Lao. Tania melompat turun dan bersiap menyerang, namun Yorktown bergerak cepat dan menghempaskan gadis kecil itu sejauh mungkin.


"Tania!"


"Tidak ada lagi pengganggu yang akan menghalangiku. Lao, meski kau bersekutu dengan kematian sekalipun, kau masih bisa mati," ujar Yorktown. Lao meringis mendengarnya.


"Tanpa kau beritahu aku juga sudah tahu. Masalahnya, siapa yang akan mati duluan masih menjadi tanda tanya di sini," balas Lao santai, mencoba menutupi rasa sakit yang menjalar hingga ke lengannya.


"....racun ya?"


"Kau sadar juga ternyata. Tapi kau terlambat, racun itu akan menyebar cepat menuju jantungmu," balas Yorktown. Lao menghela napas mendengarnya.


"Huh, sudah kena sihir hitam, dipasang bom di jantung, sekarang racun. Kalian benar-benar menginginkanku mati, ya? Yah, meski kalian mencoba sekeras apapun, aku tidak akan mati semudah itu," ujar Lao. Sebuah tembakan beruntun melesat cepat ke arah Yorktown dan berhasil menggoreskan luka di beberapa bagian, darah perlahan menetes. Tania dengan kekesalan yang tidak bisa ia tutupi berdiri kokoh di samping Lao dengan pistol laras panjang bertengger di bahunya. Meski sudah dihempaskan sejauh mungkin, tidak ada setitik debu di tubuhnya.


"Enaknya yang bisa mengontrol waktu," sindir Lao.


"Masih belum," balas Tania sembari menempelkan mantra di lengan Lao. "Ini akan memperlambat aliran darah yang mengandung racun."


"Tidak buruk, meski aku lebih suka cara brutal sih," ujar Lao sembari memotong nadi di pergelangan tangannya dan darah kental mengalir pelan, membuat Tania nyaris muntah melihatnya.


"Menjijikkan," keluh Tania.


"...beraninya kalian mengabaikanku!" geram Yorktown sembari menyerang dengan api hitamnya kembali. Tania dengan cepat berdiri di depan Lao dan menghentikan pergerakan apinya. Jarum jam di belakangnya bergerak di angka 10.


"Sialan, ini akan lebih merepotkan," keluh Yorktown. Tania menggenggam Lao dan berpindah tempat dengan Yorktown, bersamaan dengan jarum jam yang berpindah ke angka 7. Ia mengembalikan waktu dan api langsung melahap Yorktown yang baru sadar.


"Wow, sihir yang efektif sekali. Kayaknya seru juga kalau kau bertarung dengan Sa...maksudku, Yang Mulia Ratu Saciel," puji Lao.


"Yang ada aku bakal mati duluan, Kak. Dia sudah jauh di atas rata-rata," balas Tania keki. Yorktown mengibaskan tangannya dan api hitam langsung padam dengan cepat.


"Tidak kusangka penyihir boneka berubah menjadi penyihir waktu," keluh Yorktown sembari menyiapkan ratusan jarum besar yang mengelilingi dirinya.


"Begitukah?" tanya Tania sembari mendudukkan Lao di tanah. "Kenapa? Kau takut?"


"...kau akan menyesalinya, bocah tengik. Kubereskan dirimu, baru Lao."


"Ahahaha! Aku takut? Yah, sedikit. Tapi aku tidak akan mundur begitu saja," ujar Tania pongah, melemparkan beberapa boneka dan membuatnya menjadi besar tiga kali lipat.


"Kau..."


"Mari kita bertarung! Siapa yang akan menang, aku atau kakek tua bangka?" sahut Tania dengan senyum manis terpatri di wajahnya.