
"Akhirnya selesai juga," celetuk Phillip. Kezia menghambur ke pelukan Max dan menggosokkan kepalanya di pelukannya. "Saciel, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat."
"Eh? Ah, tidak. Tidak apa-apa," ujar Saciel lirih. Ia berjalan, namun badannya menolak menuruti kehendaknya. Tubuhnya oleng. Detik berikutnya, ia jatuh dan kepalanya menghantam batu hingga berdarah.
"SACIEL!" sahut Phillip.
"Nona Arakawa!" panggil Parvati sembari berlari ke arahnya. Ia menyeka lukanya dan menyembuhkannya, namun lukanya tidak tertutup sepenuhnya. "Astaga, badannya panas sekali."
"Mari kita bawa dia ke perkemahan," ujar Max sambil menggotongnya dengan santai. "Oi penyihir! Ayo pergi."
"Iya iya, duh menyebalkan sekali," keluh Phillip sembari menjentikkan jemarinya. Mereka berteleportasi dan kembali ke perkemahan. Max perlahan membaringkan Saciel di atas kasur tipis di dalam tenda, sementara Kezia duduk di sampingnya dengan wajah khawatir.
"Nee," panggilnya lirih. Parvati mengulum senyum dan menepuk kepalanya.
"Tidak apa-apa, sepertinya Nona Arakawa hanya kelelahan," hibur Parvati. Kezia hanya mengangguk, lalu meletakkan kepalanya di atas tangan Saciel. Parvati berjalan keluar dan mengambil air dengan baskom kecil di tangannya. "Tuan Arlestine, apa Anda memilki sehelai kain atau handuk kecil?"
"Ada! Sebentar biar kuambil..."
"Nih, pakai ini saja," potong Max sembari mengulurkan selembar saputangan putih dengan inisial 'M'. Parvati segera mengambilnya dan merendamnya dalam air. Setelah memerasnya, dengan hati-hati diletakkannya saputangan itu di atas kening sang penyihir.
"Ngh," erang Saciel.
"Nee," panggil Kezia lagi. "Hiks, jangan tinggalkan Kezia."
"Ssh, Kezia. Nona Arakawa hanya pingsan, bukan sekarat," tegur Parvati. Kezia hanya mengangguk dan berjaga, sementara Parvati berjalan keluar dan menemui Phillip.
"Apa kita bisa menemukan tabib di sini?" tanya Phillip.
"Saya ragu bisa, tetapi kita bisa menggunakan tanaman obat di sekitar kita," balas Parvati. Max menggoyangkan telinganya dan berdiri.
"Kami cukup ahli dalam tanaman obat," celetuk Max. "Mungkin saja aku bisa membantu."
"Tidak biasanya kau menawarkan bantuan. Apa kau memliki motif terselubung?" tanya Phillip meragukan.
“Cih, sejak kapan aku punya niat terselubung sepertimu?” balas Max kalem. “Kau mau dibantu apa tidak?”
“Iya iya, ayo cepat cari,” gerutu Phillip. Mereka berjalan mengitari sarang naga dan menemukan sebuah taman besar penuh dengan tanaman aneh dan tanaman pada umumnya. Max melihat beberapa tanaman, lalu menunjuk sebuah rumput perdu berwarna cokelat kusam dengan daun berbentuk jarum tipis
“Tanaman apa ini?” tanya Phillip.
“Di negaraku, tanaman ini disebut dengan ‘Jarum Matahari’. Tanaman ini digunakan sebagai bahan dasar obat, bahkan kita bisa mengonsumsinya secara langsung,” papar Max. Phillip hanya angguk-angguk dan memetik beberapa daunnya.
“Ini beneran aman, kan?” tanya Phillip.
“Aman kok,” ujar Max tersinggung.
“Jangan marah, aku hanya tahu tanaman ini hanya sebagai tanaman hias,” ujar Phillip membela diri. Mereka kembali ke perkemahan dan menjumpai Parvati sedang merebus air.
“Selamat datang kembali. Apa kalian sudah menemukan tanaman obatnya?” tanya Parvati lembut. Phillip memamerkan dedaunan yang ia petik dengan tatapan sedikit meragukan.
“Ini…bukannya tanaman Duri Emas?” tanya Parvati. “Apa bisa digunakan sebagai obat?”
“Bisa,” jawab Max pongah. Parvati mengangguk dan mengambil dedaunan itu dari tangan Phillip. Ia masuk ke dalam tenda dan mendapati Saciel tengah mengelus kepala Kezia yang tertidur pulas.
“Selamat siang, Nona. Bagaimana perasaan Anda?” tanya Parvati.
“Badanku rasanya berat dan dingin,” keluh Saciel lirih. Parvati memberikan segelas air dan dedaunan obat padanya, namun sang penyihir mengernyitkan dahi.
“Bukannya ini dari tanaman hias?” tanya Saciel meragukan.
“…rasanya sungguh buruk, tapi…badanku terasa lebih ringan dari sebelumnya,” komen Saciel. “Aku harus berterima kasih padanya.”
“Perlu saya sampaikan?” tanya Parvati. Saciel menggeleng dan memberi isyarat untuk meninggalkan ruangan.
Parvati bergegas keluar dan berjalan mendekati para lelaki yang asyik membahas tanaman.
“Bagaimana?” tanya Phillip.
“Nona Arakawa sudah merasa baikan. Tanaman yang diberikan Tuan Ackermann memang merupakan tanaman obat,” balas Parvati. Phillip menghela napas lega mendengarnya. Ia berpaling pada Max yang terlihat bangga.
“Kau senang?” tanya Phillip.
“Tidak,” jawab Max.
‘Bohong banget. Itu ekornya
kenapa bergoyang mulu?’ keluh Phillip dalam hati. “Sebaiknya aku mencari makan untuk kita.”
“Kau bisa memancing ikan di kolam, bisa berburu di hutan atau memetik buah,” usul Parvati.
“Kurasa berburu tidak masalah,” celetuk Max. “Tidak di Hutan Suci, kan?”
“Tentu saja tidak, Tuan Ackermann. Tidak jauh dari Hutan Suci, Anda akan menemukan hutan biasa yang dipenuhi dengan hewan buruan,” jawab Parvati. Max menyibakkan jaketnya dan memamerkan beberapa pisau kecil.
“Kau penuh persiapan, ya?” celetuk Phillip. “Aku ikut.”
“Heh, penakut sepertimu mau ikut? Serius?” ejek Max. Phillip hanya merengut, namun ia pasrah.
“Iya deh, aku emang penakut. Ya sudah, aku mancing di sini saja,” ujar Phillip. Max mengangguk dan pergi meninggalkan area perkemahan.
Careol City
“Kalian berdua gagal menangkap demi human?” tanya Lao. Vristhi mengangguk, sementara Tania bersembunyi di belakangnya. “Dan itu karena Saciel menghadang kalian, begitu?”
“Betul,” jawab Vristhi kalem. Lao menyandarkan tubuhnya dan menghela napas panjang.
“Ya sudah, kalian boleh kembali,” ujar Lao. Setelah keduanya pergi, Lao mengecek bola kristalnya dan melihat Saciel yang terbaring lemah.
“Dasar, kau ini memang bodoh. Kebaikanmu belum tentu mampu merubah dunia ini,” gumam Lao. “Tapi sebaiknya aku tetap memantau saja.”
“Lao, bisa kita bicara?” celetuk Julian. Lao berbalik dan mendapati Julian menyandarkan diri di ambang pintu. Lao memberi isyarat untuk masuk dan duduk.
“Jadi, ada apa?” tanya Lao. Julian hanya memberikan selembar kertas, membuat Lao mengernyitkan kening. Tangannya segera meraih kertas itu dan membacanya.
“Ini….apa kau serius tentang ini?” tanya Lao.
“Sesuai instruksimu. Dan itulah yang kudapatkan,” balas Julian. Lao terdiam sejenak, lalu mengulum senyum sinis.
“Atur pertemuan dengan Cerlina. Aku ingin mengajaknya bekerja sama.”
“Kau tidak serius, kan? Gadis manis itu adalah Pendeta Agung dan kau ingin mengajaknya bekerja sama?” tanya Julian.
“Aku serius. Segera pergi dan temui dia,” ujar Lao sembari mengibaskan tangannya. Julian mengangguk dan pergi meninggalkan Lao.
“Hahaha, perutku sakit. Mereka berniat melakukan itu? Gila!” ujar Lao sambil tertawa terbahak-bahak. “Sepertinya bakalan seru jika kita bergabung.”