The Two Empresses

The Two Empresses
Rencana Baru



"Perang sipil ya? Memang memungkinkan tapi kita masih belum tahu sampai mereka membuat kegaduhan," ujar Julian. "Aku yakin mereka tidak bisa bertindak sembrono karena takut dengan rakyat."


"Dasar serakah," cibir Max.


"Setuju," celetuk Julian. "Saciel, Lao tidak akan berhenti menyerangmu sampai kau ikut kami pulang. Jadi kuharap kau..."


"Sampaikan pada Lao, jika ingin menghentikanku dia harus membawa semua anggota 7 Eternal Wizards. Yah, kurasa kalian harus menentukan penerus dari keluarga Phoenix," potong Saciel mantap. Julian tertegun, namun perlahan mengulum senyum dan mengelus puncak kepala sang gadis penyihir.


"Kurasa itu memang yang terbaik. Akan kusampaikan padanya. Daripada itu, aku ingin menanyakan hal ini padamu," ujarnya sembari menatap Max. "Gadis...bukan, adikmu itu. Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar itu? Tanamanku sampai ketakutan saat dia mengamuk."


"Kaum demi human memiliki semacam segel untuk meningkatkan kekuatan kami. Yah, tapi beberapa kasus ada yang memiliki segel istimewa seperti adikku," ujar Max.


"Oh, ini menarik. Aku ingin mendengar lebih detil tentang hal itu," celetuk Julian tertarik. "Bagaimana caranya untuk mengaktifkan segel?"


"Sederhana saja. Kau hanya perlu konsentrasi dan pof, otomatis segel aktif," ujar Max. Perlahan warna bulu ekor serta telinganya berwarna biru langit, matanya gelap dengan iris berwarna turquoise. "Seperti ini."


"Menarik," celetuk Phillip.


"Tapi bagaimana dengan adikmu? Kurasa saat dia mengamuk, dia tidak sadar dengan segel itu," tanya Saciel.


"Segel juga bisa lepas saat kita di luar kendali. Itu wajar," jawab Max melempem. Saciel hanya cemberut mendengarnya.


"Duh, masa aku pulang dengan tangan kosong?"


"Siapa peduli? Pergi sana. Kau merusak pemandangan," usir Max. Julian hanya angkat bahu dan menatap Saciel.


"Perjalananmu masih panjang dan berbahaya. Kau yakin masih ingin menempuhnya?" tanya Julian.


"Kau sudah tahu jawabannya, Julian. Pergilah, aku tidak mau dengar apa-apa darimu lagi," jawab Saciel. Julian mengecup punggung tangan Saciel dengan lembut dan meninggalkan perkemahan hanya dengan sekali jentikan.


"Tuan Ackermann, Nona Ackermann sudah sadar," ujar Parvati. Max berlari ke dalam tenda, mendapati Kezia tengah terbaring lemah di peraduan.


"Nii?"


"Halo, adik kecil. Kau sudah membuatku panik, oke?" ujarnya lembut. Hati-hati diusapnya kepala Kezia dengan penuh sayang. Kezia mengulum senyum manis dan menikmatinya.


"Kezia? Ah syukurlah kau baik-baik saja. Bagaimana kondisimu?" tanya Phillip sembari masuk ke dalam tenda.


"Aku baik-baik saja. Di mana Saciel nee?" tanyanya lirih.


"Oh, dia sedang berjemur sebentar. Nanti dia akan kembali kok," jawabnya. "Kau mau sesuatu?"


"Aku mau kue," ujar Kezia.


"Parvati, kau dengar permintaannya?"


"Sangat jelas, Tuan Arlestine. Akan saya siapkan," jawab Parvati sembari memberikan hormat dan meninggalkan tenda. Sesosok gadis yang familiar masuk dan mengulum senyum.


"Kezia, kau sudah baikan?" tanya Saciel riang.


"Saciel nee!" panggilnya senang. Saciel perlahan duduk di sampingnya dan mengelus gadis kecil itu. "Uhh~ suka dielus~"


"Aku lebih takut kehilangan nee. Nee jangan mati," isaknya. Air mata mengalir deras di pipinya.


"Ssh, hei, aku tidak akan mati, Sayang. Aku tidak akan mati, ya?" hibur Saciel setengah panik. Hati-hati ia mengusap air mata dan mencium keningnya.


"Janji?"


"Janji," ujarnya sembari menautkan kelingkingnya pada kelingking kecil Kezia. Parvati kembali dengan beberapa potong kue segar yang terlihat cantik.


"Nona, saya kembali. Silakan nikmati kuenya," ujarnya sembari meletakkan sepotong kue di sampingnya. "Sebagai pendamping, saya membuatkan milk tea agar manisnya tidak menyengat."


"Terima kasih," ujar Kezia malu-malu. Parvati mengangguk dan berdiri di samping Phillip. Kezia perlahan menyantap kue dengan lahap, tak menyadari beberapa pasang mata terpaku padanya.


"Bagaimana bisa adik kecilku sangat rakus saat makan cemilan?" tanya Max heran.


"Entahlah, aku juga penasaran," balas Saciel sembari menahan tawa.


"Jangan begitu, dia kan adikmu. Berikan perhatian yang lebih padanya," celetuk Phillip kalem.


"Saya jadi gemas ingin mencubit pipinya yang bulat itu," ujar Parvati. Yang dibicarakan menyeruput milk tea dan merilekskan pikiran. Rona wajahnya sudah mulai normal, ekspresi sedih yang tadi ia tunjukkan mulai meluntur. Ekornya bergoyang dengan cepat dan telinganya naik turun mengikuti emosi.


"Kezia, kita akan mencari Nero dulu. Perbatasan masih bisa menunggu," celetuk Max. Kezia tersentak dan menoleh, matanya memancarkan ekspresi kaget.


"Nero nii juga...terdampar?" tanyanya lirih.


"Daripada dibilang terdampar, dia tertangkap oleh pelelangan ilegal. Aku rasa dia ada di sini."


"Pelelangan ilegal eh? Di benua ini hanya ada satu, dan perjalanannya akan memakan waktu seminggu dengan berjalan kaki," celetuk Phillip.


"Apa ada alternatif lain?" tanya Max sinis.


"Menggunakan naga akan lebih cepat," ujar Saciel.


"Haha, kau gila," balas Phillip.


"Tidak, aku tidak gila. Oh, sihir teleportasi mungkin bisa jadi pilihan terbaik."


"Hmph, itu lebih baik. Mari kita pergi sekarang," ujar Max pongah.


"Sepertinya kita harus berpisah, Tuan dan Nona sekalian. Saya harus mengurus beberapa perkara yang ada di Careol," ujar Parvati sopan.


"Ah, tidak masalah. Lagipula, lebih baik kami tidak melibatkanmu dalam masalahku," ujar Saciel kalem.


"Terima kasih atas kemurahan hati Nona. Tetapi, saya sudah terlibat sangat jauh hingga saat ini. Suatu saat, jalur kita pasti akan bertaut," ujar Parvati. Saciel hanya mengerutkan kening, namun melambaikan tangan dengan gerakan halus agar Parvati segera pergi. Setelah memberi hormat, ia berputar dan menghilang dari pandangan.


Phillip menghela napas, satu tangan di saku menahan sebuah jarum panjang yang siap dilemparkan, namun ia tidak mampu melakukannya.


"Saciel, sebelum kita pergi aku harus mengingatkan lagi. Kita ini buronan, ada kemungkinan mereka melaporkan kita pada pihak berwajib. Kau yakin kita akan pergi?" tanya Phillip.


"Jangan mempertanyakan tekadku, Phillip. Mari kita cari Nero, sebelum ia dijadikan tumbal atau budak."