
Hari H
"Cepat! Waktu kita tidak banyak."
"Dimana pin rambutnya?"
"Bedak! Bedaknya di mana?"
Para pelayan sibuk bolak-balik mempersiapkan si kembar untuk melakukan debut di istana. Beruntung pakaiannya sudah dikirimkan lebih pagi oleh Raz, membuat para pelayan bekerja lebih cepat.
"Nona Saciel, rambutnya mau diapakan?" tanya pelayan.
"Disanggul saja. Tidak terlalu maskulin, tapi jangan terlalu feminin," ujar Saciel. Si pelayan mengangguk dan mulai menggelung rambutnya dengan hati-hati.
"Non Cerlina, rambut Anda akan saya gerai saja."
"Aku ikut saja yang terbaik," ujar Cerlina ramah. Setelah berkutat pada rambut, para pelayan membantu mereka untuk berganti pakaian.
"Di mana sepatunya?"
"Di sini! Sudah dipoles!"
"Astaga, ternyata mereka sangat sibuk," ujar Cerlina.
"Tentu saja. Ini adalah acara besar, mereka tidak akan membiarkan kita berpenampilan seadanya," balas Saciel santai.
"Nona, parfum mana yang ingin digunakan?"
"Ah, parfum yang aroma musk dan bergamot saja," ujar Saciel.
"Mawar dan snow lotus untukku," celetuk Cerlina. Pelayan mulai menyemprotkan parfum di area tertentu dan merapikan kembali make up mereka. Bibi datang dengan membawa pedang dan cape do atas sebuah nampan perak.
"Semua sudah siap, Archduchess Saciel Arakawa," goda Bibi. Saciel terkekeh dan mengambil kedua barang itu.
"Terima kasih Bibi. Tolong jaga rumah selama kami pergi," ujar Saciel kalem. Ia menggenggam tangan Cerlina dan membawanya masuk ke dalam kereta. Setelah keduanya pergi, para pelayan mendesah bahagia.
"Aku seperti melihat Tuan Besar dan Nyonya saat mereka muda."
"Kya! Sangat serasi!"
"Aduh, hatiku meleleh melihatnya!"
"Sudah, sudah. Kembali ke dalam dan bekerjalah," sahut Bibi tegas. Para pelayan kembali masuk ke dalam dan mulai bekerja membersihkan seluruh inci mansion.
"Saciel, aku gugup," ujar Cerlina.
"Tenanglah, kau sudah cantik. Tak perlu takut, aku ada di sini," ujarnya sembari menggenggam tangannya yang dibalut sarung tangan. "Tidak akan kubiarkan orang lain menyakitimu."
"Aku percaya seutuhnya padamu. Terima kasih, saudariku."
"Hah, jangan berlebihan. Mari kita kejutkan para tetua konyol itu," balas Saciel dengan senyum dingin.
...----------------...
Berbagai macam kereta kuda mewah satu per satu memasuki wilayah istana. Para kepala keluarga asyik memamerkan kemewahannya seperti burung merak yang menyombongkan ekor kipasnya. Beberapa wanita bahkan memamerkan perhiasan mereka yang tak ada habisnya. Begitu kereta kuda milik keluarga Arakawa memasuki area istana, seketika pandangan orang terpaku padanya.
"Tunggu, bukankah itu kereta milik Arakawa?"
"Bukankah kepala keluarga mereka sedang pergi karena dia adalah buronan?"
"Apa mungkin itu pengganti sementara?"
"Maksudmu... Pendeta Agung?"
Semua bisik-bisik dan rumor yang menyebar terhenti ketika melihat sepasang gadis kembar turun dari kereta kuda. Penampilan mereka berdua sangat berbeda. Saciel mengenakan pakaian kepala keluarga yang terdiri dari satu stel atasan dan celana panjang. Aksen merah dan emas menjadi daya tariknya. Pedang tersampir di pinggang, cape di punggung dan pin emblem keluarga membuatnya terlihat gagah. Sanggulnya membuat ia terlihat lebih gentleman dibanding biasanya.
Sementara Cerlina memakai gaun mermaid dress berwarna senada dengan 3/4 puff sleeve. Kedua tangannya dibalut dengan sarung tangan putih dengan aksen pita. Di dadanya tersemat pin emblem yang sama dengan milik Saciel. Rambut ungu miliknya berkilau ditimpa cahaya matahari akibat mutiara yang disematkan di rambutnya, membuatnya terlihat seperti seorang dewi.
"... astaga, mereka sangat memukau."
"Entah kenapa rasanya seperti melihat almarhum orangtua mereka."
"Nona Saciel Arakawa terlihat tampan!"
"Nona Pendeta Agung cantik sekali."
"Kurasa mereka kagum dengan penampilan kita," bisik Cerlina.
"Apa-apaan ini?!" gelegar Tetua Erika. Saciel hendak menanggapi, namun suara Lao menghentikannya.
"Aku yang memintanya datang, Tetua Erika. Dia...maksudku Archduchess Saciel Arakawa masih berstatus kepala keluarga, jadi dia masih punya hak untuk ikut pertemuan ini."
"Lao Requiem, apa yang kau rencanakan?" gertak Tetua Erika.
"Entahlah. Kau penasaran?" goda Lao dengan senyum sinis. Tetua Erika menahan amarah dan berjalan mendekati si kembar.
"Heh, mereka terlihat sehat ya?"
"Terima kasih atas segalanya, Tetua Erika," jawab Saciel hambar. Tetua Erika hanya berdecih dan berjalan memasuki ruang rapat, diikuti tetua yang lain dan para tamu undangan. Terlihat Parvati dan Steven berdiri di depan sembari melayani para tetua.
"Jadi penyelenggara acara ini para tetua ya?" keluh Saciel.
"Bukan, tapi Lao," bisik Julian di belakangnya. Saciel terkejut dan nyaris menampar Julian, namun tangannya berhasil dihentikan. "Maaf mengagetkanmu, Archduchess."
"Julian? Kupikir Phillip yang di belakangku," ujar Saciel sembari menarik tangannya kembali.
"Phillip? Tuh, di sana," balasnya sembari menunjuk pemuda berambut platinum blonde dengan baju beraksen navy blue dan perak tengah memasuki ruang rapat dan celingukan mencari seseorang.
"Dia terlihat tampan," puji Cerlina.
"Yah begitulah. Lebih tampan mana dibanding Nero?" tanya Saciel. Cerlina terdiam dan menunduk, wajahnya merah.
"I-itu tidak penting," balas Cerlina tergagap. Saciel menahan senyum dan melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Phillip.
"Ah, syukurlah kalian di sini. Rasanya tidak nyaman menjadi buronan diantara para bangsawan," keluh Phillip.
"Santai saja, kita kan dilindungi sama Lao. Jika dia gagal, berarti kita harus kabur," ujar Saciel. Semua celoteh dan tawa menjadi senyap ketika Lao berdiri di podium bersama Steven dan Parvati.
"Terima kasih bagi para tamu undangan sudah memenuhi kewajiban kalian sebagai kepala keluarga. Silakan duduk, saya akan membacakan susunan acara."
Semua segera duduk, tidak terkecuali Saciel dan kawannya. Lao berdeham dan memandangi lurus ke arah tamu undangan.
"Kita akan membahas 1 masalah, yaitu penerus tahta kerajaan Careol. Ah, jangan sekarang Tetua Erika. Aku belum selesai. Nah, sampai di mana kita...oh iya, penerus tahta. Aku punya 3 kandidat dan kebetulan semuanya hadir. Steven, tolong bacakan daftarnya."
"Kandidat pertama, dari keluarga Rosemary. Archduchess Vristhi Rosemary," ujar Steven. Vristhi bangkit berdiri, wajahnya ditutupi oleh veil berwarna krem. Tidak biasanya, Vristhi mengenakan asymmetrical dress berwarna krem pucat, dengan aksen mutiara dan pin emblem Rosemary tersemat di rambutnya.
"Kandidat kedua, dari keluarga Arakawa. Archduchess Saciel Arakawa."
"Tidak mungkin! Dia itu..."
"Diam sejenak, Erika. Jika kau berniat mengacau, kau harus keluar dari sini," ancam Lao sembari menguarkan aura mematikan. Tetua Erika hanya berdecih dan kembali duduk, mencoba mengontrol emosinya. Setelah semuanya tak bersuara, Steven kembali membacakan kandidatnya.
"Kandidat terakhir, dari keluarga Arakawa. Lady Cerlina Arakawa," ujar Steven sembari menutup dokumennya. Semuanya terdiam, antara kaget dan tidak percaya.
"Boleh saya menyampaikan sesuatu?" tanya seorang kepala keluarga sembari mengangkat tangannya.
"Izin diberikan. Silakan," ujar Lao girang.
"Bolehkah saya tahu kenapa ada 2 kandidat dari keluarga Arakawa?"
"Pertanyaan bagus. Pertama, karena mereka memiliki hak untuk ikut serta dalam pemilihan ini. Kedua, buktinya sangat kuat sehingga tidak bisa ditolak. Archduchess Arakawa, bisa kau tunjukkan benda itu?" jawab Lao.
"Heh, dasar sialan," gumamnya lirih. Ia bangkit berdiri dan melepas sarung tangannya, memamerkan cincin keluarganya. Semua orang terkejut dan mulai berargumentasi.
"Cincin itu bukti paling kuat."
"Astaga, tidak kusangka aku bisa melihat benda itu."
"Apa itu asli?"
"Saudara-saudaraku, bisakah kita berhenti berbicara untuk beberapa waktu?" ujar Lao setelah menepukkan tangan. "Sepertinya Tetua Erika ingin menyampaikan sesuatu kepada kita."
"Sejak kapan benda itu ada di tangannya?" tanya Tetua Erika dengan aura mematikannya.
"Duke Requiem, boleh saya menjawabnya?" tanya Saciel dingin.
"Sayang sekali tidak, Archduchess. Jawabanmu bisa saja malah menyakitinya," tolak Lao. Saciel hanya mengangkat bahu dan diam seribu bahasa. "Aku yang memintanya mencari, Tetua Erika. Jadi...dia baru saja memilikinya belum lama ini."
"Apa kau sedang merencanakan pemberontakan?" lontar Tetua Erika. Semua yang ada di dalam terkejut, kecuali Lao dan pelayan kerajaan.
"Pemberontakan? Yang kulakukan ini sesuai dengan aturan, kenapa kau mengatakan itu sebuah pemberontakan?"