The Two Empresses

The Two Empresses
The Florist



"Kalau boleh jujur, aku benci melawan orang ini," gumam Phillip. "Sihir andalan keluarganya adalah tanaman."


"Heh, cuman tanaman? Yang benar saja?" ujar Max meremehkan. Julian hanya mengulum senyum dan menggenggam setangkai bunga terompet.


"Iya cuman tanaman, kalau kau bisa membakarnya semua," ujar Phillip. 'Dan yakin, Saciel tidak punya cukup tenaga untuk melawan orang itu.'


"Kau senang banget dengan tanaman beracun," sindir Saciel. "Mau membunuh kami?"


"Cukup membuatmu lumpuh saja," jawab Julian riang. "Dan kuharap kau tidak ikut campur dalam masalah ini, Parvati."


"Sesuai dengan keinginan Anda," ujar Parvati. "Nona Ackermann, mari mundur. Berbahaya untuk Anda di sini."


"Nggak mau! Aku mau ikut bertarung!" jerit Kezia.


"Kezia, mundur," ujar Max mengintimidasi, tatapannya tajam bagai silet. Kezia mundur dan bersembunyi di balik tubuh ramping sang maid. Julian melempar bunga terompet itu dan tanaman besar dan rimbun memenjarakan ketiga petarung itu.


"Jangan bergerak! Terkena getahnya saja kau lumpuh dalam sedetik," sahut Phillip. Tak ada yang berani bergerak, bahkan Saciel yang penuh energik dan selalu melontarkan kata-kata beracunnya kini tak berdaya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal dan tubuhnya gemetar.


"Saciel sayang, kau masih sakit, bukan? Pulanglah, Cerlina menunggumu," bujuk Julian manis. "Aku tidak ada niat untuk membunuh kalian, meski aku ragu untuk demi human di sana."


"...Julian, bagaimana kabar saudariku?" tanya Saciel lirih.


"Dia baik-baik saja."


"...hah...hah...dia akan...jadi orang yang...hebat," ujar Saciel. Api mendadak melahap tanaman terompet itu hingga menjadi abu, mengejutkan Julian yang fokus pada sang gadis penyihir.


"...Sudah gilakah dirimu sehingga mengorbankan diri untuk menyelamatkan mereka?"


"Aku...tidak suka...perang, haha," ujarnya lirih. Tubuhnya ambruk, namun berhasil ditangkap oleh Max.


"Dia masih hidup, mungkin," ujar Max.


"Hei, demi human di sana. Mau kubantu menyelamatkan gadis itu?" tawar Julian. Max memberi perhatian, namun rasa waspada masih menyelimutinya. "Aku bisa memberikan obat untuknya, namun tentunya aku butuh bayaran yang setimpal."


"Licik sekali," keluh Phillip.


"Katakan," ujar Max.


"Menyerah dan jadilah tahananku bersama gadis kecil di sana, maka akan kuselamatkan dia," ujar Julian.


"Jangan harap, brengsek," maki Phillip.


"Heh, kalau aku menolak?" tanya Max menghina.


"Dia akan mati," balas Julian girang. Kezia yang mendengarnya pucat, tangannya mencengkeram kuat lengan lembut Parvati. Detik berikutnya dia sudah melompat dan meninju Julian hingga terpental.


"Jangan...main-main dengan Saciel nee!" jerit Kezia. "Bunuh! Bunuh!"


"Kezia, tenanglah!" ujar Max panik. Yang dipanggil tidak menyahut, langsung menerjang Julian dan menghadiahinya tendangan tepat di atas kepala.


"Ugh," erang Julian. Sebelum Kezia berhasil memberikan pukulan berikutnya, Julian melakukan teleportasi dan berdiri di belakang Parvati.


"Tenang saja, Tuan. Beliau tidak akan menyakiti saya," ujar Parvati menenangkan. "Lebih baik Anda mengurus Nona Ackermann sebelum dia melepas segelnya."


"Segel apa?" tanya Julian penasaran. Sebelum maid membuka mulut, perlahan ekor dan telinga Kezia mulai berganti warna menjadi ungu kehitaman. Tubuhnya diselimuti kabut tipis senada dengan tubuhnya, dan matanya berwarna hitam dengan iris perak berbentuk mata kucing.


"Oh sial, sial! Kezia, sadarlah!" sahut Max.


"Wah, berbahaya," gumam Julian sembari mengeluarkan tanaman sulur dan mengikat kuat tangan dan kakinya. Namun hanya dengan sekali tebasan ekornya, tanaman sulur itu terpotong.


"Tidak heran banyak yang memburu dirimu, nona. Kau bukan keturunan biasa," ujar Julian sembari membuat kandang besar dari batang pohon oak. Kezia mencoba memukul kandang yang mengurungnya, namun ia perlahan melemah dan ambruk. Sebuah jarum kecil tertancap di keningnya.


"Anda perlu istirahat, Nona," ujar Parvati.


"Kau mengkhianati kami, Parvati?" tanya Phillip geram. Parvati menggelengkan kepala dan menunjuk pada Saciel yang tersengal. "Ah?"


"Kita tidak punya banyak waktu, Tuan. Semakin lama kita bertarung, mungkin saja kita akan kehilangan Nona Arakawa."


"...yah, mau tak mau aku harus menolongnya atau Cerlina akan membunuhku," celetuk Julian sembari mengeluarkan sebatang anggrek transparan di kakinya.


"Itu...hei, kau gila? Kau mau dibantai atas tuduhan menumbuhkan tanaman langka tanpa izin?" tanya Phillip panik.


"Hahaha, kau lucu deh. Untuk apa aku dibantai jika tidak ada yang melaporkanku? Kita sama-sama membutuhkan obat untuk Saciel, bukan? Jadi diamlah dan biarkan aku konsentrasi."


"...aku tidak pernah melihat tanaman itu," ujar Max.


"Memang, ini sudah punah sebenarnya. Tidak heran banyak yang tidak tahu seperti apa rupanya atau habitat aslinya, ujar Julian.


"Lalu bagaimana bisa kau tahu bentuk tanaman itu?" tanya Max curiga.


"Heh, ternyata kau tajam juga. Baiklah, akan kuberitahu rahasianya. Di bawah kediaman Zografos, kami memiliki rumah kaca yang dipenuhi dengan tanaman yang punah dan terancam. Tidak heran bukan?" papar Julian.


"Tetap saja masih mencurigakan," ujar Max.


"Tidak masalah jika kau curiga, tapi sekarang bukan waktunya untuk berpikir. Dia sudah di ambang kematian."


Julian mencabut anggrek itu dan mengambil selembar kelopaknya. "Ada masalah jika aku memberikan secara...yah, mulut ke mulut?"


"Hah?!" jerit Phillip dan Max.


"Kenapa juga kau harus melakukannya dengan cara itu?" tanya Max geram.


"Kau lupa dia itu pingsan? Mustahil untuknya menelan," ujar Julian datar. "Sini, berikan dia padaku."


"Aku saja yang melakukannya," ujar Max cepat. Ia merampas kelopak itu dan dengan hati-hati diberikannya kepada Saciel dengan mulutnya. Phillip ternganga melihatnya, namun memilih diam demi keselamatan nyawanya.


"Sayang aku tidak bisa mengabadikannya saat ini," ujar Parvati girang.


"Hahaha, Saciel pasti akan terkejut setengah mati jika mendengarnya," ujar Julian.