The Two Empresses

The Two Empresses
Max VS Phillip



"Menarik! Aku suka dengan sisi jelekmu itu!" sahut Max sembari mengayunkan sabit besarnya dengan kegembiraan yang meluap-luap. "Kau tidak pernah menunjukkan itu di depan penyihir jalang itu. Apa kau takut dengannya?"


"Aku hanya tidak bisa membiarkannya melihat diriku seperti ini," jawab Phillip tenang.


"Heh, kau menyukainya?" tanya Max.


"Tidak. Tidak pernah ada rasa untuk dia. Hatiku untuk orang lain," ujar Phillip. Ia menarik rapier dari balik lengan bajunya dan mengarahkannya pada Max. "Kau tak perlu menahan diri, oke? Aku penasaran sekuat apa dirimu hingga berhasil membunuh Paman Daisuke dan Bibi Marie."


"...heh, lihat saja sendiri," jawab Max sembari mengayunkan sabitnya hingga membentuk angin kencang yang mengaburkan pandangan Phillip. Dengan cepat ia menerobos dan menendangnya hingga terpental cukup jauh. Belum cukup, ia melompat dan mulai melayangkan aksinya dengan cepat, namun dengan cepat Phillip menangkis dengan rapiernya.


"Hebat juga. Tapi itu belum seberapa," ujar Max. Ia mengayunkan sabitnya dan menekan Phillip dengan tenaga besar hingga tanah di pijakan Phillip mulai retak. Phillip langsung lompat menjauh dan menyiapkan diri untuk menyerang, namun momentumnya hilang begitu Max berhasil menghajarnya dengan punggung sabitnya. Darah perlahan menetes dari hidung mancungnya.


"Lumayan juga. Kau benar-benar kuat," puji Phillip sembari mengelap darah dengan jempolnya.


"Ayolah, itu belum seberapa. Tunjukkan lagi kekuatanmu, brengsek. Aku tahu kau masih menyimpan sesuatu di balik senyum palsumu itu," sindir Max. Phillip menghela napas dan memasang kuda-kuda yang berbeda, membuat Max sedikit tergelitik dan bersiap pula. Dengan cepat Phillip berdiri tepat di hadapannya dan bersiap menghujam mata biru milik Max, namun berhasil ditangkis dengan sabitnya. Belum usai kekagetannya, Phillip kembali melancarkan serangan dari samping, kali ini mengarah ke ulu hati. Max langsung berkelit dan mundur, berusaha menutupi rasa kagetnya.


"Cepat juga. Tapi ini belum apa-apa," ujar Phillip dingin. Ia langsung meningkatkan kecepatannya dan menusuk lengan kekar Max beberapa kali. Max yang mulai panik langsung mengayunkan sabitnya untuk membuat jarak diantara mereka.


"Sialan, kau berhasil melukaiku," ujar Max.


"Kau menahan diri, oke?" balas Phillip. Max menghela napas dan perlahan menjatuhkan jaketnya yang penuh dengan pemberat. "Begitu lebih baik. Aku yakin kecepatan adalah hal yang umum bagi demi human."


"Kau benar. Itu adalah hal yang umum bagi kami," balas Max. Ia melempar sabit itu, namun berhasil ditangkap oleh Phillip. Namun kini Max berdiri di ujung mata sabit dengan senyum iblisnya dan juga sebelah matanya mulai tampak seperti mata serigala.


"Mari kita lanjutkan permainan ini," ujar Max. Phillip langsung menerjang dengan rapiernya, namun Max berkelit dan melayangkan tendangan kuat hingga ia kembali terpental jauh ke sungai. Belum usai, Max menahan dirinya dan meninju perutnya sekuat tenaga dan membantingnya hingga tanahnya berlubang. "Ini belum berakhir."


Ia kembali melayangkan tinjunya, namun yang ia pukul hanyalah tanah kosong. Di belakang berdiri Phillip dengan hawa membunuh kuat dan menghujam pundaknya.


"Cih, meleset," ujar Phillip. Ia segera melepas rapiernya dan menarik keluar rapier yang lain, menusuknya tepat di telapak kakinya dan bersiap menancapkan rapier lain, namun Max menahannya dan melemparnya jauh-jauh. Dengan sekali sentak ditariknya rapier-rapier itu dari tubuhnya dan melemparnya hingga menggores wajah Phillip. Tangannya kini diselimuti mana berbentuk cakar serigala berukuran lima kali lipat dari tangannya dan mengayunkannya hingga membuat Phillip berdarah-darah.


"Ohok!" batuknya sembari mengeluarkan sedikit darah. Max terengah-engah, namun ia masih berdiri tegak dengan sabit berada di pundaknya. Phillip hanya terkekeh dan mengelap darah pada pakaiannya.


"Kau kelelahan setelah mengeluarkan tenaga sebesar itu?" sindir Phillip.


"Enak saja, aku tidak mungkin kelelahan hanya karena ini," balas Max. Ia menerjang masuk dan melayangkan sabitnya untuk menebas, namun Phillip berhasil berteleportasi dan memukulnya hingga terpental. Max langsung mengarahkan mata sabitnya untuk merobek lengan Phillip hingga tulang mulai terlihat dari balik dagingnya yang terkoyak.


"Ugh!"


"Luka yang kuterima belum apa-apa daripada dirimu. Apa ini semua yang bisa kau lakukan?" tanya Max garang. Phillip bangkit berdiri dan menatapnya tajam, membuatnya sedikit takut.


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan ini?"


"Hmm, mari kita lihat saja," balas Phillip kalem. Perlahan darah miliknya mulai membentuk pakaian perang dan lukanya menutup dengan cepat. Max cukup terkejut, namun ia segera membiasakan diri dan bergegas mencengkeram kuat-kuat sabitnya. Firasatnya mengatakan orang yang kini ia hadapi bukan berada dalam levelnya. Ia menghela napas dan perlahan melepas segel.


"Datanglah, Dark Wolf," ujar Max. Seekor serigala besar yang keluar dari bayangannya berdiri di sampingnya, sambil menggeram, mencoba menakuti lawannya. Phillip terkekeh melihatnya.


"Apa itu hewan panggilan juga?" tanya Phillip.


"Bukan. Dia roh serigala yang dibentuk dari bayanganku," jawab Max. Phillip ber-o kecil dan mulai menyerang, namun Dark Wolf menghalangi dengan sabetan ekor tebalnya.


"Curang," ujar Phillip.


"Tidak juga, ini tidak curang kok. Kau saja pakai sihir, kenapa aku tidak?" balas Max. Ia kembali menyerang dan membanting kepala Phillip hingga menghancurkan tanah. "Ah?"


"Heh, setidaknya aku bisa melakukan ini padamu," ujar Phillip terengah-engah, tangannya mencengkeram kuat pergelangan tangan Max dan mengalirkan listrik berkekuatan tinggi. Max berusaha melarikan diri, namun apa daya ia tak mampu. Ia jatuh terkapar, sementara Dark Wolf masih berdiri tanpa melakukan pergerakan. "Kau masih di sini berarti dia masih sadar."


"...uhh, sialan. Kau bisa saja membunuhku," gumam Max. Ia perlahan duduk dan menatap Phillip dengan garang. "Sialan kau."


"Ini belum apa-apa," balas Phillip. Ia mengangkat tinggi rapiernya dan seketika langit mulai gelap, suara gemuruh mulai terdengar. Sesekali petir menyambar seakan menakut-nakuti penghuni seluruh daratan. Petir itu menyambar rapiernya dan membentuk sesosok naga besar yang siap melahap apa saja di hadapannya.


"Oi oi, kau serius melakukan itu? Kenapa kau tidak pernah ikut dalam perang?" ujar Max sembari bangkit dan menjaga jarak sejauh mungkin.


"Para tetua tak mampu menyeretku ke dalam pertempuran, jadi tidak ada yang tahu akan keluarga Arlestine. Berhubung aku mulai lelah, sebaiknya kita akhir saja."


"Heh, kita lihat siapa yang ambruk duluan," ujar Max sembari bersiap mengayunkan sabitnya. Hanya dengan sekali lemparan, Phillip menggores wajah Max dengan luka besar dan membabat habis hutan hingga tidak ada lagi yang tersisa. Tangan Max gemetar, kakinya lemas dan ia terjatuh di tanah. Ia bisa merasakan, jika lemparan tadi mengenainya, mungkin saja dia tidak akan selamat. "Kau sengaja meleset?"


"Wah, kau tahu niat baikku?" balas Phillip sembari terengah-engah. Napasnya mulai berat dan tubuhnya serasa ditimpa berton-ton gajah. "... Saciel...melarang...ku...melak...kh!"


Darah mulai keluar dari mulutnya. Pakaian perangnya luntur dan bercampur dengan tanah. Ia jatuh dan terbatuk sangat keras hingga darah kembali mengucur dari bibirnya.


"Si...sialan. Tubuhku...tidak mau...bergerak," gumam Max sembari mencoba menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba Nero datang dengan rajawali raksasa dengan hela napas pasrah.


"Aduh, kalian ini apa-apaan sih? Bisanya buat masalah saja. Para elf ketakutan dan kalian malah di sini dalam keadaan sekarat. Mau mati?" omel Nero. Ia memanggil Undine dan membuatnya menghentikan darah dari luka-luka mereka.


"Berterimakasihlah karena aku baik. Kalau tidak, kubiarkan kalian mampus," ujar Nero. Ia membawa mereka kembali ke kota dengan cibiran yang hanya bisa ia dengar sendiri.