
Hellhound itu mengamati Saciel dengan hawa membunuh yang kuat. Dengan santai Saciel mengarahkan pisau yang ia pegang dengan senyum kegilaan.
"Oi, anjing bau. Aku akan menjinakkanmu," ujar Saciel. Hellhound itu terenyak dan tertawa dengan keras.
"Manusia fana sepertimu mau menjinakkanku? Kau mau mati hah?" gertak hellhound.
"Kau saja sudah mulai merencanakan pembunuhan padaku, kenapa aku harus takut dengan kematian?" sindir Saciel. "Beraninya kau merusak kontrak seenak jidatmu, makhluk jelek."
"Berani juga kau mengataiku begitu. Pertama kali kau memanggilku kau hanya bocah ingusan," balas hellhound. "Kau ingin menjinakkanku karena rasa sakit kan?"
"Heh! Kau benar-benar setan. Ayo bertarung!" sahut Saciel sembari maju menerjang dengan pisau di tangannya. Sang hellhound langsung melompat dan melemparnya jauh dengan cakar besar dan kuat. Saciel langsung melakukan teleportasi dan mencengkeram kuat bulu kasar di pundaknya, berusaha sekuat tenaga agar tidak dilempar.
"Menarik. Kau salah bertahan di sana gadis bodoh," ujar hellhound. Ia langsung memberontak sekuat tenaga untuk menjatuhkan gadis itu. Saciel langsung terlempar, namun berhasil mendarat dengan selamat di atas pohon. Hellhound itu langsung menyemburkan lahar dari mulut besar penuh dengan taring berbisanya. Saciel melompat menjauh dan bersiul kecil.
"Wah, kau benar-benar mau membunuhku ya?"
"Kau yang paling merepotkan yang berani memanggilku. Aku ingat kau memanggilku dengan berlinang air mata kesedihan dan dendam. Sekarang kau sekarat hahaha."
"Kau akan menyesal melawanku, anjing tua. Kemari dan biarkan aku mengikatkan tali kekang di leher besar dan berlemak itu," ejek Saciel.
"Mati kau!" gertak hellhound sembari menerjang dan menghancurkan tanah di sekitarnya.
"Woah!" sahut Kezia.
"Gadis tolol. Apa dia sanggup menaklukkan makhluk sebesar dan seganas itu?" sindir Max. "Bagaimana menurutmu, Nero?"
"Hmm, tingkat keberhasilan hanya 40...tidak, 10 percen saja. Tubuhnya sudah di ambang batas," jawab Nero kalem. Phillip tidak bergeming, matanya masih fokus pada sahabatnya yang berjuang mati-matian melawan anjing berbulu hitam legam dengan api merah abadi di tubuhnya. Pemuda berambut platinum blonde itu sesekali menggigit bibir bawahnya ketika hellhound berhasil mendaratkan pukulan tepat di tubuh Saciel.
"Nee! Sudah cukup!" jerit Kezia. Ia berusaha keluar dari perisai, namun terpental karena listrik statis yang cukup kuat dari perisai itu. "Phillip nii, biarkan aku pergi!"
"...maaf Kezia, aku tidak bisa menurutimu saat ini. Saciel harus berjuang sendiri atau ia akan kalah," ujar Phillip sehalus mungkin. Kata 'mati' tabu bagi Kezia, namun tidak bagi kedua kakak lelakinya.
"Heh! Bilang saja kalau dia akan..."
"Max nii jahat!" jerit Kezia sembari menangis keras, membuat yang lain terganggu. Phillip segera menghiburnya sebelum gendang telinganya pecah karena rengekan keras yang dihasilkan oleh gadis berumur 7 tahun itu.
"Oi penyihir, kau bisa saja menggunakan sihirmu untuk mengalahkannya!" sahut Nero.
"Takutnya dia jadi bodoh karena mencoba sekuat tenaga untuk membunuhnya," balas Nero.
"Heh, begitu? Aku akan berhenti main-main deh. Satu hari...tidak, setengah hari juga cukup untuk mengalahkanmu," ujar Saciel. Ia menarik sebilah pedang dari balik pakaiannya dengan senyum sinis. "Mari kita selesaikan."
"Meski kau menggunakan sihir, kau tak akan bisa mengalahkanku!" maki hellhound. Saciel hanya menghela napas dan langsung menyerang balik. Ia melempar pedang itu dan berhasil menggores kakinya.
"Hah! Berhasil!"
"Kau sudah tamat, bocah tengik!" amuk hellhound. Ia menerjang Saciel dengan kecepatan tinggi, namun gadis itu mampu mengelak dengan teleportasi. Ia langsung mengambil pedangnya lagi dan menyiapkan ratusan pedang yang siap menyerang hellhound.
"Bersiaplah menjadi bolong, hellhound," ujar Saciel girang. Ia melempar semua pedang itu dengan satu jentikan. Hellhound itu menangkisnya dengan sekali gonggong, hingga pedang bertebaran ke berbagai daerah.
"Hm, menarik. Mari kita coba yang satu ini," ujar Saciel sembari memegang sebuah tombak petir hanya dengan tangan kosong. Hellhound hanya berdiri dengan tenang, namun sorot matanya mulai terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Kau mulai mengingatkanku akan seseorang dari keluargamu, bocah. Untuk hari ini, mari kita hentikan kekonyolan ini," ujar hellhound. Sebelum Saciel mengatakan sesuatu, Nero berdiri di belakangnya dan memukul keras lehernya hingga pingsan. "Dan untukmu, bocah sial. Kau benar-benar sangat berbahaya."
"Aku anggap itu pujian. Kau boleh kembali," ujar Nero sembari menggendong Saciel. "Dan kontrak sementara ini cukup untuk beberapa waktu."
Setelah hellhound itu menghilang, Nero menatap jalur mana Saciel yang mulai normal, meski masih ada beberapa titik abnormal.
"Nee? Nee baik-baik saja?" tanya Kezia.
"Dia baik-baik saja. Hanya perlu istirahat saja," ujar Nero dengan senyum ramah. "Bantu nii untuk mengurusnya oke?"
"Oke nii! Aku akan membantu sekuat tenaga!" balas Kezia girang. Begitu Nero pergi bersama Kezia dan Saciel, Max melirik ke arah Phillip dengan sinis.
"Bagaimana jika aku dan kau bertarung sejenak? Aku penasaran dengan kekuatan aslimu."
"Kau serius?" tanya Phillip sembari menghilangkan perisainya. "Kau kira kita punya waktu luang?"
"Punya dan cepat buat keputusan sebelum aku menendangmu," jawab Max kesal.
"...boleh saja. Tapi aku tidak akan kalah denganmu," ujar Phillip dengan tatapan dingin yang tidak pernah ia tunjukkan.