
“Kenapa wanita paling berbahaya di Careol muncul di sini?!” seru Phillip. Saciel hanya diam, memperhatikan pergerakan wanita berbalut gaun pengantin hitam itu. Vristhi hanya melirik dan mengulum senyum menakutkan.
“Arlestine, bukan? Kudengar keluargamu merupakan bangsawan yang cukup terpandang di kalangan penyihir, tapi tak kusangka kau bekerja di bawah keluarga Arakawa. Aku penasaran berapa besarnya uang yang kau terima dari gadis itu,” sindir Vristhi.
“Wah, lidahmu tajam sekali Vristhi. Aku tidak ingat mengeluarkan sepeser pun pada pertemanan kami. Asal kau tahu saja, kami tidak seperti dirimu yang menggunakan cara licik untuk menang,” balas Saciel tak kalah sinis. Vristhi terkekeh, lalu menguarkan aura hitam pekat.
“Kau cari mati denganku, Saciel?”
“Belum mau mati, hanya mau menghajarmu saja jika menghalangiku,” celetuk Saciel. “Oi, anjing liar. Kau urus si pengendali boneka itu saja, aku hadapi wanita suram ini. Aku ragu kau bisa menyentuhnya meski sudah menggunakan seluruh kekuatanmu.”
“…baiklah, Tuan Putri. Aku tidak suka dekat-dekat dengan orang yang diselimuti kematian. Dan kau bocah ingusan,” ujar Max sembari melayangkan pandangan pada Tania, “urusan kita belum selesai.”
“Siapa yang kau panggi bocah ingusan, sialan?” geram Tania. “Akan kujadikan kepalamu sebagai hiasan dinding di kamarku!”
“Siap-siap dikutuk ya?” ujar Max culas.
“Kau salah berurusan denganku, Saciel. Kau sudah lupa dengan kekalahan pahit di masa lalu?” hina Vristhi. Saciel hanya diam, perlahan mengeluarkan pedangnya. “Kau tidak serius ya?”
“Siapa bilang aku tidak serius?” tantang Saciel. Vristhi menjentikkan jemarinya dan beberapa mayat yang sudah membusuk bangkit dari bawah tanah.
“Brengsek! Pantas saja kematian ada di sekelilingnya. Necromancer?” maki Max. Kezia menutup hidungnya rapat-rapat, penciumannya nyaris tidak berfungsi akibat bau busuk yang menguar dari mayat hidup dan kematian yang dikeluarkan oleh Vristhi. Saciel melapisi pedangnya dengan sihir, lalu maju dan membabat habis mayat-mayat hidup itu.
“Tenanglah, Saciel. Masih banyak mayat untuk kau cincang hari ini,” sindir Vristhi kalem. Ia kembali membangkitkan mayat-mayat dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya. Saciel berdecih, hanya dengan sekali jentikan ia membakar semua dengan api hingga menjadi abu. Vristhi bertepuk tangan, namun tatapan menghina tidak terhapus dari wajah cantiknya.
“Luar biasa. Kau sudah berkembang pesat dari sebelumnya,” puji Vristhi merendahkan, senyum liciknya tersungging. “Kalau begitu, apa kau bisa menghadapi yang ini?”
Tangannya yang ramping terulur. Dua peti mati dengan emblem keluarga Arakawa berdiri tegak di kedua sisi sang necromancer. Saciel tercekat, pedang di tangannya perlahan jatuh dan menancap di tanah.
“BAJINGAN! MAU KAU APAKAN MAYAT ORANGTUAKU?!” bentak Saciel keras. Yang lain terkejut, bahkan Phillip tidak percaya dengan apa yang dilakukan Vristhi dengan mayat sang kepala keluarga terdahulu beserta istrinya. Vristhi tertawa lantang, lalu membuka peti mati itu dengan sihir.
“Kau mau bertemu dengan mereka, bukan?” tanya Vristhi dengan nada mengejek. “Kebetulan sekali aku bisa mendapatkan item langka dari pemakaman keluarga Arakawa.”
“Saciel! Tenangkan dirimu!” sahut Phillip panik.
“Nee-chan!” jerit Kezia. Saciel tidak bisa mendengar apa-apa, bahkan makian Max yang hanya berjarak kurang dari semeter. Emosi menguasai dirinya. Perlahan kabut tipis menyelimuti dirinya, mengubah pakaiannya menjadi baju perang. Rambutnya yang tergerai kini digelung tinggi.
“Apa itu?” tanya Tania.
“Entahlah, ini pertama kalinya aku melihat penampilan itu,” ujar Vristhi kalem.
"Hei, hei! Kau dengar aku? Hei!" panggil Max. Saciel hanya diam, namun tangannya perlahan meraih pedang dan menariknya dengan cepat.
"Max! Apapun yang terjadi, buat dia sadar lagi sebelum dia mengamuk!" seru Phillip. "Dia tidak akan bisa membedakan mana lawan mana kawan di saat seperti itu!"
"Sial, merepotkan saja," keluh Max. Ia bergegas lari mengarah Saciel, namun sang penyihir lebih cepat. Ia melakukan teleportasi di belakang Vristhi dan hendak menusuknya, namun Vristhi membuat perisai transparan dan berhasil mengelak dari kematian.
"Seram~ tapi ini menyenangkan!" seru Vristhi riang. "Mari kita saling membunuh hingga salah satu dari kita mati!"
"Apa dia gila?" tanya Kezia.
"Kurasa begitu," balas Phillip. Sebelum Max kembali mengejar Saciel, boneka milik Tania mengayunkan parangnya dan nyaris memotong lehernya.
"Jangan mengabaikanku, anjing gila!" maki Tania. Max berdecih, lalu memfokuskan diri pada boneka itu. Tiba-tiba Phillip maju dan berdiri di hadapan Tania.
"Cih, penakut sepertimu sekarang menantangku?" tanya Tania meremehkan. Phillip mengangguk, lalu mengeluarkan rapier miliknya. Tania tertawa keras melihatnya.
"Yang benar saja? Pedang tipis itu tidak akan bisa menembus kulit bonekaku. Kau meremehkanku, Tuan Muda?" sindirnya. Phillip mengulum senyum dan mengarahkan rapiernya ke boneka itu.
"Mari kita lihat saja akhirnya, Nona Schariac," ujar Phillip lembut. Ia berpaling pada Max dan membuat ekspresi khawatir.
"Apa?" tanya Max.
"Tolong Saciel. Dia sudah terlalu banyak menderita," mohon Phillip. Max terdiam, lalu berbalik dengan gayanya yang keren.
"Aku melakukan ini hanya untuk balas budi, paham?" ujar Max dingin. Phillip tersenyum dan fokus pada boneka beruang jelek di depannya.
"Seenaknya saja kau memalingkan wajahmu saat bertarung denganku! Kau akan menyesal, dasar bucin!" maki Tania. Phillip tertawa terbahak-bahak hingga ia berlutut.
"Tania manis, apa kau tahu kenapa Arlestine lebih akrab dengan keluarga Arakawa dibanding dengan yang lainnya?" tanya Phillip kalem.
"Entahlah. Mungkin karena kepala keluarga kalian pernah mencintai Marie Arakawa," jawab Tania. Phillip menggelengkan kepala dan mengayunkan rapiernya.
"Itu hanya rumor," ujar Phillip. Ia melakukan teleportasi dan menebas kepala boneka dengan sekali ayunan. "Kami adalah keluarga ksatria yang mengikuti keadilan."
Tania ternganga. Bonekanya jatuh ambruk dan kembali ke ukuran semula, parang yang ada di tangannya menghilang.
"Bagaimana bisa kau mengalahkan sihirku? Ini tidak adil!" keluh Tania sembari menangis tersedu-sedu. Phillip berlutut di hadapan Tania dan menghapus air matanya.
"Karena aku merupakan ksatria terkuat di Careol, Tania. Maaf, sihirmu masih belum cukup untuk mengalahkanku," ujar Phillip lembut. Tania cemberut dan memukul dada Phillip dengan gemas. Phillip hanya merangkulnya dan memalingkan wajahnya pada pertarungan lain. Max menahan Saciel yang berusaha melepaskan diri untuk menghajar sang necromancer.
"Hei demi human rendah, bisakah kau lepaskan saja gadis itu?" tegur Vristhi dingin. Max tidak menghiraukan tegurannya, ia mencoba berkomunikasi dengan Saciel.
"Bangun, bodoh!" maki Max sambil menampar keras pipi halusnya. Saciel terjatuh dan melihat sekelilingnya, matanya tidak lagi memancarkan kebencian.
"...apa yang terjadi?" tanyanya polos. "Aduh! Hei, siapa yang menamparku?"
"Kau ini, masih bisa bertanya seperti itu? Tenang dan lihat musuhmu," ujar Max kalem, Ia berpaling pada Vristhi dan peti mati milik orangtuanya. "Tenang. Jangan biarkan emosi menguasai dirimu. Kau hanya akan kalah jika membiarkan dirimu menjadi budak emosi."
"...kau benar. Aku harus tetap tenang di situasi apapun," ujar Saciel. Ia bangkit berdiri dan mengulum senyum kepada Max. "Terima kasih."
"Aku hanya membalas budi," ujar Max. Sang penyihir hanya mengangguk dan menghadap sang necromancer yang mulai bosan.
"Vristhi, mari kita akhiri permainan membosankan ini. Ah, tolong kembalikan orangtuaku. Kau bisa saja kupenggal sebagai penghinaan terhadap keluarga Arakawa," ancam Saciel.
"...baiklah, kami mengaku kalah," ujarnya bosan. Ia meletakkan kedua peti mati itu dengan hati-hati, "tapi aku harus tetap melapor pada Lao bahwa kami gagal menangkap dua demi human karena campur tanganmu dan Phillip Arlestine."
"Tidak masalah," jawab Saciel santai. Ia memindahkan kedua peti itu kembali ke pemakaman keluarga dengan teleportasi. "Aku hanya ingin kalian jauh-jauh dari masalahku."
"Kami tidak bisa melakukannya, Saciel. Para tetua bisa saja akan membunuhmu demi keuntungan mereka," ujar Vristhi. "Kau sudah menjadi buronan."
"Yah, buatku itu berarti kebebasan. Aku...tidak mau melihat perang lagi."
"Aku mengerti. Kalau begitu kami akan kembali dan melaporkan pada Lao. Tania, mari kita kembali," ujar Vristhi. Tania berlari mendekati Vristhi dan keduanya menghilang dari balik kabut tipis.