The Two Empresses

The Two Empresses
Persiapan Pertemuan



"Hei, kau mau kuhajar apa? Setelah menyeretku dalam pencarian cincin bodoh ini, sekarang kau beraniĀ  mengajukan syarat untuk urusan tahta?" tanya Saciel kesal. Lao hanya tertawa kecil dan menuangkan teh ke dalam cangkir Phillip dan Julian.


"Manis, jika aku tidak membuat syarat untukmu, bisa-bisa ada perang sipil. Kau ini penyihir paling berbahaya di Careol. Bisakah kau bekerja sama denganku?" ujar Lao manis. Saciel diam sejenak, perlahan dia merilekskan otot-ototnya untuk mengurangi cengkeraman tanaman sulur milik Julian.


"Baiklah, katakan maumu, Lao. Jika kudapati keanehan dalam kata-katamu, akan kubakar sulur ini dan kucekik dirimu," ancam Saciel garang. Lao menahan senyumnya dan menyesap tehnya.


"Bagus sekali. Nah, ini rencanaku. Dalam waktu 3 hari, para tetua akan mengadakan pertemuan kepala keluarga untuk membahas pewaris tahta. Karena yang baru ketahuan hanya Vristhi, mau tidak mau kau harus hadir sebagai kepala keluarga Arakawa dan menunjukkan cincin itu. Ah, kalau bisa jangan buat masalah ya? Mulut berbisamu bisa saja membuat para tetua membunuhmu di tempat. Tidak ada kepala keluarga yang terlalu bodoh untuk menyerangmu. Cerlina juga akan kubawa ke tempat pertemuan, setelah racunnya dinetralkan," papar Lao.


"Itu saja? Mudah sekali," ujar Saciel meremehkan.


"Dan Phillip, aku harap kau juga hadir. Yah, untuk membantuku mengawasi gadis ini," lanjut Lao.


"Baiklah," jawab Phillip kalem. Julian menarik kembali sulur yang membelit Saciel dan mengajaknya duduk bersama. "Tapi apa para tetua bisa disudutkan hanya karena cincin itu?"


"Bisa. Tidak ada seorangpun yang berani menentang keinginan ratu sebelumnya. Selain itu, gelar yang dimiliki Vristhi dan Saciel juga tinggi, yaitu Archduchess. Lucu juga sih, archduchess kok ada 2. Kemungkinan salah satu dari kalian bakal turun menjadi duchess," jawab Lao.


"Sejujurnya aku tidak menginginkan tahta," gumam Saciel.


"Iya aku tahu, Manis. Tapi berhubung kita berada dalam situasi yang jauh dari zona aman, kuharap kau tetap ikut seleksi putri mahkota," balas Lao. "Oh iya, apa ada berita yang ingin kau sampaikan, Julian?"


"Ilmol sudah berada di dalam kuil. Beruntung tidak ada yang curiga dengan kehadirannya yang cukup mendadak, namun beberapa pendeta mengawasinya. Kondisi Cerlina saat ini sudah lebih baik. Dia berhasil melewati masa kritisnya," ujar Julian. Kelegaan terpancar jelas di wajah Saciel dan Phillip.


"Lalu apa kau tahu siapa yang meracuni Cerlina?" tanya Phillip.


"Sayangnya tidak. Gadis kuil yang membawakan tehnya sudah kabur, aku takut dia sudah dibungkam oleh pelakunya. Aku masih mencari informasi juga sih lewat perantara tumbuhanku, tapi kurasa dia cukup pandai mencari tempat yang tidak ada tumbuhan sama sekali. Seperti...."


"Padang pasir," celetuk Lao dan Saciel bersamaan.


"Iya, itu. Aku akan meminta Istvan untuk melacak di padang pasir," ujar Julian.


"Kurasa percuma. Bisa saja pelakunya membakar mayatnya atau menyimpannya dengan sihir," celetuk Phillip.


"Itu kalau penyihir. Kalau bukan?" tanya Lao. Phillip kehabisan kata-kata dan hanya menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa.


"Kita bisa bertanya pada penguasa padang pasir," ujar Saciel kalem. "Kudengar ada dewa yang bersemayam di padang pasir."


"Untuk bisa berkomunikasi dengan dewa bukanlah hal yang mudah, Sayang. Tidak semua dewa mau menunjukkan dirinya, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba," ujar Lao. "Julian, kau tetap laksanakan rencanamu dengan Istvan."


"Baiklah, aku pergi dulu," ujar Julian sembari bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kediaman Lao.


"Oh iya, siapa itu Ilmol?" tanya Saciel.


"Kau tidak tahu? Dia itu putri pertama keluarga Phoenix," ujar Phillip.


"Dan kepala keluarga baru," lanjut Lao. Saciel dan Phillip mengerutkan kening mendengarnya.


"Bukannya kepala keluarga Phoenix harus berjenis kelamin jantan?" tanya Saciel vulgar.


"Bahasamu tolong ya? Bukan jantan, tapi laki-laki," balas Lao, makin pusing dengan tingkahnya yang makin tidak karuan. "Phillip, bagaimana bisa kau tahan bersamanya?"


"AKu juga ingin tahu jawabannya," ujar Phillip pasrah.


"Sudah, kalian pulang sana. Siapkan baju terbaik kalian, mandi dan tidur. Nggak usah banyak tingkah oke? Terutama kau, Saciel Arakawa."


"Sialan, kenapa juga kau malah jadi garang karena aku?" tanya Saciel heran.


"Telat, bodoh. Tapi terima kasih atas belasungkawanya," balas Phillip geli. Saciel makin menjadi-jadi, membuat Lao memindahkannya pulang ke rumah, dimana Bibi tengah asyik menyapu.


"Astaga! Nona, Anda sudah kembali?" jerit Bibi kaget.


"Ssh, Bibi. Jangan mengagetkan aku, dong. Iya, aku kembali. Maaf membuat Bibi cemas," ujar Saciel menenangkan. Bibi langsung menariknya dalam pelukan dan menangis terisak-isak, rasa kangen dan cemas sudah terhapuskan oleh kehadirannya. "Aku merindukanmu, Bibi."


"Saya juga merindukan Anda, Nona. Apa Nona terluka?"


"Yah, aku terluka sih. Nanti bisa diatur, daripada itu bisakah Bibi menyiapkan baju kepala keluargaku? Tiga hari lagi aku harus hadir dalam pertemuan," ujar Saciel.


"Nona, kurasa kau harus membuat baju yang baru. Baju lama Anda sudah tidak muat setelah penobatan 4 tahun yang lalu," ujar Bibi bingung. Saciel menghela napas dan menggaruk kepalanya.


"Aku ragu ada penjahit yang bisa membuatnya dalam waktu yang sangat singkat," gumam Saciel.


"Saya punya kenalan seorang penjahit yang handal dan cepat. Mau saya hubungi sekarang?"


"...selama dia bisa menjaga mulutnya, aku tidak masalah," ujar Saciel. Bibi mengangguk dan pergi menghubungi penjahit, sementara Saciel mengganti pakaiannya. Beberapa waktu terlewat, Bibi datang dengan seorang lelaki muda berpenampilan nyentrik.


"Nona, penjahitnya sudah datang," ujar Bibi.


"Selamat siang, Nona. Saya Raz, penjahit yang siap menjahit segala pakaian Anda," sapanya riang. Saciel tertawa kecil dan mengulurkan tangannya.


"Halo, Raz. Senang bertemu denganmu. Mohon kerjasamanya ya."


"Jadi pakaian apa yang Anda inginkan?"


"Pakaian untuk kepala keluarga. Bibi akan membawakan contohnya," ujar Saciel kalem. Bibi segera pergi mengambil satu stel baju dan memamerkannya pada Raz.


"Hm...seperti ini? Bolehkah saya merubah desainnya? Desain ini terlalu...kuno untuk Anda," tanya Raz.


"Begitukah? Selama tidak merusak fungsinya, kau boleh merubah desainnya," jawab Saciel. Raz tersenyum lebar dan mulai mengukur tubuh Saciel, sesekali membual tentang pakaiannya yang menjadi populer di kalangan penyihir bangsawan.


"Saya sudah mendapatkan ukurannya. Banyak perubahan ya, terutama di bagian dada. Saya akan membawakannya dua hari lagi," ujar Raz. "Sampai jumpa dua hari lagi."


Setelah mengantar Raz, Bibi membawakan teh dan kue untuk cemilan di rumah kaca. Saciel tengah asyik memainkan bunga hibiscus, sesekali menggumam tak karuan.


"Nona, apa yang sedang Anda lakukan?"


"Oh, halo Bibi. Hanya asyik bermain saja. Cemilan apa hari ini?"


"Citrus cake dengan teh Assam untuk menetralkan asamnya citrus," ujar Bibi sembari meletakkan semuanya di meja. Saciel menikmati kuenya, namun pikirannya berantakan. "Apa Nona memikirkan Nona Cerlina?"


"Kurasa kau sudah mendengar beritanya ya?" tanya Saciel.


"Tuan Julian yang memberitahu saya. Tidak ada rumor yang tersebar dari kuil," balas Bibi.


"Mereka berusaha menyembunyikannya."


"Kejam sekali, menyembunyikan fakta itu pada masyarakat," keluh Bibi.


"Itu adalah peringatan untukku. Mereka salah mencari masalah padaku."