The Two Empresses

The Two Empresses
Kangen



"Urusan dalam negeri? Kau masih berniat mengurus negara ini?" tanya Saciel heran. Lao mengangguk dan menghela napas.


"Saciel, mau sebenci apapun kamu dengan negara ini, kau masih bagian dari negara ini. Kita tidak bisa lepas tangan begitu saja saat Careol berada di ambang kehancuran," ujar Lao menasehati. Saciel berdecih mendengarnya.


"Lalu bagaimana? Kita mau mengadakan pemilihan penerus tahta sekarang? Setelah kehadiran Dark... maksudku Dominic, akan sulit meyakinkan rakyat untuk berpihak pada kita," celetuk Vristhi. Lao menghela napas dan duduk sembari memainkan tangannya yang diselimuti sarung tangan.


"Kita gunakan para bangsawan untuk menarik hati rakyat. Mereka sudah lihat bagaimana Dark memperlakukan mereka," ujar Lao. Vristhi mengangguk dan segera pergi bersama dengan pelayannya. "Kau ingin mengatakan sesuatu, Saciel?"


"Kau tidak mengkhawatirkan dirimu?" tanya Saciel.


"Memangnya kenapa?"


"Tanganmu itu." Lao tertawa kecil dan melepaskan sarung tangannya yang satu, memamerkannya seakan it adalah sebuah kehormatan. "Memang tidak sakit?"


"Jelas sakit lah bodoh, kau ini bagaimana sih?" keluh Lao. "Aku hanya menahan rasa sakitnya saja. Bahkan kurasa tanganku sudah mati rasa."


"Bukankah lebih baik jika kita mencari cara untuk menyembuhkan tanganmu dulu?" tanya Saciel. Lao mengulum senyum pahit.


"Kalian hanya akan menghabiskan waktu. Masih ada yang lebih penting bukan?"


"Nyawamu lebih penting, bodoh. Kau kira aku bakal melepaskan orang bodoh sepertimu? Mau kamu menyuruhku bekerja sekeras apapun, aku hanya akan menolongmu," ujar Saciel penuh tekad. Lao tercengang, lalu tertawa keras hingga pipi dan perutnya kram.


"Aduh, aduh. Kau ini lucu sekali deh, jadi semakin yakin kau yang pantas sebagai.."


"Jangan katakan, sialan. Diam," potong Saciel keras. Lao mengulum senyum dan mengelus kepalanya. "Hei, jangan menyentuhku."


"Kau layak dielus, tau," ujar Lao. "Aku sudah bilang pada Julian untuk mencarikan tanaman yang bisa membantuku menetralkan racunnya, tapi...sampai saat ini masih belum ada jawaban."


"Jelas mustahil," keluh Saciel. "Bagaimana jika minta bantuan dewa?"


"Bukannya kau tidak percaya dengan mereka?"


"Memang sih. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba," jawab Saciel. Lao diam sejenak dan mengulum senyum. "Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Terima kasih atas usulnya. Waktunya pergi," ujar Lao sembari bangkit berdiri dan pergi dari kediaman Arakawa.


Altera City, Ceshier


Para bangsawan dari berbagai ras berlutut ketakutan di hadapan Max yang duduk di kursi tahta dengan tatapan dingin. Kezia berdiri di sampingnya, memasang wajah yang sama dengan seringai lebar.


"Selama istana kosong, kalian bertingkah seenaknya ya? Sudah mau menghadap Dewa Aegis?" tanya Max dingin. Tidak ada yang menjawab, membuat Max kesal. "Kalian bukan patung, kan?"


"M-m-maafkan kami, Yang Mulia. Kami...kami..."


"Kami apa?" bentak Kezia. Semuanya langsung diam kembali, membuat Max kehabisan kesabarannya. Ia bangkit berdiri dan menancapkan sabitnya di samping seorang aristokrat.


"Laporan kalian banyak sekali kesalahan, korupsi dan penipuan. Apa kalian berniat membelot?" tanya Max. Tidak ada yang menjawab. Keringat mulai membasahi para aristokrat, detak jantung mulai berdebar kencang seakan organ inti mereka ingin keluar. "Penjaga, tarik semua gelar dan harta mereka. Tempatkan mereka di pengasingan hingga waktu yang kutentukan."


"Yang Mulia, tolong ampuni kami!"


"Jangan lakukan ini, Yang Mulia!"


"Yang Mulia, jangan!"


Sahutan-sahutan itu masih terdengar hingga mereka meninggalkan ruang tahta, membuat Max lelah dan menjatuhkan diri di kursi tahta. Ia tak menyadari Nero masuk dengan wajah muram.


"Uh? Nero nii kenapa?" tanya Kezia.


"Aku baru saja diusir Cerlina," ujar Nero. Max bangkit dan mengerutkan kening.


"Hah, apa? Sejak kapan kau bertemu dengannya?" tanya Max.


"Belum lama, tapi habis itu diusir," jawab Nero keki.


"Memang ada masalah kalau aku ke sana? Toh aku ke sana cuman membantu Cerlina," jawab Nero masam. Max langsung mendekati dengan ekspresi yang tidak bisa dipahami Nero. "Apa?"


"...apa ada masalah di sana?"


"Yah, ada sih. Tapi tidak ada yang terluka parah, kok," ujar Nero. Max langsung menghela napas lega dan tanpa sadar mengulum senyum. "Oh? Apa kau sedang memikirkan seseorang?"


"Diam kau."


"...Saciel baik-baik saja. Aku bahkan berhasil mendapatkan fotonya dengan baju kepala keluarga yang..."


"Mana?" tanya Max kelepasan. Nero mengulum senyum puas dengan tatapan jahil. "...sialan."


"Hahaha, jangan marah. Nih," ujar Nero sembari memberikan sehelai foto Saciel dengan senyum manisnya. Sebelum Max menjangkaunya, Kezia langsung menyambar dan matanya berbinar.


"Woah~ nee terlihat cantik dan keren! Mana fotonya Cerlina nee?" tanya Cerlina. Nero memamerkan foto lain dengan bangga. "Cantik ya?"


"Tentu saja cantik," ujar Nero bangga.


"Kenapa kau malah jadi bucin?" tanya Max keki. Nero mengedipkan mata berkali-kali dan tersenyum.


"Karena dia adalah belahan jiwaku, ada masalah?" tanya Nero. Max mengerutkan kening mendengarnya dan menunjuk kalung Nero.


"Memangnya itu menyala?" tanya Max. Nero melepas kalungnya dan memamerkan liontin dari cincin berwarna perak, namun ada sedikit kilat ungu pada cincinnya. "Ah, sial."


"Apa maksudmu, hah? Mungkin memang belum berpendar seutuhnya, tapi aku yakin dia adalah takdirku."


"Ya maaf, dia kan musuh. Jangan lupakan itu," ujar Max dingin. Kezia menundukkan kepala, sedikit takut dengan sikap Max yang berubah.


"Kau ada masalah apa sih? Aku jatuh cinta dengan siapa bukan urusanmu," balas Nero sama dinginnya. "Bilang saja kau iri."


"Heh, kau berani juga bilang begitu padaku, brengsek. Mau kuhajar untuk memperbaiki otakmu yang miring?" ancam Max.


"Kebetulan aku juga pengen olahraga. Ayo," balas Nero.


"Nii, tenanglah. Kalian berdua ini kenapa sih?" tanya Kezia kesal. Keduanya diam, namun aura mematikan masih terpancar kuat dari mereka. "Kalian tidak sedang rebutan wanita kan?"


"Nggak. Aku tidak tertarik pada wanita pujaan hati Nero," ujar Max sembari meninggalkan ruang tahta dengan kesal. Nero menghela napas dan mengelus kepala Kezia.


"Kurasa dia sedang tidak mood. Lebih baik kita biarkan dulu," ujar Nero. Kezia mengangguk dan memeluk erat Nero, namun pikirannya masih kalut dengan perubahan sikap Max.


"Apa Max nii sedih?" tanya Kezia.


"Pertanyaan yang sulit, aku tidak tahu Kezia. Kurasa kau perlu bertanya padanya langsung," jawab Nero. Kezia mengangguk dan berjalan keluar, menghampiri Max yang duduk termenung di bawah pohon sembari memegang setangkai mawar merah. Wajahnya terlihat nelangsa, ia menatap ke langit dan mulai mencabuti kelopak bunga satu per satu.


"Nii, kau baik-baik saja?" tanya Kezia. Max menoleh dan menepuk tanah di sampingnya agar ia duduk, namun Kezia memilih duduk di atas pangkuan Max dengan wajah cemas. "Nii kenapa?"


"Entahlah Kezia, aku merasa tidak nyaman akhir-akhir ini," ujar Max sembari mengusap kepalanya.


"Apa karena Saciel nee?" tanya Kezia. Max diam cukup lama, namun akhirnya ia mengangguk. "Nii kangen dengan nee?"


"Kangen ya? Aku rasa begitu. Lucu, padahal kita saling membenci satu sama lain tapi hatiku terus terusik ketika aku tidak melihatnya meski sedetik. Aku...sudah membunuh orangtuanya, jelas dia membenciku."


"Tapi nii, aku tidak ingat nii melakukannya," celetuk Kezia. Max diam, kali ini dia tidak mengatakan apa-apa, melainkan mengelus kepalanya. "Nii?"


"Kau tidak perlu tahu, oke? Sudah malam, sebaiknya kita tidur."


"Ini masih jam 7, nii," balas Kezia masam.


"Waktunya tidur," potong Max sembari membopong gadis itu kembali ke istana.