
Beberapa siren melengking mendengar kata-kata dari bibir Saciel, tak sedikit yang marah akan tantangan itu. Saciel kembali berjalan, kali ini cukup dekat dengan kawanan siren. Dengan sekali hentakan ia berhasil menikam siren di bawah kakinya dan melemparnya ke pantai.
"Heh, serius hanya ini kemampuan kalian?" sindir Saciel. Suara lengkingan kembali terdengar, kali ini mereka siap menyerang. Salah satu siren mulai bernyanyi, mencoba menghipnotisnya. "Nyanyian kalian lebih buruk daripada peri."
Terhina dengan caciannya, salah satu siren mulai menyerang dengan ganas dan menggoreskan luka dalam sepanjang 5 senti di wajah Saciel.
"Berani sekali kau melukai wajahku," ujar Saciel dalam. Ia kembali mengangkat tombaknya dan menancapkannya di kepala siren tersebut dengan tatapan sadis, membuat Nero yang melihatnya dari kejauhan ketakutan.
"Dia...mengerikan," gumam Nero. Ia tak sadar Max perlahan terbangun dan mulai mencari hanya dengan lirikan.
"Ngh, Saciel?" panggilnya lirih. Nero tersentak dan menoleh, lalu segera mendekatinya.
"Hei, bro. Kau baik-baik saja?" tanya Nero. Max hanya mengangguk samar dan terus memanggil Saciel. "...dia sedang memancing."
"Uhuk, oh," balas Max lirih. Nero menghela napas dan kembali menonton aksi Saciel yang jauh dari bayangannya. Perlahan Saciel kembali dengan mayat siren di tangannya dengan tatapan kosong. Dilemparnya mayat itu di atas mayat sebelumnya.
"Oi, kau tidak serius memakannya kan?" tanya Nero hati-hati.
"Kenapa tidak? Aku kesal dan lapar, dan satu-satunya bahan makan yang tersedia ya ini," balas Saciel sembari menyiapkan api unggun.
"Sebentar, oi! Mereka itu beracun," ujar Nero habis kesabarannya. "Kalau kau ingin mati, mati sendiri sana!"
"Aku bisa mengolahnya, tak perlu takut," balas Saciel. Ia meraih pisau kecil dari saku Max, namun tersentak ketika tangan Max menahannya. "Ah?"
"Ja...ngan," ujar Max. Saciel terdiam sejenak, lalu menyingkirkan tangan Max dengan sekali sentak.
"Kau tak perlu cemas. Waktumu mati masih jauh," ujar Saciel dingin. Ia kembali pada mayat siren dan perlahan mengulitinya, membuat Nero langsung muntah. Max bangkit berdiri dan dengan sisa tenaganya ia menahan Saciel dan memeluknya erat.
"Sadarlah, kau di bawah pengaruh nyanyian siren," bisik Max. Saciel terdiam, mengedipkan mata berkali-kali dan pandangannya mulai kembali normal.
"Ah? Apa...yang kulakukan?" tanya Saciel lirih. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah dengan kebingungan yang dalam. "... apa-apaan ini?"
"...kau mau menyantap...daging siren," ujar Nero sembari mengelap bibirnya. Saciel tersentak dan melempar pisau di tangannya sejauh mungkin.
"Nggak! Nggak!" jeritnya histeris. Max kembali memeluknya dan sesekali membisikkan kata-kata penenang hingga gadis berambut merah itu mulai tenang.
"Pintar. Sekarang menjauh dari bangkai itu," ujar Max sembari membawanya menjauh selangkah demi selangkah. Setelah cukup jauh ia memberi kode pada Nero untuk membuang bangkainya ke lautan.
"Ngh, kenapa kau menolongku?" tanya Saciel lirih.
"Karena aku melihat dirimu mulai nggak waras, makanya kutolong," jawab Max, berusaha menutupi kekurangannya. "Siren itu tidak bisa dimakan, meski kau olah sekalipun pasti masih ada sisa racun yang tersisa."
Saciel terdiam, mencoba menenangkan diri dengan menarik napas sedalam yang ia bisa. Ia tidak menyangka kekuatan siren mampu menembus hatinya, bahkan membuatnya berpikir bahwa ia lolos dari nyanyian mereka. Max duduk di depannya dan mengelus kepalanya dengan lembut, membuat Saciel berpikir kalau Max juga masih di bawah pengaruh hipnotis siren.
"Kau bisa berhenti melakukannya," ujar Saciel. Max menarik tangannya dan menghela napas kecewa. "Apa?"
"Bukan apa-apa," ujar Max kalem. "Kapan mereka berdua bangun? Cuman tenggelam saja lemah."
"Nero, berapa jarak pulau ini dengan pintu masuk Kota Mizuki?" tanya Max.
"Sekitar 30 menit dari sini," ujar Nero. Max menghela napas dan menarik sabitnya. "Max?"
"Buat jadi 15 menit. Panggil Undine dan kita akan berlayar sekarang. Bau darah sudah cukup membuatku muak," paksa Max. Nero memanggil Undine dan membaringkan yang pingsan di perahu, lalu membantu Saciel naik. Max ikut masuk dan berdiri di belakang perahu.
"Undine, tolong ya," ujar Nero. Undine mengangguk dan membuat ombak besar yang mendorong perahu itu meninggalkan pulau, lalu membuat tembok air agar siren tidak bisa lewat. Max memandangi tembok itu dengan tatapan tenang, namun perasaannya gundah ketika melirik Saciel yang masih terlihat lemah. Tangannya yang halus mengelus lembut puncak kepala Kezia yang masih belum sadarkan diri.
"Ah? Itu siren?" tanya Max sembari menunjuk sebuah kepala di belakang perahu.
"Entahlah, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Mau dibunuh?" balas Nero. Max tidak menjawab, melainkan tetap menunggu hingga kepala itu tidak nampak lagi. Max memasang kuda-kuda, memasang semua panca indranya dengan kuat. "Ah, pulaunya mulai terlihat."
"Ngh, Saciel?" panggil Phillip lemas. Saciel bergegas memegang tangannya dan tersenyum lembut.
"Aku di sini, Phillip. Tenanglah," ujar Saciel lembut. Dengan hati-hati Phillip bangkit dan melihat sekeliling dengan kebingungan yang mendalam.
"Kenapa...kita masih berlayar?" tanya Phillip.
"Tujuan kita masih cukup jauh, jadi bersabarlah sedikit lagi," balas Max. Ia menenteng sabitnya dan kembali duduk, memperhatikan gerak-gerik Saciel yang merawat Kezia dan Phillip.
"...kau membuatku tak nyaman," ujar Saciel tiba-tiba. Max tersentak dan merengut, lalu melipat kedua lengannya.
"Mata mataku, kok kamu yang sewot?" balas Max. Saciel hanya menghela napas, tidak paham dengan perubahan suasana hati Max yang cepat. Perahu perlahan berlabuh di bibir pantai yang berkilau layaknya kristal di bawah sinar matahari. Mereka segera turun dan membaringkan Kezia dengan hati-hati. Nero berjalan mendekati gerbang, beberapa penjaga demi human ikan melihatnya dengan heran.
"Bukannya dia..."
"Kami bisa lewat portal ini?" tanya Nero cepat. Para penjaga terdiam, sejenak menaruh perhatian pada dua penyihir. "Jawab"
"B-bisa tapi... penyihir itu harus tinggal di sini," ujar penjaga sembari menunjuk para penyihir. "Mereka jelas-jelas tidak boleh menginjakkan kaki di wilayah Ceshier."
"Kami yang kumaksud itu semuanya, bahkan dua penyihir itu. Kau tidak mau berakhir dengan kekerasan bukan?" ancam Nero.
"Marchioness Geliza tidak akan suka dengan hal ini," cicit yang lain. Nero menghela napas dan menatap mereka tajam.
"Katakan padanya Grand Duke Ackerman datang dan membutuhkan sesuatu di Kota Mizuki. Se-ka-rang."
"B-baik!" jawab mereka serempak, sembari pergi menyelam ke dalam lautan. Nero hanya bisa cemberut, dalam hati merutuki penjaga yang bodoh dan lamban. Seorang kepala penjaga datang dengan wajah sangarnya.
"Apa penyihir itu bisa dipercaya?" tanyanya.
"Entahlah, tapi keadaan mereka lemah. Kuyakin mereka tidak akan sanggup melawan untuk beberapa saat," balas Nero. Kepala penjaga mengangguk, lalu memberikan sebuah lempengan dari perak dengan ukiran duyung di atasnya.
"Silakan masuk. Marchioness mengizinkan kalian," balasnya. Nero mengangguk dan kembali pada rombongan dengan senyum kemenangan.
"Ayo, aku sudah dapat tanda masuknya."