The Two Empresses

The Two Empresses
Chaos



"Aduh, kamu saja yang urus. Aku masih banyak urusan," balas Phillip sambil berlari meninggalkan Nero yang kesal.


"Sialan kau. Ingat saja, kuinjak nanti mukamu sampai kau memohon ampun," ujarnya kesal. Ia mengayunkan cambuknya dan kembali membelah musuhnya hingga darah mewarnai seluruh atap. Cerlina bahkan mual melihatnya dan meringkuk sendirian. "Duh, gawat. Tuan Putri ketakutan. Undine, hapus darahnya."


Dengan sekali lambaian, darah mulai menguap tanpa jejak sedikitpun. Selesai membereskan sisa musuh, Nero kembali ke samping Cerlina dan menghibur gadis itu dengan belaian dan kata-kata manis yang membuat Cerlina luluh.


"Sudah baikan?" tanya Nero.


"Sudah. Bagaimana dengan pertarungannya?" tanya Cerlina sembari bangkit berdiri. Nero melirik ke arah lain dan menghela napas.


"Tinggal naga dan Draco itu yang masih bertarung. Kurasa...sebentar lagi juga akan selesai. Ah, sebaiknya kita pergi," ujarnya sembari menggendong Cerlina dan membawanya ke luar istana, dimana beberapa prajurit bersiaga untuk menyerang.


"Turunkan senjata kalian, dia tidak akan menyerang," ujar Cerlina sembari mengangkat tangannya. Para prajurit perlahan menurunkan senjata dan membantunya berdiri. "Bagaimana kondisi di dalam?"


"Para tawanan masih di dalam, tanpa luka. Kami masih berusaha mencari cara menghancurkan sihir hitam. Tapi..."


"Sialan, 2 tetua kabur dari sini," maki Phillip sembari menjejakkan diri di samping Cerlina. "Mereka berdua bisa dijatuhi tuduhan berat nanti."


"Bukankah bagus? Kalian bisa menghilangkan pengkhianat negara ini," sindir Nero. Phillip diam sejenak dan menghela napas.


"Memang menguntungkan, namun bisa saja itu malah memicu perang. Jika kondisi politik di sini lemah, negara ini akan jadi sasaran empuk untuk diserang," ujar Phillip. Nero hanya angkat bahu dan mencoba meraih Cerlina, namun seorang prajurit memukul tangannya.


"Jangan sentuh Nona Pendeta Agung, makhluk rendah," ujarnya sinis. Nero diam, namun aura mematikan perlahan menguar darinya. Phillip yang sadar akan situasi langsung menarik mundur Nero sebelum terjadi baku hantam.


"Hei kau, beruntung aku ada di sini. Kalau tidak, bisa saja kalian jadi makanan naga di sana," ancam Phillip sembari menunjuk Komodo Dragon yang tengah membersihkan cakarnya yang berlumuran darah. Prajurit itu memucat dan mundur beberapa langkah, membuat Nero menyunggingkan senyum puas.


Sementara itu, Lao dan Vristhi tengah duduk santai sembari membaca buku. Beberapa bangsawan mulai kesal dan protes.


"Duke Requiem, apa kau tidak ada cara untuk keluar dari sini?" tanya salah satu bangsawan dengan nada sinis.


"Tidak. Sihir ini sudah di luar jangkauanku. Mari kita menunggu..."


"Kami tidak bisa menunggu lebih lama!"


"Kau ini pemimpin, tapi kenapa kau tidak berguna?"


"Siapa yang kau bilang tidak berguna?" tanya Vristhi marah. Ia mengendalikan satu deadman dan mencekik bangsawan itu.


"Vristhi, sudah cukup. Kau tidak perlu semarah itu padanya," ujar Lao lembut, perlahan menggenggam jemari Vristhi dan menciumnya. Vristhi menghela napas dan meleburkan deadman. "Gadis pintar."


"Kau terlalu baik," bisik Vristhi. Lao hanya mengulum senyum dan menjentikkan jemarinya, membuat sihir hitam yang melingkupi perlahan memudar.


"Terima kasih pujiannya, Sayang. Nanti kita nikah ya?" bisik Lao setengah bercanda. Vristhi mencubit pipinya dan mengulum senyum tipis.


"Kau masih berharap hal itu?"


"Tentu saja. Seumur hidupku, setiap detik yang kulewati hanya kamu yang ada di pikiranku," balas Lao. Vristhi tertawa kecil dan mengelus pipi Lao.


"Mari kita selesaikan masalah ini sebelum menjadi lebih parah," ujar Vristhi.


Saciel terbangun dan melihat sekeliling yang terasa asing untuknya. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya menolak perintahnya. Ia mencoba meraba-raba dan mendapati besi dingin mengikat pergelangan tangannya.


"Sialan," maki Saciel lirih. Ia menghela napas dan mencoba memastikan situasi, namun yang ia temukan hanya ruangan beserta perabotan yang cukup bersih.


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Dark sembari meletakkan secangkir teh dengan senyum sinis.


"Di mana aku?" tanya Saciel.


"Di rumahku," ujarnya sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Saciel. "Percuma saja kau mencoba kabur. Rantai yang kupasang bukanlah rantai sihir biasa."


"Sihir hitam ya? Apa itu tidak menggerogoti tubuhmu?" tanya Saciel datar. Dark diam, perlahan melepas bajunya dan memamerkan lengan kirinya yang dipenuhi dengan jejak sihir hitam. "Sudah ternyata."


"Asal tujuanku tercapai, aku tidak peduli dengan tubuhku sendiri," ujar Dark kalem. "Tapi...aku tidak menyangka kau merupakan keluarga inti."


"Heh, kurasa darah kami sudah bercampur jauh. Jadi darah kerajaan sudah hilang dari tubuhku."


"Tidak masalah, kau masih seorang bangsawan bukan? Jadilah ratuku."


"Tidak akan pernah, brengsek. Menjauhlah dariku," tolak Saciel. Dark menyeringai dan naik ke atas ranjang, menindih tubuh Saciel yang tak berdaya. "Mau apa kau?"


"Entahlah. Coba bayangkan apa yang akan kulakukan dengan imajinasimu, Manis," balasnya sembari membuka kancingnya satu per satu. Saciel terkejut dan mencoba memberontak, namun apa daya tubuhnya masih tidak bisa bergerak.


"Hentikan!" jeritnya. Dark mengabaikannya, tangannya masih terus bergerilya untuk melepas semua kain yang menyelimuti tubuh Saciel. Namun ia menyisakan pakaian dalam dan menyeringai puas. "Brengsek."


"Manis, tubuhmu benar-benar sangat cantik. Aku tak sabar ingin mengotorinya," ujar Dark dengan gaya sensualnya. Ia menurunkan kepalanya dan mulai menjilati leher jenjangnya. Sesekali ia meninggalkan jejak berupa kissmark yang tersebar di beberapa titik. "Haa, kau terlihat menggoda."


"Kupastikan kau akan mati di tanganku," ancam Saciel dengan suara lirih, menahan kemarahan dan rasa malu. Dark hanya menyeringai dan kembali menjilati lehernya, perlahan menjilati bagian dada hingga perutnya.


"Di sini, aku akan mengisi perutmu dengan calon anak kita. Anak-anak yang akan memimpin Careol," ujar Dark sembari menunjuk perut bawah Saciel dengan kukunya yang cukup tajam.


"Aku tidak akan mau melahirkan anak-anakmu!" jerit Saciel. Dark hanya tertawa dan kembali mengeksplor tubuh Saciel, sesekali menjilatinya.


Saciel menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, lalu berbisik dengan kebencian yang mendalam. "Hellhound."


Sebuah cakar besar muncul dari lingkaran sihir dan memukul Dark hingga terpental ke dinding. Saciel bergegas meraih selimut dan menutupi tubuhnya. "Kh!"


"Bocah, kau cukup tolol memanggilku dengan sisa manamu yang terlalu sedikit. Kau mau mati?" tanya Hellhound sinis. Saciel memakai bajunya dan menatap sinis ke arah Hellhound.


"Aku tidak punya banyak waktu," ujar Saciel tersengal. "Orang itu...pengguna sihir hitam."


"Sudah lama sekali aku tidak melihat pengguna sihir hitam," ujar Hellhound sembari mengarahkan pandangannya pada Dark yang berusaha bangkit dari dinding. "...dia cukup berbahaya."


"Tanpa kau beritahu aku juga sudah tahu," ujar Saciel sembari menggenggam pedang. Dark bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Hellhound.


"Aku tidak tahu kau bisa memanggil hellhound. Kuyakin kau kehabisan mana setelah ini," ujar Dark dingin. Saciel hanya diam dan memasang kuda-kuda untuk menyerang, namun seseorang berdiri diantara mereka dengan menggunakan jubah hitam besar yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Dark, sudah cukup. Tinggalkan gadis ini sekarang."