The Two Empresses

The Two Empresses
Kota Mizuki dan Kudeta



"Serius? Hebat, kau pasti pakai cara licik," ujar Saciel. Nero hanya angkat bahu, namun matanya terpaku pada Kezia yang mulai membuka matanya. "Ah?"


"Nii~ nee~," panggilnya manja. Max segera mengangkat gadis kecil itu dan menepuk punggungnya seperti bayi. Yang digendong hanya menggumam tak karuan dan sesekali mengusap wajahnya dengan penuh sayang. Mereka segera berjalan menuju gerbang portal diikuti tatapan heran dan tidak suka. Saciel hanya menghela napas dan tetap berjalan hingga langkahnya terhenti di depan sebuah kota yang dipenuhi demi human dan putri duyung.


"Wow, tempat ini sangat cantik," puji Phillip. Kota Mizuki bukanlah tempat biasa bagi Ceshier, karena kota kecil itu merupakan pusat perdagangan terbesar setelah ibukota. Semua bangunan berwarna cokelat pasir, dihiasi berbagai macam bentuk cangkang kerang atau sisa bangkai kapal. Jalanannya terbuat dari ribuan mutiara yang disusun dengan elok dan berkilau ditimpa sinar matahari. Lampu jalanan terbuat dari cangkang kerang raksasa dengan bohlam lampu dari mutiara raksasa pula. Mereka tak menyadari seorang wanita angkuh berambut merah jambu berjalan ke arah mereka dengan elegan.


"Selamat datang di Kota Mizuki, Grand Duke Ackerman," sapanya sembari memberi hormat. "Kuharap Anda menikmati tempat ini, namun...saya tidak menyangka Anda membawa buronan benua lain kemari."


"Marchioness Geliza, kami benar-benar minta maaf tidak memberitahu secara resmi kedatangan kami. Semoga kami tidak menyinggung perasaan Anda," balas Max dengan gaya elegan yang menurut Saciel setingkat dengan seorang pangeran.


"Grand Duke huh? Wow, ternyata mereka keturunan bangsawan juga," bisik Phillip. Saciel hanya mengangguk dan memperhatikan Marchioness Geliza yang terlihat seperti ubur-ubur. Rambutnya bergelombang, namun terlihat sedikit transparan di bawah sinar matahari. Kulitnya pucat, namun rona wajah masih terlihat. Sepasang mata almond berwarna hijau tak terlihat ramah ketika terpaku pada Saciel.


"Apa yang mereka inginkan di sini?" tanya Marchioness Geliza.


"Kami mencari sebuah harta pusaka milik mereka yang disembunyikan di tempat ini," ujar Kezia. Marchioness melirik ke arah Kezia dengan tatapan heran.


"Nona Kezia, saya tidak ingat badan Anda sekecil ini," singgungnya. Kezia tersentak dan bersembunyi di balik punggung Nero, tubuhnya gemetar.


"Pelankan suaramu, jangan sampai mereka tahu," desis Max setengah mengancam. Marchioness menutup setengah wajahnya dengan kipas dan menyeringai di baliknya.


"Maaf atas ketidaksopanan saya. Bagaimana jika Grand Duke dan yang lain mampir ke kediaman saya untuk secangkir teh?" tawarnya.


"Tidak, kami sedang terburu-buru. Mungkin lain waktu," tolak Nero cepat. "Bisakah kami mengakses wilayah tenggara?"


"...tempat itu adalah tempat yang sakral. Tidak pernah ada orang yang berani mendekati kecuali para uskup."


"Kenapa sakral?" tanya Phillip tanpa sadar. Marchioness mengarahkan pandangan pada Phillip dengan tatapan lempeng.


"Karena ada benda pusaka di wilayah itu dan tidak ada yang bisa mengambilnya atau menyentuhnya," jawab Marchioness Geliza.


"Maaf, bisakah kau menceritakan detilnya pada kami?" mohon Saciel.


...****************...


Careol City


"Menangkap gadis angkuh itu saja tidak bisa! Apa saja yang sebenarnya kalian lakukan?" maki Tetua Erika sembari memukul meja dengan keras. Para kepala keluarga bangsawan hanya terdiam, tak berani berkata-kata.


"Huh, dasar tidak berguna. Ditambah lagi keluarga 7 Eternal Wizards sama sekali tidak membantu. Mereka pasti berpihak pada Arakawa," keluhnya. "Di mana Pendeta Agung?"


"Beliau saat ini berada di kuil dengan pengawasan ketat," ujar pengawal.


"Hm, bagus. Jangan lepaskan pandangan kalian darinya. Kita tidak tahu seberapa licik gadis itu," ujar Tetua Erika. "Kalian semua pergilah, kecuali para tetua."


Semua orang terkecuali para tetua pergi. Tetua Yorktown maju dengan hati-hati.


"Erika, kau tahu posisi Cerlina cukup kuat di Careol. Jika kita menyakitinya meski hanya seujung jari, kuyakin akan ada kudeta," ujar Tetua Yorktown.


"Kurasa aku bisa membantu," celetuk seseorang dengan riang. Ia melangkah masuk dengan tenang, seluruh tubuhnya ditutupi dengan tudung besar. "Sudah lama tidak berjumpa, Erika."


"Jangan panggil aku dengan namaku, tidak sopan."


"Ayolah, kau tidak perlu sekaku itu. Kita kan teman," ujarnya lembut, namun tidak ada keramahan di dalamnya.


"Apa yang kau tawarkan?"


"Mudah saja. Kau bisa membuat gadis itu sakit dengan racun," ujarnya sembari mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna biru berkilauan. "Berikan setetes saja pada makanan dan cukup membuatnya lemas. Kau bisa membuat lilin beraroma untuk menambah efeknya."


"Erika, kau serius ingin meracuni Cerli...maksudku Pendeta Agung?" tanya seorang tetua, setengah takut.


"Kalau kau tidak suka kau boleh pergi. Tapi, kuyakin kau tidak akan bernyawa hari ini," ancam Tetua Erika. Tetua itu terdiam dan menunduk, tak berani melawan ancaman itu.


"Akan kusiapkan pelayan terbaik untuk melakukannya. Perlahan, kita akan membuat dia menderita," ujar Yorktown. Sosok bertudung itu menyeringai, lalu memberikan botol itu pada Tetua Yorktown.


"Ingat, setetes saja sudah cukup. Lebih dari itu, dia bisa mati," ujarnya mengingatkan. "Yah, meski kuyakin imunitasnya cukup tinggi."


"Tidak, dia itu lemah. Terlalu lemah sampai-sampai waktunya banyak dihabiskan di kamarnya," sindir Tetua Erika.


"Ck ck, Erika. Jangan meremehkan orang lemah. Kita belum tahu, mungkin saja dia menyembunyikan hal besar dibalik kelemahannya," ujar si bertudung mengingatkan. "Aku harus pergi. Terlalu lama di sini bisa menarik perhatian orang." Ia bergegas pergi dan meninggalkan para tetua. Ia berpapasan dengan Parvati yang tengah membersihkan lorong dengan sapu di tangannya.


"Oh? Halo, nona pelayan," sapanya kalem. Parvati hanya memberi hormat dan meneruskan pekerjaannya, namun tidak membuat si bertudung tersinggung. "Aku tidak menyangka makhluk sejenis dirimu ikut campur urusan duniawi."


"...astaga, saya tidak mengerti dengan kata-kata Anda," sindir Parvati lembut. Si bertudung hanya tertawa dan kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan istana dengan senyum mengerikan terpatri di wajahnya.


"Nona Vristhi, Tuan Requiem ingin bertemu dengan Anda," ujar kepala pelayan. Vristhi yang asyik membaca meletakkan bukunya dan berpaling pada kepala pelayan, memberikan isyarat untuk menyuruh Lao masuk. Ketika Lao masuk dengan senyum briliannya, Vristhi menutup buku dengan keras dan merengut.


"Kuharap kau punya alasan yang cukup kuat untuk ini," ujar Vristhi garang.


"Jangan marah, sayang. Kau ini seram sekali, masa bertemu denganku sama seperti melihat sampah? Yah, aku kemari ingin kau bertemu dengan keluarga Phoenix dan mengangkat anak tertua di keluarga itu sebagai perwakilan baru pengganti Comet."


"...kau tahu sangatlah tabu bagi keluarga Phoenix untuk mengangkat wanita sebagai perwakilan 7 Eternal Wizards?"


"Kepala keluarga mereka juga tidak bisa diandalkan. Pilihan mereka tinggal dia atau berakhir. Mudah bukan?" balas Lao santai. "Dia lebih berbakat dibandingkan Comet."


"Aku setuju, namun tetap saja tradisi mereka akan menghambat ide ini."


"Ancam saja. Pilih angkat pengganti baru atau keluar dari bagian 7 Eternal Wizards? Waktu kita tidak banyak. Dan aku tidak tahu berapa lama lagi Saciel akan kembali," ujar Lao. Vristhi menghela napas dan menatap Lao lekat-lekat.


"Waktu terus berjalan, Lao. Dan kesempatan kita untuk melindungi Cerlina hanya sekali."


"Aku tahu. Waktuku sudah habis, aku harus pergi ke tempat lain. Urusan Phoenix kuserahkan padamu, Putri Mahkota."


"Bukan hanya aku Putri Mahkota di Careol. Masih ada yang lain," balas Vristhi dengan senyum manis untuk pertama kalinya.