
Para prajurit terlihat sibuk setelah kehadiran Cerlina, Nero dan Kezia, apalagi barang yang dibutuhkan sang ratu cukup besar untuk diangkut di gerobak. Phillip yang mengurusnya pun sedikit kewalahan.
"Yang Mulia, apa Anda serius untuk mengangkutnya dengan gerobak? Permata sebesar ini tidak akan bisa dibawa cepat, apalagi hanya tiga hari perjalanan," keluh Phillip. Saciel memiringkan sedikit kepalanya.
"Eh? Bukannya kita akan memindahkannya dengan teleportasi?" tanyanya. Phillip menganga mendengarnya.
"Maaf, apa? Dengan teleportasi? Sa...maksudku, Yang Mulia! Benda sebesar ini butuh sihir yang besar juga!" sahut Phillip frustrasi.
"Memang di kekaisaran kita tidak ada penyihir yang kuat?" tanya Saciel.
"Kalaupun ada, tidak akan mudah melakukannya," jawabnya ketus. Saciel menghela napas.
"Begitu saja tidak bisa," keluh Saciel lirih.
"Mana ada yang sanggup melakukannya, Yang Mulia Ratu Saciel Arakawa," cetus Phillip kesal, tangannya yang kosong nyaris meraih gelas untuk melemparnya tepat di wajah gadis itu.
"Ya sudah, aku saja yang melakukannya," ujar Saciel santai. Ia bangkit dari tahtanya dan melangkah keluar, disusul Phillip yang terus mengomel hingga beberapa pelayan yang lewat heran melihatnya.
"Yang Mulia, Anda tidak bisa melakukannya sendirian."
"Duh, Phillip. Bisa tidak sekali saja kau tidak bersuara sejenak? Kepalaku pusing mendengarnya," keluh Saciel sembari memperlambat langkahnya ketika permata yang menjadi buah bibir sudah dekat. Semua prajurit yang berjaga langsung memberi hormat padanya.
"Tolong gambarkan lingkaran sihir sebesar mungkin, ya," ujar Saciel sembari memberikan kapur pada salah satu prajurit.
"Yang Mulia!"
"Phillip, kalau kau memang tidak berniat menolong, diamlah," tegur Saciel kalem. "Aku tidak punya tenaga untuk membalas protesmu."
Phillip tak mampu berkata-kata. Ia menghela napas dan hanya mengawasi para prajurit menggambar lingkaran sihir di tanah dengan berbekal kapur. Begitu lingkaran tersebut selesai dibuat, mereka mendorong kereta besar itu agar berada di tengah lingkaran. Saciel mengarahkan tangannya pada lingkaran dan mengalirkan seluruh kekuatannya hingga lingkaran sihir tersebut memancarkan sinar.
"Phillip, pegang tanganku," ujar Saciel lirih. Phillip mendengus dan memegang tangannya yang lain, namun yang ia rasakan energi di dalam tubuhnya meletup-letup.
"...hei, kau tidak berniat me..." kalimatnya terputus ketika raganya menghilang, bersamaan dengan kereta yang mengangkut permata besar itu. Saciel memasang ekspresi puas di wajahnya.
"Hah, dengan ini semua beres."
"Beres apanya? Yang Mulia malah menendang Phillip ke Avant Heim tanpa memikirkan konsekuensinya," celetuk Lao sembari memberi hormat. Saciel tertawa mendengarnya.
"Daripada dia berisik, lebih baik kusuruh bekerja saja di Avant Heim," balasnya.
"Phillip itu ajudan Anda, Yang Mulia. Mana mungkin dia bisa jauh dari Anda," keluh Lao. "Jadi apa semua baik-baik saja?"
"...tidak. Aku masih harus mencari Vatra dan menyelesaikan semuanya."
...****************...
Phillip membuka matanya dan terkejut ketika dirinya sudah berada di Avant Heim yang suram dan sepi. Aroma busuk dari bangkai flügel menyapa indra penciumannya.
"Gila, ini lebih buruk dari yang kukira," keluh Phillip sembari menutup hidungnya. Ia tidak menyadari Ilmol berlari ke arahnya dengan kelegaan memenuhi wajahnya.
"Phillip! Kaukah itu?" sambutnya riang.
"Hai, Ilmol. Kau terlihat senang," balas Phillip.
"Tentu saja aku senang, kau membawakan apa yang tempat ini butuhkan. Ayo bawa ke alun-alun."
"Bagaimana caranya menarik benda ini...maaf," balas Phillip cepat, keder melihat Ilmol memasang wajah horor mendengar keluhannya. Phillip mengetuk kereta itu dua kali dan benda itu langsung bergerak sendiri, disusul Phillip dan Ilmol di belakang. Sesampainya di alun-alun, terlihat Julian sibuk membaca sembari beradu argumen dengan Jegudiel.
"Ah, baguslah. Terima kasih sudah membawakannya, Phillip. Kurasa tidak mudah ya membawa benda sebesar ini sendirian," ujar Julian kalem, namun ekspresinya terlihat ingin menahan tawa.
"Berisik dan selesaikan saja urusannya," balas Phillip ketus. Julian langsung memindahkan permata tersebut dengan sulur raksasa pada sebuah menara besar dari besi yang disusun sedemikian rupa meski sedikit berantakan. Hati-hati diletakkannya benda itu di puncak dan mengikatnya dengan sulur kering yang keras.
"Nah, beres. Pas banget kau ada di sini," ujar Julian sembari menatap Phillip. "Saciel pintar juga mengirimmu ke sini."
"Bagai...ah, sudahlah. Memangnya kau butuh apa dariku?" tanya Phillip heran. Julian menunjuk menara itu dengan telunjuknya.
"Aku ingin petirmu menyerang benda itu," balasnya. Phillip menganga mendengarnya.
"Petir...kau gila? Untuk apa aku menyerang menara itu dengan petirku?" tanya Phillip histeris.
"Duh, malas banget kalau harus dijelaskan. Lakukan saja, oke? Menara ini hanya sebagai perantara listrik untuk mengaktifkan permatanya. Kau tahu kan, percuma menembakkan serangan sihir langsung ke permata karena benda itu bisa menyedotnya dengan mudah."
"Sebentar, petirku kan tetap butuh mana," balas Phillip.
"Sudah cepat lakukan saja. Aku tidak tahan melihat kematian perlahan di sini," desak Julian. "Arahkan seranganmu dari bawah."
"...hah. Sial sekali nasibku hari ini," keluh Phillip lirih sembari membuat palu besar dari petir. "Mundurlah. Kau bisa saja tersambar."
Setelah memastikan semua orang jauh dari jangkauan petirnya, Phillip mengambil ancang-ancang dan menghantam pondasi menara itu. Kilat langsung menyelimuti menara itu, merambat hingga puncak dan beresonansi dengan permata tersebut. Cahaya yang keluar dari permata langsung menyelimuti seluruh wilayah Avant Heim. Para flügel yang tadinya lemas mulai terlihat membaik, bahkan yang terkurung di dalam permata perlahan mendobrak cangkangnya.
"Wah! Berhasil!" jerit Ilmol senang.
"Ini hanya untuk sementara, Ilmol. Mereka belum menjauh dari krisis," tegur Julian mengingatkan.
"Meski begitu, ini sesuatu yang patut disyukuri, bukan?" balas Ilmol. Jegudiel terbang menghampiri dan memberi hormat.
"Kami semua berutang nyawa pada Careol," ujarnya lirih.
"Cukup, Jegudiel. Apa yang kami lakukan semata-mata demi menyelamatkan kalian, jadi ini belum apa-apa. Kita masih butuh dewa untuk menggantikan Deus," ujar Phillip.
"Kau kira gampang cari dewa?" tanya Julian. Phillip diam, namun sebuah ide terbersit di kepalanya.
"Kau bisa mencari di seluruh tempat, kan?" tanyanya sembari menatap Julian. Yang ditatap nyaris memukul pemuda di hadapannya dengan buku.
"Kau kira gampang?"
"Kau bisa mencari entitas dewa dengan tanaman, bukan?"
"...kalau memang aku bisa mencarinya, akan kulakukan dari awal," balas Julian. "Tidak semua entitas bisa kulacak dengan mudah. Ada kalanya mereka menyamarkan diri agar tidak bisa dilacak."
"Tapi bisa, kan?" desak Phillip.
"Bisa," balas Julian keki. "Ada sekitar 4 orang dengan kekuatan setara dewa, namun terpencar di 4 wilayah. Kau mau mencari yang mana?"
"Banyak juga. Bagaimana memilih dewa yang akan menjadi penguasa Avant Heim?" celetuk Ilmol.
"Avant Heim yang akan memilih," ujar Jegudiel. Ketiga penyihir tersebut berpaling pada flügel tersebut.
"Avant Heim...memilih sendiri? Bagaimana caranya?" tanya Ilmol.
"Bisa coba resonansikan kekuatan para calon melalui sulurmu?"