The Two Empresses

The Two Empresses
Prolog



Di manapun kami berada, perang tidak pernah berakhir di dunia ini. Sejarah kita penuh dengan darah, air mata dan penderitaan. Mencoba untuk mendapatkan sesuatu tanpa memikirkan orang lain, membunuh dan mencuri demi nafsu semata. Tidak hanya makhluk hidup, dunia juga korban dari perang ini. Tangisan, rasa sakit, penderitaan dan keputusasaan memenuhi dunia yang kejam ini. Tidak ada yang tahu kapan perang ini berakhir.


Sudah hampir seabad perang ini berlangsung, tapi tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Semua orang sudah tidak sanggup lagi mengangkat senjata. Mereka sudah tidak sanggup melihat air mata dan darah yang ditumpahkan begitu saja di medan perang. Aku juga sudah tidak sanggup lagi melihatnya, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau ini terus berlanjut, apakah kami masih bisa menikmati kedamaian? Apa generasi berikutnya hanya mengenal perang tanpa adanya kasih sayang? Aku...harus membuat benang takdir yang membawa kita pergi dari masa kelam ini, meski harus mengorbankan segalanya.


Tahun 506, perbatasan Respher dan Ceshier


Gadis berambut ikal merah sebahu berlutut di hadapan sepasang mayat yang terbaring di atas kolam darah. Tubuhnya gemetar, air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Perlahan ia meraih tangan mereka dan menggenggamnya erat-erat.


"Papa, Mama? Bangun, ayo bangun," panggilnya lirih. Hati-hati ia menepuk pipi mereka, namun tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Perlahan ia memeluk mereka yang dingin bagai es, mencoba membagi kehangatan tubuhnya. Sekeras apapun dia mencoba, keduanya tidak mengedipkan mata dan memeluknya. Ia tidak menyadari seorang demi human serigala dengan rambut dan mata berwarna turquise berjalan ke arahnya dengan tatapan dingin.


"Kasihan sekali kau. Kehilangan sangat menyakitkan bukan?" ujarnya datar. Gadis itu tersentak dan langsung mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda demi human serigala tersebut memamerkan senyum sinis. Di bahunya bersandar sebuah sabit besar dengan ukiran bahasa kuno dan tengkorak sebagai hiasannya. Tatapannya dingin, merendahkan dan jijik. Sang gadis hanya bisa diam, mencoba untuk terlihat tegar di hadapan musuhnya, namun tubuhnya menolak untuk berdiri, bahkan sekedar menegakkan tubuhnya. Pemuda itu menghela napas panjang.


"Dasar bodoh, kalian seharusnya tau perbedaan diantara kita. Dari awal, kalian sudah kalah," sindirnya. "Aku ini monster, dan kau hanyalah penyihir rendah."


"A...aku bukan...penyihir rendah!" balasnya ketakutan. Pemuda itu tertawa lantang dan menendangnya hingga ia terpental cukup jauh dari jenazah orang tuanya.


"Hah! Memangnya kau bisa apa? Melawan saja tidak!" tanyanya sembari terus menendang sang gadis yang tak berdaya. "Jawab aku, hei penyihir! Kau tidak mau berakhir seperti mereka kan?"


Dia tidak menjawab dan hanya menerima tendangan dengan pasrah. Air mata kembali mengalir deras, namun bibirnya tidak mengeluarkan suara apapun. Pemuda itu mulai bosan, matanya beralih pada  mayat orang tua gadis itu. Tanpa komando ia mulai menendang mayat-mayat itu hingga daging mereka mulai terkoyak dan terdengar suara tulang patah beberapa kali.


"Jangan! Hentikan! Jangan sakiti mereka!" jeritnya. Ia berlari dan menahan kakinya dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya, namun pemuda itu tidak merasa iba sedikit pun.


"Lepaskan aku, penyihir kotor!" sahutnya sambil menampar wajahnya. Si gadis terjungkal dan mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya sudah tidak sanggup. Ia melihat si pemuda dengan tatapan kebencian dan kemarahan yang memuncak, meremas batu hingga hancur berkeping-keping.


"Jangan...lakukan...itu!" teriaknya. Pemuda itu tertawa keras mendengarnya, lalu menarik rambut merah menyalanya dengan kasar.


"Kau...brengsek! Sejak awal kau menyembunyikan?!" teriaknya. Sang gadis tidak mendengarnya, tatapannya kosong. Pemuda itu maju dan mencoba menyerang, namun sang gadis mampu mengelak. Dia mengayunkan sabitnya dan menggores lengan gadis itu hingga darah menyembur cepat. Meski luka besar menganga, ia tidak terlihat kesakitan. Dengan santai ia menjentikkan jemarinya dan mengurung pemuda itu di dalam penjara gelembung.


"Sialan!" makinya sambil mencoba memecahkan gelembung yang mengurungnya sekuat tenaga, namun tidak ada tanda-tanda gelembung itu pecah. Si gadis kembali menjentikkan jarinya dan ratusan pedang muncul di sekeliling gelembung. Wajah pemuda itu mulai panik.


"Sialan! Sialan! Sialan!" makinya sembari memberontak dengan keras.


"Sudah cukup, Nona. Tidak perlu membunuhnya," ujar seseorang. Di belakang gadis itu muncul sesosok pria bertubuh besar dengan sayap seputih salju menahan tangan si gadis. Wajahnya ditutupi oleh tudung besar sehingga tidak ada celah untuk memamerkan wajahnya. Max merasakan kelegaan luar biasa, namun ia tidak mampu menutupi kecurigaan pada pihak ketiga itu.


"Tidurlah" ujarnya. Ia menyentuh dahi si gadis dan detik berikutnya ia roboh.Wajah pemuda itu berubah terkejut dan makin curiga akan orang itu.


'Dia menidurkannya hanya dengan sentuhan?! Siapa dia? Penyihir? Tidak, auranya berbeda! Sayap itu...apa milik flugel?' ujarnya dalam hati. Pria itu membaringkan si gadis perlahan dan berjalan menuju si demi human. Ia menyentuh gelembung itu dan dalam hitungan detik gelembung itu pecah. Demi human itu bangkit dan mencoba melawan, namun pria itu menahannya dengan rantai sihir.


"Siapa kau!?" sahutnya.


"Aku adalah sekutumu dan juga sekutu gadis itu. Aku tidak ada niat untuk membunuh kalian. Pulanglah, perang ini berakhir," ujarnya kalem. Pemuda itu tertawa mendengarnya.


"Berakhir? Hah! Meski perang berakhir sekalipun, Respher dan Ceshier tidak akan mencapai kedamaian semudah itu," jawabnya sinis. Pria itu hanya menghela napas, lalu melepaskan demi human itu. Tanpa menunggu lama demi human itu berlari meninggalkan medan tempur menahan rasa malu demi keselamatan nyawanya. Pria besar itu menghela napas, lalu berpaling pada gadis yang tidak sadarkan diri tersebut.


"Saciel Arakawa, takdirmu mungkin terlihat penuh dengan bahaya, tapi percayalah bahwa kau akan menemukan kebahagiaan di balik ini semua," ujarnya lembut sembari menggendongnya dengan hati-hati dan pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan ratusan jenazah penduduk Respher yang melayang di belakangnya. Ia tidak menyadari seorang anak kecil berdiri jauh dari tempat itu mengawasinya dengan mata berkilauan.


"Ck ck, kau melanggar apa yang seharusnya tidak boleh kau lakukan. Oh, biarkan saja, toh cuman sekali. Harus pergi, banyak tugas menanti," ujarnya riang. Dalam sekejap mata ia sudah menghilang dengan meninggalkan setangkai bunga lili di atas batu tempat ia berpijak.