The Two Empresses

The Two Empresses
Roh Air Undine



Seluruh air di wilayah itu berkumpul menjadi satu dan membentuk sesosok wanita dengan penampilan dan aura yang mendekati seorang dewi. Tubuh rampingnya dibalut oleh air, sehingga tidak satupun bagian privasinya terekspos. Saciel dan Phillip terkejut luar biasa dengan kehadiran Undine yang menyapa mereka dengan senyuman.


"Bagaimana bisa kau mengendalikan roh air?" tanya Saciel.


"Seorang tamer di Ceshier harus bisa mengontrol paling tidak satu roh," jawab Nero kaku. "Undine, buatlah banjir setinggi mungkin."


"Hei! Bagaimana dengan elf yang ada di sini?" tanya Phillip panik. "Kau bisa saja memancing perang."


Nero tidak bergeming, ia hanya melirik ke arah Undine yang menyapu wilayah elf dengan air. Beberapa elf terseret arus, kebanyakan merupakan anak-anak dan para wanita. Phillip memeluk Kezia dan berpegangan pada tiang tak jauh darinya agar tidak ikut tersapu.


"Nii! Nee!" jerit Kezia.


"Kami baik-baik saja!" sahut Max sembari menahan Saciel yang tak sadarkan diri. "Yah, pingsan lagi." Ia mencari keberadaan Erika yang ternyata membuat perisai agar tidak ada air yang bisa menenggelamkan tubuh kecilnya. Pasukan titan yang menanti perlahan meleleh dan berbaur dengan air.


"Undine, tekan wanita tua itu," ujar Nero. Undine membalut Erika dengan bola air dan memberi tekanan sebesar mungkin hingga perisainya mulai retak. Erika langsung melakukan teleportasi dan berpindah di belakang Nero, siap menusuknya dengan pisau beracun.


"Nero nii, awas!"


Dengan cepat ia berkelit dan merampas pisau itu dari tangan keriput Erika, lalu menggoreskan luka di pundaknya cukup dalam. Undine menyingkirkan Erika dengan ombak besar hingga ia terhempas keluar dari kafe.


"Wow, luar biasa. Ah, hei! Singkirkan banjirnya sebelum banyak korban jiwa di sini!" sahut Phillip. Nero menggangguk dan mengisyaratkan Undine untuk menyurutkan banjir. Undine langsung mengubah airnya menjadi uap, lalu ia menghilang. Kezia langsung berlari keluar dan mendapati hampir semua penduduk terluka. Dengan cepat ia membantu dan mengobati mereka dengan persediaan yang ada.


"Phillip nii, Nero nii, bantu aku!" sahut Kezia. Mereka saling memandang satu sama lain dan bergerak menolong. Max meletakkan Saciel di atas meja dan berjalan menghampiri Erika yang tak berdaya. Sabit di tangannya memantulkan kilau matahari, matanya berkilat penuh dendam.


"Kau mau membunuhku, bocah demi human?" tanya Erika sembari terkekeh. Max meletakkan ujung mata sabit tepat di lehernya. "Apa kau sanggup melakukannya?"


"Kenapa aku tidak sanggup?" tanya Max dingin. "Aku sudah pernah membunuh banyak orang di medan perang tanpa ampun, bahkan keluarga wanita di sana."


"Orangtua Saciel katamu? Oh nak, sejak kapan lidahmu mampu mengatakan kebohongan itu?" tanya Erika dengan senyum sinis. Max tersentak dan menunduk agar sejajar dengan Erika.


"Apa maksudmu?" tanya Max lirih.


"Yang membunuh mereka bukan kau, kan?" sindir Erika. "Kau hanya datang di saat yang tidak tepat, dimana Saciel mendapati dirimu dengan lagak penuh gaya 'membunuh' mereka. Sabitmu tidak berlumuran darah mereka."


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" gertak Max. Erika menyeringai dan berbisik di telinga Max dengan hati-hati.


"Adikmu yang membunuh mereka."


"Wanita jalang!" maki Max sembari mengayunkan sabitnya. Namun sebelum mata sabit itu memotong nadinya, sebuah dart menghalaunya dan berhasil mengubah sasaran Max. Ia berpaling dan mendapati seorang lelaki bermata tajam duduk pada dahan pohon dengan memainkan dart di tangannya.


"Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya," ujarnya kalem. Ia melompat turun dan mengangkat Erika dengan satu tangan, namun dihalang oleh Max dengan bagian luar sabitnya. "Apa-apaan ini?"


"Turunkan dia sekarang, penyihir. Dia targetku," ancam Max. Dia hanya menatapnya dan menghela napas, lalu menendang Max hingga terpental cukup jauh. "Brengsek."


"Oh jangan bergerak," ujarnya lembut, namun ratusan pisau melayang dan mengarah pada Max, siap untuk menembus tubuhnya kapan saja. "Aku tidak ada niat untuk menyerang."


"Tidak ada, hah? Lalu yang ada disekelilingku ini apa?" sindir Max.


"Itu hanya jaminan agar aku tidak terbunuh. Selama kau tidak banyak bergerak, pisau-pisau itu tidak akan menghujam tubuhmu."


"Aku netral, kurasa. Daripada itu, kau harus mengurus dia lebih cepat sebelum dia mati kehabisan darah," ujarnya sembari menunjuk Saciel. "Kurasa beberapa tulangnya menembus jantungnya. Kau hanya punya waktu kurang dari 1 jam."


"Sialan," maki Max. Ia menjatuhkan sabitnya dan mengangkat kedua tangannya yang tidak bersenjata. Lelaki itu menyingkirkan pisau-pisaunya dan berteleportasi dengan Erika. Max melampiaskan kekesalannya dengan menghancurkan pohon yang ada di dekatnya. "Sialan, sialan, sialan!"


"Max nii! Mana nee?" tanya Kezia cemas, sembari berlari ke arahnya dengan elf berjubah putih di sampingnya. Max mengarahkan pandangan pada Saciel yang terbaring. "Bagaimana keadaannya nii?"


"Sekarat kurasa," ujar Max lirih. Elf itu bergegas mendekati Saciel dan memeriksanya.


"Dia masih hidup, tapi kita tidak punya banyak waktu. Tuan, bisakah kau membawanya ke klinik?" tanya elf itu hati-hati. Max hanya diam dan menggotongnya. Mereka segera pergi ke klinik terdekat dan membaringkannya di dipan. Elf itu mendorong Max dan Kezia keluar dan mulai membedah tubuh penyihir itu. Begitu aroma darah tercium, Kezia beringsut di kursi dan menangis sesenggukan.


"Kezia, kenapa kau menangis?" tanya Phillip sembari memberikan segelas teh.


"Hiks, nee berdarah," ujar Kezia. Phillip mengalihkan pandangan pada ruangan tempat Saciel berada dan mengelus puncak kepala Kezia dengan lembut.


"Kezia, tidak apa-apa. Mereka sedang menyelamatkan Saciel," hibur Phillip. Max melemparkan diri di samping Phillip dan menenggak teh di tangan Phillip. "Itu untuk adikmu, bodoh."


"Kau bisa mengambilnya lagi," balas Max santai. "Hei, apa kau tahu siapa yang bisa memanipulasi pisau seperti wanita peyot itu?"


"Eh? Mm aku tidak yakin tapi salah satu 7 Eternal Wizards ada 1 orang. Aku belum pernah bertemu dengannya, jadi informasi yang kumiliki tidak banyak."


"7 Eternal Wizards, eh? Mereka selalu mengganggu saja. Mau sampai kapan kita akan diikuti oleh mereka?" keluh Max.


"Kurasa sampai Saciel kembali ke Careol dan memenuhi hukuman yang menantinya. Meski kau tidak menyadarinya, mereka belum menggunakan 100 persen kekuatannya."


"Tunggu, apa? Belum 100 persen katamu?" tanya Max. Phillip mengangguk, tangannya yang satu fokus menenangkan Kezia. "Apa yang akan terjadi pada kita jika mereka menggunakan kekuatannya 100 persen?"


"Tidak ada kesempatan untuk kita hidup. Saciel memang kuat, namun daya tahannya tidak memadai," ujar Phillip.


"Tidak memadai ya, payah sekali. Dia perlu pelatihan untuk fisiknya," usul Max.


"Mari kita urus itu nanti saja. Nyawanya masih berada di ujung tanduk," ujar Phillip.


"Ya ya, mari kita lihat apakah cecunguk sombong ini bertahan atau tidak," ujar Max. Setelah menunggu selama 2 jam, dokter elf tadi keluar dengan wajah cukup cerah.


"Dia bertahan, namun kondisinya cukup lemah. Kami akan memantaunya selama 24 jam untuk memastikan tidak ada masalah pasca operasi."


"Nee, bolehkah aku melihat nee?" tanya Kezia lirih.


"Boleh, mari masuk," balas dokter elf ramah. Kezia memasuki ruangan putih beraroma cairan disinfektan yang khas dengan air mata terus mengalir di pipinya. Tangisnya makin menjadi ketika bola matanya menangkap sosok yang ia sayangi terbaring lemah dan tak berdaya di atas dipan.


"Nee? Nee," panggilnya hati-hati.


"Nona, jangan memegang pasien untuk sementara waktu," cegah dokter elf setelah melihat Kezia mengulurkan tangan untuk menyentuh Saciel. "Kami perlu memastikan agar pasien tidak terkontaminasi bakteri atau virus."


"B-baiklah, maaf," jawab Kezia sembari menarik kembali tangannya. Sebuah tangan besar menepuk kepalanya dengan suara lembut yang familiar untuknya.


"Ayo keluar. Biarkan penyihir itu istirahat."