The Two Empresses

The Two Empresses
Festival of Death



"Dasar, siapa yang mengizinkanmu pingsan, ratu barbar?" keluh Jegudiel sembari membawanya pergi ke Avant Heim. "Masih mending kutolong, malah nambah beban."


"Ah, Kakak!" sahut Jibril sembari melambaikan tangan dari bawah. Jegudiel segera turun dan mendekatinya. Jibril terkejut melihat Saciel yang tak sadarkan diri di pelukannya.


"Kenapa Ratu Saciel ada bersama Kakak?" tanya Jibril.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya karena Dewa Deus melemparku di dekatnya. Bagaimana keadaan di sini?"


"Semua baik-baik saja, hanya beberapa flügel terluka akibat serangan mendadak. Penyerangnya...bunuh diri setelah kami berhasil menangkapnya," ujar Jibril.


"Bunuh diri?"


"Dia meledakkan dirinya dengan sihir," papar Jibril.


"Persis seperti yang dilakukan si keparat itu," gumam Jegudiel. Ia terbang memasuki rumahnya dan membaringkan Saciel di sofa.


"Tolong hubungi Careol kalau ratu mereka ada di sini, aku mau pergi menghadap Dewa Deus," ujar Jegudiel sembari melesat pergi meninggalkan Jibril dan Saciel begitu saja. Ia terbang tinggi menembus awan yang tebal dan pekat hingga sampai di sebuah tempat terbuat dari awan tebal tepat di atas Avant Heim. Terlihat Deus tengah duduk di singgasana miliknya dengan tatapan santai, seakan sudah tahu Jegudiel akan menemuinya.


"Hormat kepada Dewa Deus Ex Machina," sapa Jegudiel sembari memberi hormat dan melipat sayapnya.


"Kau sudah menyelamatkan gadis itu?" tanya Deus.


"Ya. Saat ini dia tak sadarkan diri di kediaman saya," ujar Jegudiel. "...kalau boleh tahu, kenapa Anda melempar saya?"


"Karena aku tidak bisa membiarkan dia mati sebelum memenuhi ramalan."


"Ramalan?"


"Kau tidak perlu tahu soal itu. Aku harus pergi menemui Oorun sekarang," ujar Deus sembari bangkit berdiri malas-malasan. "Semua ini terjadi karena kesalahannya."


"Ah, sebentar. Kesalahan apa yang Anda bicarakan?" tahan Jegudiel. Deus tidak menjawab dan langsung menghilang di balik kepulan asap, meninggalkan Jegudiel yang terbatuk-batuk.


"Ah, sudah pergi begitu saja? Padahal aku baru mau bertanya lagi," keluhnya. Ia kembali ke Avant Heim dan disambut oleh beberapa tua-tua yang sudah menantinya dengan tatapan dingin.


"Jegudiel, kudengar kau membawa ratu dari Careol?"


"Beliau baik-baik saja?"


"Bagaimana keadaannya?"


"Saudara-saudara, tolong tenang dan bertanyalah satu-satu. Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang kalian umbarkan. Ya, ratu Careol itu ada di sini, tidak sadarkan diri namun baik-baik saja. Ada apa?" ujar Jegudiel tegas.


"Keluarkan dia dari tempat ini," ujar salah satu tetua. "Gadis itu hanya membawa petaka di sini."


"Petaka?"


"Dia adalah kutukan dunia semenjak ia dilahirkan," ujar yang lain. Jegudiel semakin heran mendengarnya.


"Kalian ini kenapa sih?"


"Kau tidak lihat kekacauan yang terjadi setelah kehadirannya?"


"Itu bukan salah beliau, tolong pahami itu. Dia itu salah satu pejuang saat perang dan kalian melupakannya begitu saja?" ujar Jegudiel tegas dan dingin. "Memang apa salahnya?"


"...sudah cukup," celetuk Saciel lirih. Jegudiel berbalik dan terkejut melihat ratu muda itu berjalan tertatih dengan senyum tipis. "Mereka tidak salah, tidak perlu memarahinya."


"...cih," decih Jegudiel. Saciel menatap para tetua dengan tatapan teduh, membuat mereka tidak nyaman dan waswas.


"Terima kasih sudah menampungku selama aku tidak sadarkan diri. Setelah ini saya akan..."


"Yang Mulia!" sahut seseorang. Seluruh pasang mata berpaling dan terlihat Julian berlari ke arahnya dengan penutup mata yang khas di mata kanannya.


"Julian?"


"Huf...huf...Yang Mulia baik-baik saja?" tanyanya sembari mengatur napasnya yang pendek.


"Mohon maaf atas keterlambatan saya menjemput Yang Mulia. Saya kesulitan melacak Yang Mulia karena ada yang mengganggu komunikasi saya dengan tanaman."


"Aku mengerti. Mari kita kembali, kurasa Careol sedang dalam kekacauan besar."


"...baik, Yang Mulia," ujar Julian sembari mengangguk pada para flügel dan keduanya menghilang tepat di depan mata.


Sekembalinya mereka di Careol, Parvati dan Stevan tengah sibuk mengurus korban di halaman istana, dibantu oleh Tania dan butlernya.


"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Parvati saat menyadari kehadiran mereka dan bergegas mendekat.


"Kondisi kita?" tanya Saciel tegas.


"Dua penyihir hitam menerobos masuk dan memporakporandakan kota. Banyak yang tewas di tempat, sementara yang terluka langsung dievakuasi kemari oleh keluarga Schariac."


"Siapa mereka?"


"...mantan tetua Erika dan Yorktown," ujar Parvati. Darah Saciel terasa mendidih, membuatnya tanpa sadar menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.


"Yang Mulia, bibir Anda terluka," ujar Julian sembari menyekanya dengan lembut menggunakan sapu tangan miliknya. Saciel dengan cepat menepisnya dan berbalik menuju pintu, namun ditahan oleh Tania.


"Y-Yang Mulia, Anda mau ke mana?" tanya Tania lirih.


"Menemui dua iblis itu," ujar Saciel dingin.


"Maaf, Yang Mulia. Kak Phillip dan Kak Lao bilang Yang Mulia tidak boleh turun ke medan perang lagi," ujar Tania.


"Atas dasar apa mereka berani mengatakan itu?"


"...Yang Mulia cukup fokus pada rakyat, biarkan para ksatria dan prajurit yang akan menghadapi musuh," ujar Tania lembut. "Yang Mulia, dukungan moral Anda lebih penting untuk rakyat. Mereka butuh Yang Mulia untuk menenangkan hati mereka."


Saciel terdiam, lalu membungkuk dan memeluk Tania cukup erat.


"Terima kasih, Tania," ujarnya lirih.


"...maafkan aku," celetuk Tania. Saciel mengelus rambut gadis kecil itu dan menegakkan tubuhnya, mengatur tim medis untuk bergerak cepat, sementara dirinya menghibur mereka yang ketakutan dan tidak punya siapapun untuk bersandar. Para pendeta dan gadis kuil datang membantu bersama dengan Cerlina.


"Kakak, maaf kami terlambat," ujarnya sembari berjalan cepat mendekati Saciel, tidak lupa memberi hormat padanya.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah datang. Tolong segera urus yang terluka," jawab Saciel. Cerlina mengangguk dan langsung mengerahkan mereka untuk bekerja. Saciel berpaling pada Julian dengan keraguan terpancar di matanya.


"Kau bisa bertarung?"


"Ahahaha, Yang Mulia kenapa bertanya seperti itu padaku? Tinggal memberi perintah dan saya akan langsung menuju medan perang untuk Anda," ujar Julian disela tawanya, berusaha mencairkan suasana tegang yang menyelimuti.


"Kau tidak sadar kondisimu jauh dari kata prima untuk bertarung?" tanya Saciel.


"Aku masih sanggup, Yang Mulia. Luka kecil ini tidak akan sanggup mematahkan semangatku demi melindungi Careol, bahkan aku siap mempertaruhkan nyawa untuk ini."


"...kalau begitu jangan sampai mati," ujar Saciel tegas. Julian mengulum senyum lebar dan berbalik dengan elegan, meninggalkan Saciel yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Semoga Oorun melindungimu."


"Yang Mulia, saya juga akan bertarung," ujar Tania tegas. Saciel berpaling dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa. Kau masih terlalu muda untuk bertarung," tolak Saciel.


"Yang Mulia, saya bukan anak kecil lagi! Saya adalah bagian dari 7 Eternal Wizards dan juga calon kepala keluarga Schariac," bantah Tania.


"Ayahmu tidak akan membiarkanmu ikut berperang, Tania. Lupakan saja dan tetaplah di sini."


"Aku tidak mau! Aku bisa melindungi kekaisaran seperti Yang Mulia dan yang lainnya! Aku tidak akan jadi pengecut yang bersembunyi di balik punggung orang lain dan mengabaikan mereka yang membutuhkan bantuan," pekik Tania. Sebelum Saciel menjawabnya, gadis itu sudah berlari cepat meninggalkan istana. Sang butler hanya diam saja.


"Kau tidak mengejarnya?" tanya Saciel.


"Yang Mulia, saya berharap Yang Mulia bisa melihat langsung perkembangan Nona Tania setelah ditinggalkan Nona Rosemary. Nona sudah bukanlah gadis kecil yang merengek seperti dulu," ujar sang butler bangga.