
Hari berikutnya bukanlah hal yang menyenangkan untuk sang penyihir berparas cantik itu. Sebelum matahari menunjukkan kuasanya, tubuhnya sudah ditimpa badan mungil Kezia yang menurutnya cukup berat. Ditambah lagi dokter yang masuk dengan membawa setumpuk obat pahit yang mampu membunuh indra perasanya. Tidak hanya itu, Max dan Nero mencelanya habis-habisan dengan mengatainya lemah, tak berguna dan bodoh. Hanya Phillip yang bisa cukup netral untuk menenangkan pikiran Saciel.
"Mereka khawatir padamu, oke?" ujar Phillip sembari meletakkan secangkir teh bercampur madu pohon cengkih. "Kuharap kau menghargai perasaan mereka."
"Aku tahu, kau tidak perlu menekanku seperti itu," balas Saciel judes. Matanya terpaku pada Kezia yang tertidur pulas dengan senyum kecil terpatri di wajahnya. "Apa di sini ada koran?"
"Kuharap kau bisa membaca tulisannya sih," ujar Phillip sembari memberikan koran padanya. Saciel menggunakan kacamata sihir dan membacanya, namun wajahnya mulai masam dan meremas koran itu.
"Phillip, kapan aku bisa keluar dari tempat ini?" tanya Saciel dalam.
"Dengan kondisimu itu kurasa masih butuh waktu cukup lama. Kecuali kau ingin aku melakukan penyembuhan dengan sihir," balas Phillip. Saciel menghempaskan diri dan mengelus kepala Kezia dengan lembut. "Sayangnya aku tidak sehebat Bibi, oke?"
"Kau benar. Lakukan saja pertolongan pertama agar aku mampu melakukan teleportasi."
"Bentar, apa? Tidak bisa, kau sudah menghabiskan terlalu banyak mana, ditambah lagi staminamu masih kurang. Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal itu," tolak Phillip mentah-mentah.
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke Careol dengan cepat?"
"Ke Careol katamu? Apa kau gila? Kembali berarti kita mati, oke? Apa ini karena Cerlina?" tanya Phillip hati-hati.
"Phillip, Cerlina sedang dalam ancaman para tetua. Dia mengatakan sabda itu sama saja menyeretnya ke bawah guillotine. Aku harus membawanya pergi dari situ secepat mungkin," balas Saciel.
"Kau tidak perlu datang. Aku yang akan melindunginya," celetuk seseorang. Mereka menoleh dan mendapati Lao berdiri di ambang pintu sembari membawa sebuket bunga mawar merah. Ia masuk dengan santai dan meletakkan buket itu di vas porselen tepat di sisi ranjang Saciel. "Dia masih bagian dari kuil, jadi kurasa mengeksekusinya berarti melawan Dewa Oorun. Dia kan 'utusan' dewa."
"Kalau kau ke sini berarti ada hal menarik yang ingin kau beritahu padaku, kan?" tebak Saciel.
"Bingo. Kau memang cerdas, sayang. Dari raut wajahmu bisa kutebak kau sudah mengetahui posisi Cerlina terancam karena sabdanya kan?"
"Lalu apa yang kau tawarkan padaku sebagai kemurahan hatimu?" tanya Saciel dengan senyum culasnya.
"Aku suka cara berpikirmu yang luas, Saciel manis. Kau mengingatkanku akan Vristhi."
"Eww, aku tidak suka wanita gila itu. Dan kurasa seleramu sangat buruk tentang wanita," ejek Saciel. Lao hanya tertawa dan mengulum senyum.
"Namanya juga cinta, apapun bisa terlihat lebih menarik dari aslinya. Ah, fokus. Aku ingin kau menemukan cincin keluarga Arakawa."
"Kau masih mengharapkan cincin kuno itu?"
"Tsk tsk, Saciel manis. Cincin itu sama berharganya dengan Careol dan seluruh wilayah kerajaan kita. Kau benar-benar tidak tahu sejarah keluargamu-bukan, sejarah negara Careol?"
"Kurasa sejarah kita sudah banyak berubah semenjak para tetua berkuasa di Careol," keluh Saciel.
"Kau benar. Bagaimana denganmu, Arlestine? Kudengar di rumahmu kau menyimpan beberapa buku kuno dan usang tentang terbentuknya Respher," ujar Lao sembari memalingkan wajahnya pada Phillip yang berdiri kaku di sampingnya.
"...kurasa aku tahu maksud kedatanganmu di sini," ujar Phillip sembari menarik kursi dan duduk. "Kau ingin memenuhi sabda itu bukan?"
"Oh, kau cepat tanggap juga. Kau benar. Aku ingin memenuhi sabda itu. Tapi akan lebih baik jika aku menceritakan awal mula kerajaan kita. Hmm, kau tahu kenapa 7 Eternal Wizards dibentuk?"
"Karena 7 Eternal Wizards merupakan ksatria terkuat yang dimiliki kerajaan yang terbentuk dari 7 kepala keluarga yaitu Arakawa, Requiem, Phoenix, Schariac, Rosemary, Zografos dan Garza," jawab Saciel penuh percaya diri. Lao mengerucutkan bibirnya.
"Kurang tepat. Yang betul adalah karena 7 Eternal Wizards merupakan gabungan antara keluarga kerajaan inti dan cabang. Dengan kata lain..."
"Berarti kita bertujuh merupakan kandidat raja?" tanya Saciel.
"Lebih tepatnya hanya 2 keluarga saja. Sayangnya aku masih butuh bukti untuk bisa melengkapi teori ngawurku ini. Keluarga Rosemary merupakan salah satunya," ujar Lao.
"Rosemary?" tanya Saciel.
"Darimana kau tahu?" tanya Phillip.
"Cincin yang dimiliki Vristhi adalah cincin sihir dengan lambang keluarga. Tidak hanya itu, cincin itu juga dihiasi dengan permata Mata Oorun di bagian tengah emblem. Tidak semua cincin kepala keluarga memiliki itu," papar Lao. Ia memamerkan cincin keluarganya tanpa permata satupun yang menghiasi.
"Lalu kenapa kau berpendapat bahwa keluargaku merupakan keluarga inti?" tanya Saciel.
"Yah, berdasarkan teori ngawur dan bukti yang cukup kuat untuk itu, aku berani mengatakan kalau keluargamu adalah keluarga inti," jawab Lao.
"Bagaimana kalau itu bukan?" celetuk Saciel. "Masih ada beberapa keluarga bangsawan yang memiliki cincin beremblem."
"Hahaha, itu mustahil. Cincin kepala keluarga 7 Eternal Wizards dibuat dengan materi khusus dan penempa terbaik yang dimiliki kerajaan. Dan untuk mendapatkan permata Mata Oorun, kau perlu izin dari kerajaan dengan stempel kerajaan," ujar Lao.
"Benar-benar merepotkan. Lalu kenapa para tetua menginginkannya?"
"Karena dengan adanya cincin itu, kau bisa menjadi raja," ujar Lao. Saciel dan Phillip terdiam, lalu saling berpandangan.
"Kenapa juga para tetua menginginkan hal itu?" tanya Phillip.
"Ck ck Phillip, imajinasimu rendah sekali. Coba bayangkan, jika orang tirani dan arogan mendapat kuasa tahta dari cincin itu, apa yang akan terjadi?" tanya Lao.
"....kurasa Careol bakal hancur dalam sekejap," celetuk Saciel.
"Bingo! Kau benar sekali, Manis. Maka dari itu, sebaiknya kita segera menemukan cincin itu dan memastikan bahwa yang kita cari benar-benar yang asli, bukan palsu sepertiku."
"Hahaha, lucu sekali Lao. Tetap saja aku harus meminta persetujuan dari mereka dulu sebelum memutuskan untuk pergi mencari barang terkutuk itu. Jadi, di mana mereka?" tanya Saciel.
"Di luar. Kau mau bicara dengan mereka?" balas Phillip. Sebelum Saciel membuka mulut, gadis kecil demi human di pangkuannya terbangun dan menguap dengan imutnya.
"Nee?" panggilnya. Saciel mengelus kepalanya dengan lembut sambil sesekali mengecup pipinya. "Uhh, hangat."
"Panggilkan mereka. Aku tidak mau mereka mengomel di belakangku karena tidak suka dengan masalah internal kita."
"Baik," jawab Phillip sembari berjalan meninggalkan ruangan.
"Aku juga sebaiknya pergi," pamit Lao dan meninggalkan mereka dengan teleportasi.
Gimmick: Nero and Max Ackerman.
Art by: ShadowX_Kei
DILARANG MENGAMBIL TANPA IZIN