The Two Empresses

The Two Empresses
The New Spring



"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kalian? Kenapa kalian bisa masuk seenaknya di tempat ini?" balas minotaur itu ketus, membuat Cerlina melihat kemiripan antara dia dan Daniel.


"Atas izin Nyonya Mostroes, kami kemari untuk mengambil...ah bukan, meminjam kapak untuk menambang di wilayah Respher," jawab Nero.


"Bibi mengizinkanmu? Aneh, lalu bagaimana dengan pamanku?"


"Dia..."


"Sudah meninggal," jawab Kezia datar. Minotaur itu menghela napas.


"Jadi benar ya? Kupikir itu salah satu keisengan pamanku untuk membuatku kembali," ujarnya lirih. "Bagaimana dengan musuh?"


"Kami hanya berhasil mengalahkan satu, yang lain lolos begitu saja," jawab Nero. Minotaur itu menyingkap wajahnya, memamerkan mata kiri yang ditutupi penutup mata. Cerlina menatap lekat-lekat mata yang ditutup itu dengan mata sihirnya.


"Kau bisa memakai sihir?" celetuk Cerlina, membuat mereka terkejut. Minotaur itu langsung membuka penutup mata dan memamerkan matanya yang diganti oleh mata yang terbuat dari kristal Mata Oorun.


"Kau bisa mendeteksi sihir, ya? Luar biasa," pujinya. "Kau benar. Aku bisa memakai sihir berkat kristal ini, tapi semakin sering aku memakainya, semakin banyak energi yang aku butuhkan, bahkan energi kehidupanku sekalipun. Kami para minotaur tidak bisa memakai sihir, kalaupun bisa kami lebih cepat mati."


"Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan benda itu?" tanya Kezia penasaran, ekornya bergoyang cepat. Minotaur itu menatapnya dengan tatapan datar.


"...Paman Daniel yang memberikannya padaku. Ini adalah satu-satunya kristal yang ras minotaur dapat sebelum perang ratusan tahun yang lalu," jawabnya.


"Bleh! Benda kuno," keluh Kezia. Nero memukul pelan kepalanya.


"Tidak sopan, Kezia. Maafkan kata-kata adikku ini," mohon Nero, sementara yang dipukul mengerang kecil.


"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, kalian belum memberitahu diri kalian, terutama penyihir di sana," ujarnya sembari menoleh pada Cerlina.


"Ah, iya. Aku Nero, ini Kezia dan wanita muda di sana adalah Cerlina. Kau?"


"Panggil saja Rendy. Kau ingin menambang kristal itu? Tidak semudah itu," ujar Rendy ketus.


"Apa maksudnya?" tanya Cerlina.


"Meski kau mendapatkan kapak itu, tidak semua ras bisa mengangkatnya, bahkan mengayunkannya. Paman satu-satunya yang bisa mengangkatnya, sayang beliau sudah tiada," papar Rendy.


"Paling tidak aku menemukan benda itu dulu," balas Cerlina. "Kau tahu di mana benda itu, bukan?"


"...ya, aku tahu. Tapi apa aku bisa mempercayai kalian?"


"Maksudnya?" tanya Nero.


"Kalian ini kan orang asing, bisa saja menggunakan benda itu hanya untuk hal lain yang merugikan," balas Rendy.


"...boleh kupenggal kepalanya?" tanya Kezia sembari mengangkat sabitnya dengan kekesalan yang tidak dapat ia tutupi.


"Tidak dan turunkan sabitnya, Kezia. Jaga sikapmu," tolak Nero. Cerlina maju mendekati Rendy dengan wajah kalem.


"Apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan kepercayaanmu? Kalau bisa secepatnya, karena aku tidak punya banyak waktu."


"Kau terdengar seperti penyihir fenomenal itu," celetuk Rendy.


"Penyihir fenomenal?" tanya Cerlina.


"Berambut merah, temperamental, kasar dan tata kramanya kurang," ujarnya.


"Ah, yah, dia itu saudari kembarku," jawab Cerlina. "Apa itu gosip yang beredar di sini?"


"Begitulah. Kemarikan tanganmu," ujar Rendy sembari mengulurkan tangannya yang besar dan dipenuhi bulu berwarna biru kehitaman. Cerlina ragu, namun ia tetap mengulurkan tangannya. Rendy menggenggam tangan halus dan rapuh miliknya dengan mantap, diikuti kehadiran tato sulur berduri yang menghiasi sekujur tubuhnya.


"Cerlina!" sahut Nero.


"Nee!"


"Tenang, aku tidak apa-apa," ujarnya sembari mengulum senyum. Perlahan tato itu bersinar dan rasa dingin yang menusuk menjalari tubuhnya. "Kh!"


"Mataku!" sahut Kezia sembari menutup mata, sementara Nero menghalangi cahaya dengan lengannya. Selang beberapa menit kemudian, cahaya tersebut memudar, menampilkan Cerlina yang berlutut di hadapan Rendy. Tato yang menghiasinya masih menempel di tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Nero, sementara Kezia bergegas mendekat Cerlina dan memeluknya.


"Aku hanya mendeteksi kebohongan pada dirinya. Tato itu muncul sendiri di tubuhnya, bukan aku," balas Rendy. Nero berpaling pada Cerlina, berharap ia mendapatkan kejelasan darinya, namun gadis itu sama bingungnya.


"Nee?" panggil Kezia.


"Kau terlihat tulus. Berhubung Bibi juga sudah kasih izin, mau nggak mau aku akan membantumu," ujarnya sembari merobek telapak tangannya dengan pisau kecil hingga darah mengalir mengotori tanah. Perlahan sebuah tunas muncul dari darah itu, tumbuh besar seukuran manusia dan berbunga. Kapak yang mereka cari tergeletak tepat di atas benang sari bunga itu. Hati-hati Rendy mengambil benda itu dan meletakkannya di bahu.


"Ayo pergi," ujar Rendy.


"Hah? Ke mana?" tanya Nero heran.


"Ke tempat kristal itu, kan? Kau butuh aku untuk menambang, Yang Mulia," ujar Rendy sembari menjulurkan lidahnya. "Kurasa kau perlu membantunya, dia terlihat...kosong."


Nero berpaling, melihat wajah Cerlina yang kosong, seakan rohnya tidak ada di sana. Namun matanya bersinar layaknya permata menarik perhatiannya.


"Nee? Nee!" panggil Kezia sembari mengguncang Cerlina cukup kuat. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan menatap Kezia.


"Ke...zia?"


"Nee! Huwe, nee menakutiku!" sahut Kezia sembari memeluknya seerat mungkin. Cahaya matanya mulai redup, wajahnya kembali memamerkan rona kehidupan.


"Apa yang terjadi?" tanya Cerlina.


"Ck ck, kurasa energinya masih menolaknya," gumam Rendy. 'Meski begitu, aura suci darinya mampu membuatku bergidik.'


"Ceritanya rumit, sebaiknya kita pergi. Rendy akan membantu kita," ujar Nero sembari membantunya berdiri.


"Baiklah...lho, tato apa ini?" sahut Cerlina sembari melihatnya dengan heran bercampur kaget.


"Kau nggak tahu?" tanya Nero.


"Aku tidak tahu apa-apa soal ini," balas Cerlina ragu.


"Kau bisa mencari jawabannya nanti, ayo pergi. Waktuku terlalu berharga untuk dibuang," sahut Rendy tak sabaran.


"Ah, baik. Silakan pegang ini," balas Cerlina sembari menggenggam selendang. Mereka yang bingung langsung memegangi selendang sutra itu. Cerlina menjentikkan jarinya dan langsung berteleportasi tepat di jembatan penghubung.


"Ugh, aku benci teleportasi," keluh Rendy sembari memegang perutnya. "Rasanya tidak nyaman."


"Maaf, ini jalan tercepat yang aku bisa. Lalu...naganya di mana ya?" ujar Cerlina sembari mengedarkan pandangan.


"Bentar, apa? Naga katamu?" tanya Nero kaget. Sebuah bayangan raksasa melintas di kepala mereka, lalu suara benda besar turun dengan angin berhembus kencang mengikuti. Begitu mereka membuka mata, seekor naga sudah berdiri di hadapan mereka.


"Naga! Naga! Nii, naga!" sahut Kezia girang.


"Astaga, besar sekali. Bagaimana bisa...Cerlina, sihir apa yang kau gunakan untuk menjinakkan naga ini?" tanya Nero.


"Uhh, ceritanya panjang, sebaiknya kita segera pergi," ujar Cerlina sembari mengulurkan tangannya pada naga tersebut. Makhluk tersebut langsung menunduk untuk memudahkan mereka memanjat ke punggungnya yang lebar.


"Tidak kusangka bisa melihat naga lagi, ini langka juga," ujar Rendy sembari memanjat dengan hati-hati.


"Bukankah kau berkelana?" celetuk Cerlina.


"Ah, kau dengar dari Paman Daniel ya? Yah, tapi naga hanya bisa ditemukan di wilayah Careol, jadi mustahil aku bisa masuk seenaknya saja," balas Rendy.


"Masuk akal. Semua sudah siap?" tanya Cerlina sembari mengecek semuanya.


"Siap!" sahut Kezia. Tanpa menunggu lama, naga itu merentangkan sayapnya dan lepas landas meninggalkan jembatan tersebut.