
Max langsung mundur dan melepas jubahnya, namun api masih mencoba menjilati tubuhnya. Ia menghela napas dan melepaskan segel, menatap Dark dengan tatapan dingin.
"Kau bukan penyihir biasa rupanya. Api hitam milikmu...sihir hitam, bukan?" tanya Max kalem. Dark mengulum senyum sinis dan berdiri tegak.
"Luar biasa, saya bahkan tidak berhasil membakar Yang Mulia," sindir Dark.
"Hah, hanya segitu tidak ada apa-apanya. Nah, sekarang aku harus menghukum mati orang luar yang berani mengganggu," ujar Max sembari berjalan mendekati Dark dengan aura mematikan. Dark mundur sesaat, lalu meninggalkan tempat itu dengan sekali jentikan. "Ah, sial."
"Yang Mulia, ada serangan di luar sana!" sahut seorang kepala pasukan sembari masuk ke ruang tahta.
"Aku tahu. Segera lakukan evakuasi dan padamkan apinya," titah Max. Sepasukan prajurit segera pergi untuk melakukan penyelamatan. Nero berjalan masuk dan kaget mendapati darah dan potongan tubuh manusia tergeletak di lantai.
"Siapa yang baru saja kau bantai?" tanya Nero.
"...aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas dia dari Respher," balas Max sembari mengembalikan diri seperti semula. "...panggil dokter."
"Eh? Apa?" balas Nero. Max tidak mendengarnya dan langsung ambruk, punggungnya terbakar dan jejak sihir hitam menempel. "DOKTER!"
...****************...
"...maafkan hamba, Grand Duke. Sihir hitam sangat sulit untuk dinetralkan," ujar dokter dengan wajah sepucat kertas.
"Sialan!" maki Nero. "Jangan sampai Kezia dengar hal ini. Kau paham?"
"Baik, Duke. Kalau begitu saya permisi," pamit dokter sembari berjalan keluar dari ruangan. Nero menggigit bibir bawahnya dan menghela napas. Max perlahan membuka matanya dan menatap Nero dengan tatapan memelas.
"...jangan bilang Kezia soal ini," ujarnya.
"Tanpa kau suruh aku juga sudah tahu. Tapi jangan salahkan aku kalau ceritanya bocor, ya," balas Nero. "Kau punya rencana apa?"
"Hubungi Saciel."
"Hah, apa? Bentar, sejak kapan kau memanggil namanya?" tanya Nero heran.
"Aku tidak mau berdebat, oke? Lakukan saja," keluh Max lemas. Nero menghela napas dan mengangguk, lalu berjalan meninggalkan peraduan dengan penat. Kezia yang tidak sengaja berpapasan memanggil.
"Nero nii mau ke mana?" tanya Kezia.
"...mengurus pekerjaan di luar," balas Nero sembari mempercepat langkahnya. Begitu ia menjejakkan diri di taman kerajaan, Nero langsung melakukan teleportasi.
...****************...
Si kembar yang baru saja sampai di kuil dikejutkan oleh barikade pendeta yang memasang ekspresi kesal.
"Apa-apaan ini?" tanya Saciel. Seorang pendeta tua maju dan menghentakkan tongkat penopangnya dengan kemarahan.
"Orang hina sepertimu berani sekali menginjakkan kaki di kuil ini. Setelah kau mengambil Pendeta Agung, tidak ada maaf untukmu," ujarnya tegas.
"Oh, begitukah? Apa itu sudah berdasarkan keinginan Oorun?" cemooh Saciel.
"Iblis!"
"Biadab!"
"Manusia hina!"
"Wow, makian yang luar biasa dari pendeta," ujar Saciel dingin. "Menyingkirlah sebelum aku membakar kalian menjadi abu."
"Jangan terlalu kasar, Saciel. Bisa-bisa kau berada dalam masalah," bisik Cerlina. Sebelum Saciel bersuara, Nero muncul di belakangnya. "Ah?"
"Halo, Tuan Putri. Senang bertemu denganmu," sapa Nero sembari mengecup punggung tangan Cerlina dengan lembut. Para pendeta terkejut setengah mati dan bersiap untuk menyerang, namun Saciel lebih sigap membuat perisai diantara mereka.
"Berani kalian menyerang, kuhabisi kalian," ancam Saciel. Para pendeta menciut dan mundur. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Max diserang orang asing dengan sihir hitam. Kini dia sekarat," ujar Nero. Saciel tersentak, ia berpaling dan menarik kerah Nero.
"Kau bercanda?"
"Apa aku kelihatan bercanda, Nona?" tantang Nero. Saciel terdiam dan perlahan melepaskan Nero, tatapannya terpaku pada tanah. "Bisakah kalian membantuku?"
"Tidak ada yang boleh menemui Dewa Oorun di sini," ujar pendeta tua tegas. Cerlina berjalan maju dan mengeluarkan tongkatnya.
"Kedudukanku masih lebih tinggi daripada kau. Mundurlah," ujar Cerlina. Para pendeta menciut, namun mereka ragu untuk mundur. "Kubilang, mundur."
Mereka akhirnya menyerah dan mundur, membuat jalur untuk Cerlina dan yang lainnya. Mereka bergegas masuk ke dalam wilayah kuil. Begitu tangga panjang dan tinggi terhampar di hadapan mereka, Saciel memucat.
"Apa kita harus menaiki tangga?" tanyanya.
"Berhubung tempat terbaik untuk menemui Dewa Oorun ada di atas sana, mau tak mau kita harus meniti tangga ini," jawab Cerlina.
"Bagaimana dengan sihir teleportasi?"
"Percuma, kakakku tercinta. Sudah ada yang mencobanya tapi...langsung terpental dan kembali ke bawah."
"Kalau begitu tinggal lompat saja," ujar Nero sembari menggotong si kembar dan melewati tangga tinggi itu hanya dengan sekali lompatan. "Sampai."
"...w-wow, luar biasa!" puji Cerlina, antara terkejut dan bingung.
"Terima kasih," balas Saciel tenang. Ia melihat sebuah tanah kosong terhampar, tak ada satupun tanaman yang menghiasi. "Tempat ini gersang sekali."
"Lancang sekali penyihir sepertimu menghina tempat ini," ujar seseorang. Ketiganya terkejut dan mendapati seseorang sepantaran mereka berdiri jauh dengan pakaian yang sama dengan orang pada umumnya.
"Hormat kepada Dewa Oorun, sang pencipta Respher," ujar Cerlina sembari memberikan hormat dengan membungkuk dan mengangkat sedikit gaunnya. Nero juga melakukan hal yang sama, namun tidak untuk Saciel. "Saciel?"
"Oh, jadi ini dewa sialan yang menjadi pujaan seluruh Respher?" tanya Saciel menghina. Pria berambut red wine sepinggang itu mengulum senyum dan duduk di kursi yang terbentuk dari awan.
"Anakku, sampai sekarang bahasamu masih jauh dari kata sopan ya?" sindir Oorun. Saciel menyeringai mendengarnya.
"Begitulah. Karena eksistensimu, aku dan Cerlina dipisahkan oleh pengikut ekstrimmu," balas Saciel. Oorun menghela napas dan melambaikan tangannya.
"Bukan salahku mereka memisahkan kalian, tetapi keserakahan akan kekuasaan yang membutakan mereka."
"Kuharap kau tidak lupa dengan anakmu, Oorun. Dia sudah membuat kekacauan," celetuk Saciel. Pelipis Oorun berkedut, senyumnya makin tidak natural.
"Apa kau sedang membahas Vatra?"
"Apa ada yang lain?" balik Saciel. Cerlina bergegas maju ke depan dan mengulum senyum.
"Dewa Oorun, kami membutuhkan pertolonganmu. Apa ada tanaman yang mampu menetralisir racun dari sihir hitam?" tanya Cerlina hati-hati. Ia melirik ke arah Saciel dengan garang, berharap saudara kembarnya diam untuk sementara waktu. Oorun berpikir sejenak dan memiringkan kepala sedikit.
"Kalau kubilang ada?"
"Bisakah Dewa memberitahu hamba di mana kami bisa menemukan tanaman itu?" tanya Cerlina dengan kata-kata manis. Oorun tersenyum dan memasang senyum sinis.
"Kenapa aku harus memberitahu kalian?"
"Oh? Kurasa aku punya alasan untuk membunuh dewa satu ini," ujar Saciel sembari menarik pedang, namun dihentikan oleh Nero. "Hei!"
"Posisi kita kurang menguntungkan, oke? Salah bertindak nyawa kita taruhannya," bisik Nero. "Dan kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada Pendeta Agungmu."
"Dua teman kami menjadi korban sihir hitam. Mereka sekarat dan kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hamba mohon, tolonglah kami," ujar Cerlina sembari berlutut dengan berlinang air mata. "Kami sudah lelah dengan perang ini."
"Anakku yang kucintai, bangunlah. Karena engkau adalah anak kesayanganku, akan kuberitahu tempatnya. Tapi, aku ingin berbicara berdua saja dengan dia," ujar Oorun sembari menunjuk Saciel.
"Kenapa aku? Kupikir kau akan membahasnya dengan Cerlina selaku Pendeta Agung," tanya Saciel. Oorun mengulum senyum misterius.
"Yang lain silakan turun dulu, berikan kami ruang untuk mengobrol," titah Oorun. Cerlina dan Nero ragu, namun mereka tidak punya pilihan. Dengan langkah lambat mereka turun dan meninggalkan Saciel berdua dengan Oorun. "Dengan ini kita bisa mengobrol santai."
"Tapi aku tidak. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni permainanmu, Oorun. Katakan saja di mana tanaman itu?"
"Tidak secepat itu, anakku. Apa yang kau cari adalah kematian. Kau masih mau mencobanya?"
"Kematian? Memangnya sesulit apa tempat itu?" tanya Saciel.
"Pernah mendengar tentang pulau tak berpenghuni di wilayah Ceshier, dimana dipenuhi tanaman karnivora dan beracun?"