The Two Empresses

The Two Empresses
Kesibukan Calon Putri Mahkota



"Salam, Tuan. Terima kasih sudah menyusahkan saya dan Parvati," ujar Stevan kalem sembari memberi hormat. Vatra mendengus mendengarnya.


"Hah! Untuk apa makhluk seperti kalian ada di sini?" cibir Vatra.


"Pertanyaan yang sama untuk Anda, Tuan," balas Stevan kalem. Vatra menyunggingkan senyum sinis, tangannya berusaha menggapainya, namun Stevan langsung menampiknya. "Tolong jangan sentuh saya, Tuan."


"Kau berani juga untuk ukuran malaikat rendahan," sindir Vatra. Stevan tertawa kecil mendengarnya.


"Setidaknya saya tidak ditolak oleh seluruh makhluk d Eurashia," balas Stevan. Vatra tertawa keras mendengarnya.


"Sialan, kau menghinaku?"


"Tidak," jawab Stevan kalem. Vatra berbalik dan menggotong Vristhi meninggalkan istana. Stevan menghela napas dan perlahan menggendong Phillip. Parvati berjalan masuk dan melihat Phillip.


"Bagaimana kondisi Marquess?" tanya Parvati.


"Beliau hanya dibuat pingsan, tapi Archduchess Rosemary dibawa pergi," jawab Stevan. "Tuan Vatra yang membawanya."


"Saya mengerti. Sebaiknya kita baringkan Marquess di kamar," ujar Parvati. Stevan mengangguk dan membawa Phillip ke kamar tamu terdekat. Hati-hati dibaringkannya orang itu untuk beristirahat. Mereka bergegas keluar dan menemukan Cerlina berjalan tergesa-gesa menghampiri.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Cerlina.


"Ceritanya panjang, Nona. Sebaiknya kita berpindah tempat untuk mengobrol dan membereskan segalanya," ujar Parvati. Cerlina mengangguk dan mengikuti keduanya menuju taman istana yang penuh dengan bunga berwarna biru laut.


"Bunga apa ini? Cantik sekali," tanya Cerlina.


"Maaf, saya kurang tahu nama tanaman ini. Akan saya carikan informasi jika Nona menginginkannya," balas Parvati. Cerlina hanya menggeleng dan terus berjalan hingga sampai di sebuah gazebo berwarna putih gading.


"Saya akan menyiapkan teh untuk Anda, Nona," pamit Stevan sembari berjalan kembali ke istana.


"Jadi bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Cerlina. Parvati mengulum senyum sedih mendengarnya.


"Mohon maaf jika kata-kata saya kurang berkenan, tapi kejadian ini diakibatkan oleh Archduchess Rosemary yang marah. Tidak hanya itu, beliau juga bersekutu dengan musuh negara kita."


"Siapa?"


"Vatra," jawab Parvati. Cerlina terhuyung mendengarnya, hingga Parvati turun tangan untuk menahannya. "Nona?"


"Terima kasih, aku baik-baik saja," ujar Cerlina lirih. "Kenapa Vristhi berkhianat?"


"Saya kurang tahu, lebih baik Nona bertanya langsung dengan Marquess yang mungkin lebih tahu," jawab Parvati.


"Phillip bagaimana?"


"Beliau hanya tidak sadarkan diri, sepertinya nanti akan sadar."


"... sebaiknya berita ini jangan sampai tersebar. Negara kita sudah cukup kacau, jangan sampai ada perang sipil di sini. Terlebih para elf bisa saja memanfaatkan waktu seperti ini untuk memanas-manasi rakyat agar membelot," ujar Cerlina. "Bagaimana dengan korban?"


"Tidak ada yang tewas, rata-rata mengalami patah tulang dan perdarahan, tetapi tidak mengancam nyawa para korban," papar Parvati. Stevan kembali dengan membawa teh dan camilan yang menggugah selera, namun Cerlina kehilangan nafsu makan. Sembari memandangi Stevan yang menuangkan cairan berwarna cokelat kemerahan pada cangkir porselen, pikirannya tertuju pada suatu masalah.


"Lao?"


"...beliau sekarat," ujar Stevan pelan. "Kami tidak diizinkan mendekati Duke, bahkan sekedar membawakannya makanan."


"Kenapa bisa begini?" gumam Cerlina. Ia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan gazebo, diikuti Parvati yang cemas.


"Pendeta Agung, Anda mau ke mana?"


"Menemui Boldstone. Dia yang harus bertanggung jawab menyelesaikan masalah ini," balas Cerlina cepat.


"Pendeta Agung, itu terlalu gegabah! Anda bisa merusak reputasi Anda!" sahut Parvati. Cerlina berhenti dan menunduk.


"Lalu aku harus bagaimana? Jika aku diam saja berarti aku hanya akan tersingkirkan. Aku tidak kuat seperti Saciel, pintar seperti Lao dan tegas seperti Vristhi. Aku...lemah," ujar Cerlina lirih. Parvati perlahan mendekati dan menggenggam tangan Cerlina.


"Pendeta Agung, tidak, Nona Cerlina. Anda memiliki kemampuan lain yang orang tidak punya. Anda tidak lemah, percayalah pada saya," hibur Parvati. Cerlina mengulum senyum pahit mendengarnya.


"Aku bisa apa? Hanya memberkati, mengusir setan dan melakukan sihir sederhana saja," ujarnya getir. Parvati menggelengkan kepala.


"Suatu saat nanti, Nona akan menunjukkan kekuatan Nona yang sebenarnya."


"Archduchess Arakawa," sapa Parvati sembari memberi hormat. Saciel mengangkat tangan agar menghentikannya. "Apa yang bisa saya bantu?"


"Pemilihan putri mahkota masih berjalan?" tanya Saciel.


"Masih," jawab Parvati tegas.


"Umumkan kepada rakyat bahwa pemilihan akan dimulai besok pagi jam 8. Semakin lama kita menunda, semakin banyak rakyat akan kehilangan kepercayaan. Segera," ujar Saciel. Parvati mengangguk dan bergegas pergi, meninggalkan Cerlina yang bingung. "Untunglah kau belum pergi."


"Memang aku mau pergi ke mana?" tanya Cerlina.


"Menghajar Boldstone mungkin?" goda Saciel. Cerlina tertawa kecil mendengarnya.


"Kau ini sukanya menggoda saja," keluh Cerlina.


"Maaf. Tapi apa yang dikatakan Parvati benar. Kau maju menyerang Boldstone hanya akan merusak reputasimu," ujar Saciel.


"Kau juga berpikir begitu?"


"Terkadang aku harus menahan diri agar tidak menghancurkan diriku sendiri. Kau tahu, kontrakku dengan hellhound sudah cukup berat, ditambah staminaku yang tidak seberapa dan temperamental membuatku lemah. Tapi itu tidak mengubah siapa aku," ujar Saciel. Cerlina tertawa kecil mendengarnya.


"Kau mulai terlihat bijaksana."


"Tidak, itu bukan bijaksana. Hanya sebuah pegangan hidup," balas Saciel. "Soal Vristhi...kurasa aku tahu apa yang dia inginkan."


"Apa itu berkaitan dengan Lao?" tanya Cerlina. Saciel mengangguk. "Apa mungkin Vatra akan menolongnya?"


"Entahlah, aku tidak yakin dengan itu. Pencarian beberapa bahan tertunda karena kudengar Tania sakit, sementara Istvan dan Ilmol sudah pergi. Siapa yang bisa kuutus untuk mencari sisa bahannya? Air mata peri hutan hanya bisa ditemukan di wilayah elf dan satu-satunya orang yang tahu wilayah elf hanya Phillip," keluh Saciel. "Darah duyung masih dalam pencarian, mandrake masih kurang 2 hari lagi. Duh, susah!"


"Sepertinya kita yang harus pergi," ujar Cerlina. "Terlalu lama berdiam diri juga tidak akan menghasilkan apa-apa."


"Kau sanggup berjalan di dalam hutan?" tanya Saciel.


"Aku akan baik-baik saja, Kak. Tidak usah sok baik," balas Cerlina setengah bercanda. Saciel tertawa mendengarnya.


"Aku tahu, baiklah. Kita yang pergi. Tapi sebaiknya aku meminta Julian untuk mengawasi kota..."


"Biar saya yang mengurusnya, Archduchess," potong Stevan sembari mendekati.


"Kau sanggup, Stevan?"


"Saya sanggup, Archduchess. Anda tidak perlu khawatir," balas Stevan menenangkan. Saciel berpikir sejenak dan mengangguk.


"Baiklah, urusan di sini kuserahkan padamu. Ah, tetap waspada dengan Boldstone. Kita tidak tahu apa yang dia rencanakan setelah ini. Bisa?"


"Bisa," balas Stevan. Saciel tersenyum dan menggenggam tangan Cerlina.


"Kau siap? Kita akan berpindah dengan cepat."


"Kapanpun," balas Cerlina. Saciel menjentikkan jemarinya dan keduanya menghilang dari pandangan Stevan. Ia mengulum senyum tipis dan berbalik, mendapati seorang anak kecil mirip dengan Oorun berdiri dengan sekuntum anggrek Onyx di genggamannya.


"Selamat datang, Dewa Oorun. Apa yang Anda lakukan di sini dengan wujud anak polos seperti itu?"


"Hanya sekedar mengingatkan, kau dan Parvati tidak boleh ikut campur terlalu dalam. Kalian ini hanya pengawas. Kesalahanmu saat perang masih menjadi catatan, Stevan," ujarnya kalem.


"Ah, saat saya menolong pangeran demi human itu dari kematian?" balas Stevan. Oorun memasang ekspresi dingin.


"Dan Parvati malah mencoba menyatukan keduanya, apa kalian gila? Pendeta Agung itu saja sudah cukup, kau masih berniat membuat mereka jatuh cinta, hah?"


"Dewaku, kami tidak pernah mengurusi permasalahan cinta mereka. Mungkin saja benih-benih kasih tumbuh atas keinginan mereka sendiri. Kami hanya mengawasi saja," ujar Stevan. "Daripada itu, Anda tidak bisa seenaknya saja menyuruh orang lain membunuh Tuan Vatra. Dia terlalu kuat."


"Itu kan menurutmu. Menurutku sih tidak, hanya berbeda sedikit saja," balas Oorun kalem. "Aku masih belum bisa mengotori tanganku dengan darahnya. Oluphemi bisa saja dendam denganku."


"Saya yakin beliau sudah dendam setelah Anda meninggalkannya dalam keadaan hamil," sindir Stevan. Oorun mengerutkan kening dan seketika membanting keras kepalanya hingga tanahnya retak.


"Mulutmu cukup berbisa ya untuk ukuran malaikat yang sudah punah. Jika aku jadi kau, aku akan berhati-hati agar tidak menghancurkan diriku. Yah, tapi kita berbeda sih," ujar Oorun tajam. Ia berjalan menuju istana dan menghilang, meninggalkan Stevan yang bangkit sembari mencoba menghentikan perdarahan di kepalanya.