
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Cerlina. Minotaur tua itu menerjang maju dan mencengkeram kerah baju Cerlina dengan kebencian mengisi kedua matanya.
"Kau ini benar-benar nggak tahu atau bagaimana, hah?"
"..apa yang kau maksud itu perang lima tahun yang lalu?" tanya Cerlina. Minotaur itu menggeram dan melemparnya sejauh yang ia bisa.
"Sayang, kau melukai tamu kita," tegur minotaur betina tua dengan keras, namun pasangannya tidak peduli. Cerlina mencoba bangkit berdiri setelah menghantam dinding dengan tubuhnya yang agak ringkih, namun kakinya menyerah untuk mencoba.
"Ugh," erang Cerlina lirih. Minotaur tua itu hanya diam dan duduk, sementara istrinya membantu gadis itu untuk duduk di kursi dengan hati-hati.
"Bukan perang yang kumaksud, melainkan perbudakan yang ada di wilayah kalian," ujarnya dingin. Cerlina tersentak mendengarnya.
"Perbudakan?"
"Kau ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" tanya minotaur itu dengan sindiran yang cukup jelas di setiap katanya. "...pantas saja, kau masih muda ternyata."
"Daniel, sudah hentikan," ujar minotaur betina lembut. "Gadis ini bukan dari era kita, wajar saja tidak tahu."
"Huh," gerutu Daniel. "Kau terlalu memanjakan gadis itu, Layla."
"Apa salahnya? Gadis ini manis, ramah dan suci. Kudengar dia calon istri Grand Duke Ackerman," ujar Layla. Daniel tersedak, sementara Cerlina menunduk untuk menutupi wajahnya yang merah padam.
"Hah?! Calon istri? Dia?! ...Grand Duke punya selera yang unik ya?"
"A...aku bukan...calon...uhh," ujar Cerlina sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Layla tertawa kecil mendengarnya.
"Duh, duh malu-malu. Kurasa hampir seluruh wilayah Ceshier tahu Grand Duke Ackerman jatuh cinta pada seorang penyihir, bahkan seorang Pendeta Agung."
"Hah...kurasa otaknya Grand Duke rusak," keluh Daniel. "Apa tujuanmu datang kemari, bocah?"
"Ah, aku ingin meminjam kapak untuk menambang permata Mata Oorun," jawab Cerlina tegas. Daniel menatap tajam gadis itu.
"Kurasa dewa benar-benar berpihak padamu, ya? Aku tidak bisa meminjamkannya," tolak Daniel.
"Kenapa?"
"Pertama, kapak itu adalah kapak suci yang diwariskan turun temurun oleh garis keturunanku. Kedua, saat ini aku tidak tahu di mana benda itu?"
"Kau menghilangkan kapaknya, Sayang?" tanya Layla.
"N-nggak! Mana mungkin aku menghilangkan benda itu," jawab Daniel terbata-bata.
'Dia menghilangkannya," batin Cerlina.
"Hm~?" celetuk Layla sembari mengulum senyum yang menurut Cerlina menakutkan. Daniel menghela napas dan menunduk.
"Maaf, aku menghilangkan kapak itu," akunya. Layla menghela napas mendengarnya.
"Ah, dasar ceroboh. Kau ini benar-benar ceroboh, kasihan kan gadis ini datang meminta pertolongan dan dia tidak mendapat apa-apa," keluh Layla.
"Tapi...aku juga tidak tahu benda itu hilang ke mana," balas Daniel cepat.
"Maksudnya benda itu menghilang sendiri, Tuan?" tanya Cerlina.
"...ya. Aku selalu menyimpan kapak itu di tempat rahasia, hanya aku saja yang tahu. Tapi ketika aku mengeceknya tiga bulan yang lalu, benda itu menghilang."
"Lalu bagaimana aku menambang permata itu tanpa kapaknya?"
"Tidak mungkin, penyihir. Kapak itu satu-satunya benda yang mampu memotong permata yang keras itu," jawab Daniel.
"...kau bilang benda itu benda suci, bukan?" tanya Cerlina memastikan. Daniel mengangguk.
"Bisakah kau membawaku ke tempat itu?"
"Aku tidak mungkin membawa orang asing ke tempat itu," balas Daniel sembari menggeram. "Jangan mencoba peruntunganmu, bocah."
"Padahal mungkin saja aku bisa membantumu melacaknya," ujar Cerlina, dengan nada sendu yang dibuat senatural mungkin.
"Ah, Pendeta Agung kan juga punya kekuatan suci yang dipinjamkan dewa. Mungkin saja..."
"Tidak, istriku. Bisa saja dia berbohong," potong Daniel sembari melipat lengannya. Cerlina diam, namun sorot matanya terlihat kesal.
"Apa buktinya kalau kata-katamu benar?" balas Daniel. Cerlina mengulum senyum mendengarnya.
"Di lantai dua, ada dua senjata suci yang dirampas saat perang kan?" tanya Cerlina sembari menutup mata. Pasangan minotaur itu terkejut mendengarnya.
"Wah, luar biasa!" puji Layla.
"Hei, itu hanya kebetulan!" kilah Daniel panik. Cerlina mengulum senyum kemenangan mendengarnya.
"Kebetulan? Mau kusebutkan senjata apa saja yang ada di rumah ini?"
"Heh, coba saja bocah tengik," balas Daniel kesal.
"Yang satu kau rampas dari wilayah elf, Panah Perak yang diwariskan langsung dari raja pertama elf. Lalu satunya...hmm wilayah Avant Heim milik Dewa Deus Ex Machina yaitu sepasang sarung tangan yang terbuat dari sisik naga kristal di Hutan Suci. Apa aku salah?" papar Cerlina. Daniel makin pucat mendengarnya.
"Be...benar," ujar Daniel pasrah. Cerlina tertawa kecil mendengarnya. "Huf, apa boleh buat. Ikut aku, penyihir sombong."
Daniel bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan rumah, disusul Cerlina di belakang dengan langkahnya yang pendek. Mereka menyusuri hutan yang cukup lebat hingga tiba di sebuah danau.
"Apa kita akan menyeberang?" tanya Cerlina.
"Kita akan masuk ke dalam danau," balas Daniel sembari mengetuk tanah di samping akar pohon yang mati sebanyak 2 kali dengan tongkat yang ia ambil di hutan. Perlahan seiring dengan getaran kecil di sekitar danau, sebuah tangga menuruni danau muncul di hadapan Daniel. Tanpa ragu minotaur itu turun, disusul sang Pendeta Agung dengan cahaya di tangannya.
"Umm, anakmu meninggal karena perbudakan?" tanya Cerlina hati-hati. Tubuh minotaur itu menegang. "Tidak perlu menjawabnya jika..."
"Dia disiksa selama menjadi budak di bawah pengawasan penyihir. Terakhir saat perang berikutnya pecah, aku berhasil menembus wilayah Careol dan menemukan dia mati digantung seperti daging! Dan kau tahu apa? Darahnya diambil, tanduknya dipatahkan dan ia dikuliti!" marahnya sembari menghantam dinding hingga meninggalkan lubang. Cerlina terkejut mendengarnya.
"...aku tidak tahu."
"Tentu saja kau tidak tahu, karena itu terjadi sudah lama sekali. Bahkan kurasa kau belum lahir," balas Daniel sembari mendorong pintu di depannya dan sebuah ruangan kecil dengan batu permata yang bercahaya terhampar di depan mereka. Di tengahnya terdapat meja tempat kapak itu diletakkan.
"Apa kau masih ingat siapa yang menculik anakmu?" tanya Cerlina.
"Para tetua tidak bermoral itu!" sahutnya sembari berbalik menghadapi Cerlina. "Aku sangat ingin membunuh mereka."
"Uhh, beberapa dari mereka sudah mati akibat kudeta," balas Cerlina menciut. Daniel tertawa keras mendengarnya.
"Ternyata mereka pengkhianat, hah? Lucu sekali," ujarnya. Ia mendekati meja itu dan mengelusnya dengan lembut.
"Di sini terakhir kalinya aku meletakkan kapak itu," ujarnya.
"Tidak mungkin, kau menghilangkan kapaknya," celetuk Cerlina sembari mengeluarkan tongkatnya.
"Haha, kau benar," ujar Daniel disela tawanya. "Nah, coba kau cari benda itu, bocah penyihir."
"Aku bukan bocah, tapi ya sudahlah," keluh Cerlina. Ia menghentakkan tongkatnya dan kedua matanya bersinar sewarna laut. Sebuah jalur tipis mulai terlihat di matanya.
"Aneh," celetuk Cerlina.
"Apa yang kau temukan?" tanya Daniel.
"Kapaknya ada di sini, tapi kenapa kita tidak melihatnya?" tanya Cerlina sembari menghadap Daniel dengan tatapan heran.
"Kau bercanda, bocah? Jelas-jelas benda itu hilang."
"Kapan kau terakhir memakainya?"
"Dua tahun yang lalu, saat itu aku membawanya ke kerajaan Ceshier. Lalu saat aku mau masuk kemari...eh? Kok aku tidak ingat setelah itu?" balas Daniel heran. Cerlina mulai mengernyit.
"Kau tidak ingat?"
"Aku ingat benda itu hilang, tapi aku tidak ingat bagaimana benda itu menghilang. Saat aku kemari untuk mengembalikan kapak itu, ingatanku berhenti," balas Daniel.
"Apa-apaan ini?" keluh Cerlina. Belum usai kebingungan mereka, sebuah guncangan besar melanda.
"Ada apa?" sahut Daniel sembari berlari naik ke atas dan terkejut ketika hutan sudah terbakar oleh api hitam.
"Ada serangan!"