
Malam bukanlah sesuatu yang buruk, namun bagi seluruh rakyat di Ceshier, berduka di halaman istana karena kehilangan kerabat yang gugur saat melindungi kerajaan bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka yang kehilangan menangis sejadi-jadinya di peti mati, mencoba membuka untuk melihat setidaknya potongan tubuh keluarganya. Namun Max yang tahu akan ada kericuhan seperti itu memutuskan untuk menyegelnya agar mereka tidak melihat jenazah yang tidak utuh. Yang lain menyiapkan lampion berbentuk bunga teratai dan membagikannya pada semua orang, tak terkecuali keluarga kerajaan. Mereka mengenakan pakaian yang sama gelapnya dengan malam, sesekali menghibur orang-orang yang menangisi para korban.
"Ayah dan Ibu masih belum bangun," ujar Nero.
"Berarti aku harus menggantikan mereka?" tanya Max lirih. Tidak ada jawaban, hanya kegelisahan yang menyelimuti sang sepupu. Max mengulum senyum tipis dan menepuk pelan pundaknya. Ia berjalan ke lantai dua berdiri di atas balkon dengan lentera di tangannya.
"Wahai rakyatku yang kucintai. Kita tahu bahwa kita berkumpul di tempat ini bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan berduka akibat gugurnya saudara, kekasih dan anak kita saat melindungi kerajaan ini. Memang tidak mudah untuk melepas mereka pergi dalam keadaan seperti ini, tapi kita juga harus berbesar hati menerima ini semua. Perlahan seiring dengan waktu, luka di hati kita akan sembuh," ujarnya lantang. Rakyat terharu dengan pidato singkatnya yang cukup menenangkan. Max menghela napas dan kembali berbicara.
"Kita akan berdoa pada Dewa Aegis agar menuntun jiwa para prajurit kita menuju surga dengan layak, untuk itu aku meminta Uskup Made untuk memberkati mereka."
Uskup Made berjalan mendekati ratusan peti mati di halaman istana berpakaian jubah putih dengan aksen hitam untuk tanda berduka. Ia melantunkan pujian dan doa, diikuti rakyat yang sesenggukan melantunkan doa. Selesai melantunkan pujian, ia mengangkat tongkatnya dan sinar biru lembut menyinari peti mati.
"Dewa Aegis akan datang dan menjemput kalian jiwa-jiwa yang tersesat untuk bersamanya di surga. Tidurlah dengan tenang, kami di sini akan selalu mengenangmu," ujar Uskup Made. "Rakyat yang tercinta, kami memberikan waktu semalaman untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum besok pagi akan diadakan pemakaman. Mari kita siapkan jalan untuk para prajurit kebanggaan kita."
Max langsung menyalakan lentera dan membagikan pelitanya kepada saudaranya, lalu dilanjutkan estafet api ke seluruh penjuru Ceshier. Cahaya lembut yang dihasilkan membuat tempat itu seperti disinari oleh sang mentari. Beberapa ras di luar Ceshier terkagum-kagum melihatnya, berbeda dengan Saciel yang baru saja selesai berganti pakaian dan duduk di pinggiran balkon dengan wajah nelangsa. Parvati yang masuk dengan secangkir teh madu mendekati dengan hati-hati dan tidak lupa memberi hormat ketika sang ratu berpaling.
"Apakah di Ceshier sedang merayakan festival?" tanya Saciel.
"Tidak, Yang Mulia. Itu adalah salah satu ritual untuk penghormatan terakhir para pahlawan yang gugur. Saya dengar Vatra menyerang Ceshier dan membantai ratusan prajurit," papar Parvati.
"Jadi mereka tengah berduka seperti kita ya?" ujar Saciel pahit. Masih segar ingatannya ketika ia kembali dari perbatasan utara. Ia yang baru saja turun dari kereta dikejutkan oleh tangisan keras di belakang. Seketika itu pula ia berpaling dan merasa dadanya sesak ketika melihat seorang wanita paruh baya menangis dan meraung sembari memeluk salah satu peti mati yang dibawa oleh prajuritnya. Ia mencoba mendekati, namun Lao menahannya dengan cara menggenggam tangannya dengan lembut.
"Yang Mulia, sebaiknya Anda masuk dan beristirahat. Kita harus mempersiapkan upacara pemakaman untuk mereka," ujar Lao pelan. Saciel mencoba memberontak, namun tenaganya sudah habis. Ia hanya bisa pasrah saat Lao perlahan menariknya ke dalam istana. Isak tangis masih bisa ia dengar walau samar, membuatnya makin terpuruk. Phillip bersama dengan pelayan senior langsung menyambutnya dan membawanya ke kamar. Namun begitu matanya jatuh pada Lao, Phillip tetap tinggal dan menyapanya.
"Sudah kembali?"
"Ya. Karena yang kukejar ada di perbatasan utara," jawab Lao santai. "Bagaimana keadaan di sini?"
"Cukup kondusif setelah mengurusnya. Hanya saja aku tidak melihat Vatra di penyerangan ini," ujar Phillip.
"Ah, benarkah? Padahal kupikir mereka bersama. Sepertinya mereka sengaja melakukan ini untuk membuat rakyat ketakutan dan panik."
"Aku tidak akan terkejut jika memang itu motifnya. Di mana Duke Zografos?"
"Sedang di rumah sakit. Dia sudah terluka parah dan kehilangan mata kanannya," ujar Lao.
"Separah itukah melawan Vristhi?"
"Kau bisa lihat dari sikap Saciel...maksudku Yang Mulia, bukan? Aku baru saja menjebloskannya ke dalam penjara. Kau bisa menyiapkan diri untuk menginterogasinya."
"Sebaiknya aku menyiapkan upacara pemakaman dulu. Pendeta Agung tidak akan suka mendengar ini," keluh Phillip sembari berjalan meninggalkan Lao. Yang ditinggal berjalan menuju kamar sang ratu, namun Stevan menghalanginya.
"Tidak bisa ya?" tanya Lao.
"Maaf, Duke. Yang Mulia saat ini perlu istirahat. Saya sarankan untuk menemuinya lain waktu," ujar Stevan tegas. Lao hanya mengangguk dan berjalan keluar istana, mendapati makin banyak orang datang dan meratapi kematian para prajurit. Ia menghela napas dan kembali melangkah sampai tidak menyadari kehadiran sang lady dari keluarga Schariac.
"Aduh! Kau ini bisa melihat tidak, sih?" keluh Tania. Lao menurunkan pandangan dan tertawa kecil.
"Salam, Lady Schariac. Sedang apa Anda kemari?" sapa Lao ramah.
"Kudengar Kak Saciel sudah kembali, makanya aku kemari," jawab Tania santai.
"Yang benar itu Yang Mulia, Tania. Meski dia temanmu, sekarang posisinya adalah ratu. Paham" ujar Lao menegaskan.
"Maafkan aku, Kak Lao."
"Baguslah kalau kau belajar dari kesalahanmu. Kurasa sebaiknya kau kembali, karena aku baru saja diminta pergi oleh Stevan."
"Kenapa?" tanya Tania penasaran. Lao menatap sang pelayan yang berdiri di sampingnya, seakan meminta persetujuan padanya. Sang pelayan mengangguk dan mundur selangkah. Lao langsung mengajak gadis kecil itu memasuki wilayah istana yang penuh dengan peti mati.
"Ah? Ini..."
"Korban dari penyerangan perbatasan. Maka dari itu kamu tidak diizinkan mendekati Yang Mulia Ratu untuk beberapa waktu," papar Lao.
"...apa benar ini hasil perbuatan Kak Vristhi?" tanya Tania lirih. Lao mengangguk samar. Tania meremas ujung roknya dan mulai meneteskan air mata.
"Kenapa? Kenapa Kak Vristhi melakukannya?" isaknya lirih. Lao perlahan menggendongnya dan membawanya ke taman istana yang sepi. Perlahan ia turunkan gadis itu di atas kursi terdekat dan duduk di sampingnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi selama aku mengurung diri?"
"Kau harus menjadi kepala keluarga terlebih dahulu untuk memahaminya," putus Lao cepat.
...****************...
Setelah menyalakan semua lampion, Kezia memimpin rakyat untuk melarungkan lampion yang mereka bawa di sungai. Perlahan yang lain mengikuti dan menyaksikan semua lampion terbawa arus menuju lautan luas. Para pelayat yang telah melarungkan lampion mulai kembali ke kota dan memasang atribut berwarna hitam pada sudut jalanan. Yang lain mulai merangkai bunga lili dan krisan putih untuk diletakkan pada peti mati para pahlawan. Anak-anak langsung dibawa ke peraduan untuk beristirahat bersama dengan ibunya. Para pemuda yang masih sanggup bertahan untuk menjaga semua peti mati bersama dengan prajurit. Uskup Made menghampiri Kezia dan menepuk pundaknya pelan.
"Putri, ini sudah hampir larut malam. Mari kembali ke istana. Putri perlu beristirahat untuk acara besok," ujarnya lembut.
"Aku masih ingin di sini," ujar Kezia. "Lampionnya terlalu cantik sampai menyilaukan mataku."
"Ini sudah malam, cepat tidur sebelum kuusir kamu tidur di luar," ujar Max garang.
"Ih, Nii jahat," keluh Kezia sembari berjalan masuk bersama dengan dua pelayan. Setelah gadis itu masuk, ia kembali mengecek semua persiapan bersama Nero hingga pukul 2 pagi.
...****************...
Suasana berkabung semakin kental, ditambah kain hitam yang dikibarkan di seluruh penjuru Ceshier. Uskup Made berdiri di atas podium, merapalkan doa dan pujian, sementara pendeta muda menyalakan dupa dan mendupai peti mati yang berjejer rapi. Selesai berdoa, semua peti mati langsung diangkut menuju taman pemakaman yang terletak di pegunungan, sekitar 300 meter jauhnya. Para rombongan mengikuti kereta pembawa peti sembari terisak-isak, sementara para keluarga kerajaan ikut berjalan diawasi oleh prajurit agar tidak terjadi kekacauan.
"Nii, aku sedih."
"Aku tahu, Kezia. Tidak mudah menjalani semua ini," balas Max.
"Kezia, nanti kita akan membantu rakyat setelah ini. Mau?" tawar Nero. Kezia mengangguk cepat dan mengulum senyum tipis. Perjalanan mereka terhenti ketika sampai di tempat tujuan. Ratusan lubang untuk makam sudah dipersiapkan. Para prajurit mulai meletakkan peti mati sesuai dengan nama yang tertera pada batu nisan, lalu menutupnya dengan tanah. Para lelaki bahkan membantu mengurus pemakaman agar lebih cepat dan efisien. Para wanita dan anak-anak meletakkan rangkaian bunga di atas makam sembari berdoa secara pribadi.
Sebagai putri kerajaan, Kezia juga turut meletakkan sekuntum bunga mawar putih di atas makam sebagai penghormatan. Ia bahkan menghibur mereka dengan pelukan dan kata-kata penghibur.
"Putri, Anda benar-benar baik sekali. Terima kasih," ujar seorang ibu paruh baya sembari meremas tangan Kezia dengan lembut.
"Terima kasih kembali. Yang tabah ya, Bu," ujar Kezia. Max dan Nero turut menghibur, meski tidak seluwes Kezia. Selesai pemakaman, semua orang kembali ke rumah masing-masing.
"Oke, kalian berdua bisa mulai bergerak memberikan bantuan. Aku akan mengurus daerah Lumos terlebih dahulu," ujar Max.
"Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana," celetuk Nero sembari menepuk pundak saudaranya. "Kau perwakilan kerajaan kita untuk saat ini."
"Tentu. Selesai bekerja langsung pulang ke istana."
"Nii, mau pergi ke tempat Nee," ujar Kezia.
"Tidak, kondisi kita masih kacau. Aku yakin di Careol juga sedang mengalami musibah. Tunggu sampai suasananya reda, baru boleh pergi. Paham?" tolak Max.
"Uhh oke," balas Kezia gemas. Nero dan Kezia langsung kembali ke kota, sementara Max dan para prajurit melanjutkan perjalanan menuju Lumos.
...****************...
"Apa maksudmu si pangeran buangan kabur?" tanya Saciel geram. Sang sipir gemetar ketakutan sembari berlutut di hadapannya.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Saya...saya diserang oleh Tetua Erika."
"Tetua Erika katamu? Heh, rupanya dia mulai menunjukkan dirinya. Lalu Vristhi?"
"Masih di dalam penjara dengan pengawasan ekstra ketat," ujar si sipir. Saciel menghela napas dan menyuruh sipir itu pergi. Setelah pergi, Saciel meraih sepucuk surat yang disodorkan Phillip. Setelah membuka dan membaca isinya, ia melipat surat itu hingga membentuk burung bangau.
"Yang Mulia, itu surat dari kerajaan elf. Kenapa Yang Mulia malah menjadikannya origami?" tanya Phillip menahan diri untuk tidak menasehatinya.
"Karena aku sudah membacanya. Mereka masih sempat-sempatnya menawarkan diri membantu kita mengatasi krisis pangan. Darimana mereka tahu?"
"Perlu saya selidiki?" tanya Phillip.
"Tentu. Oh, tolong tunggu sebentar. Aku akan menulis balasan untuk mereka," jawab Saciel. Ia bergegas meraih pena dan mulai menulis. Setelah membubuhkan stempel kerajaan di amplop, ia memberikannya pada Phillip. Phillip menerima surat itu dan pergi, bersamaan dengan masuknya Parvati.
"Yang Mulia, saya sudah menemukan beberapa kandidat dayang untuk Yang Mulia," ujar Parvati sembari memberikan daftar nama beserta data diri. Saciel membaca dengan seksama, sesekali menanyakan pada sang kepala maid.
"Baiklah, aku akan menunjuk tiga orang dulu. Tolong sampaikan surat untuk mereka," ujar Saciel sembari mengembalikan daftar nama yang sudah ia tandai.
"Baik, Yang Mulia. Saya permisi," ujar Parvati. Setelah memberikan hormat ia langsung pergi meninggalkan ratu muda yang menghela napas lelah. Ia membuka jendela dan berdiri di atas balkon, menikmati angin lembut yang membelai pipinya.
"...kau tidak perlu bersembunyi, Tania. Kemarilah, kalau kau jatuh Duke Schariac bisa histeris," ujar Saciel tegas. Sesosok gadis dengan dress bergaya lolita muncul dari balik atap dengan senyum lebar. Ia terbang dengan sapu terbang dan mendarat di hadapan Saciel.
"Selamat siang, Yang Mulia," sapa Tania.
"Selamat siang, Lady Schariac. Ada yang bisa kulakukan untuk tamu tak diundang ini?" sindir Saciel setengah bercanda.
"Maafkan saya atas ketidaksopanan yang saya lakukan kepada Yang Mulia. Saya...perlu bicara dengan Yang Mulia," ujar Tania. Saciel mengulum senyum dan mengajak Tania masuk, memanggil Stevan untuk menyiapkan teh. Setelah keduanya duduk, Saciel membuka mulutnya.
"Pembicaraan apa yang kau inginkan?" tanya Saciel.
"Apa aku...bisa menjadi kepala keluarga?" tanya Tania. Saciel mengerutkan kening mendengarnya.
"Sekarang? Apa yang membuatmu menginginkan jabatan itu?"
"Kemarin...Kak Lao tidak memberitahu aku kebenaran penyerangan di perbatasan utara. Dia bilang aku harus jadi kepala keluarga jika ingin mengetahui segalanya," ujar Tania sendu. Saciel membuang napas cukup keras, membuat Tania salah mengira dia marah. "M-maafkan aku?"
"Eh? Aku tidak marah padamu, Tania. Aku hanya kesal dengan kata-kata Lao kepadamu. Untuk masalah ini, sebaiknya kau bicarakan baik-baik kepada Duke Schariac terlebih dahulu. Kau masih muda, masih banyak yang harus kau pelajari sebelum menjadi kepala keluarga seutuhnya. Kau juga masih belajar sihir waktu, bukan?"
"Aku ingin berguna untuk kekaisaran ini. Karena aku yang termuda, banyak orang meremehkan diriku. Mereka bergunjing di belakangku, mengatakan kalau aku tidak pantas menjadi bagian dari 7 Eternal Wizards," cerita Tania.
"Kau tidak perlu mendengarkan mereka, cukup menjadi dirimu sendiri dan berjuang lebih keras dari yang lain. Ayahmu sudah menyerahkan tugas 7 Eternal Wizards padamu, tapi beliau belum menyerahkan tugas kepala keluarga karena kau masih belum siap. Bicarakan baik-baik dulu, baru kau boleh kembali jika sudah mendapat jawabannya."