
Kemunculan sosok yang tepat di saat yang tidak tepat hanya akan menambah kekacauan, bagai menyiramkan minyak ke dalam bara api. Itulah yang terjadi sekarang di aula kubah markas besar Sekte Kalajengking Hitam.
Yun Lao adalah hantu yang pernah membimbing Zet mendapatkan arcanum air dan – secara tak langsung – arcanum kayu. Namun, saat Zet hendak berangkat untuk mendapatkan arcanum tanah, tiba-tiba Yun Lao menghilang tak tentu rimbanya dan tak pernah muncul sama sekali di hadapan Zet, membisiki muridnya pun tidak.
Hingga saat ini.
Saat Zet justru telah menjadi Master of Arcana berkat bimbingan gurunya yang baru, Narayanan Singh dan lewat pertarungan ulang yang adil melawan Pangeran Barra Lewis.
Mengapa tidak muncul seperti sebelumnya saja, di Langit Angkasa? Saat Zet masih belajar pada Yun Lao di samping pada Kimiko dan para dosen?
Zet yang tak terlalu cerdas saja menyadari kondisi yang sederhana namun rumit ini, tapi ia belum sepenuhnya memahami maksud tindakan dan kata-kata Yun Lao itu.
Karena itu semua lah, Zet mengerutkan dahi dan menyambut Yun Lao dengan sikap dingin. “Apa maksudmu, Guru?” sergahnya. “Kedatanganmu ini sudah terlambat.”
“Oh, justru saat kemunculanku ini amat tepat!” kata hantu Yun Lao dengan suara dibuat-buat, tak seperti biasanya. “Aku datang untuk memberi selamat pada mantan muridku, karena sudah berhasil menaklukkan murid baruku.”
“Barra?!”
“Tentu saja, itu jelas, toh?” lanjut Yun Lao. “Aku telah memberimu hadiah perpisahan dengan menyatukan tenaga dalammu dengan energi arcanum air sejati. Lalu aku pergi agar aku bisa memusatkan seluruh perhatian pada pelatihan bagi Pangeran Kubah Malam itu hingga rampung.” Ia menunjuk ke arah Barra yang kini terkapar pingsan di dekat dinding balairung kubah.
Perasaan Zet jadi campur aduk antara kesal, kecewa dan merasa terpedaya. Dengan suara bergetar ia berkata, “J-jadi, selama ini kau hanya memperalatku saja... Guru Yun? Kau bermaksud menjadikanku salah satu bidakmu untuk diadu dengan bidakmu yang lain, dengan harapan agar bidak yang sepenuhnya sejalan dengan pikiranmu itulah yang menang dan menjadi Master of Arcana?”
“Tidak juga, semula aku amat yakin pada dirimu, Zet. Apalagi kau percaya mentah-mentah pada segala kebohonganku tentang kau adalah reinkarnasi diriku dan cerita tentang riwayat hidupku. Wah, aku ternyata sangat berbakat, kalau aku membuat buku cerita pasti akan laris dibaca orang banyak. Tapi saat kau mengalahkan Barra untuk pertama kalinya, dari sorot matanya aku melihat sesuatu dalam diri pangeran itu yang paling kuinginkan, tapi tak ada dalam dirimu.”
Zet mendelik, “Apa itu?”
“Ambisi.” Yun Lao mengulang kata itu dengan memberi tekanan lagi. “Ambisi untuk berkuasa, menggunakan kekuatan tak terbatas untuk meraih kekuasaan tanpa batas. Tidak ada status yang lebih pantas bagi seorang Master of Arcana selain kaisar atau... dewa.”
Zet menatap pada kedua telapak tangannya sendiri yang kini memendarkan energi arcanum. Benarkah kata Yun Lao itu, bahwa ia kini telah menjadi seorang dewa?
Tepat saat itu pula, puluhan orang memasuki balairung kubah. Hampir semua dari mereka adalah penyihir dan pembunuh gelap dari kedua sekte, Salju Putih dan Kalajengking Hitam.
Di antara rombongan itu ternyata ada Singh, Nina, Kimiko, dan yang paling tak terduga adalah Ketua Salju Putih Cabang Langit Angkasa, yaitu Pinkesh Kashmir. Kedua kubu tak tampak sedang bertempur, apa yang telah terjadi?
“Oh, bagus sekali, para penonton sudah berdatangan,” sambut hantu Yun Lao. “Makin banyak saja saksi peristiwa bersejarah, yaitu kebangkitan sang Master of Arcana baru. Tapi, apa-apaan ini? Aku tak berharap semua orang dari semua kubu yang hadir di sini! Jelaskan, Kashmir!”
“Misi serangan umum kita telah gagal, Ketua Sepuh!” kata Kashmir sambil tertunduk. “Taktik serangan mendadak memang sempat membuat Kalajengking Hitam kewalahan dan terdesak. Tapi kami tak tahu banyak tentang seluk-beluk markas ini, sehingga banyak anggota kita yang tewas atau terluka terkena jebakan. Tambahan pula, para pembunuh gelap yang tak kenal takut itu cepat pulih dari keterkejutan. Malah mereka mendesak balik hingga kami panik, karena tak bisa membalas serangan-serangan mereka yang amat cepat dan rahasia.”
“Lantas, mengapa kalian bisa berdiri di sini, bersama musuh pula?”
Bukan menjawab pertanyaan itu, Kashmir memilih melanjutkan penjelasannya, “Untunglah Singh yang netral menghentikan serangan balik Kalajengking Hitam. Hasilnya, mereka membiarkan kami menyerah tanpa syarat. Tapi harus ketua masing-masing sekte yang mengadakan perjanjian damai dan gencatan senjata. Maka kami semua kemari untuk mencari tahu hasil pertarungan antara Ketua Umum Barra dan Giovanni, Ketua Sekte Kalajengking Hitam. Tak kusangka, hasilnya seperti ini.”
“Dasar bodoh!” bentak Yun Lao. “Kalau kau dan yang lain bisa bertahan sebentar lagi dan lebih berhati-hati, kita masih bisa menang dari kumpulan orang yang hanya bisa menikam dari belakang itu!”
“Nah, apa kubilang,” kata Singh pada Kashmir dengan nada akrab seperti pada teman lama. “Sejak dulu Yun Lao selalu saja keras kepala dan menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisinya. Kalau perlu ia akan mengorbankan semua pendukungnya.”
Baru sekarang Yun Lao menyadari kehadiran Singh. “Huh, dasar musafir menyebalkan kau, Narayanan Singh! Selalu saja ikut campur! Dulu, kau membantu Rhea mengalahkan aku dan membunuhku, bahkan membuat semua arcanumku beralih memilih Rhea, tanpa ia harus terlalu banyak usaha!” rutuk hantu yang adalah mantan Master of Arcana itu. “Mengapa? Jelas aku yang paling pantas menyandang kekuatan tanpa batas, menjadi dewa tertinggi baru di dunia ini!”
Rhea sudah mengampuni nyawamu setelah kau menyerahkan semua arcanummu padanya untuk dikembalikan padaku. Tapi, daripada membunuhnya, kelima arcanum itu malah memilihnya. Kau tak bisa menarik arcanummu kembali, luka-luka lamamu terbuka dan kau tewas kehabisan darah. Tapi bukannya jera, kau malah berulah lagi. Sadarlah, Yun Lao! Kau sudah kalah lagi. Menyerahlah dan bertobatlah supaya jiwamu diampuni dan kau masuk Nirwana, bukan neraka.”
“Huh, memangnya kau dewa yang bisa mengatur nasibku?” sergah Yun Lao. “Lagipula aku belum kalah, karena aku masih memiliki satu modal terakhir!”
“Apa itu?”
“Itu adalah sang Master of Arcana yang baru!”
Sebelum Zet atau siapa pun sempat bereaksi, sosok transparan Yun Lao terbang dan seakan menyusut, lalu merasuk ke dalam tubuh Zet lewat semua inderanya; mata, lubang hidung, lubang telinga dan mulutnya.
Zet berteriak, “Tidaak, jangan!” Tapi itu percuma saja, karena roh Yun Lao telah merasuk ke setiap jengkal tubuhnya.
Zet berusaha mengentakkan tenaga dalamnya, tapi itu salah langkah dan percuma, karena Yun Lao sudah terlanjur mengambil alih seluruh kendali Zet pada tubuhnya sendiri.
Seharusnya Zet menggunakan ilmu kebatinan atau ilmu roh untuk menangkal roh asing apa pun yang merasukinya. Tapi karena Zet tak pernah diajari atau belajar tentang ilmu itu sebelumnya, bahkan di Fakultas Supranatural Universitas Langit Angkasa sekalipun, ia hanya bisa pasrah tubuhnya dijajah roh jahat Yun Lao yang sakti mandraguna saja.
Kini, Zet hanya bisa diam menyaksikan semuanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tubuhnya bergerak bukan mengikuti kehendaknya sendiri, melainkan kehedak sosok lain, mulai membubung di lantai dan melayang di titik yang sama di udara.
“Oh, tidak, seharusnya aku mengantisipasi kemungkinan ini pula,” kata Singh. “Tapi siapa sangka, roh Yun Lao masih gentayangan dan menjadi dalang semua kekacauan ini?”
Andai Zet memberitahukan perihal guru lamanya, Yun Lao pada guru barunya, Singh, mungkin bencana ini dapat ia hindari. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur sekarang.
Zet juga hanya bisa mendengar Yun Lao kini bicara dengan suara Zet. “Nah, kini tahap paruh pertama rencanaku rampung sudah! Terra Revia, sambutlah hari bahagia! Juru selamatmu yang sejati telah mewujud nyata! Tak ada lagi dewa-dewa palsu macam Zeus, Odin, Kaisar Langit, Alistair Kane dan lain-lain! Sambutlah aku, Yun Lao, satu-satunya dewa sejati yang berasal dari Terra Revia sendiri! Tuan rumah di dunia sendiri! Siapa pun yang menyembahku pasti selamat, yang menentangku pasti mati!”
Singh mengangkat bahu. “Sudah kuduga, orang seperti itu tak akan pernah mau belajar memahami batasannya sendiri. Jadi, tugas kita kini adalah mengingatkan Yun Lao lagi pada keterbatasannya.”
Yun Lao malah tertawa. “Begitulah dewa setengah takar, bisanya hanya omong besar, ditambah menggurui pula. Salah! Akulah yang akan menggurui dunia ini. Pelajaran pertama, jangan pernah meremehkan dewa sejati! Cicipilah jurusku, Lima Arcana Memahat Semesta!”
Sambil terus melayang di tempat, Yun Lao dengan raga Zet mengulurkan kedua telapak tangannya lurus-lurus ke arah semua sasarannya. Kelima kristal arcanum pada kelima pusaka yaitu kalung, kedua gelang, sabuk dan cincinnya berpendar serempak, membuat penampilan Zet bertambah sangar.
Dari titik tengah lapangan kubah, Yun Lao memutar tubuh Zet di tempat sambil terus melayang di udara. Telapak tangannya menembakkan larik-larik sinar dengan warna-warna yang berbeda-beda, yaitu biru, hijau, kuning, merah dan jingga keemasan.
Setiap larik yang menerpa permukaan, baik itu benda ataupun tubuh sasaran meledak. Ledakan itu menyisakan ceruk-ceruk pada lantai dan dinding. Para penyihir dan pembunuh gelap yang terkena telak satu saja sinar besar nan cepat itu entah tewas atau terluka parah. Sinar lima warna terus menyorot, seakan mengejar setiap sasaran yang diincarnya.
Bahkan Singh, Kimiko dan Nina ikut terluka oleh gebrakan pertama Yun Lao itu.
Yun Lao terus menembak sambil meracau, lebih terkesan seperti orang gila daripada dewa yang memiliki pencerahkan agung nan sempurna, “Aku tahu! Mulai saat ini, panggil aku Shen! Akulah dewa tertinggi, penguasa tunggal dunia ini! Yang lain silakan mengabdi padaku atau akan kubuat tinggal nama saja!”
Zet hanya bisa menatap miris perbuatan Yun Lao alias Shen dengan menggunakan raganya ini, seakan-akan Zet sendiri yang melakukan pembantaian dan penghancuran besar-besaran itu. Tapi apa akal? Ia tak bisa melawan dengan energi arcanum atau mengentakkan tenaga dalam untuk mengusir roh Yun Lao dari dalam raganya.
Di saat itulah Zet baru sadar bahwa rohnya masih ada dalam tubuhnya dan belum terusir. Itu berarti ia masih punya satu kekuatan lain yang telah dilatihnya dengan hampir sempurna lewat teknik yoga dari Singh. Itu adalah kekuatan spiritual.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-