The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
15 : RAHASIA ARCANUM



Esok harinya, Zet berjalan di lorong rumah dengan wajah kusut. Kepalanya agak pengar gara-gara minuman dan pesta semalam. Kondisi rumah juga masih sangat sepi. Pagi-pagi sekali ia diminta untuk pergi ke perpustakaan di belakang rumah. Zet menarik napas, ingin menyuruh jantungnya memelankan sedikit denyutnya yang terburu-buru. Gagang pintu pun akhirnya terbuka. Zet sudah siap dengan apa pun yang akan ayahnya katakan.


Pemuda itu tak menyangka akan ada banyak orang di dalam. Paman Josen, Paman Gorn, Bibi Iana, dan ... Oxi. Kenapa ada Oxi? Rasanya Zet ingin sekali berteriak marah pada pengkhianat itu. Namun Paman Josen menyuruhnya untuk duduk di kursi. Meja besar itu seolah menyidangnya dengan tatapan-tatapan intimidatif.


“Zet,” panggil Aeron, “kami sudah tahu kalau kau menggunakan arcanum untuk mengalahkan saudara-saudaramu di pertempuran kemarin.”


“Ya, terima kasih kepada Oxi karena telah memberitahukannya,” tukas Zet ketus. Ia bersumpah tidak akan bicara apa-apa lagi kepada anak sialan itu.


“Tidak, kau tidak bisa menyalahkan adikmu, Zet. Ini adalah masalahmu. Masalah yang serius, saat kau diam-diam mencuri gulungan itu dari kamar ayah. Membahayakan nyawamu dengan pergi ke hutan terlarang. Hanya untuk apa? Kau cuma ingin terlihat hebat di mata kami semua.”


“Ayah tidak tahu!” bentak Zet. Mata ungunya berkaca–kaca. “Kalian semua tidak tahu, bagaimana rasanya menjadi orang yang paling bodoh di antara saudara-saudara kalian. Dan seberapa banyak pun aku berusaha, aku tetap tidak akan bisa mengalahkan mereka. Sejak kecil, aku tidak berbakat seperti Oxi, bukan pula seseorang yang supel dan bisa berkarir seperti Deon. Tapi aku ... tetap tidak ingin mengecewakan Ibu dan Ayah, atau membuat mereka malu karena sudah membesarkan orang sepertiku.”


Bibi Iana mengusap air matanya sendiri. “Zet, kami tidak mau kau bertindak ceroboh dan membahayakan diri sendiri, hanya gara-gara pikiran semacam itu. Bagaimanapun juga, kau adalah bagian dari keluarga Dionisos. Kami tidak membeda–bedakan—”


“Kalau begitu kenapa harus ada pertandingan bodoh semacam ini?! Sekali-kali coba lihatlah kondisi keluarga kita lebih dalam! Semua berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan menyenangkan hati orang lain, sekalipun kami sendiri tidak ingin bertanding.”


Semuanya tercenung. Seusai jeda sejenak, Zet kemudian meneruskan, “Aku akan menerima tawaran dari Kubah Malam.”


“Tidak boleh.” Aeron menyahut.


Zet geram dan beranjak, hendak pergi dari tempat itu. “Aku sudah bisa menentukan jalanku sendiri. Kau tidak bisa terus mengaturku, Ayah!”


“Kau sudah mencuri apa yang menjadi milik keluarga Dionisos untuk kepentingan sendiri. Ayah tidak pernah mengajari hal seperti itu.”


Kaki Zet berhenti seketika. Josen berdeham dan segera mengambil suara, “Zet, duduklah, Nak. Kau harus tahu tentang kekuatan itu sebelum melanjutkan.”


Mau tak mau, Zet mengambrukkan badan ke kursi, sementara tangannya bersedekap. Matanya melengos ke arah rak dan buku-buku di ujung kanan ruangan.


“Arcanum adalah benda pusaka dari seluruh dunia, yang menyimpan kekuatan alam semesta di dalamnya. Sebelum ini, ia diwarisi secara turun-temurun dan digunakan oleh orang-orang tertentu yang dijuluki para Master.”


Zet kurang tertarik, karena sudah pernah mendengar penjelasan itu dari Yun Lao.


“Dengan kata lain, Zet,” Bibi Iana memperjelas, “arcanum disembunyikan karena punya potensi untuk disalahgunakan oleh orang jahat, atau menyebabkan perang antar manusia karena saling memperebutkan kekuatan besar ini. Tentunya kita tidak mau mengulang sejarah mengerikan tersebut.”


Otak Zet sejenak berhenti, mencerna informasi baru. “Jadi, Kubah Malam-kah yang membawa Ibu?”


Josen melirik Aeron yang sedari tadi hanya bergeming. Sementara Oxi juga sama tercengangnya dengan Zet. Sepertinya mau tak mau mereka harus membeberkan semua rahasia supaya tidak terjadi salah paham di kemudian hari.


“Apakah Ibu masih hidup?” tanya Oxi.


“Ya, dia masih hidup.” Paman Gorn menyahut dengan nada mau meledak. “Hanya saja, Kubah Malam terlalu paranoid untuk membiarkannya kembali ke keluarga kita. Mereka takut Master of Arcana bangkit dan menyerang mereka lagi. Lalu hasil akhirnya, mereka memenjarakan ibu kalian seumur hidup, dan membuang semua arcana itu. Atau sebenarnya mereka merencanakan untuk memanfaatkan Rhea suatu saat nanti.”


“Itu ... lebih kejam.” Oxi tak tahu lagi apakah lebih baik mengetahui ibunya meninggal dalam Perang Besar, atau mengetahui ia masih hidup di luar sana, tetapi tidak mungkin akan  pernah kembali ke rumah.


“Gorn, kita tidak tahu. Jadi jangan membuat anak-anak menyimpulkan hal seperti itu!” Bibi Iana menasihati suaminya untuk tenang dan tidak memantik amarah.


“Ya, setidaknya kalian berdua perlu tahu dan hati-hati saja. Kubah Malam tidak sesuci yang orang-orang katakan,” jelas Paman Gorn yang kemudian menceritakan pengalamannya, “Mereka sering kali mengadakan perjanjian dengan raja kita, yang tentu saja bisa sangat merugikan rakyat, termasuk mengambil lahan di pedesaan secara paksa tanpa adanya kompensasi berarti.”


“Jadi,” Paman Josen berdeham, “intinya sekarang kami mau agar Zet tidak menggunakan arcanum air itu lagi. Bukan kenapa-kenapa, tapi karena ibumu yang memang menginginkannya. Ibumu ingin agar arcanum tetap dalam tempat persembunyiannya, sehingga tidak ada lagi pertumpahan darah karena kekuatan itu.”


Zet mengerutkan kening. Ia teringat sosok Yun Lao yang tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa ia adalah utusan Ibu, yang akan membimbing Zet mencari jalan keluar. Namun, Zet tentu tidak bisa mengatakan hal tersebut kepada semua orang. Mereka pasti akan semakin menganggap Zet tidak waras. Dan alih-alih membiarkan Zet pergi dengan tenang, mungkin paman-pamannya ini malah justru akan menyeret dia ke pusat rehabilitasi kejiwaan. Yang Zet harus lakukan sekarang adalah memastikan dulu semua cerita ini kepada Yun Lao.


“Oke, aku akan berhenti menggunakan arcanum itu. Oh ya, kalian mau agar hubungan antara Kubah Malam dan Empat Musim tetap terjaga, kan? Biarkan aku mengambil hak untuk menjadi Prajurit Bintang,” tutup Zet penuh keyakinan. Pemuda itu pun akhirnya meninggalkan ruangan saat yang lain tidak ada yang menyanggah keputusan final tersebut.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-