The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
2 : YUN LAO



Zet hanya menghela napas melihat kelakuan dua saudaranya yang seolah mundur sepuluh tahun dari usia aktual mereka. Sesosok pria dewasa yang tahu-tahu sudah duduk di sana pun tertawa terbahak–bahak. Oxi segera bersembunyi di balik badan besar pria tersebut, dan Deon membenahi posisinya. Zet pun ikut menepi.


Suatu momen yang langka ketika Aeron dan putra tertuanya mengambil cuti bersama di rumah, dan tidak meninggalkan Zet dan Oxi bersama para pelayan. “Jadi, bagaimana latihan kalian?”


Zet dan Deon saling berpandangan sebentar. “Ah, seperti yang Ayah lihat, Zet sudah berlatih dengan keras,” kata Deon yang masih tiduran santai di lantai kayu. Seperti yang Zet duga, ia hanya dianggap sudah berusaha keras, bukannya berlatih dengan baik.


“Bagus. Kau sendiri bagaimana, Oxi?”


“Guru Florentia memberiku PR untuk belajar sihir air. Setelah aku mahir, aku bisa belajar sihir tanah, kayu, kemudian logam, kemudian api, kemudian petir, kemudian....”


“Oke, oke, ayah yakin kau akan menjadi elementalis hebat seperti ibumu,” kata Aeron sambil mengelus rambut putrinya. Sekilas, terdengar nada sendu ketika Aeron mengucapkan kata yang terakhir. Zet kehilangan ibunya saat berusia delapan tahun. Kala itu, ia masih tak mengerti apa-apa. Ibunya pergi di pertengahan musim dingin, dan tak pernah kembali.


Seorang pelayan membawa gulungan surat bersegel lilin emas bergambar singa yang memegang bulan dan bintang. Papirus itu berisi berita yang membuat mata Aeron melebar.


“Ada apa ayah?” Oxi berusaha mengintip di balik lengan Aeron.


“Pertandingan keluarga Dionisos bulan depan akan dihadiri oleh perwakilan dari Kerajaan Kubah Malam.”


“Sungguh?!” pekik Deon yang langsung terduduk dan memeluk adik laki–lakinya. “Zet! Mungkin kau bisa dapat rekomendasi langsung dari Raja Taraghlan.” Nada ceria itu terdengar seperti mengejek, bukan? Mengingat Deon tidak sungguh-sungguh memujinya tadi. Namun, kalimat tersebut ada benarnya.


Musim semi tahun ini adalah kesempatan emas bagi Zet untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentunya ia tak ingin harus mengulang tahun depan dan menjadi ejekan para sepupu Dionisos, atau parahnya harus mencari universitas lain yang menampung orang-orang minim prestasi. Masalahnya, dengan progress yang lamban seperti ini, Zet barangkali tak akan punya waktu untuk memenuhi persyaratan kelulusan minimal. Ia butuh sesuatu yang lebih.


Pemuda itu masih melanjutkan latihannya seusai makan malam, saat yang lain sudah terlelap dalam mimpi. Kali ini, Zet menggunakan pedang sungguhan. Logam berwarna perak gelap di tangannya bersinar tertimpa cahaya bulan. Berjam-jam Zet mengayunkan pedang itu, sambil masih berusaha menyeimbangkan kedua kaki dan mengatur gerakan badan. Terakhir, ia menyabetkan pedang dan membentuk luka bersilangan di batang pohon Kersen. Zet mencabut pedangnya, mengembuskan napas pelan, dan terduduk lemas di bawah rindang daun.


Senyum sang bulan seakan tersungging manis di samping rasi bintang Orion. Barangkali berusaha menghibur hati Zet yang sedang pekat. Dulu, ketika ia masih sering menangis di pangkuan, Ibu sering menyanyikan lagu-lagu untuk menenangkannya, sambil memainkan jemari di atas dahi Zet. Tak banyak yang anak itu hafal hingga kini, barangkali hanya tersisa satu yang benar-benar utuh dalam ingatan. Sembari mengelus wajah pedang berukir miliknya, ia pun bernyanyi.


 


 


Bunga mekar di atas senja


Berseri, membawa petaka


Badan yang resah membabi buta


Saat sinar-Nya mulai gelap gulita


Mentari terbangun di tengah awan


Mengeringkan daun dan kelopaknya


Ingatlah ketika esok datang


Kau masih bisa mencari


 


 


Tanpa sadar, air matanya jatuh di atas pedang. Saat awan di langit bergeser, pantulan cahaya bulan mengenai air kolam di depan Zet. Pemuda itu menyeka pipinya, kemudian merangkak maju dengan raut muka penasaran. Jika memang benar ibunya dulu adalah elementalis hebat, bukankah ada kemungkinan bahwa Zet juga mewarisi darah seorang elementalis?


Zet sejenak melihat bayangannya sendiri di air itu, lalu merentangkan telapak tangan menghadap ke permukaan air. Dia mencoba memusatkan pikiran, membayangkan dirinya menjadi salah satu dari ikan koi yang berenang dengan tenang. Zet kemudian membuka matanya dan dengan tangan gemetaran, mencoba mengangkat badan air seperti yang dilakukan Oxi tadi. Ia mengejan selama beberapa menit dengan tangan meliuk-liuk kaku, sampai akhirnya dia berkesimpulan sendiri bahwa tak akan ada yang bisa dilakukannya hanya dengan keyakinan bodoh semacam itu.


“Bagaimana kabarmu, Nak?”


Zet, yang tak siap dengan munculnya suara itu, berbalik badan dan justru kehilangan keseimbangan. Alhasil, ia terjengkang dan badannya meluncur ke dalam kolam ikan. Zet masih tak percaya, berkali-kali mengucek mata, sambil berusaha bangun dengan kondisi badan yang basah kuyup.


“K–k–kau ini ... s–siapa?”


Rasa gemetar yang Zet alami sekarang adalah perpaduan antara gentar melihat penampakan hantu ditambah dinginnya air yang bercampur udara dini hari.


“Aku Yun Lao.” Hantu itu menyembunyikan kedua tangannya ke dalam jubah panjang, merunduk hormat. Zet heran sekali. Pertama, karena nama sosok itu sama sekali asing. Ia tak pernah menemukan nama maupun marga seperti itu di Kerajaan Kubah Malam. Yang kedua, tentu saja penampilannya. Pakaiannya tertutup, dengan baju terusan yang tampak cukup berat dan tebal. Hanya orang bodoh yang memakai baju seperti itu di musim panas. Rambutnya yang lurus dan panjang penuh dengan uban. Mungkin Deon lebih tahu, sebab mereka berdua punya kesamaan, yakni menyimpulkan gelungan rambut ke atas. Itu pun jika Zet terlalu naif untuk mengakui bahwa dia benar-benar telah melihat hantu.


Setelah lama berpikir, Zet sadar ia harus bertanya lagi. “Apa ... aku mengenalmu?”


“Aku adalah pendekar naga hitam. Aku adalah dirimu, di kehidupanmu sebelum ini.”


“Oke, keren,” ucap Zet mengurut dagu, “tapi aku masih tidak paham.”


“Kurasa kau tidak perlu mengerti siapa aku.” Pak tua itu menyilangkan tangan di belakang dan mulai berjalan. “Lagu tadi telah membangkitkan rohku. Menghadirkanku di sini. Ibumu memberikan arti pada setiap lagu, dan itu bisa digunakan sebagai pemandumu.”


Mata Zet melebar. Bulu kuduknya berdiri seketika. “Jadi, kau adalah semacam guru spiritual, berbentuk roh yang diutus ibuku untuk membimbingku?”


“Bisa dibilang begitu.”


Wajah Zet tampak berbinar. Jawaban atas semua keinginannya mungkin akan terkabul malam ini. Dia akan membuktikan bahwa ucapan Deon tidak benar.


“Oke, Sun Low—”


“Yun Lao.”


“Oke, Yun Lao. Bisakah kau mengajariku mengontrol air?”


“Tidak.”


“Hmmm, kalau begitu sihir naga—aku tidak tahu apakah itu ada, tapi berhubung kau tadi menyebutkannya—”


“Tidak.”


Jawaban singkat itu membuat Zet jadi malas berbicara.


“Dengar, Nak.” Yun Lao beringsut maju. “Aku hanyalah roh pembimbing. Aku tidak bisa mengajarimu seperti para guru–guru di duniamu.”


“Lalu...?”


“Aku bisa memberitahumu cara mendapatkan sesuatu, yang mungkin akan sangat membantu,” ucapnya sambil menepuk pundak Zet. Senyum di wajah Yun Lao dengan cepat menular kepada pemuda itu.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-