
Walau jauh lebih cepat daripada menumpang kapal layar biasa, perjalanan dengan kapal layar terbang dari Langit Angkasa ke Ular Pasir butuh waktu berhari-hari.
Akibat insiden di hari pertama itu, Zet harus menahan rasa pengap di pernapasannya akibat terlalu lama mengenakan masker kain penutup wajah. Tampangnya jadi seperti pembunuh gelap anggota Sekte Kalajengking Hitam, tapi kalaupun ada agen mereka di kapal, merkea pasti malah berpenampilan biasa saja dan baru menutupi wajah dan kepala saat melakukan aksi mereka.
Jadi, ketika di malam sebelum kapal tiba di tempat tujuan ada satu sosok wanita bertubuh kecil-pendek dan mengenakan pakaian ala ninja berkelebat bagai bayangan di bawah sinar bulan sabit tanpa diketahui siapa pun, bisa jadi ia adalah anggota Sekte Kalajengking Hitam.
Ninja itu lantas menyusup ke dalam lorong koridor di lambung kapal, melewati pintu-pintu kabin di bagian pria. Dengan tenaga dalamnya, ia memindai kabin satu per satu dari luar untuk mengetahui ada siapa dalam kabin tersebut.
Lantas, sesampainya di depan kabin zet, si ninja wanita membuak tuas kayu pengunci di bagian dalam pintu dengan tenaga dalam, lalu masuk.
Benar saja, si ninja menemukan Zet sedang duduk bersila di ranjangnya, berlatih tenaga dalam. Dengan suara lembut ia memanggil, “Zet!”
Zet tak segera menanggapi panggilan itu. Ia terlebih dahulu menarik napas panjang, lalu menurunkan kedua telapak tangannya dari di depan dada. Ia lalu mengganti cara duduknya dari bersila menjadi lebih santai, menatap wajah si ninja wanita dan berseru, “Kimi?”
“Ah, rupanya kau masih mengenaliku,” kata Kimiko Maru sambil membuka penutup wajahnya. “Tapi kau tak akan menyerangku, bukan?”
“Tidak, kecuali kau menyerangku saat masuk tadi, baru aku akan membela diri. Pertanyaannya, apa yang membuatmu datang menemuiku, Kimi? Bukankah Nina sedang memburumu?”
“Aku tahu, karena itulah aku tak bisa lama-lama di sini,” jawab gadis ninja dari Sakura Ungu itu. “Si Nina itu amat bernafsu memburuku, mencariku di setiap sudut kapal, padahal seharusnya ia menemani dan membantumu.”
“Yah, begitulah. Aku memang sedang menjalankan misi ke Ular Pasir dengan dukungan Nina dan Sekte Salju Putih. Tapi aku bukan anggota mereka dan aku tak punya dendam padamu. Aku masih ingin berteman denganmu bila kau tak keberatan. Tapi sebelum itu, jawablah dulu pertanyaanku tadi. Apa ada alasan lagi kau mengambil resiko kemari?”
“Kata-katamu membuat hatiku lega, Zet. Tapi aku tetap harus meluruskan satu hal. Aku memang anggota Kalajengking Hitam, tapi aku sama sekali tak terlibat dalam aksi Fasid’afa. Aku kini pergi ke markas pusat kami di Ular Pasir untuk melaporkan kasus ini dan meminta mereka menyelidikinya dengan seksama. Kemungkinan besar ada anggota kami yang berkhianat, memakai nama samaran baru Fasid’afa dan bertindak sebagai oknum untuk dirinya sendiri.”
“Lantas, apa sektemu menyuruhmu muntuk mengawasiku, dan melenyapkanku bila aku dianggap berbahaya untuk kepentingan kalian?” Zet langsung blak-blakan saja.
Kimiko menggeleng. “Aku kuliah di Langit Angkasa atas restu ayahku, Nissho Maru. Aku ingin lepas dari Kalajengking Hitam untuk sementara waktu dan menuntut ilmu untuk jadi lebih maju, agar klan Ninja Maru Honji bisa mandiri dan lepas dari Sekte Kalajengking Hitam suatu hari nanti. Gara-gara Nina, kesempatanku untuk melanjutkan studi jadi berantakan. Apalagi sekarang Filian pasti membenciku...”
“Lho, apa hubungan antara ini dengan Fili? Wah, jangan-jangan... kau suka pada sepupuku, ya?”
Kimi gelagapan, “Eh, bukan begitu maksudku. Kami masih berteman biasa saja kok, hanya saja Fili memang menyenangkan, ramah dan sering membantuku. Jadi aku merasa akrab dengannya, itu saja.”
“Iya deh. Lagipula kurasa ‘Fili dan Kimi’ itu kedengaran serasi.” Zet tertawa renyah. “Sayang Fili tak ada di sini dan memilih pulang saja ke Empat Musim. Kalau dia ada, suasana di sini pasti akan lebih seru lagi.”
“Haha, senangnya kalau kita bisa latihan bertiga lagi seperti dulu,” kata Kimi, wajahnya kini berubah serius. “Oya Zet, tentang misimu di Ular Pasir, apakah itu dari Salju Putih?”
Nada bicara Zet jadi ketus. “Bukan, itu misi dari Rektor. Tapi kalaupun itu memang dari Salju Putih, kau yang dari sekte musuhnya lebih tak boleh tahu lagi. Kalau tak ada Nina Gnossis yang membantuku, mungkin aku akan memberitahumu. Mungkin. Kalau aku tak tahu kalau kau adalah anggota Kalajengking Hitam.”
“Aku tak mengerti, Zet. Tadi kau bilang aku bukan musuhmu. Apa maksud jawabanmu itu?”
“Aku bukan musuhmu dan ingin berteman lagi denganmu kalau bisa. Tapi statusmu dan situasi yang kuhadapi sekarang ii tak memungkinkan aku untuk mempercayai siapa pun, termasuk Nina, Singh dan dirimu.”
“Singh? Siapa itu?” Kimi mengerutkan dahi.
Zet tercekat, baru sadar ia telah kelepasan bicara.
“Oh, dia adalah klien dan pemandu dalam misi kali ini,” kata Zet. “Karena Guru Kashmir juga dari staf kampus, dia tentu tahu tentang ini dan melibatkan Salju Putih pula, padahal aku tak memintanya.”
“Oh, begitu. Baiklah, kalau begitu aku tak akan ikut campur. Karena kalau Nina membantumu, bila bertemu denganku dia akan...!”
Tiba-tiba si gadis ninja berkelit ke samping. Sebuah belati yang hendak mengancam lehernya lewat begitu saja dan hanya menyayat udara. Tak berhenti di sana, dengan amat cepat Kimiko menghunus pedang wakizashi-nya dan malah menempelkan bilahnya di leher si penyerang.
Bukannya menanggapi teguran Zet, Nina malah menantang Kimiko. “Silakan bunuh aku kalau berani, dan Sekte Salju Putih akan membalaskan dendamku padamu dan Klan Maru Honji.”
Kimiko Maru bergeming, namun jelas tubuhnya mulai gemetar. Pegangan pada gagang belatinya mulai goyah. Suaranya pun bergetar. “Aku tak pernah... ingin membunuh dirimu... atau siapa pun, Nina!”
“Bohong! Jangan harap aku mau percaya pada kata-kata apa pun yang keluar dari mulut antek Kalajengking Hitam!”
Kimiko menghela napas. “Ah, rasa permusuhan Salju Putih terhadap Kalajengking Hitam telah membutakan mata hati dan akal sehatmu, Nina! Seharusnya kau sudah sadar, sejak tadi aku mendapat banyak kesempatan untuk membunuh kamu dan Zet, tapi tak kulakukan!”
“Ya, karena kau punya rencana lain dan menganggap kami, terutama Zet masih berguna untukmu. Mengaku sajalah, kau pasti ingin merebut arcanum-arcanum sejati dari Zet, bukan?”
“Kau pikir aku ini bodoh?” bentak Kimiko, amarahnya sudah tak terbendung lagi. “Kalau aku atau siapa pun yang bukan dipilih oleh arcanum sebagai calon Master of Arcana menggunakan arcanum rebutan, dia pasti akan dihancurkan oleh arcanum itu!”
“Terserah. Pokoknya siapa pun dari Sekte Kalajengking Hitam harus mati, tanpa kecuali! Itulah sumpah paling dasar Salju Putih yang harus kupenuhi! Jadi, pergilah kau ke neraka, sekarang!”
Sambil mengatakannya, Nina menghunjamkan senjata rahasianya, yaitu belati kecil yang ia bawa sepanjang waktu tepat ke arah jantung Kimiko.
Zet melihat itu, tapi ia tak sempat mencegah apalagi menangkis belati Nina. Ia hanya bisa berteriak, “Nina, jangaan!”
Tapi, bukan ninja namanya kalau Kimiko tewas gara-gara belati kecil dari lawan yang bukan tipe petarung jarak dekat. Secara refleks gadis itu berkelit. Tapi karena tikaman belati sudah terlalu dekat, terpaksa ia menyodorkan pahanya menjadi umpan. Tanpa ampun belati Nina bersarang di paha Kimi, membuat Kimi berteriak kesakitan.
Di tengah kesakitan yang tak tertahankan, Kimiko cepat-cepat berbalik dan lari keluar dari kamar Zet. Ia sadar, sudara-suara berisik wanita dalam kamar kabin khusus pria pasti bakal menarik perhatian para penumpang lain.
“Hei, kembali kau, pengecut!” Nina hendak menangkap Kimi di tempat, tapi Zet mencekal tangannya. Nina sontak membentak, “Zet, apa-apaan kau? Lepaskan aku! Apa kau ingin membelot ke kubu musuh dan membuat aku dan Sekte Salju Putih melawanmu?”
“Tidak!” Zet membentak balik. “Apa kau tak sadar, suara-suara ribut, apalagi dari wanita dalam kabin pria akan mengundang tindakan petugas ketertiban kapal? Cepat kau pergi! Nanti kita bicarakan ini lagi setelah tiba di Ular Pasir!”
“Cih! Kuharap kau punya jawaban bagus untuk pertanyaanku tadi!” Nina terpaksa berbalik dan lari meninggalkan kabin Zet, pastinya untuk mengejar Kimiko.
Tinggal Zet sendirian dalam kamar, menghela napas panjang dan menjatuhkan dirinya di ranjang.
Tiba-tiba seorang mengetuk pintu satu, dua kali lalu langsung masuk. Zet terlonjak bangun, siap mengantisipasi entah teguran keras petugas keamanan atau serangan dari orang Ular Pasir.
Lagi-lagi Zet menghela napas lega, pundaknya yang semula tegang kembali turun. Ternyata orang yang masuk itu adalah Narayanan Singh.
Singh lantas cepat-cepat mengunci pintu di belakangnya dan menghampiri Zet. “Wah, rupanya kau harus kuberi teguran keras,” katanya dengan suara yang sengaja dibuat keras. “Apa kau tahu adat-istiadat dan norma-norma yang berlaku di Ular Pasir? Menyusupkan wanita dalam kabin pria, lalu membuat suara gaduh seperti pasangan yang baru berbuat tak senonoh, apa pantas?”
Singh memaju-majukan dagunya dan mengedipkan satu mata ke arah Zet. Memahami isyarat itu, Zet ikut bermain dalam sandiwaranya.
“Aduh, maaf sekali pak, aku tak tahu soal norma itu!” Zet juga menjawab dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di luar kabin. “Pacarku itu tak tahan dan ingin bersamaku dalam kabin ini. Aku bilang jangan, jadi kami bertengkar. Tak kusangka sebagai wanita dia kasar sekali! Aku tak sengaja menyakitinya, lalu ia minta putus dan lari dari kabin! Aku janji pak, itu tak akan terulang lagi!”
“Pastinya begitu, karena kau sekarang tak punya pacar lagi. Baiklah, karena kau tadi sudah bersikap terpuji, aku akan memaafkanmu. Tapi setidaknya aku harus memberitahukanmu lagi tentang segala peraturan di kapal ini. Oh ya, aku harus selesaikan catatan laporanku dulu...”
Singh dan Zet tak lanjut bicara. Mereka diam saja sampai mendengar langkah-langkah kaki yang menjauh dari kabin. Baru setelah suasana kembali sepi, keduanya bisa menarik napas lega.
Singh mengambil tempat duduk di dekat ranjang zet. Ia lantas menatap mata Zet seraya berkata, “Kurasa kau berutang banyak penjelasan padaku, anak muda. Katakan apa sebenarnya yang terjadi tadi.”
Zet menghela napas panjang. Rasanya ini akan menjadi malam yang panjang, melelahkan dan amat menjemukan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-