The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
83: LAUTAN SCARAB



Tak bisa dipungkiri, lautan Scarab yang bergulung-gulung bagai ombak jauh lebih berbahaya daripada lautan pasir di Gurun Kaktus Kuning.


Digigit satu Scarab raksasa saja rasanya tubuh hendak dilubangi dengan bor, apalagi dirubung dan digigit Scarab biasa yang bagai ribuan bor kecil. Pengalaman digigit Scarab raksasa tak akan pernah Zet lupakan seumur hidupnya. Tapi sebelum sempat mengingat rasa gigitan Scarab kecil, Zet bakal lebih dahulu jadi tengkorak.


Kini, Zet tak sempat membayangkan akibatnya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana cara melibas musuh berjumlah amat banyak yang tersebar luas sekaligus.


“Cepat lari sembil menghimpun energi!” teriak Singh sambil menjauhi gelombang Scarab. “Lalu gunakan sihir atau jurus yang bisa mencakup daerah yang luas!”


“Ya, Pak Singh!” Sambil turut berlari, Zet menghimpun energi dari arcanum air dan Nina energi apinya. Butuh waktu untuk proses jurus dan sihir yang disarankan Singh, jadi terpaksa mereka berdua terus berlari.


Lalu Zet berbalik dengan pedang berpendar biru di tangan, siap menghadapi gelombang Scarab. Ia mengerahkan tenaga dalamnay yang berpadu dengan arcanum air, menyabetkan pedang secara melintang dengan jurus Gelora Gelombang Samudera.


Zet mengirim ombak yang tak terlalu besar, tapi cukup kuat untuk menyapu daerah yang luas. Tak terhitung banyaknya Scarab yang langsung terbelah oleh ketajaman daya sabetan pedang yang diperkuat dengan tenaga dalam dan arcanum ini.


Parahnya, yang berhasil disapu oleh Zet hanya barisan terdepan saja. Lautan Scarab masih tampak di kejauhan, bergerak amat cepat. Terpaksa ia berbalik cepat dan berlari lagi menyusul Nina dan Singh. “Gila, kumbang-kumbang gurun itu tak ada habisnya!” teriaknya.


Singh menanggapinya, “Memangnya kau harap itu apa? Manusia? Sudahlah, lihat aksi Nina!”


“Agnioparadh!” Nina mengacungkan tongkat sihirnya lurus ke depan, memunculkan sebuah Dinding Api setinggi kira-kira tiga meter yang membentang amat lebar.


Lautan Scarab terus melanda membabi-buta. Entah mereka tahu ada dinding api atau tidak, barisan terdepan langsung saja menabrak dinding api sampai tubuh mereka terbakar hangus. Selain memang berakal pendek, para Scarab bergerak terlalu cepat sehingga tak sempat berhenti atau bahkan berbalik dari tempat berbahaya.


Tapi ada yang tak beres. Lautan Scarab di baris belakang yang sadar jalan di depan mereka tertutup tubuh rekan-rekan mereka sendiri mulai bergerak, hendak memutari dinding api.


Melihat itu, Singh berseru, “Awas! Scarab-Scarab di belakang hendak menerobos dengan memutari dinding api!”


Zet bergerak maju hendak membantu Nina, tapi apa daya energi airnya sedang diisi ulang. Energi yang ada takkan cukup untuk mengerahkan jurus yang sama seperti tadi. Apa akal?


Tiba-tiba Zet mendapat ide gila. Ia cepat-cepat berdiri di depan Nina dan merentangkan kedua tangannya sambil bergumam, “Ini seperti cakram Odyscus, namun jauh lebih besar.”


Mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Zet menebarkan telekinesisnya yang diperkuat dengan energi arcanum kayu sejati pada dinding api. Daya kemampuan khusus Zet untuk mengendalikan elemen itu ternyata cukup kuat, sehingga dinding api bergerak agak cepat. Gerakannya seperti lava  yang mengalir, melibas dan menghanguskan baris demi baris lautan kumbang Scarab, menghanguskan mereka.


Didorong naluri, semua Scarab yang luput dari terjangan dinding api lantas berbalik secepat kilat, lalu masuk ke dalam pasir dan merayap pergi. Yang kelihatan adalah gelombang besar pasir yang bergulung menjauh dari dinding api.


Dilanda kelelahan, Zet menghela napas panjang dan jatuh terduduk di pasir. Aksi dirinya dan Nina tadi telah menguras banyak energi, tapi itu cara yang cukup tepat untuk membendung sekaligus menghalau lautan serangan kumbang gurun yang disebut Scarab itu.


Hiburan bagi Zet datang dalam wujud Singh yang menyodorkan botol air padanya sambil berkata, “Bagus sekali, Zet dan Nina. Aku amat senang melihat kalian berdua bisa bekerjasama. Dan tentunya kalian juga belajar sesuatu dari kejadian tadi, bukan?”


“Ya, kita harus tetap tenang dan berkepala dingin dalam segala situasi,” kata Nina tanpa ekspresi.


“Dengan begitu, ide-ide yang cerdik dan tak terduga bisa muncul, meluputkan kita dari bahaya dan krisis di depan mata,” tambah Zet dengan ekspresi wajah yang terkesan lebih antusias.


Singh mengangguk, seraya menambahkan, “Itu semua benar. Tapi yang lebih penting kalian harus berusaha untu bekerjasama. Kesampingkan dulu perbedaan di antara kalian. Kesampingkan dulu kepentingan keluarga, negara, sekte, golongan atau apapun. Tanggalkan sedikit gengsi dan kebanggaan pribadi, dan hargailah pendapat teman setim kalian. Hanya dengan itulah kalian dapat bertahan hidup dari segala ujian yang akan kalian hadapi setelah ini.”


“Lho, aku juga diuji?” protes Nina. “Aku kan hanya membantu Zet mendapatkan arcanum tanah sejati, itu saja.”


“Coba pikirkan, seandainya Zet tak lolos uji, bisa jadi arcanum tanah, kayu dan air akan memilihmu sebagai pewaris mereka, sekaligus kandidat Master of Arcana yang baru.”


Namun reaksi Nina hanya dengus keluhan. “Huh, aku lebih suka berpegang pada ilmu sihir dan energi api yang telah kuolah bertahun-tahun milikku ini. Aku tak mau seperti Zet, yang harus menjaga dua kristal pusaka yang ia kenakan kemanapun ia pergi. Lagipula Zet sudah pernah diserang oleh satu pasukan Ular Pasir. Bagaimana kalau para pembunuh gelap dari Sekte Kalajengking Hitam sedang mengincarnya sekarang?”


Nina tak menyebut nama Kimiko Maru, namun dari tekanan dan nada yang dibuat-buat saat menyebut nama ‘Kalajengking Hitam’, ia seakan hendak memperingatkan Zet agar tak terpengaruh oleh mulut manis si gadis ninja dari Sakura Ungu itu. Cepat atau lambat, bisa jadi Kimiko bakal menikam Zet dari belakang.


“Jadi dengan kata lain, kau sama sekali tak berminat pada arcanum? Lantas apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Singh.


Nina hanya menggeleng. Tampaknya ia tak mau memberi keterangan lebih lanjut. Walaupun mungkin ia tahu kalau Singh tahu ia adalah anggota Sekte Salju Putih. Ia hanya terus mengerutkan dahi, menegaskan ucapannya tadi.


Di sisi lain, Zet yang sudah terlalu kelelahan dan kehausan hanya meneguk minumannya lambat-lambat. Sambil benaknya menerawang, mempertimbangkan kembali apakah keputusannya terjun dalam rangkaian dan lautan bahaya ini benar-benar tepat. Tapi, sudah terlambat baginya untuk berubah pikiran sekarang, karena ia sudah pergi sejauh ini.


“Huh, Filian pasti sedang pesta gila-gilaan dengan para teman pria dan pacar-pacarnya di kampung halaman, mereguk kenikmatan hidup sepuas-puasnya,” pikir Zet. “Tapi ia pasti bakal iri setengah mati setelah melihat arcanum tanah dalam genggaman tanganku.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-