
Melihat Zet hendak menghadang dirinya, Rick hanya tersenyum simpul. Tanpa bicara, Rick maju dulu untuk melayani hadangan Zet. Gelagatnya, ia ingin melewati Zet. Tapi mendadak Rick melemparkan cakram itu dengan cepat, lalu cakram disambut dengan telekinesis Bonnie.
Karena posisi Bonnie sudah dekat dengan gawang, Bonnie melempar cakram sekuat tenaga. Untunglah Hailey yang sigap cepat menghalau cakram ke luar lapangan. Odyscus memang beda dari sepak bola, tak ada lemparan pojok dan cakram kini digenggam erat oleh penjaga gawang. Serangan Fajar Emas berhasil dipatahkan.
Justru di saat seperti ini Zet mendapat teguran keras dari Simon. “Kau ini bagaimana, Zet?! Apa yang ingin kau buktikan, hah? Satu lagi kesalahan bodoh seperti tadi, kugantikan kau dengan pemain cadangan!”
Zet hanya menanggapi teguran itu dengan mengangguk. Lagi pula Hailey telah mengoper cakram pada dirinya. Jadi mulailah Zet menggiring cakram itu ke daerah pertahanan lawan.
Gaya permainan Empat Musim yang seperti sepak bola modern tampak berimbang dengan gaya ala Rugby modern Fajar Emas. Tiga kali putaran dan masing-masing tim telah mendapatkan tiga kali kesempatan menyerang, namun tak satupun dari semua itu yang membuahkan gol.
“Kedudukan masih imbang tanpa gol, apakah bakal terjadi adu penalti untuk menentukan juara?” seru Murray si komentator.
“Semoga saja tidak, Murray!” sahut Bill. “Apapun yang terjadi, saya harap pertandingan kali ini akan sama atau lebih seru dari Semi Final Kubah Malam lawan Empat Musim!”
Walau tak kunjung membuahkan gol di dua putaran berikutnya, karena ini Babak Final, kedua tim habis-habisan mengerahkan segala daya dan upaya. Segala teknik serangan dan pertahanan diumbar, seakan tak memberi jeda sedikit pun untuk mengambil setarikan napas.
Sayang, satu bencana lagi menimpa Tim Empat Musim. Saat hendak menangkap lemparan melengkung Rick yang disebut Tembakan Pisang, kepala Hailey terbentur keras tiang gawang sehingga gadis penjaga gawang itu pingsan di tempat.
Zoe segera berseru, “Luis Zigo, masuk!”
Luis adalah rekrutan baru yang sengaja ditempatkan sebagai penjaga gawang cadangan. Ia hanya bermain dalam latih tanding saja, tak pernah diturunkan dalam pertandingan yang bising oleh sorak-sorai ribuan penonton seperti ini.
Ini gawat. Di Babak Final, penjaga gawang yang ada belum berpengalaman. Jadi terbuka satu celah titik lemah baru di pihak Empat Musim.
Di bawah tekanan sorak-sorai yang kebanyakan mengelu-elukan Tim Fajar Emas, Luis Zigo jadi gemetaran di tempat, nyalinya ciut seketika.
Melihat itu, Simon langsung meminta waktu jeda. Ia bicara hanya pada Zet dan Mirran. “Kalian tahu ‘kan Luis masih ‘hijau’. Seharusnya kami meurunkan dia di Babak Penyisihan dulu agar dia terbiasa, tapi yang diturunkan malah Mirran dan Igno. Walaupun kemungkinan Hailey kecelakaan lebih kecil daripada pemain-pemain lain, tetap ini di luar perhitungan kami. Ini kesalahan kami, jadi kami minta maaf pada kalian.”
Zet berujar, “Tak usahlah, Kapten. Saya juga minta maaf karena banyak melakukan kesalahan.”
Mirran mengangguk. “Saya juga. Nah, apa yang harus kami lakukan?”
“Baik!” seru Zet dan Mirran bersamaan.
Sekarang giliran tim Zet yang bergerak menggiring cakram. Yang melayangkannya kali ini adalah Simon. Bonnie mencoba menghadang Simon, namun sang kapten mengoper pada Zet yang langsung mengoper lagi pada Simon yang telah melewati Bonnie.
Clyde tentu mendekat, mencoba merebut cakram dari Zet yang dalam pengawalannya. Namun, daya telekinesis Zet yang rupaya lebih kuat daripada Clyde membuat cakram tetap aman di atas tangan Zet. Zet melewati Clyde dan kali ini mengoper cakram pada Mirran. Mati langkah, Clyde menggerutu sendiri.
Mirran lantas dihadang oleh bintang Fajar Emas, Rick. Semula gadis itu pasang wajah pucat. Bukankah seharusnya Rick mengawal Zet yang adalah rivarnya yang berkekuatan setara?
Sambil menyeringai bagai singa yang baru melihat mangsa empuk, Rick mengulurkan tangan, hendak merebut cakram dari si “anak baru”.
Tanpa diduga, tubuh Mirran berputar amat cepat selingkaran penuh. Ia lantas berseru, “Tangkap, Zet!” sambil melayangkan umpan jauh ke arah Zet.
Cakram melayang tinggi tanpa dapat dicapai oleh kekuatan telekinesis Rick Oakes atau siapa pun. Lantas cakram menukik landai, hendak masuk ke gawang. Apa teriakan Mirran tadi hanya semacam tipuan bahwa itu umpan untuk Zet, padahal ia sedang mencoba mencetak gol sendiri?
Seth McCormick, si penjaga gawang hendak menangkap cakram itu dengan menggenggamnya langsung. Itu karena posisi cakram sudah amat dekat dengan gawang, gerakannya cenderung melamban dan terbaca.
“Pikir lagi, bung!” Sambil mengatakannya, Zet menyeruak maju. Daya telekinesisnya menghantam cakram dengan keras ke sisi lain gawang. Karena cakram sudah amat dekat, Seth tak sempat menepisnya, apalagi menangkapnya. Pasalnya, mengaktifkan telekinesis lagi untuk menepis, apalagi menghalau cakram butuh waktu jeda kira-kira satu detik, dan Seth tak punya satu detik itu.
Cakram masuk dan melesak mulus dalam gawang Fajar Emas.
“Akhirnya, pergerakan pertama di papan skor!” seru Bill si komentator. “Satu nol untuk keunggulan Tim Empat Musim! Gol yang hebat, Amazeta Dionisos! Umpan yang cantik, Mirran Balski! Kau pantas disebut sebagai ‘malaikat lapangan’!”
Tinggal Rick Oakes yang memukul tanah dengan kedua kepalan tangannya. Itulah akibatnya kalau meremehkan orang lain.
Murray, komentator kedua berkomentar, “Wah, tampaknya Rick Oakes akan mengamuk. Ini jelas baru, mengingat ia selalu tampak bermain tenang di kondisi apapun. Tapi dalam tekanan terbesar Babak Final ini, apapun bisa terjadi, bukan?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-