The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
78: BERTEMU SINGH



Sebenarnya Zet bisa saja menyerahkan arcanum air pada Mukhtar saja agar tak terjadi pertumpahan darah dan pasukan Ular Pasir mundur tanpa banyak ribut. Tapi karena mereka sudah bernafsu ingin membantai Keluarga Dionisos termasuk dirinya, ditambah mereka telah meremehkan kemampuannya menguasai arcanum air, terpaksa malang tak bisa mereka tolak, dan Zet kini harus menanggung dan dirundung dosa yang amat besar.


Lebih miris lagi Zet saat mendengar berita mengenaskan dari Ular Pasir dua minggu kemudian. Rupanya Raja Damian dari Empat Musim melayangkan surat protes yang dibawa oleh utusan khusus yang bergerak cepat dengan menunggang kuda bersayap, Pegasus.


Protes itu adalah dari Aeron, kepala Keluarga Dionisos di Pilar Pualam, mewakili warga kota yang resah akibat serangan Ular Pasir yang mirip perampok dan penjarah yang mendadak, tanpa deklarasi perang dan tak terhormat sama sekali.


Menanggapi protes itu, Sultan Jalaluddin yang menanggung rasa malu luar biasa terpaksa melakukan tindakan drastis. Sebagai tanda permintaan maaf, ia menghukum mati semua prajurit Ular Pasir anggota pasukan Mukhtar yang kembali ke negerinya dan mengirimkan kepala mereka semua ke Empat Musim. Ia juga berjanji untuk memburu sisanya yang telah desersi.


Hampir seketika, delapan puluh tujuh kepala dikirimkan sekaligus pada Raja Damian. Aeron yang menyaksikan itu menyesalkan sikap Sultan yang berlebihan. Namun karena nasi telah menjadi bubur, ia hanya bisa berpesan bahwa permintaan maaf sudah diterima dan Jalaluddin tak perlu memenggal prajurit lain lagi.


Yang paling mengenaskan adalah, hampir sebulan setelah permintaan maafnya yang pertama, Sultan Jalaluddin dibunuh oleh dua belas prajurit desersi yang ingin membalas dendam rekan-rekan mereka yang dihukum mati oleh Sultan yang impulsif itu. Daripada terus lari karena diburu, lebih baik melenyapkan si penyebab dan biang masalah yang memerintahkan perburuan itu. Akhirnya tiga belas orang lagi mati sia-sia, termasuk Sultan.


Sultan baru Ular Pasir, Bagiruddin yang adalah kakak tiri Jalaluddin dari selir memutuskan untuk tak memperpanjang kasus serangan ke Pilar Pualam lagi. Toh Empat Musim telah menerima permintaan maaf si pendahulunya.


Namun kejadian itu, yang seharusnya tak dibesar-besarkan, malah menorehkan aib dan luka yang amat dalam di hati sebagian rakyat Ular Pasir. Bukannya menyalahkan mendiang Sultan yang jelas-jelas telah bertindak serampangan, rakyat malah menimpakan segala kesalahan pada Negeri Empat Musim, Keluarga Dionisos dan arcanum air.


Diam-diam mereka menaruh dendam kesumat, dan semuanya itu mereka titipkan bukan pada pemerintah, melainkan organisasi rahasia bernama Sekte Kalajengking Hitam, yang basis utamanya memang berada di Negeri Ular Pasir.


Anehnya, selama ini Kalajengking Hitam tak satu kali pun melancarkan aksi teror, apalagi pembunuhan ke Negeri Empat Musim. Kemungkinan besar sebabnya adalah mereka punya agenda sendiri dan tak mau bertindak serampangan. Bisa jadi mereka sengaja mengutus Kimiko Maru untuk menyelidiki dan mengamati Amazeta Dionisos alias Zet.


Bisa jadi juga “agenda lain” Kalajengking Hitam adalah aksi Fasid’afa menebar wabah pembusukan di wilayah Langit Angkasa, dimulai dari Hutan Regenerasi. Tapi bisa juga Fasid’afa adalah oknum Kalajengking Hitam yang bertindak berdasarkan rencana dan agenda pribadi saja.


“Segala kemungkinan itu masih terbuka dan belum jelas duduk perkaranya,” ujar Zet di ujung penjelasannya. “Karena itulah sebaiknya aku dan kalian, Sekte Salju Putih juga bertindak lebih hati-hati dan seksama. Selidiki dulu kebenarannya sebelum bertindak.”


“Kalau begitu, Rick Oakes hanya meneruskan berita yang telah dibesar-besarkan sejak awal tentang kamu yang menghancurkan seluruh pasukan Ular Pasir sendirian. Zet si pahlawan besar, pemegang arcanum air yang sakti mandraguna,” kata Nina, yang mendengarkan penjelasan itu di kantor Kashmir, di hari sebelum keberangkatan keduanya.


Zet menghela napas. “Yah, apa mau dikata. Tinggal mengganti jumlah pasukan, berapa orang yang tumbang oleh jurusku dan yang dihukum mati dengan kejam, aku dibuat seolah-olah aku adalah salah seorang pendekar paling terkenal dan paling berbahaya di Terra Revia.”


Kashmir, ketua cabang Sekte Salju Putih Langit Angkasa lantas memberi kesimpulan. “Kalau begitu, kau harus pergi ke Ular Pasir dengan diam-diam, Zet. Pakailah tudung dan penutup wajah. Rahasiakan nama keluargamu dan gunakan nama ‘Zet’ saja bila ditanya. Kurasa misi kali ini bakal jauh lebih berbahaya daripada dugaanku semula.”


\==oOo==


Kembali di kapal layar angkasa yang menuju Negeri Ular Pasir, Zet tentu saja merasa tidak nyaman berpakaian seperti pembunuh gelap atau ninja.


Menggunakan masker sepanjang waktu membuat napas Zet agak sesak, jadi Zet lebih banyak mengurung diri dalam kabinnya daripada berjalan-jalan di luar. Tapi pada akhirnya perutnya berbunyi, terpaksa ia harus keluar kabin dan menyusuri geladak untuk mengambil makanan di ruang makan dekat kabin kapten kapal.


Kabar baiknya, tudung hitam yang Zet kenakan melindunginya dari terpaan angin kencang di geladak. Lagipula, tak heran kalau Zet melihat hampir semua penumpang yang ada di geladak juga memakai topi tudung, jilbab dan masker atau cadar. Jadi, tak seorang pun saling mengenal satu sama lain, kecuali mereka memang sudah cukup saling mengenal sebelumnya.


Nina tak ada di tempat, mungkin itu sedang di kabinnya sendiri, yang sengaja dipisahkan antara pria dan wanita menurut etiket yang berlaku di Ular Pasir. Baguslah, toh Zet juga tak akan tahan mendengar ocehan Nina yang suaranya seperti bunyi burung nuri kebanyakan cabai yang nyaris tanpa jeda itu.


Tak banyak basa-basi lagi, Zet langsung mengambil makanan secukupnya dari meja prasmanan, lalu membawa nampan itu ke meja di pojokan untuk disantap segera. Agar tak memancing kecurigaan, Zet makan dengan agak santai dan bersikap biasa-biasa saja, tak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.


Karena memang sudah waktu makan siang, suasana di ruang makan itu agak ramai, banyak orang memenuhi setiap meja yang ada. Tak lama, dua pria dan satu wanita yang berperawakan masih muda duduk di meja Zet. Salah satu pemuda itu duduk di samping Zet, ketiganya mulai makan dan bercakap-cakap.


“Permisi. Bukan maksudku ikut campur, tapi tidakkah sebaiknya sebagai laki-laki kau membuka tudungmu saat makan?” tanya si gadis berjilbab. “Itu tidak sopan lho, kecuali kau ini wanita.”


Zet berkata ketus, “Itu bukan urusanmu. Biarkan aku habiskan makananku dengan tenang, atau sebaiknya aku pergi saja sekarang dari sini.”


Si pemuda rekan gadis itu menyela, “Tak perlu begitu, sobat. Menyisakan makanan di meja malah lebih tak sopan lagi. Silakan makan, kami tak akan mengganggumu.” Ia duduk di sebelah Zet.


Tapi pemuda lain, yang duduk tepat di depan Zet sempat melihat sekilas raut wajah Zet. “Tunggu dulu, bukankah kamu salah seorang anggota tim Odyscus Empat Musim? Siapa namamu?”


Dipojokkan seperti itu, Zet menjawab singkat, “Zet.” Ia cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan bergegas hendak keluar dari ruang makan.


Tapi si pemuda lain mencegat di depan Zet. “Hei! Sudah kubilang menyisakan makanan itu pantangan keras! Tunggu dulu... Zet... Zet dalam tim Odyscus... berarti nama lengkapmu adalah... Amazeta Dionisos!”


“Dionisos! Hah, beraninya seorang Dionisos menumpang di kapal Ular Pasir!” Pemuda lain yang bertubuh agak kekar menghadang pula di depan Zet. Disusul oleh tiga, empat orang pemuda lagi, sehingga kini Zet dalam posisi terkepung.


“Ini kesempatan emas! Ayo kita hajar dia habis-habisan sampai mati lalu buang ke laut! Pihak Kesultanan tak akan tahu kita telah berhasil membalaskan dendam rakyat dan prajurit Ular Pasir, biar kehormatan ini dikembalikan untuk rakyat saja!”


Tak ayal, keringat dingin Zet bercucuran. Tak ada peluang baginya untuk lolos dari perkelahian di atas kapal layar udara ini.


Tiba-tiba, dengan gerakan cukup lincah seorang penumpang pria menyeruak maju dan mengambil posisi berdiri di antara Zet dan para pengepungnya. Tanpa basa-basi, pria berkulit gelap itu membuka tudungnya seraya berseru, “Jangan buat kekacauan di kapal layar terbang ini, atau aku yang akan melemparkan kalian semua dari langit.”


Sadar kalau pria itu sedang melindunginya, Zet maju, penasaran ingin melihat wajah pria yang berdiri memunggunginya itu. Namun pria itu malah merentangkan satu tangan, menghalangi Zet.


“Tetap berdiri di tempatmu, Zet,” tegur si pria tinggi-besar itu sambil menoleh ke belakang. “Kalau yang terburuk terjadi, aku tak mau kau di posisi yang salah dan terkena imbasnya.”


Melihat sebagian wajahnya saja, Zet langsung mengenali sosok sakti mandraguna yang pernah menolongnya dulu itu. “P-pak... Singh?!” serunya.


“Narayanan Singh, siap membantu,” balas Singh sambil kembali memusatkan perhatian pada para pengeroyok. Kedua kepalan tangannya berpendar warna cokelat dan aura energi yang terpancar di tubuhnya pun berwarna cokelat.


“Minggir, pak! Itu buronan berbahaya, Amazeta Dionisos! Kami harus meringkusnya, kalau perlu membunuhnya demi membalaskan sakit hati rakyat Ular Pasir!” hardik salah seorang pengepung.


“Enak saja!” seru Zet. “Bagaimana dengan sakit hati rakyat Empat Musim? Apalagi warga Pilar Pualam yang kotanya diserbu mendadak tanpa peringatan, tanpa deklarasi perang. Dasar orang-orang tak tahu malu! Seharusnya kami yang menuntut balas pada kalian, tapi itu tak kami lakukan. Kami sudah menerima permohonan maaf kalian, tapi Sultan kalian saja yang berusaha menutupi kesalahannya dengan bertindak berlebihan! Lagipula dendam yang seharusnya ditujukan pada Sultan itu sudah terbalaskan, kalian tak perlu memperpanjangnya lagi!”


Singh menimpali, “Benar itu. Sekarang, biarkan kami keluar baik-baik dari ruangan ini. Jangan usik kami lagi sepanjang perjalanan ini, atau dengan kekuatanku dan kekuatan dua arcanum, kami akan menghukum kalian.”


Peringatan Singh dan pidato Zet itu berhasil menggugah akal sehat orang-orang Ular Pasir yang kebanyakan mahasiswa itu. Mereka mundur dan kembali ke tempat duduk masing-masing.


Zet dan Singh cepat-cepat keluar dari ruang makan itu, memakai tudung dan cadar mereka lalu berjalan menyusuri geladak.


Sesampainya mereka di ruangan Zet di dek bawah, barulah Singh angkat bicara, “Aku yakin kau punya banyak pertanyaan untukku. Silakan bicara.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-