The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
25 : RENCANA



“Kau harus mengembalikan arcanum itu ke tempatnya, Zet.”


Perkataan Rhea barusan sejalan dengan cerita kemarin. Namun melintang di pikiran Zet. Ia tak setuju. “Tapi, seseorang mengatakan aku harus menyimpan arcanum itu untuk menyelamatkan dunia, Bu.”


“Seseorang ...? Menyelamatkan dunia?”


Zet mengumpulkan keberanian. Baru kali pertama, ia mengatakan hal ini kepada orang lain. “Apa Ibu percaya dengan adanya hantu?”


Ibunya cuma menaikkan sebelah alis. “Hantu macam apa yang kau maksud?”


“Ya, aku tahu ini terdengar menggelikan. Tapi ada roh yang datang menemuiku, berkata begitu.”


Rhea tersenyum simpul dan merapikan ujung rambut putranya. “Zet, terkadang manusia memiliki angan yang sangat tinggi sekaligus mulia. Apakah kau yakin roh itu bukan berasal dari isi hatimu sendiri?”


Pemuda itu terdiam sejenak. Benarkah Yun Lao hanyalah manifestasi dari keinginan dan hasrat terbesarnya selama ini? Bukankah kalau begitu berarti Zet sudah tidak waras dan telah berpikir berlebihan?


“Sebetulnya, Zet,” Rhea meneruskan, “dunia akan jauh lebih aman tanpa adanya arcanum. Kekuatan besar itu adalah pemberian sekaligus kutukan. Ia cenderung dimanfaatkan nafsu untuk mengalahkan manusia lain. Ibu telah melampaui masa-masa itu, dan menyimpulkan bahwa memakai arcanum tak lebih dari pemusnahan massal dan senjata yang berlebihan.”


Zet berpikir dengan lebih keras. Ia masih tidak percaya dirinya dianggap gila, bahkan oleh ibunya sendiri. “Kondisi dunia yang sekarang beda dengan zaman Ibu dulu.” Pemuda itu menjelaskan dengan tampang serius, karena Rhea seakan terus menampik fakta bahwa perang tidak mungkin akan terjadi. Padahal Rhea sendiri sudah sepuluh tahun tidak keluar dari tempat ini. Bukankah bisa saja justru ibunya yang tidak tahu menahu soal realitas? “Kubah Malam dan Empat Musim sekarang telah menjadi sekutu. Bahkan, Raja Taraghlan membiayai sekolah perguruan bagi para remaja yang terpilih, termasuk aku, untuk menjadi prajurit bintang. Ini adalah untuk antisipasi, karena di sisi lain, Kerajaan Ular Pasir membeli banyak senjata dari Kerajaan Fajar Emas untuk kembali menyerang Kubah Malam. Aku bicara soal negara sebesar dan sekaya Fajar Emas, yang dari dulu independen dan tidak mudah terpengaruh. Sekarang bahkan mau turun tangan dan ikut dalam pertempuran ini. Jika sampai itu terjadi, perang dunia kedua ini benar-benar akan memusnahkan segala-galanya. Harus ada pihak netral yang mau menghentikannya. Tidak ada pihak netral yang melebihi kekuatan mereka. Kecuali jika ada seseorang yang memegang kelima arcana.”


Rhea sedikit tak mengerti dengan motif para penguasa kerajaan masa kini, jika cerita dari Zet benar. “Tapi kenapa? Ular Pasir seharusnya kembali ke Utara dengan tenang, setelah aku menyerahkan diri ke Kubah Malam. Apa itu masih tidak cukup? Apakah Ular Pasir sudah lupa janji damai mereka kepada para Padang Sabana yang telah kami saksikan?”


Zet jadi meragu. Ia ikut merasakan kekecewaan yang Rhea tampakkan. Pengorbanan ibunya akan menjadi sia-sia, jika memang desas-desus ini benar akan terjadi. Namun ia pun juga tak ingin tutup mata bahwa memang Ular Pasir bisa saja sekejam itu. Siapa pun bisa menjadi apa pun demi tujuan tertentu.


Namun Rhea punya pendapat lain. “Aku jadi curiga, kalau-kalau Kubah Malam masih saja ingin menghancurkan Ular Pasir, bahkan setelah arcana disembunyikan.” Rhea bertanya-tanya. “Dan jangan-jangan mereka hanya mengarang cerita tentang senjata dari Fajar Emas, dengan tujuan untuk membenarkan perbuatan keji mereka. Zet, kau tak bisa percaya sepenuhnya kepada Kerajaan Kubah Malam. Ibumu ini sedikit banyak sudah tahu borok dari kerajaan ini.”


Jujur, ini tidak akan selesai jika dibahas. Masih banyak hal yang belum keduanya ketahui, dan pada akhirnya berakhir sebagai spekulasi, yang mana sangat berbahaya apabila digunakan untuk menilai suatu keadaan. Kebenaran masih sangat abu-abu. Zet menyudahi pembicaraan itu, tetapi bukan karena dia ingin, melainkan karena ada seseorang yang memergoki mereka berdua.


“Jangan kira, aku tidak memperhatikanmu, Nak!” Cahaya di belakangnya membuat pria tersebut hanya tampak seperti siluet bayangan hitam. Saat ia maju, barulah Zet bisa melihat dengan jelas codet besar mirip cecak di pipi kanan. Rambut pirang orang itu tipis dan tinggal tersisa beberapa helai di dahi. Mulutnya kering, disisipi gigi keropos dan gusi ompong di beberapa bagian.


Sewaktu Zet hendak berdiri, pria berkulit kusam itu malah ikut-ikutan duduk di lantai. “Kau anak baru di sini, kan?”


Zet mengangguk tak yakin. Apakah ia bisa percaya dengan orang ini?


Pria itu tertawa sejenak. “Enak sekali menjadi anak kecil. Selalu gesit dan tidak kelihatan, bisa saja pergi ke belakang dan lolos dari mata pengawas.”


Zet menoleh kepada ibunya, yang menjawab, “Dia adalah putraku, Singh. Dia akan ikut bersama kita.”


“Oh, jadi begitu?” Singh menggaruk cambangnya.


Sempat terkejut dengan sikap Rhea yang tampak biasa saja, dan Singh yang tampak tunduk dengannya, Zet mencoba tetap diam dan mendengarkan dulu. Pria itu memajukan kepala, sembari berbisik, “Oke, dengar. Penjara ini dikelilingi oleh para penjaga. Mereka berganti sif setiap pukul tujuh pagi dan tujuh malam. Aku tahu ada satu penjaga di pintu sebelah Timur—kebetulan dekat dengan selku—yang suka datang terlambat, sedangkan temannya yang biasa digantikan sif olehnya selalu pulang tepat waktu, meskipun dia belum datang. Kita bisa memanfaatkan kekosongan ini.”


“Kita benar-benar akan melakukannya?” tanya Zet setelah ia mampu mencerna keadaan.


Ibunya mengangguk.


“K-kapan kalau begitu?”


“Malam ini,” timpal Rhea.


“Sebentar, apa aku boleh tahu bagaimana rencananya?”


Singh menjelaskan kepada Zet yang masih terlihat kebingungan, “Orang-orang akan membuat keributan di sebelah Barat. Saat para penjaga berusaha menghentikan pertikaian mereka, kita akan mengendap-endap menuju Timur. Tepat saat terjadi kekosongan pergantian sif, aku akan membukakan pintu kalian dengan kunci duplikat.”


“Apakah di antara kalian ada yang bisa melakukan sihir? Itu akan mempermudah jika terjadi sesuatu.”


“Ada, Zet. Dan cukup banyak sebenarnya selain aku. Sayang, tempat ini disegel oleh para penyihir, sehingga tidak ada yang bisa melakukan sihir selama masih ada di dalam penjara,” jawab Rhea.


Singh menambahkan. “Ya, kita hanya bisa bertarung dengan senjata seadanya untuk keluar. Yang penting, jangan terlalu kentara saja.”


“Kita harus lolos. Sebab suatu saat kita akan kembali untuk menyelamatkan orang-orang yang masih ada di dalam sini. Kita punya utang kepada mereka,” ujar Rhea.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-