The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
61: ARGYLE MENGGILA



Pertandingan Odyscus antara Tim Kubah Malam dan Tim Empat Musim berlanjut.


Sejauh ini Zet sudah mendapatkan satu gol dan satu kali senyuman manis dari Kjelde. Namun yang kini baru ia dapatkan adalah seringai Argyle yang seperti serigala yang hendak mengincar dan menelan mangsanya bulat-bulat.


Terus terang, Zet tak tahu harus berbuat apa menghadapi gelagat tak beres dari pelari tercepat di Tim Kubah Malam itu. Yang jelas ia harus lebih hati-hati lagi, mengantisipasi tindakan apa yang bakal dilakukan orang yang sepertinya sudah gelap mata itu. Argyle memang bertugas mengawal Zet sesuai formasi yang telah disusun sebelumnya, namun bukan tak mungkin pemain-pemain Kubah Malam lain bakal mencoba menyulitkan Zet juga, contohnya Kjelde.


Apa-apaan itu tadi? Apa senyum Kjelde itu tulus, atau ia memang sengaja memanfaatkan kemiripan parasnya dengan Putri Catriona untuk mengacaukan konsentrasi Zet agar lemparan cakramnya melenceng dan tak jadi gol? Andai ia memang benar-benar Putri Catriona yang menyamar, tetap saja itu tindakan yang tak sportif.


Harus diakui Zet – agak sedikit – merindukan senyum Catriona yang terindah di dunia – menurutnya. Tapi tetap saja, bila senyum itu dikulum di saat yang tak tepat, keindahan itu jadi seperti arak yang manis namun keras, mampu membuat mabuk orang-orang yang tak kuat tekad.


Kabar baiknya, Zet sudah bisa kembali memusatkan perhatian pada pertandingan saat peluit dibunyikan. Kali ini Kjelde mengoper cakram pada Brynn, yang lalu saling mengoper silih berganti dengan Janos. Sedangkan Argyle hanya berlari saja sendirian dan paling depan, sama sekali tak kebagian operan. Sekali lagi, apa-apaan ini?


Memasuki daerah pertahanan  Empat Musim, Zet yang terus bergerak samping menyamping hanya dihalangi saja oleh Argyle. Gilanya, pemuda bertubuh lebih kecil dan pendek daripada Zet itu sama sekali tak memperhatikan cakram yang sedang digiring rekan-rekannya. Matanya hanya terus menatap nyalang ke arah Zet.


Tekanan nyata kini merundung Zet, yang kini bagai dihadang seekor serigala buas. Sedikit saja salah melangkah, siap-siap saja diterkam.


Di putaran ini, operan Brynn yang masih ke arah Janos dipatahkan oleh Simon, yang lalu menggiring, melayangkan cakram berbalik ke daerah pertahanan Kubah Malam.


Tapi gilanya, Argyle hanya mundur sedikit saja sampai ke tepat di belakang garis tengah lapangan, batas daerah pertahanan Kubah Malam. Zet hendak maju untuk membantu rekan-rekannya, tapi Argyle terus berlari cepat dan menghalangi niat Zet itu. Zet jadi seakan-akan berhadapan dengan dinding raksasa yang tinggi dan amat lebar, sama sekali tak ada ruang atau celah sedikitpun untuk menerobosnya.


Tanpa bantuan Zet, otomatis serangan Empat Musim jadi seperti trisula yang kehilangan satu bilahnya, pincang dan berat sebelah. Akibatnya, lemparan Miguel ke arah Simon berhasil dihalau oleh Janos, yang mengoperkannya lagi pada Brynn.


Keadaan serangan dan pertahanan berat sebelah ini terus terjadi dua kali lagi. Karena waktu sudah makin habis, daripada nanti terpaksa harus melakukan adu lemparan penalti, terpaksa Zoe, pelatih Tim Empat Musim melakukan manuver yang berani.


Saat lemparan Tim Kubah Malam lagi-lagi melenceng di samping gawang Empat Musim, ada isyarat dari wasit. “Pergantian pemain di Tim Empat Musim,” kata wasit. “Amazeta Dionisos keluar, Mirran Balski, masuk!”


Si gadis manis, Mirran Balski yang seharusnya jadi anggota tim utama dan bukan cadangan Empat Musim memasuki lapangan. Zet melangkah ke luar lapangan dengan gontai, lalu menghampiri Zoe dengan wajah bingung, penuh tanda tanya. Namun yang ia terima hanya ekspresi dingin Zoe yang tak sekejap pun melihat ke arahnya.


Zoe malah sibuk berseru untuk membuat Mirran tetap fokus. “Lakukan seperti yang kuminta, Mirran! Sesuaikan dengan gaya permainanmu!”


Sedikit catatan, Mirran pernah diturunkan sebagai pemain dalam tim utama di Babak Penyisihan, sebelum digantikan oleh Zet. Miran tak pernah mencetak gol, keahliannya adalah memberi umpan-umpan matang pada pemain lain agar mencetak gol. Hampir semua gol di pertandingan itu tercipta berkat umpannya. Sementara Zet yang menggantikannya masih meraba-raba, belum menemukan pola permainan terbaiknya hingga pertandingan kedua melawan Ular Pasir.


Kali ini Mirran diturunkan lagi. Apakah itu karena Zoe punya taktik baru dengan mengandalkan umpan-umpan Mirran, atau semata-mata untuk meredam “kegilaan” Argyle saja?


Daripada dianggap kekanak-kanakan, Zet duduk diam saja di bangku cadangan tanpa banyak ribut. Pandangan matanya menjelajah ke arah lapangan, mencari-cari seseorang. Orang yang dicari Zet itu ternyata adalah Argyle, yang masih terus menatapnya seperti elang.


Terbersit firasat buruk di benak Zet. Argyle sudah “menggila” dan itu tak akan reda, dengan atau tanpa Zet di lapangan. Sasaran Argyle “si serigala” beralih ke rekan-rekan Zet yang lain.


Peluit dibunyikan, kedua tim mulai bergerak. Entah ini lebih baik atau lebih buruk daripada saat ada Zet, selama sedikitnya dua kali giliran menguasai bola untuk masing-masing tim, tak ada satu gol pun yang tercipta.


Serangan-serangan yang dibangun dari operan-operan cepat Kubah Malam dipatahkan begitu saja. Hailey, si penjaga gawang menghalau lemparan Janos ke gawang, sedangkan Mirran berhasil mencuri cakram dari lawan yang bertubuh sama kecil dengannya, yaitu Argyle.


Di sisi lain, serangan-serangan Empat Musim yang berujung pada dua umpan matang dari Mirran dipatahkan semua oleh kecepatan gerakan Argyle yang menggila.


Kedudukan skor masih imbang satu lawan satu dan sisa waktu yang tinggal kurang dari lima menit memberi tekanan yang makin besar pada kedua tim. Sepertinya Kubah Malam hendak memaksakan adu penalti pada Empat Musim, juga memaksa mereka untuk bermain habis-habisan.


Tiba-tiba sekali, Argyle kembali melesat bagai bayangan. Saat Miguel hendak melempar cakram sambil mengecoh Kjelde si penjaga gawang, Argyle yang sudah mengulurkan tangan untuk merebut cakram dengan telekinesis bertabrakan keras dengan Miguel.


Kedua pemain itu jatuh, namun Miguel lebih parah karena kakinya terkilir, seperti terpelintir. Miguel bergulingan di tanah sambil memegangi kakinya yang terkilir dan berteriak kesakitan.


Melihat itu, Zet berteriak, “Miguel! Pak wasit, hukum Argyle! Itu pelanggaran serius!”


Yang terjadi berikutnya sudah bisa diduga. Wasit menghentikan pertandingan sejenak, memberi kesempatan pada para petugas medis untuk menandu Miguel ke luar lapangan. Saat melewati Zet, Zet melihat bengkak besar yang membieru di betis Miguel yang terkilir. Sudah pasti ada pemain cadangan lain yang bakal turun menggantikan Miguel.


“Zet, apa kau masih sanggup bertanding?” tanya Zoe.


Zet mengangguk. “Tentu saja!”


“Baiklah. Masuklah ke lapangan sambil aku memberitahu wasit.”


Setengah berlari, Zet kembali masuk area lapangan dan menempati posisi yang semula ditempati Miguel, yaitu pemain tengah.


“Zet, kau bertukar tempatlah dengan Mirran,” perintah Simon.


“Maaf Kapten, kurasa tak perlu,” usul Zet. “Aku punya akal, mungkin sebaiknya aku bertukar peran dengan Miran saja sekali-kali.” Ia memberi isyarat dengan mengedipkan sebelah mata.


“Baik, silakan dicoba.” Sang kapten menangkap maksud Zet itu dan mengangguk. “Tapi usahakan ini berhasil, menang atau kalah akan ditentukan dari gebrakan ini.”


“Ya, tapi aku akan butuh bantuanmu pula, Kapten.”


“Tak masalah. Kita akan menaklukkan Kubah Malam dengan taktik mereka sendiri.” Simon ikut mengedipkan sebelah mata pula.


Tinggal Mirran yang menatap bolak-balik ke arah Zet dan Simon sambil pasang wajah kebingungan.


“Pelanggaran keras! Hukuman peringatan kedua untuk Argyle!” seru wasit.


Karena tak menggunakan kartu seperti sepak bola modern, hukuman berupa peringatan pertama sampai ketiga disampaikan secara lisan dan hanya dicatat saja oleh juru tulis lomba.


Karena termasuk pelanggaran berat dan tampaknya Argyle tak sengaja, jadi ia hanya mendapat peringatan kedua saja. Satu pelanggaran lagi, entah besar atau kecil dan Argyle akan langsung dikeluarkan dari pertandingan dan Kubah Malam harus lanjut dengan tiga pemain saja.


Tentu saja ada “hadiah” bagi tim lawan. Wasit berseru, “Lemparan bebas untuk Empat Musim!”


Simonlah yang melakukan lemparan bebas itu. Cakram dilayangkan di atas tangannya, lalu ia melemparkannya setelah menentukan sasarannya. Dan si sasaran adalah Mirran.


Setelah “menangkap” cakram, Mirran berlari sambil melayangkannya. Argyle maju menghadang gadis itu, namun dengan cepat ia melemparkannya ke arah Zet di tengah.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-