The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
45 : NINA GNOSSIS



Segala semesta seolah telah ditata untuk membuka jalan menuju kekuatan dewata. Itulah yang dirasakan Zet saat ini. Tapi apakah takdir bakal menjadikannya seorang Master of Arcana?


Jawabannya adalah, belum tentu. Mungkin bukan Zet orangnya, tapi Zet harus tetap maju untuk mencari tahu jawaban pastinya di ujung perjalanan kelak.


Betapa tidak, di Universitas Langit Angkasa segala hal yang Zet butuhkan untuk naik tingkat dalam ilmu penguasaan arcanum tersedia untuk dipelajari. Apalagi ditambah arahan dari “guru spiritual” Zet, yaitu Yun Lao dan les privat dua arah bersama Kimiko Maru, latihan tenaga dalam Zet jadi maju amat pesat dan cepat seiring bulan demi bulan yang berlalu bagai angin.


Selama itu pula, Zet jadi makin jarang bertemu, apalagi bicara dengan senior pembimbingnya selama masa orientasi kampus, yaitu Nina Gnossis. Nina jadi bagai angin segar yang sudah lama berlalu begitu saja, hanya untuk terlupakan dan terkubur di bawah kesibukan kuliah yang menggunung.


Lagipula, mata kuliah-mata kuliah di Fakultas Supranatural Universitas Langit Angkasa tak melulu mempelajari kekuatan, sihir dan teknik bertarung. Jenis-jenis mata kuliah seperti Filsafat dan Kerohanian wajib diikuti. Keahlian-keahlian yang tak berhubungan dengan kekuatan supranatural juga dapat dipilih, padahal itu semua masuk di fakultas-fakultas lain.


Salah satu mata kuliah alternatif itu adalah Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Politik. Kelas itulah yang dihadiri oleh Zet sekarang.


Walaupun bermarga sama dengan Zet, yaitu Dionisos, Filian memilih kelas-kelas di Fakultas Ekonomi. Salah satu kelas pilihan itu bentrok waktunya dengan kelas Zet yang sekarang, jadi keduanya sedang tidak bersama-sama.


“Yah, maklumlah, Fili jelas lebih berminat untuk mengurus bisnis keluarganya ketimbang politik,” pikir Zet. “Padahal bahasan dalam kuliah ini amat menarik, amat berguna bagi sepak terjangku setelah lulus dari universitas kelak. Tapi tak apalah. Toh setelah ini ada kelas Ilmu Sihir lagi dengan Guru Kahsmir, jadi aku dan Fili bisa kompakan lagi.”


Setelah sesi kuliah di Kelas Hubungan Internasional itu selesai, Zet bergas kembali ke Fakultas Supranatural di tengah-tengah “Kota” Langit Angkasa.


Di tengah jalan, Zet berpapasan dengan seniornya, yaitu Nina Gnossis. Merasa tak punya urusan lagi dengan gadis yang bukan temannya itu selepas masa orientasi, Zet hanya melengos sambil berlalu begitu saja, tanpa menegur Nina.


Malah si rambut ikal yang menegur Zet. “Tunggu dulu, Zet! Tak sopan sekali kau, tak mau menegur seniormu ini! Padahal aku sudah repot-repot memandumu dan menjawab semua pertanyaanmu yang tak terhitung banyaknya selama masa orientasi kampus dulu!”


Zet menjawab dengan nada malas, “Lho, bukankah dulu kau bilang aku ini gila pamrih? Bukankah dengan membimbingku, kau telah melakukan kerja suka rela tanpa harus menuntut balasan? Kalau kau melakukannya, bukankah itu berarti kau juga gila pamrih?”


“Bukankah aku ini temanmu, Zet? Kita teman setanah air, bukan? Bukankah para mahasiswa dari negara-negara yang sama harus terus saling membantu?”


“Begini, sepertinya ada dua hal yang perlu kita luruskan,” sergah Zet. “Pertama, kita memang setanah air, tapi kita tidak dengan sendirinya berteman, bukan? Dan yang kedua, aku ingin berteman dengan para mahasiswa dari negeri-negeri lain juga, tak hanya dari negeri sendiri, apalagi negeri induk kita dan sekutu-sekutunya.”


“Tapi bukankah Empat Musim, negeri induk kita sedang dalam kondisi perang dingin dengan negeri-negeri adi daya lainnya? Lebih baik kita menghindari orang-orang asing non-sekutu Empat Musim daripada memancing pergesekan lagi. Seperti insiden antara kau dan tim Odyscus Fajar Emas itu, ingat kan?”


“Aku masih ingat. Tapi aku masih ingat pula pesan ayahku. Kata ayah, aku harus selalu ingat bahwa nama asli negeri kita adalah Kerajaan Pilar Pualam. Setelah menyerah pada Empat Musim, negeri kita disatukan dan ibu kota kita dijadikan ibu kota baru Kerajaan Empat Musim. Dengan demikian, Pilar Pualam dianggap telah punah.


Lebih parahnya lagi, Empat Musim melarang rakyat Pilar Pualam menyebut nama asli negeri sendiri, dengan ganjaran hukuman penjara sampai dengan hukuman mati. Tapi kini aku telah menyebutkannya, apakah kau akan melaporkanku pada Raja Empat Musim?”


Nina menggeleng cukup tegas. “Tidak, tapi kita memang didaulat mewakili Empat Musim sekarang dan harus bersumpah bahwa Empat Musim adalah tanah air kita, bukan ‘negeri yang harus dilupakan’ itu.”


“Itu benar. Walau tak terucap, nama sejati negeri kita harus tetap terpahat dalam, indah dan tegas dalam hati kita masing-masing. Aku jelas ingin kita merdeka dari Empat Musim, tapi dengan cara-cara yang benar dan tak sampai mengusik keseimbangan dan perdamaian di dunia kita, Terra Revia yang tercinta.”


“Ada satu lagi wejangan dari ayahku, ‘Dinding yang kotor harus dikerik catnya sampai mengelupas, supaya bisa dicat lagi dengan yang baru’.”


“Apa artinya itu?”


“Agar dapat memperbaiki apa pun, termasuk hubungan antar negara, kita tak bisa hanya diam saja. Kita harus mencoba berdiplomasi dengan mereka, mencari tahu akar masalahnya supaya dapat mencari solusi yang tepat.


Dalam proses diplomasi, bisa saja terjadi pergesekan kepentingan seperti dinding yang dikerik. Kalau kita langsung menerapkan solusi dari pendapat sendiri, masalah itu akan tetap ada. Seperti kotoran yang masih tetap tampak bila dinding langsung dilapisi dengan cat baru begitu saja.”


Nina hanya terpana. Tak sedetikpun ia menduga, pemikiran sedalam itu datang dari adik kelas yang terkesan masih lugu. Ia tak tahu, pengalaman traumatis dan kengerian dari perang telah mengubah cara pikir Zet.


Kalau dulu Zet hanya ingin masuk Universitas Langit Angkasa agar tak diremehkan oleh kakak, adik, sepupu-sepupu dan sanak keluarganya, kini ia sedang berjuang untuk menciptakan perdamaian dengan cara-cara diplomasi. Jadi bukan dengan cara mengkultivasi kekuatan hingga ke taraf digdaya lalu dijadikan alat paksa untuk memaksakan, mencekokkan perdamaian pada negeri-negeri yang bertikai.


Untuk tujuan itu pulalah Zet memilih Ilmu Politik dan Hubungan Internasional sebagai salah satu mata kuliah pilihan bebasnya.


“Jadi begitu rupanya,” ujar Nina sambil membetulkan letak kacamatanya. “Ayahmu ternyata amat bijaksana ya, Zet. Baiklah, mulai sekarang aku tak akan bersikap tak bersahabat lagi dengan para mahasiswa non Empat Musim dan sekutu-sekutunya lagi. Tapi aku tak bisa janji untuk bersahabat dengan mereka.”


“Yah, itu kan tergantung sikap mereka pada kita juga.” Zet mengangkat bahu. “Setidaknya kita sudah mengusahakan pendekatan damai, seperti yang kulakukan pada Rick dan teman-temannya dari Negeri Fajar Emas waktu itu. Jadi, walaupun tanggapan mereka tak sesuai harapan, jangan pernah berhenti berusaha.”


“Akan kuingat itu baik-baik,” jawab Nina sambil pasang senyum polos, entah itu sungguhan atau sandiwara saja.


“Ya sudah, aku harus ke kelas Ilmu Sihir dulu, jangan sampai terlambat.” Zet cepat-cepat melangkah untuk membuktikan kata-katanya bukan mengada-ada untuk menghindari Nina.


Namun lagi-lagi Nina pasang badan di depan Zet. “Tunggu sebentar. Sebenarnya aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki sesuatu yang penting.”


“Nanti saja bicarakan itu lagi.”


“Ya sudah. Temuilah aku jam tujuh nanti malam di sayap timur laut kompleks universitas, di Jurusan Botani. Aku akan menerangkan segala sesuatunya di sana.”


“Ya sudah, daah.”


Nina berteriak dari belakang Zet yang berjalan makin cepat, “Kumohon datanglah, bantulah aku! Masalah ini mungkin lebih besar dan lebih penting daripada yang kau kira!”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-