The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
57: FORMASI KHAMSIN



Pertandingan antara Tim Empat Musim dan Tim Ular Pasir masih berlangsung.


Menghadapi Formasi Khamsin Ular Pasir yang seperti badai pasir panas yang menggulung dan melanda bagai dinding yang melesat dan merapat itu, Zet terpaksa memutuskan untuk menuruti perintah kapten Tim Empat Musim yang berpengalaman.


Zet berbalik dan berlari secepat kakinya melangkah, lalu membentuk pagar betis bersama Simon, Miguel dan Hailey di depan gawang Empat Musim.


Kali ini, keempat pemain Ular Pasir berlari berjajar lurus, dengan kedua tangan terulur ke belakang punggung masing-masing.


“Awas, cakram bisa datang dari siapa saja! Mereka menyembunyikan cakram di balik punggung lalu dioper ke tiap anggota tanpa bisa dilihat oleh semua pemain tim lawan!” seru Simon cepat.


Zet menatap keempat insan itu lekat-lekat, tak berkedip sedikitpun. Tiba-tiba, ia melihat Mustafa bergerak seolah-olah hendak menembakkan cakram atau mengerahkan jurus anehnya seperti tadi. Refleks, Zet maju hendak memblokir dan merebut cakram dari kapten tim lawan.


“Jangan, Zet!” Peringatan Simon terlambat. Mustafa dengan sengaja memperlihatkan tangannya yang dua-duanya kosong, tak melayangkan cakram.


“Gawat!” teriak Zet. Ia hendak berbalik tapi juga terlambat karena Mustafa menghalanginya.


Ternyata Rizqi, Fatima dan Ahmed saling mengoper satu sama lain dengan cepat, sehingga sulit menentukan siapa yang bakal menyerang. Karena Zet sudah terpancing keluar dari formasi, Ahmed yang kebetulan “memegang” cakramlah yang menembak ke celah yang kosong dari tempat Zet berdiri tadi.


Simon, Miguel dan Hailey mengulurkan tangan hendak menahan atau menghalau cakram, tapi terlambat. Cakram melesak lagi ke dalam gawang Tim Empat Musim.


“Gool! Formasi Khamsin berhasil lagi! Sungguh permainan yang luar biasa dari Tim Ular Pasir, menghasilkan keunggulan dua-satu dari Empat Musim!” seru si komentator.


Seluruh kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik.


Saat kembali ke formasi masing-masing dan time-out untuk putaran berikutnya, Miguel mendamprat Zet, “Kau ini bagaimana sih, Zet? Masa’ tertipu oleh trik murahan si Mustafa itu?” Matanya melotot, namun matanya masih tetap kelihatan seperti mengantuk.


Hailey menimpali, “Aku jadi ragu, sebenarnya kau pantas atau tidak masuk tim inti!?” Penampilan gadis yang satu ini lebih menjurus ke atletis ketimbang cantik.


“Sudahlah, Zet ‘kan belum banyak pengalaman,” kata Simon, si kapten berkulit agak gelap dan berambut cepak itu dengan nada berwibawa. “Kalau aku jadi Zet seperti diriku pernah jadi yunior waktu itu, aku pasti juga bisa terpedaya trik-trik lawan.”


Miguel dan Hailey tak berkomentar lagi. Mereka mungkin baru ingat bahwa dulu mereka pernah jadi “hijau” seperti Zet.


“Tak usah menyalahkan siapa-siapa. Kita lanjutkan saja pertandingan. Zet, kemarilah, aku punya beberapa ide bagus untukmu.”


Zet mendekat. Simon lantas membisikkan sesuatu di telinganya, membuat wajah Zet yang semula muram jadi sedikit cerah.


“Yah, tak ada jaminan ini akan berhasil, tapi setidaknya kita bisa mencobanya, “ kata Simon sambil mengedipkan sebelah matanya. “Ayo kita balas si Ular Pasir itu.”


Dua putaran selanjutnya berlangsung cukup sengit, namun tak satu pun dari kedua tim itu yang berhasil mencetak gol.


Saat giliran Tim Empat Musim, Miguel menggiring cakram dan dihadang oleh Fatima. Miguel melewati Fatima dan Rizqi berusaha merebut cakram darinya. Jadi Miguel memutuskan untuk mengoper cakram itu pada Simon.


Baru beberapa langkah Simon berlari, tampak Mustafa mendekat hendak merebut cakram darinya. Tanpa pikir panjang, Simon mengoper cakram ke satu arah, lalu ditangkap oleh Zet yang memang ada di posisi itu.


“Mau mengecohku dengan teknik dasar? Jangan harap!” Mustafa berbalik amat cepat dan mengibaskan tangan ke arah Zet. Namun Zet dengan amat cepat malah mengoper pada Simon.


“Mudah sekali terbaca!” Ternyata gerakan Mustafa ke Zet tadi hanya tipuan, karena posisinya jadi amat dekat ke Simon. Sekali mengaktifkan telekinesis, cakram akan dengan mudah berpindah ke atas tangan Mustafa.


Di jarak sedekat itu, Ahmed tak sempat menghalau. Cakram melesat amat cepat dengan lintasan melengkung, lalu melesak ke dalam gawang Ular Pasir.


“Gol yang amat apik, Empat Musim! Kedudukan imbang, dua sama!” seru komentator.


“Grrh! Mereka memperhitungkan jarak antara posisi operan dan gawang! Lalu operan yang seharusnya hanya dua kali bisa dijadikan berkali-kali tanpa gagal! Semula hanya Kubah Malam saja yang bisa begitu, tapi kini Empat Musim juga bisa! Awas kau Empat Musim! Time out!”


Mustafa menggunakan waktu yang diberikan oleh wasit untuk berembug dengan para anggota timnya. Sempat terjadi perdebatan singkat yang cukup alot, tapi saat waktu jeda habis, semua anggota Tim Ular Pasir mengangguk seolah-olah telah mencapai kesepakatan. Wajah-wajah mereka amat tegang, menebarkan tekanan yang amat nyata pada suasana pertandingan.


Saat peluit kembali dibunyikan, lagi-lagi keempat anggota Tim Ular Pasir berlari sejajar. Sepertinya mereka memang sudah nekad karena waktu hampir habis dan mereka tak mau melaksanakan adu lempar cakram penalti Lebih baik mempermalukan Empat Musim daripada dipermalukan dengan bermain imbang – atau kalah. Inilah kesempatan serangan terakhir yang harus dijadikan gol atau habislah sudah.


“Formasi Khamsin lagi,” sorak Zet dalam hati. “Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu!”


Mengingat Zet pernah terkecoh oleh formasi ini, kali ini ia jadi jauh lebih berhati-hati. Seekor kuda tak akan jatuh dua kali di lubang yang sama. Zet ambil ancang-ancang dan sengaja menunggu sampai badai terpaan empat orang berlari bersama itu masuk daerah pertahanan Tim Empat Musim. “Jahanam kalian, Empat Musim! Akan kami balaskan sakit hati Ular Pasir di sini, sekarang juga!”


Baru setelah mereka masuk dan hampir tiga jengkal dari tempat Zet berdiri, tiba-tiba Zet melompat dan bersalto tinggi-tinggi. Para anggota Ular Pasir lewat di bawahnya. Zet lantas cepat-cepat berbalik dan melihat cakram sedang dioper-oper di belakang punggung antara Mustafa, Rizqi, Fatima dan Ahmed.


“Maaf, kuambil ini dulu ya.” Dengan cepat Zet mengulurkan tangan dan menarik cakram dari atas tangan Rizqi. Lalu dengan secepat kilat ia membawa cakram itu berlari ke satu arah, yaitu gawang Tim Ular Pasir.


Terkejut luar biasa, keempat anggota Ular Pasir seketika menghentikan langkah mereka, berbalik cepat dan berlari sekuat tenaga untuk menjegal Zet. Walaupun harus mengorbankan satu-dua pemain, setidaknya Zet harus dilumpuhkan terlebih dahulu. Mereka kini nekad menghalalkan segala cara, termasuk yang selama ini mereka haramkan.


Namun Zet lebih cepat dari pada dugaan mereka. Tanpa harus memusatkan tenaga dalam di kaki-kakinya, yang mana itu dilarang, Zet yang merasa cukup dekat ke gawang tim lawan langsung melemparkan cakramnya lurus ke arah gawang. Langkah kakinya berhenti, ia hanya menoleh saja sambil melihat Mustafa dan teman-temannya menggapai-gapai ke arah cakram.


Apa mau dikata, sekuat apapun daya telekinesis atau sihir pelayang yang dimiliki, tetap saja tak cukup untuk mencegah cakram masuk, lalu terjerat di jala-jala gawang Tim Ular Pasir.


“Ruuarrr biasa!” teriak si komentator dengan gaya berlebihan. “Tim Negeri Empat Musim berhasil mengejar ketertinggalannya dari Tim Ular Pasir, bahkan berbalik unggul dengan skor tiga lawan dua!”


Lalu terdengarlah bunyi peluit panjang. “Ah, itu dia tanda waktu habis dan pertandingan telah selesai. Jadi kini kita dapatkan pemenang untuk maju ke Babak Empat Besar, yaitu Tim Empat Musim! Selamat untuk kalian!”


Terjadilah sesuatu di lapangan. Zet yang berdiri diam di tengah lapangan dihampiri bukan oleh para seniornya di Tim Empat Musim, melainkan seperti dikepung rapat oleh para anggota tim lawan dari Negeri Ular Pasir. Ini gawat, apakah mereka akan mengeroyok Zet di sini?


Namun Zet tak gentar sedikitpun. Ditatapnyalah pemuda berkulit agak gelap dengan rambut berombak indah itu. Ia lantas bicara, “Ada apa? Apa kalian ingin menuntaskan dendam di sini, sekarang juga? Silakan, toh paling-paling kalian hanya akan mendapat sanksi indisipliner saja.”


Mewakili rekan-rekannya, Mustafa menggeleng. “Tidak. Kau telah mengalahkan kami dengan adil dan jujur. Kau telah melihat titik lemah Formasi Khamsin dan memanfaatkannya dengan amat apik. Kami tidak akan menyinggung masalah insiden yang lalu antara Empat Musim dan Ular Pasir, namun kami tetap akan menyampaikan satu hal, bahwa kau, Amazeta adalah orang yang jujur dan terhormat. Untuk itu, terimalah rasa hormat kami.”


Keempat anggota Tim Ular Pasir membungkuk sebagai penghormatan ke arah Zet. Ketiga anggota Tim Empat Musim yang lain, beserta Zoe dan segelintir penonton sudah terlanjur maju dan melihat Zet dan Tim Ular Pasir tidak bertengkar, malah saling memberi hormat.


“Terima kasih, Mustafa. Semoga kita akan bisa bertanding lagi lain kali dalam suasana yang lebih bersahabat,” kata Zet sambil tersenyum.


“Aku tak bisa menjamin itu,” tanggap Mustafa. “Tapi aku bisa memastikan satu hal, lain kali Tim Ular Pasir pasti bakal mengalahkan Tim Empat Musim dengan jujur dan adil pula.”


\==oOo==


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-