The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
69: TERKEPUNG



Pada umumnya, bahaya terbesar di setiap hutan lebat adalah serangan mendadak hewan buas atau monster dari tempat-tempat tersembunyi. Entah itu rerimbunan daun, cabang pohon yang tinggi, lubang pohon atau batang pohon yang amat tebal sehingga mustahil ditebang dengan kapak biasa.


Apalagi di Hutan Regenerasi, yang penuh dengan daya kehidupan dan regenerasi yang selalu terbarukan. Pohon-pohon di sana rata-rata berusia ribuan tahun dan tinggi menjulang, seakan-akan menutupi langit seperti halnya Kota Pohon Hayat, Yggdrasil di pusat Negeri Kubah Malam.


Jadi, wajar saja siapapun pasti tak menduga kalau para hewan buas dan monster, tepatnya monster yang tercipta dari hewan-hewan buas yang bermutasi akibat pembusukan bakal berkumpul dalam jumlah yang amat banyak dan menyerang langsung ke tempat terbuka.


Itulah yang bakal menimpa Zet dan ketiga rekan seregunya, yaitu Filian, Nina dan Kimiko.


Satu-satunya kabar baik, untunglah Zet mengajak Kimiko yang adalah seorang ninja dan mengizinkannya memantau situasi jauh di depan sebagai mata-mata. Kabar paling vital tentang akan terjadinya pengepungan ini yang dibawa Kimiko memberi kesempatan pada tim Zet untuk bersiap-siap di posisi masing-masing. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah pohon tunggal yang lebih besar daripada pohon manapun, tapi hanya ada sedikit pohon di sebelah pohon itu dan ada tebing bukit yang tinggi di latar belakangnya.


Kimiko tentunya di cabang pohon, siap dengan tenaga dalam ninjutsu dan sepasang wakizashi, yaitu pedang yang bilah melengkungnya lebih pendek daripada pedang panjang katana dan sedikit lebih panjang daripada belati, juga beberapa proyektil terbang tajam, shuriken.


Filian dan Zet membuat semacam pagar betis di bawah Kimiko, siap dengan pedang dan perisai bulat masing-masing untuk pertarungan jarak dekat. Sedangkan Nina, tentunya penyihir itu mengambil posisi antara pohon dan pagar betis Zet dan Filian. Ia sibuk menghimpun energi mana dibantu tongkat sihirnya, siap untuk menghanguskan banyak musuh sekaligus di tempat terbuka luas dengan sihir apinya.


Diam-diam, Zet meraba kalung kristal arcanum air yang tergantung dan rapat di depan dadanya. Ia membatin, “Tak kusangka aku akan mengaktifkan arcanum saat menghadapi monster busuk besar dan terlalu kuat seperti kali lalu. Maafkan aku, ibu, tapi sesaat setelah aku menggunakan arcanumku di depan umum, aku seakan sudah terikat dengannya selamanya.


Sejauh apapun aku pergi, tetap saja arcanum ini memanggilku kembali. Katakan saja aku ini budak atau semacamnya, tapi aku hanya bisa terbebas dari ini bila Yun Lao tak lagi hadir di hadapanku, pergi ke akhirat saja. Satu-satunya jalan agar ia pergi hanya terus menggunakan dan mengumpulkan semua arcanum, sampai aku menjadi Master of Arcana.”


Filian menyahut, “Apa kau yakin dengan pilihan tempatmu ini, Zet? Bukankah ini masih terlalu terbuka?”


“Yah, apa boleh buat,” kata Zet. “Kalau saja memang ada tempat yang lebih baik daripada ini. Sebagai calon ahli strategi, apa kau punya usul?”


“Jangan sebut aku seperti itu, sepupu. Dalam hal penentuan posisi dan strategi tempur, kuakui kau lebih mahir daripada aku.”


Lucunya, kali ini Nina diam saja. Sebenarnya itu wajar, karena ia sedang berkonsentrasi untuk menghimpun energi mana sihirnya. Perlu waktu cukup banyak sampai ia tiba di tingkat energi pamungkas agar dapat merapal sihir tingkat tinggi.


Yang lebih wajar adalah Kimiko Maru, yang lebih banyak melihat jauh dengan tatapan setajam mata elang daripada bicara. Kalaupun ia bicara, itu hanya hal-hal yang penting saja seperti yang ia katakan saat ini, “Siap, semuanya! Mereka sudah datang!”


Zet, Filian dan Nina siaga seketika. “Ingat taktik yang telah kita sepakati tadi!” seru Zet. “Kumpulkan dan tahan musuh sampai berkerumun dalam jumlah yang cukup banyak di depan kita, lalu Nina akan menghujani mereka dengan bola-bola api!”


Kimiko menyiapkan shuriken di kedua telapak tangannya, yang telah dialiri tenaga dalam. “Ya, kalau sampai ada yang melarikan diri, kita hantui atau buru dia sampai mati.”


Segera, raungan-raungan dan lolongan-lolongan mengerikan terdengar dari kejauhan, ditambah deru gemuruh bunyi derap langkah kaki dan tanah yang mulai bergetar.


Yang tampak kemudian adalah pelbagai macam hewan, besar dan kecil yang sudah tidak tampak seperti hewan lagi. Akibat pembusukan, tubuh mereka jadi berubah bentuk dan tak lagi beraturan. Wajah masing-masing monster itu terlihat mengerikan, seolah-olah telah dibuat melebar kesana-kemari, disertai taring yang selalu terlihat walau dengan moncong terkatup. Banyak pula monster yang tampak tulang yang mencuat dari salah satu atau kedua sisi tubuh, kepala sampai kaki mereka.


Zet tak sempat melihat musuh lebih detil lagi. Ia segera mengaktifkan energi air pada arcanum air di kalungnya dan memadukan energi itu pada tenaga dalamnya sendiri. Alhasil, setiap sabetan pedangnya diperkuat dengan energi arcana. Dengan mudah ia memenggal kepala monster rusa terdekat yang hendak menanduknya.


Monster yang mendekat makin banyak. Tak sempat menoleh pada Filian, Zet terus bertarung sambil berseru, “Ingat, gunakan tenaga dalam dan penggal kepala mereka! Kalaupun mereka beregenerasi, kepala mereka takkan bisa tumbuh kembali dan mereka akan sulit bergerak!”


“Ya, seperti kali lalu!” balas Filian. “Kau berkonsentrasilah pada sisi bagianmu, percayakanlah sisi ini padaku!”


Diyakinkan seperti itu, Zet bergerak lebih lincah lagi. Kadang ia berputar, melompat, bahkan berguling-guling di tanah. Sudah tak terhitung lagi berapa monster yang berhasil ia penggal.


Gawatnya, musuh yang datang makin banyak. Zet mulai kewalahan dikeroyok puluhan monster sekaligus. Ia bahkan sempat terluka terkena cakaran seekor monster serigala.


Gerakan “tarian pedang” Zet mulai kacau. Jurus-jurus yang diajarkan ayahnya, Aeron jadi tak beraturan lagi. Serangan beberapa monter menambah luka-luka baru di sekujur tubuh langsing Zet sehingga ia berteriak kesakitan.


Di saat seperti inilah Zet terpaksa mengerahkan jurus andalannya. Ia berputar-putar sambil berlari dan melompat kesana kemari dan menyabet-nyabetkan pedangnya tanpa henti.


Pedang berhasil mencacah beberapa monster. Namun kebanyakan dari yang terkena serangan itu tak sampai terpenggal kepalanya. Akibatnya, tubuh-tubuh busuk itu beregenerasi, pulih kembali dan para monster menyerbu lagi.


Baru saat itulah Zet sadar ia telah menggunakan jurus yang salah. Energi arcanumnya jadi sia-sia dan ia harus mengerahkan semua energi simpanannya yang tersisa, berganti ke jurus lain.


Zet menyalurkan energi arcanum ke kedua kakinya, sedangkan tenaga dalamnya ke bilah pedang. Gerakan yang dihasilkan adalah kakinya bergerak lincah dan luwes bagai aliran air. Dengan demikian Zet dapat lebih mudah menghindari keroyokan dan serangan sebanyak apapun dengan luka-luka minimal. Ia juga lebih mudah bergerak ke posisi yang bagus untuk menyerang lebih akurat. Kepala monster yang ia penggal jauh lebih banyak daripada jurus pertama tadi.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-