
Seperti janjinya, Putri Catriona kembali beberapa hari kemudian. Mereka melepas rindu hampir seperti sepasang kekasih yang lama tak bertemu. Menurut Yun Lao itu berlebihan dan terlalu cepat. Atau jangan-jangan ada sesuatu yang sedang terjadi antara Putri Catriona dan Zet? Entahlah, seorang hantu pun tak bisa menilai dalamnya hati seseorang. Jenderal Pan mengikuti dari belakang. Ia ikut bercengkerama seolah tak ada yang terjadi di balik layar. Sungguh pemain lakon yang ulung.
“Zet, aku sudah berbicara ke Ayah soal keberadaanmu.”
Yun Lao terkesan. Teknik manipulasi apa lagi yang Putri Catriona dan Jenderal Pan lancarkan sekarang? Seolah baru pertama kali mendengar berita itu, Zet pura-pura kaget. “Wow, tunggu, kau ... bilang ke—.”
“Ya,” sahut Jenderal Pan sambil mengemut ujung pipa kretek, “jangan khawatir tapi, Zet. Karena Tuan Putri Catriona sudah berhasil meyakinkan Raja Taraghlan. Menghukummu hanya karena sentimen pribadi, adalah salah dan bukan cara seorang Raja memecahkan masalah.”
Zet tertawa hambar. “Oh, jadi sekarang Raja memaafkanku? Terima kasih Putri, tapi bagaimana dengan Pangeran Barra?”
Putri Catriona memandang Jenderal Pan, lalu menoleh ke arah Zet. “Sayangnya, dia tetap bersikeras, tidak mau menyerahkan kalungmu.”
Kulit di dahi Zet mengerut. “Tapi kenapa? Dia tidak bisa menggunakannya, bukan? Setahuku arcanum tidak akan berguna kalau tidak berada di tangan orang yang terpilih.”
“Tidak juga,” Jenderal Pan yang sedari tadi duduk santai di gawang pintu mengembuskan asap ke luar ruangan, “segala sesuatu bisa dicurangi, termasuk kekuatan arcanum. Pangeran Barra masih bergantung pada harapan itu.”
Jujur Zet tidak bisa memikirkan hal tersebut. Siapa pun di luar sana bisa mengumpulkan kelima arcana dan menghancurkan dunia kalau begitu caranya.
“Mungkin kau sendiri yang harus bicara empat mata kepadanya,” tutur Putri Catriona dengan lembut, kemudian ia berdiri dan berjalan ke belakang.
Zet justru tak tahu bagaimana cara membujuk Si Pangeran. Keluarganya saja tidak ada yang bisa melakukannya, apalagi orang lain. Merepotkan saja.
[...]
Esok harinya, kereta dari kerajaan datang menjemput. Gara-gara kesaksian dari Yun Lao kemarin, Zet jadi sangsi. Apakah sebaiknya ia kabur lagi saja? Frekuensi denyut di jantungnya mendadak tinggi, merasa was-was dan memandangi para Prajurit Bintang dengan wajah kaku.
“Tenanglah,” ucap Putri Catriona menghibur sambil mengelus punggung tangan Zet. Agaknya, perempuan yang duduk di sampingnya itu menangkap kegelisahan Zet. “Kau percaya padaku, kan?”
Melihat senyum dan sorot mata yang tulus, membuat Zet tak bisa berkata tidak. Ia hanya menoleh dan melihat ke arah luar jendela. Kereta melaju dengan kecepatan sedang, mengantarkan mereka kembali ke jalanan utama kastel.
Zet langsung disuruh menghadap ke Raja Taraghlan. Di ruangan itu terdapat beberapa orang termasuk dua orang Jenderal selain Pan.
“Selamat datang kembali, Anakku.” Suara Raja Taraghlan menggelegar, bergema di ruangan luas dengan atap tinggi berongga-rongga. Raja itu tersenyum di balik kumis tebalnya, setelah mengangkat tubuh Zet yang tadinya mencoba berlutut. “Catriona benar. Kau tak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti kemarin. Aku meminta maaf secara pribadi.”
“S—saya berterima kasih, Paduka.” Mata Zet sempat berlarian ke sana ke mari. Tidak ada Pangeran Barra di sana. “Suatu kehormatan bagi saya,” lanjutnya kemudian sambil merunduk.
“Ya, mulai sekarang kau akan kubebaskan. Serta akan kukembalikan hakmu untuk masuk ke perguruan tinggi.”
“Tapi maaf harus mengatakannya. Salah satu dari orangku akan mengawasimu selama di sana. Jenderal Melvin yang akan melakukannya.” Jenderal yang paling muda maju lalu menunduk. “Karena sebetulnya mengenai arcanum, kami setuju kalau kau sendiri yang harus memegang benda pusaka itu. Kami harus menghormati keputusan para leluhur dan Dewa.”
Raja itu mendesah sambil kembali ke singgasananya di atas. “Sayangnya, Pangeran Barra kabur entah ke mana, sejak kemarin malam kami belum menemukannya.”
Yun Lao tidak mengerti. Ada sesuatu yang luput dari pengamatannya setelah kejadian semalam. Kalau tidak salah ingat, Pangeran Barra memang punya tugas untuk membuat Zet terpisah dari arcanum. Jadi ini rencana cadangan? Bagus sekali. Pangeran ***** itu membuat segalanya menjadi tak terprediksi.
[...]
Zet diberikan waktu untuk menunggu sampai diketemukannya Pangeran Barra. Namun ia tetap saja tak tenang dan ingin segera pulang. Ia mondar-mandir di taman depan kastel sambil berbicara sepelan mungkin dengan Yun Lao.
“Kau harus menemukan arcanum itu lebih dulu, dan pergi dari tempat terkutuk ini, Zet.”
“Kalau saja aku bisa melakukannya. Ah, tapi jangan, aku tidak bisa kabur. Maksudku, rencanaku akan ikut berantakan. Raja Taraghlan sudah memihak kepadaku sekarang, dan itu tentu sangat besar pengaruhnya. Setidaknya, berada di kubu Kubah Malam jauh lebih aman buatku, sambil melihat-lihat keadaan. Sekarang tujuan utamaku adalah mengambil kembali arcanum air itu sebelum Pangeran Barra menemukan cara untuk menguasainya.”
Yun Lao menarik napas pelan. “Aku pernah dengar kalau orang yang pernah mengendalikan arcanum bisa mencari lokasi dari arcanum tersebut. Kalian seperti dua makhluk berbeda rupa yang bisa berkomunikasi dari jarak jauh. Kau patut mencobanya, Zet.”
“B—bagaimana bisa? Aku harus apa?”
“Entahlah, mungkin bersemadi?” Yun Lao mengangkat bahunya sekilas. “Cobalah tenangkan diri, lupakan yang mengganggu pikiranmu saat ini.”
Tak ada salahnya melakukan sebuah uji coba, kalau memang tak ada cara lain yang lebih masuk akal. Zet mematuhi perintah Yun Lao. Ia mencari tempat yang rindang, dan duduk di atas rerumputan. Saat ia memejamkan mata, desau daun yang digerakkan angin sempat mendominasi indranya, selain rasa sejuk yang membelai lembut kulit putih Zet. Ia mengingat kembali bagaimana ia bisa mendapatkan gulungan di kamar ayah, lalu keesokannya ia berangkat ke hutan terlarang. Tak ada satu pun kejadian yang menyenangkan di sana. Kematian harimau putih, suara Siren, bertemu Medusa, dan kura-kura yang bicara. Saat mencebur ke air, Zet menemukan ada yang bersinar di sela-sela gigi buaya. Sinar itu semakin terang, seolah mengeluarkan suara selembut Siren dan tatapan yang membekukan seperti Medusa.
Penglihatan berikutnya yang ia saksikan adalah sebuah tangan menggenggam liontin air itu. Tak lain dan tak bukan, Pangeran Barra. Pemuda itu kini sedang terengah-engah mengatur degup jantungnya sendiri. Dari balik mulut gua kecil, ia mengintip keluar. Mengamati para Prajurit Bintang yang memanggil-manggil namanya.
Tempat itu tidak familier bagi Zet. Ia mencoba terus menjauh dan menjauh, mendekati kastel Kubah Malam yang tampak dinaungi pohon raksasa. Saat terbangun, Zet sedikit tersentak dan hampir jatuh. Yun Lao terbang mendekat. “Ada apa?”
“Aku harus bilang ke Raja Taraghlan. Aku menemukan tempat persembunyian Pangeran Barra. Kau benar, aku bisa berkomunikasi dengan kalung itu.”
“Jangan, Zet! Kau harus pergi sendirian.”
“Tidak mungkin, Yun Lao. Kalau aku ketahuan mengkhianati Raja Taraghlan, bisa mati aku.”
Kedua pilihan memang memiliki risiko masing-masing. Yun Lao tak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya ikut ke mana pun Zet pergi. Bocah itu perlu pengawasan ketat mulai dari sekarang.