
Bagai domba di sarang serigala.
Itulah yang dirasakan Zet saat ini. Walaupun ia bisa saja mengambil ketiga arcanumnya dan mengamuk, resiko ia akan tewas tetap besar karena situasi, lokasi dan musuh tak seimbang dan jelas merugikan baginya.
Zet kini berada dalam markas besar Sekte Kalajengking Hitam yang penuh dengan pembunuh gelap yang bisa melenyapkan nyawa dalam setarikan napas saja.
Apalagi tekanan pada Zet itu diperparah oleh pilihan serba salah dari Ketua Sekte sendiri, yaitu Giovanni Pirlo DiMatteo. Kalau semua anggota kelompok Zet tak mengaku, Nina atau bahkan Zet dan Singh bakal disiksa dan diinterogasi dengan keji. Kalau Zet menuding Nina sebagai anggota Sekte Salju Putih, walaupun mungkin bukan mata-mata, Nina tetap akan dihukum mati.
Zet memakai waktu yang amat sempit dengan berpikir keras. Namun tak ada jawaban yang muncul, sebuah solusi tak terduga yang mungkin bisa menyelamatkan Nina dan nyawanya sendiri. Bahkan Singh yang berpengetahuan amat luas sebagai musafir antar ranah pun terdiam seribu bahasa. Mungkin posisinya yang netral, tak memihak pada negeri atau sekte manapun yang memaksanya bersikap demikian. Mungkin memang ia belum mendapat ide saja.
Giovanni lantas menagih jawaban. “Apa jawab kalian, hei kelompok mencurigakan? Pertanyaanku tadi mudah sekali, bukan? Kalau kalian mengulur-ulur waktu terus, itu pasti gelagat untuk mencoba bermain kata, memutar-balikkan kenyataan, atau dengan kata lain, berbohong,” katanya dengan nada bicara dibuat-buat.
Akhirnya, yang angkat bicara adalah sosok yang tak diduga ataupun diharapkan, yaitu salah seorang anggota rombongan Zet yang juga adalah anggota Sekte Kalajengking Hitam, yaitu Kimiko Maru.
Si gadis ninja berkata, “Tidak semua penyihir adalah anggota Sekte Salju Putih. Sama halnya tidak semua pembunuh gelap dan pembunuh bayaran adalah anggota Sekte Kalajengking Hitam. Belum tentu Nina atau bahkan Zet adalah anggota Salju Putih. Tapi yang pasti, menghukum mati mereka tak akan menyelesaikan masalah besar yang kini tengah mengancam kita.”
“Begitukah menurutmu, Kimiko Maru?” Giovanni mendelik penuh minat. “Jadi, cara apa yang hendak kau usulkan? Apakah solusi yang paling tepat menurutmu?”
“Kurasa entah itu lewat Nina atau tidak, sengaja atau tidak, Salju Putih pasti sudah melacak dan mengetahui letak markas rahasia ini dan tengah mengumpulkan pasukan untuk menyerbu kemari lewat serangan mendadak. Bila itu terjadi, kita akan menggunakan Zet dan Nina sebagai sandera. Kalau salah satu atau mereka berdua adalah anggota Salju Puith, para anggota lainnya tak akan berani bertindak macam-macam, apalagi menyerang kita secara frontal.”
Kata-kata Kimiko itu membuat Giovanni tercenung sejenak. Ia lantas berkata, “Prinsip utama ilmu perang adalah, kenali dulu siapa lawanmu sedetil mungkin. Konon para anggota Sekte Salju Putih lebih fanatik daripada sekte kita, Kimiko. Mereka lebih memilih mati daripada dijadikan sandera, mencoreng kehormatan sendiri dengan dijadikan alat untuk menekan para anggota lain. Para anggota lain pun tak akan terpengaruh pada sandera. Mereka menganggp bila ada satu anggota yang tewas atau berkorban demi keberhasilan misi, pasti jiwa si anggota yang gugur itu langsung masuk surga.”
“Yah, harus kuakui, di Sakura Ungu ada kode kehormatan Bushido, di mana kami lebih rela mati daripada kehilangan kehormatan dan menanggung malu. Tapi dalam kasus ini, setidaknya kita masih bisa mengejutkan orang-orang Salju Putih yang tak terlalu fanatik, walaupun mungkin hanya sesaat saja. Sebagai orang Sakura Ungu, taktik menggunakan sandera sama saja dengan mencoreng nama baik dan kehormatan diri, tapi sekte dan tempat ini bukan Sakura Ungu, kan?”
Kata-kata Kimiko yang cukup masuk akal itu membuat Giovanni tertawa, “Baik, baik! Aku paham maksudmu.” Lalu ia menoleh lagi pada Zet, Singh dan terutama Nina. “Wah, rupanya mantan teman seperjalanan kalian yang saitu itu benar-benar Kalajengking Hitam sejati, cerdik, panjang akal dan pandai bicara pula. Berkat Kimiko, nyawa kalian diperpanjang beberapa hari lagi dari sekarang.
Kalau sampai tak ada serangan Salju Putih sampai saat kami pindah markas, yang sepertinya harus sesegera mungkin, mungkin aku akan mengampuni dan membebaskan kalian semua. Sambil menunggu saat itu tiba, kalian semua serombongan adalah tawananku.”
Zet dan Singh terkesiap. Kalau begini jadinya, Singh terpaksa harus membobol penjara lagi untuk membebaskan Zet... Bersama Nina, kalau bisa.
“Huh, dasar ibu dan anak sama-sama keras kepala dan merepotkan,” gerutu Singh.
Entah kapan terakhir kali Zet mendekam dalam penjara. Tapi Zet masih tetap pemuda normal, sesakti apa pun ia kini, baru dua hari saja ia ditahan, Zet mulai merasa gelisah dan tak betah.
Latihan yoga dan meditasi tenaga dalam Zet terus berlanjut, tapi ia tak bisa menggunakannya. Itu karena kedua tangan dan kakinya terbelenggu dengan belenggu yang sudah dijampi-jampi dengan sihir yang keras, meredam bahkan mencegah pengerahan tenaga dalam maupun sihir.
Tapi apa daya, Zet hanya bisa menunggu kebebasan datang saja, menjaga agar dirinya tetap waras dan mengingat masih adanya harapan dengan bantuan Singh. Walaupun kelihatannya harapan hanya seperti setitik bintang kecil di langit malam yang gelap tanpa bulan dan bintang-bintang lain.
Kata-kata penghiburan dari Singh yang paling menghangatkan adalah, “Tegakkan kepalamu, Zet! Ingat, ada aku di sini. Dulu aku pernah membebaskan ibumu dari penjara tanpa banyak kesulitan. Dan aku yakin, bila saat yang tepat sudah tiba aku akan membebaskanmu juga, tanpa harus menunggu Giovanni pindah markas. Kau akan kembali lagi di Langit Angkasa tanpa harus cuti kuliah, kujanjikan itu padamu.”
“Saat yang tepat? Saat apa itu, Guru?” tanya Zet sambil mengerutkan dahi.
Singh menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Tunggu sajalah. Hati-hati, di sini tembok-tembok bertelinga,” bisiknya.
Mengenang pembicaraan Zet dan Singh waktu lalu, kini Zet baru bisa rileks setelah latihan yoga yang porsinya lebih banyak dari biasanya.
Tiba-tiba, Kimiko Maru muncul di depan sel Zet dan berseru, “Salju Putih menyerang ke markas ini! Cepat kalian keluar dari sini dan pergi dari kota ini bersama Nina! Ini perintah Giovanni!”
Malah Zet yang protes, “A-apa artinya ini? Aku tak mengerti!”
“Nanti kami akan terangkan di jalan!” seru Singh sambil melepas belenggu magis yang ternyata adalah belenggu biasa dengan mudahnya, lalu menjebol pintu jeruji besi dengan tenaga dalam tingkat dewa seperti mematahkan beberapa batang lilin sekaligus. “Sekaranglah saatnya kita keluar dari penjara ini!”
Tanpa bicara lagi Zet ikut keluar. Untunglah tadi ia sudah makan, sehingga gerakannya lebih bersemangat dan ia bisa lari cukup cepat.
“Ada mata-mata Salju Putih yang sudah lama menyusup dalam sekte ini. Yang jelas dia bukan kalian,” kata Kimiko. “Aku dan Pak Singh sudah bersepakat denngan Don Giovanni untuk bersandiwara agar Sekte Salju Putih terpancing untuk melaukan serangan besar-besaran. Tapi siksaan pada Nina sungguhan, karena dia jelas-jelas anggota Salju Putih yang fanatik.”
Zet menyimpulkan, “Jadi daripada membunuh Nina, kalian memilih menjadikannya umpan agar para mata-mata Salju Putih bergerak, melapor ke pusat. Lalu pihak pusat mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan Nina dan membasmi Kalajenking Hitam, lalu masuk dalam jebakan. Itu benar-benar tipuan yang...” Zet tak tahu kata-kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya.
“Yah, aku tahu,” kata Kimiko. “Sekarang ayo kita selamatkan Nina dan pergi saja dari sini, melanjutkan studi kita di Langit Angkasa dengan tenang. Aku tak mau berurusan dengan sekte manapun lagi.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-