
“Jangan langsung mengambil kesimpulan dulu,” tanggap Zet. “Coba kita teliti dulu pohon-pohon itu.”
Ketiga mahasiswa itu berpencar, mengamati masing-masing tiga sampai lima pohon. Sampai akhirnya Filian berseru, “Astaga, ada tanda-tanda pernah terjadi pembusukan di batang-batang pohon ini!”
“Ya, kau benar, Fili!” kata Zet sambil menunjuk. “Aku menemukan bagian-bagian yang sempat membusuk di tiga dari lima pohon yang kuamati! Apa artinya itu? Apakah mereka sudah ‘sembuh’?”
Nina berkomentar, “Lebih tepatnya ‘disembuhkan’. Seseorang telah menemukan cara untuk mengobati penyakit pembusukan ini. Tapi ternyata terlalu sulit untuk memulihkan seluruh hutan dalam waktu dua-tiga hari saja, sendirian pula. Kalaupun ada sebagian yang disembuhkan, masih ada makhluk-makhluk lain yang telah terpapar penyakit busuk, lalu menularkannya lagi. Bisa jadi pula orang yang sedang bertugas dalam penyembuhan ini sedang dalam kesulitan sehingga tidak bisa kembali ke kampus.”
“Astaga, jangan-jangan... seseorang itu adalah... Minerva Kaleos?” tanya Filian secara retorika.
“Tentu saja! Bukankah Bu Rektor itu adalah penyihir yang memiliki ar... eh, kesaktian tiada tara?” Hampir saja Zet kelepasan bicara, mengungkapkan rahasia Minerva yang adalah pemegang arcanum sejati kayu.
Nina mengangguk. “Tepat sekali. Sekarang, bagaimana cara kita menemukannya?”
“Mengikuti jejak pohon-pohon yang sembuh sampai ke tengah hutan, tentunya,” kata Filian takut-takut, karena ia memang yang paling kurang pengalaman dan paling jarang menyumbangkan ide, pendapat, apalagi strategi kepada timnya. “Siapa tahu, di ujung jejak ini kita akan menemukan orang yang ingin kita selamatkan.”
“Tuh kan, Fili? Apa kubilang,” kata Zet. “Kau sebenarnya punya bakat untuk menjadi ahli strategi. Solusi tadi itu sederhana, tapi kau bisa berpikir sejauh itu dan itu bagus sekali.” Ia menepuk pundak sepupunya itu sampai Filian blingsatan.
Regu Zet kembali berjalan, mencoba melacak jejak Minerva terus sampai ke kedalaman hutan. Mereka lantas tiba di sebuah danau kecil yang berlatar belakang sebuah bukit.
“Wah, sejak tadi sudah berjalan sejauh ini. Ayo kita istirahat sebentar sambil makan dulu,” ujar Filian. “Lagipula ini masih daerah yang sudah ‘disembuhkan’, bukan?”
Zet berpangku tangan. “Ah, dasar kamu, Fili. Kita ‘kan masih harus tetap berjaga-jaga dan waspada, siapa tahu ada monster mutan busuk seperti kali lalu yang menyerbu kemari. Segala kemungkinan itu masih ada, ‘kan?”
“Ya, tapi aku sudah lelah, Zet. Tuh, lihat, kakiku sudah kebas dan kesemutan. Ayolah, sebentaar saja.” Wajah si putra orang kaya itu tampak memelas, jauh dari kata perkasa.
“Baiklah kalau begitu.” Hati Zet akhirnya luluh juga, karena ia sendiri juga cukup lelah berjalan nyaris tanpa henti kira-kira tiga jam dari kampus tadi. “Kita istirahat setengah jam, tapi satu orang harus berjaga dengan bergantian. Jadi di lima belas menit pertama, Filian dan Nina makan dulu dan aku berjaga di sini sambil memantau sekeliling. Lima belas menit berikutnya gantian aku yang makan dan Filian dan Nina yang berjaga.”
Karena tak ada pembicaraan selama waktu makan pertama itu, Zet hanya berdiri saja sambil berjaga di tempat yang agak jauh dari kedua rekannya. Pasalnya, si hantu yang selalu menguntit dirinya kemanapun ia pergi, Yun Lao muncul. Jadi posisi berjauhan itu pas karena Zet tak mau dianggap gila, bicara sendiri dengan bayangannya.
“Entah ini kebetulan atau keberuntungan pemula,” ujar Yun Lao, “aku merasakan hawa arcanum berikutnya, yaitu arcanum kayu tak terlalu jauh dari sini. Sebenarnya sisa-sisa hawa penyembuhan dari unsur kayu itu masih terasa di beberapa tempat, tapi ada satu yang lebih pekat dan lebih terasa, dan posisinya masih agak jauh dari sini.”
Zet hanya menghela napas saja. Sebenarnya sudah sepantasnya sebagai guru yang telah memberinya petunjuk tentang arcanum dan membantunya mengembangkan kekuatan diri, Yun Lao turut berperan sebagai “pemandu kedua” selain Kimiko Maru. Karena Yun Lao tak bisa diserang maupun menyerang musuh, dan karena ia tak bisa jauh-jauh dari Zet, ada baiknya Zet meminta bantuannya untuk menjadi “alat pelacak”.
Mau tak mau Zet harus melakukannya. Ia sebenarnya lebih berharap Yun Lao melacak aura atau hawa jahat yang bisa jadi adalah biang, esensi pembusukan di Hutan Regenerasi, tapi kalau toh si hantu itu sekalian menemukan jejak energi dari arcanum kayu, apa boleh buat. Kalaupun harus ketahuan Minerva Kaleos adalah pemegang arcanum kayu, misi penyelamatan jauh lebih penting.
“Oh ya, begitukah? Tolong lacak terus ya, Guruku yang baik.” Selama Zet bisa tetap berpura-pura tak tahu apa-apa, rahasianya tetap aman secara Yun Lao tak pernah bisa membaca pikirannya.
“Hei, aku bukan pesuruhmu, Zeta! Sopanlah sedikit!” hardik Yun Lao.
Segala basa-basi yang menyusul setelahnya sudah tak penting lagi.
Tak lama kemudian, tibalah giliran Zet untuk makan. Bekalnya sama dengan Filian, yaitu roti isi daging dan sayur. Ia makan dengan terburu-buru, karena ingin cepat-cepat bersiaga lagi dan melanjutkan perjalanan.
Sepertinya tindakan Zet itu tepat, karena saat ia baru selesai makan, tiba-tiba saja Kimiko datang terburu-buru menghampiri dirinya, Filian dan Nina.
Suara Kimiko juga terkesan panik. “Angkat senjata kalian, teman-teman! Ada sepasukan besar monster pembusukan hewan hutan ini yang sedang menyerbu kemari, mengepung tempat ini dari segala arah!”
Roti isi yang tersisa segigit jatuh dari tangan Zet. “A-apa katamu, Kimi?” Wajah pemuda itu pucat-pasi seketika.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-