The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
43: KIMIKO



Rasa sakit yang diderita Zet kali ini sangat berbeda daripada sebelumnya. Mungkin Zet pernah merasakannya, tapi tetap saja dijatuhkan dengan mudah dan telak oleh seorang gadis bertubuh mungil dan terkesan lebih lemah dari pada dirinya terasa memalukan.


Apalagi saat Zet terkapar dalam posisi tertelungkup di lantai, tawa dan cemoohan “teman-teman sekelas” berderai. Itu membuat rasa pedihnya bertambah dua kali lipat.


Hanya sikap dan kata-kata Pak Gordon-lah yang bagai hiburan di kala galau. “Kau tak apa-apa, Amazeta? Bangkit dan teruskanlah latih tandingnya!”


Begitu rasa nyeri di punggung Zet agak reda, ia lantas bangkit dan berdiri tegak. Setelah mengatur napas sejenak, Zet berkata, “Ya, aku siap sekarang.”


“Baiklah, mulai lagi!” seru si dosen.


Anehnya, kali ini Kimiko Taru bergeming di tempat.


“Apa-apaan ini?” pikir Zet.


Namun, belajar dari ketergesa-gesaannya tadi, kali ini Zet memutuskan untuk lebih berhati-hati. “Coba ingat-ingat, Zet. Apa kata Guru Yun Lao tentang cara menghadapi lawan yang cepat? Oh ya, aku ingat!”


Arcanum air kembali berpendar. Namun kali ini, air bukan melingkupi kedua tinju Zet. Sebaliknya, Zet malah menadahkan kedua telapak tangannya ke atas, hingga ia tampak bagai sedang memegang sehelai selendang panjang.


“Saatnya aku menggunakan jurus pengendalian air yang baru diajarkan oleh Guru Yun Lao ini,” pikir Zet sambil memaksakan senyum. Ia lantas berseru pada Kimiko, “Silakan serang aku.”


Ditantang seperti itu, Kimiko malah tersentak dan tak langsung menerjang maju. Matanya tajam menatap Zet, mencoba mempelajari pola gerakan Zet seperti burung elang yang sedang memata-matai kelinci dari udara. Baru beberapa detik kemudian si ninja menghilang, atau lebih tepatnya bergerak lebih cepat daripada daya penglihatan mata.


Sadar penguasaan energinya belum cukup matang untuk menghadapi pendekar pengguna tenaga dalam, Zet tak lantas menutup mata untuk mendeteksi pergerakan Kimiko lewat telinganya. Ilmu yang ia kuasai belum mencakup sampai mengasah pendengaran.


Walau mungkin lebih lamban daripada deteksi lewat pendengaran, Zet mencoba memperkirakan arah gerakan lawan dengan merasakan desir angin yang mendadak menerpa tubuhnya. Dengan refleks Zet menangkis energi angin Kimiko yang disebut Kamaitachi, Peri Badai.


“Seranganmu terbaca!” Kimiko cepat-cepat mengubah arah serangan telapak tangan menjadi tendangan ke arah lain, menyasar sisi lain tubuh Zet yang tak dijaga.


Namun, lagi-lagi Zet bergerak dengan amat luwes dan lincah bagai menari. Sekali memutar tubuh, ia melambaikan selendang air ke arah lain, gantian menyasar sisi lain tubuh lawan.


Kimiko mengubah arah gerakannya lagi, tapi kali ini selendang air Zet tak meluncur ke arahnya.


Mengira itu kesempatan dari kelengahan dan kekurangmatangan Zet, Kimiko menendang keras-keras ke arah si orang Empat Musim itu. Namun ia terkejut melihat kakinya malah terbelit selendang air Zet. “G-gawat!” pekik si gadis ninja.


“Terjebak kau,” kata Zet. Ia lantas mengibaskan selendang energi air sehingga Kimiko terlempar tinggi dan jauh, lalu tubuhnya terbentur keras di dinding. Giliran si gadis Sakura Ungu yang berteriak kesakitan.


Tiba-tiba terdengarlah suara Gordon, si Dosen Ilmu Tenaga Dalam, “Cukup demonstrasinya! Latih tanding selesai!”


Zet cepat-cepat berdiri menjauh dari lawannya. Kimiko bangkit dan mengambil posisi agak jauh namun berhadap-hadapan dengan Zet. Keduanya membungkuk dengan cara yang sama seperti saat mulai bertarung tadi, lalu kembali ke tempat duduk masing-masing tanpa banyak ribut.


Entah pihak lawan menyadarinya atau tidak, baik Zet maupun Kimiko mengerutkan dahi, gelagat bahwa pertarungan mereka tadi tak membuktikan apa-apa karena sudah dihentikan sebelum sempat mencapai puncak keseruan.


\==oOo==


Hari ini tak bisa berlangsung lebih buruk lagi.


Karena rasa ngilu masih terasa di punggung, Zet keluar dari kelas kuliah Ilmu Tenaga Dalam dengan agak terbungkuk. Filian berjalan di samping Zet, tapi pura-pura tak melihat apalagi menegur Zet karena takut dicemooh para mahasiswa lainnya.


Sungguh ironis memang, pahlawan perang yang bahkan mampu membuat seorang pangeran dari Negeri Empat Musim bertekuk lutut kini ganti bertekuk lutut, malah terpuruk saat berhadapan denan seorang ninja.


Padahal demonstrasi tadi hanya membuktikan bahwa pengendalian energi yang didapat dari sumber-sumber di luar tubuh saja, walau itu adalah energi dewata tidak cukup. Agar dapat menguasai lebih dari satu arcanum, Zet harus memperkuat tenaga dalam tubuhnya sendiri dulu. Ia memang menguasai sedikit sihir, itu pun tak stabil dan perlu dipupuk pula oleh Guru Kashmir.


Roh Yun Lao yang jarang muncul, seakan-akan datang dan pergi sesuka hati. Kalaupun datang, ia hanya memberi wejangan dan petunjuk saja, tak bisa secara langsung dan kontinyu memonitor tiap perkembangan dan latihan Zet. Seperti yang dikatakan Yun Lao saat pertama kali berinteraksi dengan Zet, Zet butuh pelatih-pelatih lain untuk membantunya berkembang.


Sepertinya Gordon Bleumont, Dosen Ilmu Tenaga Dalam adalah orang yang paling cocok untuk membantu Zet saat ini.


Jadi walaupun merasa sakit dan dipermalukan, Zet sadar bahwa di atas langit masih ada Fajar Emas dan sekutu-sekutunya. Jangankan mencapai langit, kekuatannya sendiri masih baru bagai melompat-lompat di tanah dan menggapai-gapai ke udara. Agar bisa terbang, Zet butuh sayap-sayap yang kuat untuk dikepakkan.


Firasat Zet berkata, Ilmu Tenaga Dalam akan jadi mata kuliah favoritnya.


Memikirkan itu semua, Zet malah senyum-senyum sendiri. Yang berikutnya ia rasakan adalah tepukan keras di pundaknya yang masih sakit. “Aduh! Siapa yang...! Oh, kamu toh, Fili.”


“Kenapa kau senyum-senyum sendiri sih, Zet?” tegur Filian. “Kalau sampai keluarga besar kita di kampung halaman tahu tentang insiden tadi, mereka pasti akan menyeretmu keluar dari kampus dan memulangkanmu ke Empat Musim!”


“Mereka tak akan bersikap seekstrem itu, Fili,” kata Zet sambil meringis. “Lagi pula kini aku sadar, kekuatan pengendalian elemen pegangan kita masih kalah daripada tenaga dalam yang murni dari latihan yang keras. Mungkin kita bisa menandingi para pengendali elemen lainnya, tapi andai kita menghadapi para pengguna tenaga dalam, yang akan kita dapat pasti akan lebih parah daripada pegal di punggung.”


Filian terpana sejenak, lalu mengusap rambutnya sendiri. “Oh ya, benar juga katamu. Aku baru ingat, karena alasan itu pulalah aku memilih mata kuliah Ilmu Tenaga Dalam. Pantas saja tak ada mahasiswa di kelas itu yang berasal dari Serikat Kubah Malam, sedangkan si Kimiko dari Sakura Ungu itu memilih mata kuliah itu karena ingin tahu apakah metode pelatihan tenaga dalam di Universitas Langit Angkasa tak jauh beda daripada di negeri asalnya.”


Gantian Zet menjitak halus kepala sepupunya. “Dasar kau ini, Fili. Ayolah, kita ke kantin dulu...!”


Tiba-tiba seorang gadis menghampiri kedua pemuda itu, lalu mengadang mereka di koridor.


Zet dan Filian terperanjat. Karena memang bukan pengguna tenaga dalam, mereka hanya menyadari ada seseorang yang bergerak cepat, tapi tak tahu apakah orang itu sedang mengerahkan tenaga dalam atau tidak. Saat tahu kalau si pengadang itu adalah Kimiko, keduanya berdiri dengan tangan-tangan terangkat, siap menyerang bila terpaksa.


“Tunggu, aku hanya ingin bicara saja, bukan bertarung,” kata Kimiko. Gaya berdirinya pun lepas dan agak santai, membuat Zet dan Filian menurunkan tinju-tinju mereka.


Filian bertanya, “Apa yang ingin kau bicarakan, Kimiko?”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-