The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
73: SEKTE KALAJENGKING HITAM



Setelah menerima energi dari dua arcanum air dan kayu, Zet berubah menjadi malaikat maut.


Benarkah?


Yang pasti, saat ini Zet tak merasa menjadi dirinya sendiri. Bahkan segala rasa, segala akal dan segala nurani seakan sirna saat tubuhnya melayang diam antara langit dan bumi.


Untuk sesaat, ia bukan manusia lagi, melainkan perwujudan dari gabungan dua arcanum sejati, yaitu air dan kayu.


Untuk sesaat pula, ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Benaknya sudah berteriak agar ia mengeluarkan Minerva Kaleos dari dalam tubuh bawah monster raksasa bernama Fasid’afa itu.


Namun tubuh itu tak mau menurut, seakan ia punya kehendak sendiri untuk secara total menghancurkan Fasid’afa beserta apa pun dan siapa pun yang ada pada dan dalam tubuhnya. Memurnikan semuanya tanpa pandang bulu.


Apalagi tak ada yang bisa bertindak lebih cepat mengeluarkan sang Rektor. Nina, Filian dan Kimiko masih terkapar di tanah, lemas kehabisan energi mana dan tenaga dalam.


Benak Zet berteriak, “Siapa saja, tolonglah! Selamatkan Bu Minerva!” Namun mulutnya seakan menolak menyuarakan instruksi dari benak Zet itu.


Yang ada, tampaklah seberkas energi biru kehijauan pada bilah pedang Zet. Larik-larik benang energi biru dan hijau dari liontin-liontin di kalung dan sabuk mustika menjalari tubuh Zet sampai ke tangan dan pedangnya. Kalaupun Zet bisa menghentikan aksi itu, ia sudah terlambat.


Tapi, bukan Zet namanya kalau ia tak panjang akal. Ia lantas mengumpulkan seluruh kekuatan batiniahnya, hasil latihan dengan Kimiko dan dalam kuliah Ilmu Tenaga Dalam, mengumpulkan tekad untuk mengatasi tekanan dari dalam dirinya. “Jangan harap aku membiarkan kalian menjajah diriku, arcanum! Aku adalah Master of Arcana, bukan Slave of Arcana! Patuhi aku atau enyahlah dari tubuhku!”


Satu gagasan tiba-tiba terbit. Seperti sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, Zet merasa justru ini adalah kesempatan emas untuk menyelamatkan Minerva Kaleos sekaligus menyembuhkan seluruh Hutan Regenerasi dari penyakit pembusukan gaib. Bisakah Zet melakukan hal yang tak bisa dilakukan musafir antar ranah sekaliber Minerva itu?


Daripada memaksa kedua arcanum itu menghentikan aksinya, Zet memilih untuk menghemat energi batinnya dengan mengalihkan pancaran energi air penyebar dan energi kayu penyembuh ke tempat lain. Mekanismenya sederhana saja, perlahan tapi pasti ia menarik bilah pedangnya yang semula membidik ke arah Fasid’afa menjadi ke atas, ke arah langit berawan tebal.


Tak hanya itu saja, Zet lantas memusatkan kekuatan batinnya untuk mengubah energi yang terkonsentrasi di bilah pedangnya itu hingga berbentuk bola raksasa yang melayang tepat di atas ujung bilah pedang. Ia menembakkan bola raksasa itu jauh ke atas, melampaui awan. Bola itu lantas pecah lewat ledakan dahsyat, serpihan-serpihan yang tercipta dari ledakan itu mengandung cairan hijau obat penawar penyakit pembusukan dan menyebar ke daerah yang amat luas di awan-awan tebal itu.


Hampir bersamaan, kekuatan arcanum air yang juga terkandung dalam serpihan-serpihan bola energi membuat awan-awan tebal menjadi jenuh. Langit seketika berubah mendung, halilintar dan guntur mulai sahut-menyahut. Dengan cepat pula hujan yang amat lebat nan deras turun ke seluruh wilayah Hutan Regenerasi.


Pohon-pohon yang terkena berangsur-angsur pulih. Tubuh hewan-hewan yang terpapar air hujan obat itu pun kembali utuh, segar seperti sedia kala, tanda-tanda pembusukan nyaris seluruhnya hilang. Kalaupun masih ada, itu takkan menyebar lagi dan akan pulih seiring waktu. Sayangnya, bila hewan itu sudah mati, walaupun tubuhnya kembali utuh dan padat, tetap saja ia jadi bangkai dan tak akan hidup kembali.


Dalam kasus Fasid’afa, karena tubuh atas monster campur sari yang berwujud wanita itu sempat tertembus tembakan Zet saat Zet sedang dikuasai dua arcanum, ia tewas seketika. Sedangkan tubuh bawahnya yang terguyur seluruhnya oleh hujan cairan obat penawar dengan cepat luluh. Akhirnya yang tersisa adalah campuran darah, daging busuk dan lendir yang seakan menyelimuti, membungkus tubuh dua wanita yang terkapar di tanah.


Zet yang sudah sadar karena energi yang ia lepas tadi sudah habis mengenali salah seorang wanita yang terkapar itu. “Bu Minerva!” serunya sambil bergegas menghampiri sang Rektor.


Tanpa pikir panjang, Zet menumpangkan tangannya di bawah lubang hidung wanita itu. “Ah, untunglah Bu Minerva masih bernapas,” pikirnya. “Tapi ia tak sadarkan diri dan harus mendapat pertolongan pertama secepatnya, kalau tidak...”


Kimiko, Filian dan Nina lantas menghampiri Zet dengan tertatih-tatih.


“Kau sungguh luar biasa, Zet!” Nina tak kuasa menahan rasa kagumnya lewat matanya yang berkaca-kaca di balik kacamatanya. “Kau telah menyembuhkan seisi hutan ini dengan kekuatan gabungan arcanum air dan arcanum kayu, dengan cara yang brilyan pula! Andai Bu Minerva membawamu serta dalam misinya, kalian kemungkinan besar bakal berhasil tanpa Bu Minerva harus terperangkap dalam tubuh Fasid’afa seperti itu.”


Zet terduduk lemas. Setelah menguras energi dua arcanum ditambah tenaga dalamnya sendiri untuk melakukan aksi penyembuhan sihir berskala besar tadi, ia jelas harus istirahat dulu. Semua kaki dan tangannya terasa kaku dan kebas, seolah-olah menolak digerakkan.


Filian memberi pertolongan pertama berupa membubuhkan ramuan obat penyembuh luka pada tubuh Zet. Nina dan Kimiko lantas menghampiri jenazah si wanita kedua yang tertelungkup.


Nina terperanjat bukan kepalang melihat tubuh kaku wanita yang menyebut dirinya Fasid’afa itu. Bagian pinggang ke bawah sudah luluh lantak, dan di punggung tengah wanita berkulit agak gelap karena sering terjemur matahari itu ada sebuah tato bergambar kalajengking hitam yang tegak lurus, memanjang sampai hampir ke pinggang.


“Astaga, orang itu adalah... anggota Sekte Kalajengking Hitam!” seru Nina sambil membetulkan letak kacamatanya, memastikan ia tidak salah lihat. Ia lantas menoleh pada Kimiko yang sedang berlutut membelakanginya, hendak mencoba membalik jenazah itu untuk mengenalinya. Siapa tahu Fasid’afa hanyalah nama samaran yang aneh dan mereka mengenali sosok asli wanita itu lewat nama aslinya.


Lebih terkejut lagi Nina saat melihat kostum ninja Kimiko yang sobek di bagian punggung gara-gara jadi bulan-bulanan monster tadi. Yang tergambar di kulit punggung gadis mungil itu adalah lambang kalajengking hitam yang, walaupun berukuran jauh lebih kecil, bentuknya bisa dibilang persis sama dengan tato di punggung Fasid’afa.


Jadi, hanya ada satu kesimpulan yang dapat diambil. “Kimiko Maru, ternyata kau juga anggota Sekte Kalajengking Hitam! Kau pasti berkomplot dengan Fasid’afa, bukan?” Nina menodongkan tongkat sihirnya tepat ke arah Kimiko, siap melubangi tubuh gadis ninja itu dengan sihir api.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-