
“Hebat kau, Zet! Baru pertandingan penuh kedua, kau sudah mencetak dua gol! Melawan tim unggulan pula!” Filian tak bisa menyembunyikan kekagumannya dan bertepuk tangan ke arah sepupunya.
“Ah, itu berkat petunjuk dari senior saja,” ujar Zet merendah. “Aku hanya ikut arahan, jadi sebenarnya ini semuanya berkat strategi jitu dari kapten tim, Simon.”
“Ah, tak usah merendah. Strategi yang bagus percuma saja bila tak dieksekusi dengan bagus pula, bukan?” Filian menepuk pundak Zet, membuat Zet batuk-batuk.
Zet lalu bertanya, “Apa ada kabar mengenai pertandingan babak selanjutnya?”
Zet yang kelelahan setelah pertandingan dan mengikuti arahan terakhir dari pelatih tim tadi memutuskan untuk kembali ke asrama saja. Lagi-lagi ia meminta Filian untuk menonton pertandingan terakhir hari itu dan mencari tahu susunan pertandingan semi final lusa.
“Yah, di pertandingan pertama, Fajar Emas akan menghadapi Naga Nirwana. Sedangkan kalian, Empat Musim akan melawan... Kubah Malam.”
“A-apa?!” Zet terkejut bukan kepalang. “Tim unggulan teratas, Kubah Malam? Bukankah seharusnya kami menghadapi...?”
“Ya, tapi penentuan siapa lawan siapa dilakukan lewat undian. Wah, kau benar-benar dalam cobaan besar, Zet. Setelah menghadapi salah satu tim unggulan, kau malah harus menghadapi tim unggulan teratas! Apa kau yakin bisa menang menghadapi tim negeri sekutu kita, Kubah Malam?”
“Entahlah, kami hanya bisa berusaha sebaik-baiknya dan melatih ‘taktik khusus’ untuk menghadapi Kubah Malam sepanjang hari di lapangan tertutup, di hari jeda pertandingan besok. Lagipula ini adalah olah raga, jadi kita harus berusaha untuk menang dengan adil dan jujur, tanpa ada gangguan rasa sungkan, takut atau semacamnya.”
“Jadi ini kebalikan dari pertandingan lawan Tim Ular Pasir, ya,” kata Fili. “Tapi kalau aku jadi kau, Zet, rasa sungkan bakal lebih berat untuk diatasi daripada dendam. Apalagi kalau menyangkut Putri Catriona.”
Zet tersentak mendengar nama itu disebut. Seteguh apapun pendiriannya, bisakah ia tak goyah bila kata kunci pemicu rasa sungkan yang berlebih itu diungkit dalam pertandingan?
\==oOo==
Seperti dugaan Zet, latihan Odyscus timnya hari ini diadakan dalam lapangan dalam ruangan yang tertutup rapat. Beberapa petugas keamanan bahkan ditempatkan di luar ruangan besar itu, berjaga-jaga untuk mencegah mata-mata dari pihak Tim Kubah Malam mencari tahu “taktik rahasia” Tim Empat Musim untuk Babak Semi Final besok.
“Apakah kita benar-benar butuh pengamanan sebanyak dan seketat ini, Bu Zoe?” tanya Zet sebelum latihan dimulai. “Bukankah Kubah Malam adalah sekutu dekat negeri kita?”
Zoe menjawab sambil berkacak pinggang. “Justru karena kedua negara adalah sekutu dekat, pengamanan jadi harus ekstra ketat. Kalau kau perhatikan, para penjaga di depan sana bukan berasal dari Negeri Empat Musim, ‘kan? Itu justru untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada oknum dari negeri kita yang sungkan bila diminta membocorkan rahasia demi ‘keutuhan persekutuan’.”
Zet terpana. Rasanya ia pernah mendengar kata “keutuhan persekutuan” disebut. Atau jangan-jangan ia sendiri yang menyebutkannya saat hendak berangkat ke Negeri Kubah Malam dulu?
Untuk memastikan suatu hal lain saja, Zet bertanya lagi, “Lantas, mengapa Ginseng Putih bertanding amat hati-hati dan cenderung defensif melawan Kubah Malam di Babak Penyisihan? Bukankah itu pertandingan yang dilandasi rasa sungkan? Apakah kita akan melakukan hal yang sama dengan Ginseng Putih agar tak dipolitisir?”
“Tidak,” ujar Zoe dengan tegas. “Aku bahkan tak keberatan kalau sampai Kubah Malam memutuskan persekutuan dengan Empat Musim andai terjadi insiden yang tak mengenakkan di pertandingan besok. Toh Empat Musim bukan benar-benar negeri kita, ‘kan?”
Zet tak menjawab. Ia hanya ternganga saat kata-kata ayahnya kembali terngiang dalam kepala. “Ingat, nama asli negeri kita adalah Pilar Pualam. Seharusnya negeri kita sudah punah saat Empat Musim menguasai negeri kita, bahkan memindahkan ibu kota mereka ke ibu kota kita.”
“Jangan melamun, Zet! Ayo cepat kita mulai latihannya! Waktu kita bukan sepanjang hari, secara kau punya beberapa sesi kuliah hari ini, bukan?” seru Zoe di telinga Zet.
Selama latihan berlangsung, walau konsentrasi Zet tetap pada bahan dan taktik yang sedang dilatih, kata-kata Zoe tadi terus terngiang dan memercikkan kontroversi dalam benaknya. “Bu Zoe bahkan lebih suka persekutuan antara Kubah Malam dan Empat Musim putus saja! Apa maksud semua ini? Apa aku harus mengikuti arahan pelatih yang sepaham dengan ayah itu?”’
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-