
Menatap ke kegelapan di depan mata dan tonggak-tonggak batu yang berbaris tak teratur menuju ke kegelapan itu, Zet merasa bulu kuduknya merinding.
Zet lantas bertanya pada sosok capung kelabang Ahriman di sampingnya, “Apakah aku... kami hanya perlu melompati jurang lewat tonggak-tonggak itu saja agar sampai ke seberang?”
“Ya, tapi tidak sembarang tonggak,” jawab si titisan dewa. “Kalau kau mendarat di tonggak yang tidak stabil, pijakanmu jadi goyah, tonggak runtuh dan kau jatuh ke jurang.”
Zet menelan ludah. Pantas saja Ahriman berkata bahwa ujian kali ini tak ada toleransi. Beda dengan ujian teka-teki yang lalu, yang mana resikonya hampir pingsan seperti yang dialami Nina. Kalaupun terjadi resiko paling parah yakni terkurung dalam ruang teka-teki, akibatnya pasti bukan nyawa yang terenggut dengan seketika.
“Tenang saja, aku akan membimbing kalian,” kata Singh sambil menyalakan obornya. “Aku akan melompati tonggak-tonggak yang stabil sampai ke tonggak besar terdekat. Kalian hanya perlu mengingat ke mana aku melompat, untuk berjaga-jaga andai isyarat dan suaraku saat memberi petunjuk arah tak bisa kalian dengar atau lihat.”
Nina menimpali, “Jadi ini adalah ujian fisik sekaligus daya ingat. Tak boleh berpikir lambat kali ini ya, Zet.”
“Iya, iya,” Zet mendelik sebal. Kalau memang tekanan yang ada menuntutnya agar tak membuat kesalahan sama sekali karena nyawa taruhannya, apa boleh buat. Kalaupun ada yang terlupa, ia masih bisa mendapatkan petunjuk lagi dari isyarat dan suara Singh.
Jadi, untuk berjaga-jaga, Zet menghunus pedangnya dan mengaktifkan energi arcanum kayu. Bilah pedang itu lantas berpendar hijau, memancarkan cahaya ke daerah yang cukup luas bagai obor pula. Daripada mendebat Nina, Zet bicara pada Singh saja, “Silakan Guru Singh, aku siap.”
“Baiklah, sampai bertemu lagi di seberang,” kata Ahriman sambil mengepakkan sayap-sayap capungnya dan terbang pergi sampai sosoknya menghilang dalam kegelapan.
“Mari kita mulai. Perhatikan gerakanku baik-baik dan ingatlah setiap tonggak yang kupilih.” Setelah mengatakannya, Singh melompat ke tonggak batu pertama.
Tak terburu-buru, Singh mengambil jeda setarikan napas sebelum melompat ke tonggak kedua, ketiga dan seterusnya. Ia selalu memilih salah satu di antara dua, tiga atau empat tonggak yang paling dekat dengannya. Gerakan pria separuh baya bertubuh lumayan kekar itu ternyata cukup lincah, hingga akhirnya ia berhenti sama sekali di atas sebuah tonggak yang besar, tebal dan jelas stabil, puncaknya berbentuk datar dan cukup luas.
Zet berusaha mengingat-ingat tonggak-tonggak batu yang dipijak Singh tadi. Ia berpatokan dari tonggak paling kiri, supaya mudah diingat. “Tonggak pertama, kedua, kedua, ketiga, pertama, keempat dan pertama,” katanya dalam hati. “Baik, kucoba sekarang.”
Dengan gerakan yang cukup hati-hati tapi tak terlalu lamban, Zet melompat ke tonggak-tonggak yang ditujunya satu demi satu, mungkin ia takut lupa dengan kombinasinya. Sempat kakinya terpeleset saat mendarat di salah satu tonggak, tapi untunglah itu tonggak yang benar dan ia dapat dengan cepat menyeimbangkan diri lagi dengan berjongkok. Setelah kedua kakinya mendarat dengan aman dan mantap di sebelah Singh, barulah Zet menghela napas lega.
Tak lama kemudian Nina juga menyusul dengan langkah-langkah yang lebih ringan dan gerakan yang lebih cepat. Tampaknya gadis itu amat percaya diri dengan ingatannya, seakan ingin secara konstan mengingatkan rekannya bahwa Nina lebih cerdas daripada Zet.
Zet sempat mendengus sebal saat melihat Nina mendarat dengan amat anggun di sebelahnya. Tapi apa mau dikata, kenyataan telah bicara bahwa dalam urusan otak, Nina lebih percaya diri dibandingkan dirinya.
Sekali lagi Singh melompat-lompat ke tonggak-tonggak batu pilihannya. Kali ini ia bergerak lebih lamban daripada sebelumnya untuk memberi peluang pada Zet untuk mengingat kombinasi yang lebih rumit dan lebih banyak daripada tahap pertama tadi. Pasalnya, setiap deret tonggak terdiri dari antara tiga sampai enam batu. Mungkin ada dua atau tiga batu yang benar dari tiap deret itu, tapi kalau jalurnya salah bisa-bisa Zet terjebak, melompat ke tonggak-tonggak terdekat yang semuanya tidak stabil dan pasti runtuh.
Sekali lagi Zet mengingat-ingat jalur yang dipilih Singh tadi. Tapi saat ia sudah sampai di tonggak benar kelima, ia agak ragu. “Aduh, tadi Singh melompat ke tonggak keempat atau ketiga, ya?” batin Zet. Ia mencari-cari dan berteriak pada Singh, tapi yang ditanya terlalu jauh di depan sehingga Zet tak mendapat jawaban sama sekali. Suaranya seakan teredam begitu saja dalam gua yang luas itu.
Terpaksa Zet melompat ke tonggak keempat yang ternyata stabil. Tapi Nina yang sudah menyusul di belakang Zet berteriak, “Bukan itu, Zet! Lompatlah kembali ke tonggak sebelumnya, lalu lompat ke tonggak ketiga dari kiri!”
“Apa kau yakin, Nina?” tanya Zet. Tapi ia tak mendapat jawaban, tandanya Nina tersinggung seolah-olah Zet meragukan kecerdasannya. “Baik, kuikuti saranmu.” Zet melompat balik dan kembali maju sesuai saran Nina. Dan benar, itu tonggak yang tepat.
Mungkin karena tak mau dikritik lagi dan dibilang bodoh, Zet bergerak lebih cepat ke tonggak-tonggak berikutnya. Karena mungkin sudah mulai terbiasa, ia berhasil mendarat di tebing besar lagi di dekat Singh. Kali ini dataran yang ada lebih luas lagi dan ada celah pintu keluar di dinding gua, sebuah tanda bahwa jembatan tonggak batu telah terseberangi dengan selamat.
Lantas Zet melihat Nina menyusul dan melompat di belakangnya. Gadis berkacamata itu melompat, tapi ternyata ia salah pilih. Pijakan tonggak di bawahnya ternyata goyah dan runtuh, dan tanpa ampun tubuh Nina mulai meluncur ke dalam jurang di bawahnya, menuju kematian. Nina berteriak melengking di hadapan maut, sedangkan Zet hanya bisa berseru, “Ninaaa!”
“Oh, tidak, Nina,” kata Zet pada Singh. “Padahal dia kemari untuk membantuku. Entah itu dalam rangka misi dari Salju Putih atau bukan, sayang sekali kalau ia harus kehilangan nyawa sia-sia di tempat ini.”
“Belum tentu,” tanggap Singh sambil menunjuk ke arah jembatan tonggak. “Lihat baik-baik.”
Zet menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat dua sosok wanita yang sedang melayang. Mereka meniti tonggak-tonggak batu baik yang stabil maupun yang tidak dengan lincah dan ringan.
Hanya satu dari kedua wanita itu yang menjejak tonggak sedetik dan langsung melompat lagi ke tonggak berikutnya. Jadi kalau ia menjejak tonggak yang tak stabil, ia tak perlu takut jatuh dan hanya harus terus bergerak, itu saja.
Hanya saja, pergerakan si wanita mungil tak terlalu lincah karena ia sedang memapah seorang wanita kedua. Yang dipapah sesekali menjejak dan melompat dari tonggak pula. Tapi keran ia tak selincah si wanita pertama, hanya rekannya yang bekerja lebih banyak.
Ketika kedua wanita itu melompat dari tonggak terakhir dan mendarat di pelataran luas dekat pintu keluar, barulah Zet mengenali sosok-sosok mereka dengan jelas. Ternyata keduanya adalah Nina Gnossis dan...
... Kimiko Maru.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-