
Hari pengumuman hasil ujian dan nilai akhir mata kuliah bisa jadi adalah salah satu hari tergalau dalam hidup Zet.
Hampir setengah harian Zet berkeliling kampus – secara harafiah – mencari namanya yang pasti tertulis secara berurutan sesuai abjad dalam daftar nilai yang terpampang di papan pengumuman yang berderet-deret di tiap fakultas. Tentunya yang mata kuliahnya diikuti Zet saja yang dilihat.
Yang paling membuat Zet galau adalah saat ia menatap nilai akhir mata kuliah Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Politik.
“Aku sudah belajar amat keras untuk mata kuliah yang satu ini,” batin Zet. “Tapi nilai akhirnya ternyata adalah ‘C’. Padahal aku sudah mengerahkan segala yang aku tahu dalam ujian esai dan studi kasus. Dan rasanya nyaris tak ada teori yang terlewat. Aku tak mengerti, mengapa begini?”
Hantu Yun Lao yang tiba-tiba muncul di samping Zet melontarkan komentar, “Itu karena pandangan politikmu beda dengan pandangan politik dosen Hubungan Internasional... siapa namanya? Macchia Velli, bukan? Kau cenderung Liberalis dan mengusahakan perdamaian, sedangkan dia selalu condong hendak menerapkan paham Sosialis yang dianutnya sebagai pendekatan dalam tiap aspek hubungan internasional. Masih untung kau dapat C.”
“Bagaimana Guru bisa tahu begitu banyak?” kata Zet dalam hati.
“Penampilanku memang kuno, tapi pemikiranku tidak. Salah sendiri kau menutupi dirimu dariku selama studi kuliah.”
“Lagipula percuma saja aku bertanya pada Guru. Guru selalu cenderung mengarahkan aku untuk meningkatkan tenaga dalam, mana dan energi sejatiku saja. Juga menambah porsi latihan tenaga dalamku melebihi porsi studi kampus, iya kan?”
“Tentu saja. Percayalah padaku, nak. Kenyataan di luar sana jauh lebih rumit dan kusut, tak bisa diurai dengan berbekal hapalan teori saja. Kau harus bisa fleksibel, menggunakan jurus yang tepat untuk musuh yang tepat. Pelajari dulu musuhmu, dosenmu, rektormu atau siapa pun yang hendak kau hadapi, baru kau bisa unggul darinya.”
“Seperti Fasid’afa.”
“Persis. Ngomong-ngomong, selamat untukmu karena kau mendapat nilai ‘A’ untuk mata kuliah Ilmu Tenaga Dalam, Ilmu Bela Diri dan Ilmu Sihir. Lebih dari itu, selamat atas keberhasilanmu mendapatkan dan menguasai arcanum kayu sejati. Tapi mengapa kau tak memberitahuku sejak awal kalau Minerva Kaleos adalah pemegang arcanum kayu?”
Zet berbohong. “Aku juga baru tahu saat melawan Fasid’afa. Aku sungguh beruntung.”
“Tapi kau tak bisa selalu mengandalkan keberuntungan dalam segala hal. Kau harus cerdik dan rajin mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya. Jadi sekarang aku bisa memastikan kau akan pergi mencari arcanum tanah di Negeri Ular Pasir, bukan?”
“Ya, kuharap aku bisa menyelesaikan misi ini sebelum liburan musim panas berakhir, lalu aku akan masuk kuliah lagi.”
Yun Lao malah berdecak sambil menggeleng. “Jangan terlalu yakin. Kenyataan yang ada akan jauh lebih kompleks daripada sekadar datang, ambil arcana dan pulang lagi. Pertarunganmu dengan Fasid’afa baru-baru ini hanya bagai berjalan-jalan di taman saja dibanding misi yang akan kaujalani sebentar lagi.”
Mau tak mau Zet bergidik. Benarkah kata Yun Lao itu? Ataukah ia hanya mengada-ada saja?
\==oOo==
Hingga sore, Zet masih membenamkan kepalanya di ranjang dalam kegalauan. Pembicaraannya dengan Yun Lao tadi membuat tekadnya untuk secepatnya mengambil dan menguasai arcanum tanah mengendur drastis.
Kalau Zet sampai harus cuti kuliah sampai entah kapan, lebih baik ia menunggu saja sampai lulus kuliah. Gelar akademis harus didahulukan daripada Master of Arcana kalau Zet masih ingin hidup normal sesuai harapan ibunya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Zet hendak berkemas untuk pulang saja ke Negeri Empat Musim, menjalani liburan musim panas. Mungkin ia akan bisa menikmatinya bersama adiknya, Oxi, kakaknya Deon, sepupu akrabnya Filian dan mungkin... dengan Putri Catriona juga.
Isi surat itu adalah, “Keluar dari kamar sekarang, Zet! Ada orang yang hendak membunuhmu!” Tak ada nama pengirimnya.
Tanpa pikir panjang Zet berlari keluar dari kamarnya. Saat itu pula tampak sebuah benda terbang memecahkan kaca jendela di kamar tingkat lima gedung asrama itu.
Sedetik kemudian, benda bulat dan hitam itu meledak. Daya ledakannya tak terlalu besar, namun mampu merusak makhluk hidup apa pun yang terpapar olehnya. Warna api ledakannya aneh, yaitu hijau. Ukurannya pun lebih kecil daripada peluru meriam, menunjukkan bahwa itu adalah bom berbahan dasar ramuan alkimia sihir yang dirancang khusus untuk aksi pembunuhan gelap.
Yang jelas, Zet tak sempat berpikir sampai mengenali bom itu dan menduga siapa pelakunya. Ia terlalu panik melihat barang-barangnya hancur, sehingga nekad kembali masuk ke kamar untuk menyelamatkan sebanyak apapun yang ia bisa.
Karena yang jadi sasaran adalah Zet yang hendak membereskan barang-barang di meja, maka benda-benda yang paling banyak hancur adalah buku-buku pelajaran kuliahnya. Sebenarnya buku-buku itu bisa dibeli lagi bila diperlukan, dan sebagian besar tak akan digunakan lagi dalam kuliah tahun kedua. Tapi kenyataan itu membuat Zet terkesima. Pertanda apakah ini?
Segalanya berlangsung amat cepat. Filian yang adalah teman sekamar Zet juga histeris melihat buku-bukunya juga hancur berantakan, juga beberapa pakaian favoritnya. Ia sekalian membantu Zet mengeluarkan barang-barang yang masih utuh sebanyak yang ia bisa.
Yang berikutnya datang adalah Nina bersama para petugas keamanan kampus berseragam dan membawa peralatan lengkap. Para petugas langsung bekerja di tempat kejadian, memadamkan api, mengamankan barang-barang bukti berupa serpihan-serpihan bom, residu alkimia dan memastikan tak ada benda berbahaya lain di lokasi.
Nina lantas menghampiri Zet yang masih sibuk mengeluarkan sebanyak mungkin barangnya. Tanpa menunggu kontak mata dari Zet ke arahnya, gadis berkacamata itu berujar, “Ikut aku, Zet. Guru Kashmir memanggilmu. Ini amat penting.”
Zet berdecak kesal, emosi darah mudanya menggelegak. “Tidak sekarang! Apa kau tak lihat keadaanku? Aku hampir mati dan barang-barangku terbakar hangus!”
“Justru ini ada hubungannya dengan teror yang menimpamu!” hardik Nina. “Sebagai sesama pengguna sihir, sudah selayaknya kami membantumu. Jadi jangan berdalih ini-itu dan ikut aku. Kau kini dalam bahaya besar, siapapun pelaku pengeboman itu, dia pasti akan mencoba lagi dengan pelbagai cara sampai kau tewas, lalu merebut semua arcanummu! Kampus Langit Angkasa bukan tempat yang aman lagi buatmu!”
Zet terenyak. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan bahwa kata-kata Nina itu benar, seberapa pun tak sukanya Zet pada gadis sok pengatur itu. Sambil menaruh barang-barang yang baru dikumpulkannya di sudut ruangan yang masih utuh, ia berujar, “Baiklah, tunggu sebentar.”
Sebelum melakukan apa pun yang lain, Zet meraba dada dan pinggangnya dan menarik napas lega. Walaupun Zet sebenarnya sudah tahu kalung liontin arcanum air dan sabuk berliontin arcanum kayu masih utuh tersandang, ia merasa perlu memastikannya agar hatinya tenang.
Karena pikirannya sedang kalut, Zet tak begitu memperhatikan jalan atau apa pun hingga ia sudah duduk di depan Kashmir, si guru Ilmu Sihir. Kashmir menegur, “Ahem, Zet. Aku boleh memanggilmu Zet, ‘kan?”
“Oh ya, si-silakan, pak”, jawab Zet, gelagapan.
“Yah, aku maklum kau pasti amat kalut atas kejadian yang baru saja menimpamu itu. Atur napas, tenangkan dulu dirimu, baru kita bicara.”
Zet mengambil jeda sejenak dengan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya beserta pikiran-pikirannya yang tumpang tindih. Ia lantas memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya pada pria di depannya itu, sikap duduknya jadi lebih tenang dan diam.
Kashmir minta Zet menerangkan duduk perkaranya. Zet melaporkan semuanya, kecuali tentang surat peringatan di meja. Ia berkata ia lari tepat saat bom memecahkan kaca jendela, itu adalah reaksi yang wajar berkat latihan tenaga dalam yang memperkuat kepekaan panca inderanya.
Kashmir bersedekap. “Nah, Zet, apakah kau punya dugaan siapa pelaku percobaan pembunuhan terhadap dirimu itu dan apa alasannya?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-